
Keesokan harinya, semua sibuk membereskan ruko yang telah di sewa ole Panji. Di sini Panji juga akan menunjukkan bahwa ia bisa sukses tanpa bantuan kedua orang tuanya.
Uang yang ada di rekeningnya saat ini, adalah uang hasil kerja kerasnya yang sengaja ia tabung untuk istrinya kelak. Panji pikir dulu ia akan menikah dan hidup bahagia bersama Anetha. Ternyata memang ia menikah dengan Anetha karena terpaksa dan perjodohan, tapi cinta itu tak lagi milik Anetha karena kesalahan fatal Anetha.
Keputusan sudah bulat. Usaha yang akan mereka buka adala sebuah cafe. Cafe yang bergaya anak muda, yang bisa di nikmati orang tua ataupun anak muda. Ada konser musiknya untuk menghibur konsumen setiap hari dengan band lokal yang berganti setiap hari. Lalu, menu makanan pun dari yang ringan dan sampai yang berat pun ada.
"Wah ... Seperetinya setelah pembukaan usaha kita ini, kita bakal di buat sibuk satu hari penuh. Kita harus mempunyai banyak karyawan," ucap Panji semangat dan begitu antusias dengan usaha barunya ini.
"Se -iring berjalannya waktu Mas. Jangan tergesa -gesa. Maura yakin awal pembukaan, kita ber -empat kalau kompak pasti bisa terlaksana semua pekerjaan," ucap Maura pelan.
"Aku hanya tidak ingin kamu lelah, Sayang," ucap Panji pelan.
Maura pun memutar kedua bola matanya malas. Maura sudah mulai suka pada Panji. Tapi, ia ingat sosok lelaki yang ia temui saat di supermarket di hari terakhir ia berbelanja. Lelaki itu speertinya sengaja membuntutinya dan mencari tahu keberadaannya dengan memberikan berbagai foto pernikahan Panji dan Anetha. Tak hanya itu saja, lelaki itu membicarakan hal buruk tentang Panji. Satu hal yang Maura ingat betul. Lelaki itu adalah lelaki yang masuk terakhir ke dalam kamar hotelnya saat kasus penjebakannya.
"Hei ... Kau sedang melamunkan apa, Sayang? Sepertinya ada hal yang gak beres? Kau nampak aneh semnejak ke kota ini? Ada apa hem? Coba katakan padaku? Atau ad hal yang membuatmu kecewa? Atau apa? Aku tak paham?" tanya Panji pelan.
Panji merangkul Maura dari arah belakang. Posisi pelukan ini benar -benar nyman untuk Maura. Maura merasa di pedulikan dan di sayang oleh Panji. Tapi ...
"Bukan apa -apa, dan bukan sesuatu yang penting juga," ucap Maura pelan dan berusaha melepaskan pelukan Panji dari perutnya.
Setelah melepaskan pelukan itu. Maura pun pergi begitu saja menuju empat masak yang sedang di rapikan. Panji hanya merasa ada sesuatu yang aneh.
Seharian ini fokus merapikan ruko yang akan di jadikan cafe. Mulai dari tempat tunggu konsumen, tempat makan konsumen serta pemilihan warna dan alat makan agar terlihat mewah serta elegan.
"Apa nama cafe ini, Nji? Mau pesan papannama besar dengan lampu sorotagar terlihat jelas. Rencananya nama cafe -nya di buat timbul," ucap Rey pelan menjelaskan.
"Kau tanya Maura saja. Cafe ini aku buat untuknya. Aku ingin semuanya dia yang mengaturnya," ucap Panji pelan.
Rey mengangguk paham dan berjalan menuju ke arah Maura yang sedang memilih warna untuk stiker di dinding.
__ADS_1
"Maura ...." panggil Rey pelan.
"Iya, kak Rey ...." jawab Maura pelan sambil menatap Rey yang berjalan ke arahnya.
"Apa nama cafenya? Aku ingin memesan plang besar yang akan di pasang di bagian depan," tanya Rey pelan.
Maura menatap Rey. Ia juga bingung untuk masalah nama. Sama sekali belum mempersiapkan.
"Bagaimana jika namanya cafe Jira?" tanya Maura meminta pendapat pada Rey.
