MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
SEMOGA SAJA


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling bersejarah untukku. Setelah pengumuman penerimaan mahasiswa baru di salah satu kampus negeri yang paling beken di kota Gudeg itu, aku segera mencari tempat kost untuk tinggal. Tapi, Jangan salah. Aku tidak di terima di kampus negeri itu dengan jalur masuk apapun. Aku harus puas dengan di terima di salah satu kampus swasta yang sama bekennya dengan kampus negeri yang sellau menjadi impian setiap orang termasuk aku.


Siang ini aku berangkat dari kota Muntilan. Rumahku sangat pelosok di kaki gunung Merapi. Jarak rumahku dengan gardu pandang itu tidak lah jauh hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit saja menggunakan kendaraan roda dua.


"May? Sudah di siapkan semuanya? Mulai hari ini kamu langsung tinggal di kost. Lusa kamu sudah mulai masa ospek bukan?" tanya Mama pelan.


Walaupun aku tinggal di pelosok. Tetap ya, mengedepankan bahasa indonesia sebagai bahasa sehari -hari. Maklum, kami se -keluarga lama hidup di kota dan akhirnya kembali ke kampung untuk hidup lebih tenang.


Oh ya, Kenalkan, namaku Ramayana Astuti. Biasa di panggil Maya, atau Tuti. Eits ... Bukan Tuti si Tukang Tipu ya, tapi Turunan Titisan. Ap coba? Kok malah kayak maksa banget ya? Ha ... ha ... ha. Aku juga tidak prnah tahu kenapa harus di beri nama Ramayana? Mungkin saat itu Mama dan Papaku suka sekali cerita Ramayana? Atau suka dengan dunia perwayangan karena Mama masih keturunan darah biru. Tapi tetep aja, kalau kegores pisau, darah yang mengucur tetap berwarna merah dan bukan biru. Suka aneh memang.


Panggilan Mama dan semua ucapannya yang serba panjang lebar itu selalu ku ingat sebagai nasihat. Maklum dong, Semua emak -emak pasti kan cerewet, bawel, suaranya nyaring. Mungkin suatu hari nanti kalau aku jadi emak -emak tentu akan melakukan hal yanga sama, karena selain aku perempuan, aku memiliki garis keturunan ceriwis.


"Sudah Ma. Tinggal berangkat saja." jawabku dengan suara yang tak kalah keras.


Bagaimana tidak ku jawab dengan suara yang keras. Mama ku bertanya dengan teriakan dari arah dapur di pojok belakang rumah dekat kebun salak yang rindang. Sedangkan aku? Aku berada di depan, tepatnya masih di dalam kamar yang siap ku tinggalkan setelah menemaniku selama dua bulan ini.

__ADS_1


Dua bulan? Ya, Sejak SMA, aku sudah sekolah di luar kota. Berjauhan dengan orang tuan dan keluarga itu sudah bukan hal yang aneh bagiku. Semua tamp biasa saja. Bedanya? Dulu, Aku tinggal di asrama dengan segala aturan yang baku dan semua kativitas yang sudah terjadwal dengan baik dan teratur. Lalu, sekrang aku harus tinggal sendiri dengan membuat aturan sendiri.


Paling tidak, aku sudah memiliki dasar bisa mengurus diriku sendiri dengan baik dan mandiri. Aku bisa cuci baju sendiri, setrika sendiri, mandi sendiri, makan sendiri, semua sendiri sampai aku sendiri nyaman dengan kesendirian sampai saat ini. Tapi, bukan berarti aku gak laku ya. Aku lebih selektif aja cari teman dekat atau bahasa gaulnya bebeb.


Siang itu, semua orang ikut sibuk sendiri. Padahal aku yang akan pergi dari rumah itu, tapi semua orang seperti ikut sibuk menyiapkan sesuatu hal yang besar.


Aku hanya terdiam di pojokan ruang tamu. Semua barang yang akan ku bawa ke Kota Gudeg sudah aku siapkan di teras depan. Tinggal menunggu mobil sewaan yang akan mengantarkan aku ke sana sambil mencari kost putri yang cocok untuk ku.


Tatapan ku mulai curiga dan merasakan ada hal yang aneh. Eyangku sibuk mondar mandir beberapa kali di depanku sambil membawa nampan besar dari arah dalam ke luar rumah. Entah apa yang di bawanya sejak tadi, dan aku pun tidak mau peduli. Ku pikir, Eyangku sedang mengambil daun sirih yang ada di depan rumah untuk menguras kedua matanya.


"Eyang? Ini buat siapa?" tanya ku pelan dengan suara lembut sambil menunjuk ke arah beberapa nampan yang di letakkan di atas koper besarku dengan di tumpuk rapi. Mirip seperti sedang seserahan. Tahu kan seserahan? Makanan yang di bawa oleh pihak laki -laki untuk calon istrinya sebagai bawaan utuk lamaran. Tolong di benarkan kalau ada yang salah ya.


Wajah Eyang pun langsung berubah. Kini terlihat kejam menatap ke arah ku, bagai mendapati maling yang selama ini di carinya. Dahinya di kerutkan dengan kedua alis yang saling tertaut. Kedua matanya terlihat sangat tajam sekali dengan tangan berkacak pinggang.


"Lha? Kowe meh nge -kost? Mesti butuh maem? Iki di gawakno ben kowe gak kaliren." suara Eyang begitu nyaring sekali terdengar di telingaku yang mungil dan terlalu peka dnegan suara -suara melengking macam itu.

__ADS_1


Salah ku juga bertanya hal yang beresiko untuk memicu amarah Eyang. Tahu sendiri, Eyang itu karakternya, ingin di hargai, di hormati, di tuakan dan di dengar. Satu lagi, tidak ada yang bisa membantah kata -katanya. Termasuk Mama ku sebagai anak kandung Eyang. Apalagi aku yang hanya sebagai cucu, turunan kedua.


"Inggih Yang. Maaf Yang." jawabku lirih dan berpura -pura terlihat melas dan menyesal. Biasanya dengan cara meminta maaf duluan dengan wajah melas bin kasihan gitu, Eyang akan ikut luluh hatinya dan memaafkan.


Eyang hanya menatapku dan tatapan itu selalu membuatku takut dan aku selalu menghindar dan pergi begitu saja dari hadapan Eyang.


Cukup aku menjelaskan satu per satu keluargaku ya. Kini aku mau fokus pada perjalanan di mulainya aku mencari kost di Kota Gudeg.


Perjalanan dari rumah menuju kota pelajar itu sekitar satu jam saja. Aku dan kedua orang tuaku berputar mencari kost putri yang berjarak dekat dengan kampus itu. Dan pada akhirnya, aku memutuskan untuk kembali bersama satu kost dengan kakak kandung ku.


Ya, Kakak kandungku berusia dua tahun lebih tua dari aku. Kemarin saat test masuk pun dia yang membantu aku dan memberikan tumpangan untuk tidur di kostnya.


Awalnya aku ingin sekali hidup mandiri tanpa ada campur tangan kakak kandungku itu. Bukan tak mau, tetapi dengan sellau bareng membuat seluruh keluargaku tidak mempercayaiku bisa hidup sendiri dan mandiri karena sikap ku yang sedikit cuek dn manja.


"Sementara saja. Mending bareng sama Mbak Yu mu." ucap Mama menasihati.

__ADS_1


Ucapan Mama pun membuat aku kecewa. Aku yang sejak ti begitu bahagia dengan pilihan aku sendiri pun, semuanya harus pupus dari pikiran ku.


__ADS_2