
Rara cukup terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Baihaqi yang sudah berdiri di sampingnya dan memanggil namanya. Wajahnya mendongak menatap ke arah Baihaqi, saat masih sedang mencoba menyelesaikan semua PR milik Fathur.
"Mas Bai," ucap Rara yang terlihat cukup kaget.
Baihaqi tersenyum lebar.
"Kamu kaget, aku datang. Maaf, Ra," ucap Baihaqi pelan.
Baihaqi menghampiri Fathur yang masih pulas tertidur di meja belajarnya.
"Angkat Mas. Fathur tertidur sejak tadi, tapi aku tidak kuat kalau menggendong dan mengangkatnya untuk dipindahkan ke kasur," ucap Rara dengan suara pelan dengan nada meminta maaf.
Tanpa berbicara, Baihaqi pun mengangkat dan menggendong Fathur lalu memindahkan putra kesayangannya itu ke tempat tidur miliknya.
"Terima kasih sudah mau menemani ketiga anakku hingga mereka tertidur pulas," ucap Baihaqi pelan lalu duduk di samping Rara yang masih memegang pulpen dan berusaha menyelesaikan beberapa soal matematika yang belum terisi.
"Bukankah sesama umat itu untuk saling membantu dan mensupport. Itu kata-katamu yang pernah kamu ucapkan untukku saat aku berada di rumah sakit," ucap Rara pelan tanpa menatap Baihaqi yang sudah berada di sampingnya kembali.
"Kamu masih mengingatnya? Tapi menurutku ini beda, Ra. Menjaga harta berharga seseorang yang bukan siapa-siapa kamu itu tidak mudah. Tentu dibutuhkan keikhlasan dan ketulusan yang luar biasa," jelas Baihaqi pelan kepada Rara.
Rara menoleh dan menatap ke arah Baihaqi yang juga sedang menatap Rara lekat. Rara langsung memalingkan wajahnya saat tatapan Baihaqi begitu lekat dan penuh harap.
"Buat aku tidak ada yang beda Mas. Niatku hanya ingin membantu saja. Kebetulan tadi Putri yang meminta tolong, tidak ada salahnya aku membantu di saat aku memang sedang ada waktu," ucap Rara pelan lalu menutup buku PR milik Fathur.
"Memang tidak ada yang salah. Tapi, yang aku takutkan anak-anak nanti terbiasa dan terllau nyaman denganmu, Ra. Kamu paham maksud aku kan?" ucap Baihaqi menjelaskan.
Rara bangkit dari kursinya dan meletakkan buku-buku PR milik Fathur di meja belajarnya kembali. Semua buku di tumpuk dengan rapi, begitu juga dengan alat tulisnya.
"Apa salahnya kalau anak-anak nyaman denganku? Aku tidak akan merebut anak-anak dari tanganmu, Mas" ucap Rara pelan. Rara berpikir dalam hatinya, tidak akan mungkin merebut anak-anak dari Baihaqi. Baihaqi adalah Abinya, dan selamanya tidak akan pernah terganti.
"Salah, Ra. Aku takut, anak-anak banyak berharap sama kamu, Ra. Aku takut anak-anak menginginkan kamu menjadi pengganti Uminya," ucap Baihaqi lirih. Ada ketakutan tersendiri dalam hati Baihaqi. Padahal Rara belum bisa membuka hatinya untuk dirinya.
"Mas, aku bisa jelaskan ini semua kepada anak-anakmu. Kita berteman baik, dan aku hanya ingin menjadi sahabat mereka. Hanya itu saj,a, tidak lebih," ucap dengan tegas.
__ADS_1
Rara langsung melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar anak-anak. Baihaqi pun mengikuti langkah Rara dan berjalan tepat d belakang wanita hamil itu.
"Ra, mau pulang sekarang? Biar ku antar. Emak Warti sudah lebih dulu ke rumah bambu tadi," ucap Baihaqi pelan.
"Ya, aku ingin segera istirahat," ucap Rara singkat.
Langkahnya terus berjalan menuju pintu depan.
"Ini susunya tidak diminum?" tanya Baihaqi saat melewati meja ruang tengah dan melihat segelas susu putih yang masih utuh di dalam gelas.
