MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
32


__ADS_3

"Siapa Kamu!! Rara ini anakku!! Mau aku apakan itu urusanku!!" tegas Sang Bapak.


"Bukan seperti itu memperlakukan anak perempuan. Bukan dengan tamparan untuk menghakimi kesalahan anak, dan tidak perlu dengan kekerasan untuk menasehati anak. Semua orang pasti khilaf dan melakukan kesalahan yang tidak disengaja," ucap Baihaqi pelan menasehati.


"Tidak perlu ikut campur dengan urusan Rara!!" ucap Bapak dengan suara yang semakin keras.


Sang Bapak tidak terima dengan nasihat Baihaqi, lelaki sok alim yang baru di kenalnya dan kini dekat dengan Rara, anaknya.


"Pergi Ra, cari kehidupanmu sendiri. Bapak pun sudah muak melihatmu. Kalau kamu masih ingin memeperthanakan anak dalam kandunganmu itu, silahkan angkat kaki dari rumah Bapa. Selamanya tidak perlu kamu kembali lagi ke rumah ini," ucap Sang Bapak mengeasakn.


"Bapak mengusir Rara?" ucap Rara lirih. Tubuhnya terasa lemas dan kakinya terasa bergetar tidak kuat menopang tubuhnya yang mulai berat itu.


Dyah memegang kedua lengan Rara, Rara yang mulai tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


"Tidak perlu Bapak ucapkan tegas bukan? Kalau Bapak itu sama saja mengusirmu drai rumah ini. Pintu Rumah Bapak tidak akan lagi terbuka untuk anak pembawa sial seperti kamu," Cukup Bapak kecewa dan menyesali telah mengurus kamu sejak kecil. Lalu. balasanmu sangat membuat Bapak malu sepanjang hidup Bapak!!" ucap Sang Bapak lantang.


Rara hanya bisa menunduk dan tidak mampu lagi mengangkat wajahnya untuk menatap kedua wajah orang tuanya. Hatinya kecewa, perjalan jauh yang diharapkan untuk mendapatkan pembelaan ternyata salah besar. Melihat Rara pun kedua orang tunya sudah enggan, apalagi harus berkomunikan baik dan mencari solusi dari masalah yang sedang di hadapi.


Baihaqi menoleh ke arah Rara, hatinya juga ikut sakit melihat melihat Rara yang terlihat sangat kacau dan sedih. Dari wajahnya sdah terlihat keterpurukannya kembali, bisa-bisa Rara depresi dengan perlakuan kedua orang tuanya. Bukannya mensupport dan memotivasi dengan ketulusan dan kasih sayang, tapi malah mengusirnya dan tidak mau mengakui Rara sebagai anaknya lagi.

__ADS_1


Tubuh Rara luruh lalu mengesot ke arah orang tuanya dekat pintu masuk rumahnya itu. Kedua tangan Rara berusaha menggapai kaki Sang Mama. Bagaimana lagi Rara harus meminta maaf agar rasa kecewa kedua orang tuanya hilang dan bisa menerima Rara dengan baik.


"Maafkan Rara, Ma, Pak. Kalaupun kalian berdua tidak bisa menerimaku kembali sebagai anak kandung kalian, minimal kalian bisa memaafkan aku dengan ikhlas dan tulus. Setelah ini aku akan pergi dan mencari kehidupanku sendiri. Tapi, buatlah aku tenang dengan menrima segala permintaan maafku atas semua kesalahan besar yang aku buat hingga menjadi aib keluarga yang tidak bisa diterima lagi," ucap Rara dengan lirih dan mencium kaki Sang Mama dan Bapak secara bergantian. Rasa sakit dan keram di perutnya sudah tidak dipedulikanlagi. Rara sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi, selain menyesali semua perbuatannya yang mengakibatknna hubungan anak kandung dan orang tuanya itu menjadi tidak baik.


Baihaqi ikut berjongkok dan berusaha menenangkan Rara. Bukan seperti itu caranya meminta maaf kepada orang tua yang sudah tidak mau lagi menerima kehadirannya sebagai anak karena dianggap pembawa sial karena menebar aib untuk keluarga.


"Ra ... Masih ada aku yang akan menerima semua kekuranganmu. aku tidak akan meninggalkanmu," ucap baihaqi berusaha membuat Rara bangkit dengan motivasi terbaik.


