MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
DI AMBANG KEHANCURAN


__ADS_3

Tubuh Panji masih lemah tapi sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia sedang membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dnegan yang lebih pantas untuk pergi ke kantor pagi ini.


Rey memberi tahu, bahwa Papah Firman dan Mama Rika mencarinya. Perusahaan sekarang sedang dalam kondisi yang tidak baik bahkan sedang di ambang kehancuran dan kebangkrutan. Terlebih saat proyek besar itu berhasil di ambil alih oleh Brian dengan cara yang licik.


Maura juga sudah selesai mandi dan kini ia sedang berias di depan cermin. rambutnya masih basah dan hanya di keringkan dengan handuk saja. Pagi ini, tubuh Maura terbalut dengan dress pendek berwarna pink pasta.


Sedikit memakai riasan agar tidak nampak pucat karena kelelahan. Sekali waktu, Panji bisa sampai lima kali. Betap ajantan lelaki itu.


Panji memeluk Maura dari belakang. Bahunya yang tbuka di kecupi pelahan hingga leher Maura. Maura hanya tertawa geli merasakan sapuan bibir Panji.


"Sayang ... Kamu jadi ke supermarket?" tanya Panji pelan.


"Ya. Beli kebutuhan untuk masak dan kebutuhan kita. Ada yang ingin kamu pesan, Sayang? Biar Maura belikan sekalian," ucap Maura lembut.

__ADS_1


panji tertawa di bahu Maura dan menggigit kecil tubuh mulus itu.


"Aww ... Sakit sayang," lirih MAura berteriak.


"Sengaja." jawab Panji menatap Maura dari arah cermin. Wajah gadis itu memang benar -benar cantik luar biasa. Tubuhnya tinggi semampai dengan postur tubuh yang sesuai dengan tingginya. Kulit putih, bersih dan mulus tanpa ada noda luka sedikit pun.


"Sengaja? Biar apa? Kan sakit, sayang. Nanti gak bisa masak lagi, "cicit Maura yang mulai bisa bermanja. Dan memnag itu yang di inginkan oleh Panji.


"Biar kamu selalu ingat aku, sayang. Kalau sakit, nanti aku kecup biar sakitnya hilang," ucap Panji pelan.


Satu detik ... Satu menit ... Maura pun mendorong pelan tubuh Panji untuk melepaskan ciuman dari bibirnya. Maura mulai kekurangan oksigen. Lagi pula waktu terus berjalan, kalau seperti ini terus tidak akan selesai yang ada malah bertarung lagi dan lagi di kasur.


"Sudah ah. Gak akan selesai kalau seperti ini terus," ucap Maura merapikan rambutnya dan lipstiknya.

__ADS_1


"Hemm ... Lihat apa yang sudah kamu perbuat," ucap Panji dengan lekat menatap Maura. Ia menunjukkan bagian yang tiba -tiba saja menonjol dan menampakkan sesuatu yaang tersembul dari balik celana panjangnya.


"Argh ... Sudah, Maura mau belanja," ucap Maura yang terus berjalan ke nakas untuk mengambil kartu hitam.


"Oke. Aku akan segera pulang dan kau harus sudah siap," ucap Panji pelan.


"Siap apa? Makan siang? Atau makan malam? Maura tidak mau menunggu tanpa kepastian seperti kemarin. Memangnya kamu kemana sayang?" tanya Maura pelan. Ia mengambil dompet kecil dan memasukkan kartu hitam itu.


"Aku ada acara keluarga. Dan para sepupuku menginginkan aku menginap dan menemani mereka," ucap Panji sedikit tergagap dan memang mencari alasan yang tepat.


"Oke. Gak apa -apa." jawab Maura pelan.


Maura tidak punya hak untuk menuntut, atau melarang Panji berbuat apapun. Kalau pun Panji hanya datang sesaat saja pun itu sudah menjadi keinginan Panji. Posisi Maura tetaplah pelayan Panji, tapi rasa sayang dan cinta mulai tumbuh di hati keduanya.

__ADS_1


"Nanti aku belikan ponsel biar kamu bisa aku hubungi ya, sayang," ucap Panji pelan.


Keduanya berpisah di lobby depan. Selayaknya seorang pasangan mereka saling berpelukan dan saling berciuman untuk saling melepas.


__ADS_2