Langkah Rara terhenti, ada satu kesalahan meninggalkan minum susunya yang sejak tadi sudah dipersiapkan. Rara membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Baihaqi yang sudah memegang gelas susu itu.
"Maafkan aku, tadi lupa. Sudah dingin ya?" tanya Rara pelan.
"Biar aku ganti jika kamu ingin yang hangat?" tanya Baihaqi pelan.
Rara menggelengkan kepalanya pelan.
Baihaqi tersenyum simpul. Wanita simpel seperti Rara memang sudah jarang ada. Sikap seperti yang membuat Baihaqi semakin jatuh cinta kepada Rara.
"Sudah habis? Sini gelasnya. Biar aku bawa ke dapur," ucap Baihaqi menunggu Rara memberikan gelasnya.
"Sudah biar aku saja yang bawa ke dapur," ucap Rara pelan langsung berjalan ke arah dapur.
Baihaqi hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menarik napas panjang lalu dihembuskan pelan. Rara memang keras dan terlalu mandiri, hingga tawaran bantuan Baihaqi pun sering di tolaknya.
"Yuk, kita pulang," ajak Rara pelan kepada Baihaqi.
Keduanya sudah berjalan berdampingan dan beriringan menuju rumah bambu yang terletak di belakang Pondok Pesantren asuhan Baihaqi.
"Tadi tidak perlu dianter. Rara bisa pulang sendiri," ucap Rara pelan.
"Masa mau pulang sendiri. Ini gelap, mana pakaian kamu seperti ini, dan yang paling utama kamu itu sedang mengandung, aku harus memastikan kamu sampai di rumah degan selamat. Tetap saja aku khawatir jika kamu aku lepaskan begitu saja," ucap Baihaqi pelan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku baju kokonya.
__ADS_1
"Ya ampun. Ini dekat lho Mas. Tidak sampai lima menit. Lihatlah?" ucap Rara pelan.
Rara sudah menaikin teras depan rumah bambu. Rumah sederhana dan minimalis yang begitu nyama dan membuat jatuh cinta.
"Apa salah jika aku mengkhawatirkan kamu? Apa salah jika aku ingin tetap menjagamu?" tanya Baihaqi pelan menatap Rara.
"Todak salah. Tapi sudah aku katakan. Aku belum bisa menerima siapapun saat ini," ucap Rara menegaskan kembali.
"Aku tahu dan aku sadar, Ra," jawab Baihaqi singkat.
Rara mengangguk pelan. Menurut Rara, Baihaqi sudah cukup pintar untuk mencerna setiap ucapan Rara, dan tidak perlu di ulang berkali-kali untuk penegasan.
"Ya baguslah kalau memang kamu paham Mas," jelas Rara pelan.
"Bagaimana acara besok. Aku sudah ijin kepada para santri dan para ustad untuk mengilang sejenak untuk keperluan yang lbih penting," tanya Baihaqi pelan.
Tatapan Rara sangat lekat dan tajam.
"Aku tidak salah dengar? Maksud Mas, acaraku itu lebih penting dari pada mengurus Pondok Pesantren? Begitu?" tanya Rara bingung.
Dengan entengnya, Baihaqi mengangguk dengan mantap.
"Memang begitu adanya. Sulit bagiku untuk bilang tidak, jika kenyataannya memang benar adanya," tegas Baihaqi mantap.
"Jangan Mas. Ini sudah tidak benar, biar aku pulang sendiri. Tidak perlu kamu antar, karena aku tidak ingin mengganggu kegiatanmu, aktivitasmu. Pesantren ini sanagt membutuhkan Mas. aku tidak mau egois, karena aku bukan orang yang tepat untuk kamu prioritaskan," ucap Rara pelan.
"Tolong Ra. Hargai aku, semua harapan aku, keinginan aku, dan perhatian aku. Aku sudah bilang bukan, aku tidak mau pamrih dengan semua yang aku lakukan untuk kamu. Aku ikhlas dan tulus," ucap Baihaqi.
Rara mendengus kesal. Mau setulus apapun tetap saja ada maksud dan tujuan di dalamnya.
"Susah bicara denganmu Mas!! Aku lelah, aku mau istirahat," ketus Rara tegas.
Rara langsung membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam rumah bambu itu.
__ADS_1