Dyah sendiri masih sangat terkejut dan takjub dnegan kata-kata kasar kedua orang tua Rara yang begitu menyakitkan dan menghujna hatinya sebagai sahabat Rara. Dyah tidak habis pikir, kedua orang tua Rara yang dikenal dahulu tidak seperti ini, dan kini saat Rara butuh pertolongan mereka malah mengusir Rara dan menyia-nyiakan Rara.


Rara berusaha mengangkat wajahnya yang sudah basah dan sembab karena air mata. Kepalanya terasa sangat berat dan berputar. Padangannya berkunang-kunnng dan akhirnya menggelap. Rara sudah tidak sadarkan diri akibat menahan sakit keram pada perutnya yang berefek samping buruk pada kandungannya.


Dyah pun sama paniknya dan menghampiri Rara yang sudah tuerujur kaku.


"Kita bawa ke rumah sakit, Mas Bai yang angkat Rara, sini Dyah yang bawa mobilnya,' ucap Dyah panik dan cemas.


Wajah Rara sudah pucat dan terlihat sangat parah dibandingkan saat itu. Tanpa berpikir panjang Baihaqi pun memberikan kunci mobilnya dan langsung mengangkat tubuh lemah Rara ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit.


Kedua orang tua Rara tidak peduli dan tidak ada rasa cemas serta panik melihat anak kandungnya tergolek lemah di kedua kaka mereka.

__ADS_1


"Bawa pergi saja Rara, urus gadis tidak tahu di untung itu. Kami sudah tidak peduli lagi dan jangan pernah bawa anak itu ke rumah ini lagi!! Paham!!" teriak Sang Bapak dengan lantang saat Baihaqi sudah mengangkat Rara dan akan masuk ke dalam mobilnya.


Kuping Baihaqi sudah terasa panas. Bila berteriak dan memaki kedua orang tua Rara itu tidak membuat dosa besa utnuk dirinya, mungkin sejak tadi sudah dilakukan untuk pembelaan terhdap wanita yang beebrapa hari ini telah mencuri hatinya.


Baihaqi sempat menoleh ke arah belakang menatap kedu orang tua Rara dengan tatapan tajam dan sedikit bengis. Baihaqi benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikirankedua orang tua Rara. BIsa-bisanya mengabikan dan benr-benar tidak peduli dengan keadaan Rara yang seperti ini.


"Ayok Mas Bai ... Sudah tidak usah pedulikan yang lain. Kali ini kesehatan Rara lebih penting," teriak Dyah dari arah dalam mobil.


Baihaqi pun melanjutkan untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Mas itu tidak habis pikir dengan semua yang di katakan kedua orang tua Rara tadi," ucap Baihaqi pelan sambil menatap wajah Rara yang terlihat sangat pucat dengan bibir yang sudah kering dan memutih.


"Setahu Dyah, dulu tidak seperti itu. Entahlah, mungkin kehamilan Rara benar-benar menjadi aib dalam keluarganya, kasihan Rara," lirih Dyah yang bisa merasakan kekecewaan dari pihak Rara dan kedua orang tuanya. Dyah makin merasa bersalah dengan keadaan ini.


"Mungkin memang sudah takdir Rara seperti ini. Tidak usah di sesali. ada hikmah terbaik untuk Rara," ucap baihaqi pelan. Baihaqi berharap memang bisa menikahi Rara, dan menjadikan Rra ebagai wanita yang lebih baik.


"Hikmahnya kenal sama kamu, Mas?" ucap Dyah pelan sambil mengulum senyum. Dyah menatap Baihaqi dari kaca spion tengah yang ikut tersenyum mendengar ucapan Dyah sambil menatap wajah cantik Rara yang sedang tidak sadarkan diri.


"Aku tidak berharap banyak Dy. Rara sudah berkali-kali menegaskan ingin fokus dengan anaknya saja. Kita hargai keputusannya, walaupun aku tetap menunggu," ucap Baihaqi pelan.

__ADS_1


"Mas Bai yang sabar. Nanti semuanya berjalannya waktu pasti Rara luluh. Rara itu mudah untuk ditaklukkan apalagi negan kebaikan dn ketulusan," ucap Dyah pelan.


__ADS_2