"Aku setuju. Cafe Jira, Panji dan Maura? Betul gak?" tanya Panji yang tiba -tiba datang ke arah Maura dan menyela ucapan mereka. Panji langsung menciunm pipi Maura dengan mesra.
"Ouwh ... Kalian memang semakin bucin," ucap Rey kesal. Ia hanya bisa pasrah dan menyimpan nama itu untuk memesan plang besar untuk di pasang di depan cafe mereka.
"Mas ... Kalau sudah mulai bekerja. Kita harus profesional. Tidak boleh seperti ini. Maura gak suka. Jangan di campur adukkan masalah pribadi dengan urusan usaha kita," ucap Maura menasehati.
"Aku tahu soal itu, Sayang," ucap Panji pelan dan menggigit kecil pipi Maura dengan kedua bibirnya.
"Arghh ... Sakit Mas," ucap Maura kesal.
"Gemes. Kita mau belanja kapan?" tanya Panji mengalihkan pembicaraannya.
"Bahan -bahan?" tanya Maura pelan.
"Iya untuk bahan -bahan. Kulkas sudah datang, freezer juga sudah ada. Apalagi coba?" tanya Panji pelan.
"Oke. Kita belanja sekarang. Ada Lia yang bisa menjaga tempat ini," ucap Maura pelan.
"Lia ...." Panggil Panji dengan suara keras.
__ADS_1
"Ya, Gimana Kak Panji," ucap Lia pelan.
"Aku dan Maura akan belanja untuk bahan -bahannya. Kamu tunggu di sini seklia rapihkan dapur. Terima saja kalau ada beberapa peralatan kantor yang datang langsung taruh di atas," titah Panji dengan suara lantang.
"Oke. Siap. Bahannya yang premium," ucap Lia mengingatkan.
"Beres," jawab Maura pelan sambil mengedipkan satu matanya kepada Lia.
Maura dan Panji sudah berada di grosir market untuk membeli bahan -bahan yang di butuhkan untuk menyiapkan menu yang sudah di buat. Kantor di bagian atas pun suda rapi sejak pagi.
"Kamu semangat sekali, Maura Sayang," ucap Panji sambil mendorong kereta barang memutari seluruh grosir itu mengikuti Maura yang sudah membawa list belanjaan.
"Memangnya Mas Panji gak semangat?" tanya Maura pelan.
"Semangat. Lebih semangat lagi, lihat kamu se-semangat ini. Antusias kamu, membuat aku termotivasi untuk sukses dan aku bisa membuktikan pada kedua orang tuaku. Bahwa, aku bisa sukses tanpa bantuan mereka," ucap Panji tegas.
"Sukses? Bukankah ...." ucapan Maura terhenti. Panji menutup bibir Maura dengan telunjuknya.
"Kamu pilihanku, Maura. Aku hanya ingin bahagia dengan pilihanku. Aku rela melakukan apa saja, demi kebahagiaan orang yang ku sukai. Tapi jangan pernah khianati aku, jangan pernah lukai aku dengan segala aturan yang aku buat untuk kamu. Sekalinya aku kecewa, aku sudah tidak ingin melihat perempuan itu lagi ada di sisi aku," tegas Panji ketus. Panji jelas teringat pengkhianatan Anetha pada dirinya dengan berkencan dengan Brian, sahabatnya.
Maura menatap Panji dengan nanar. Di balik sikap arogan, posesif, galak, tegas, diam, dan cueknya. Panji sebenarnya sosok penyayang dan sangat peduli pada wanita kesayangannya.
"Kamu paham kan, Maura? Jangan sakiti aku," ucap Panji lirih. Kata -kata itu begitu meyayat hati Maura. Permintaan dengan suara yang begitu lemah dan mengharuskan.
Maura berusaha tersenyum. Tangan Maura memegang tangan Panji dan di genggam erat.
"Maura janji, akan terus menemani Mas Panji, dalam suk adan duka. Usaha ini kita rintis bersama. Semoga apa yang Mas Panji cita -citakan terwujud," ucap Maura pelan.
"Cita -citaku hanya ingin bersama kamu, Maura. Kalau kamu ada di sisi ku, smeua pekerjaan akan terasa sangta mudah sekali bagiku," ucap Panji pelan.
__ADS_1