
Cinta yang tumbuh karena sebuah obsesi tidak akan terus tumbuh sempurna. Cinta itu akan hilang seiring dengan rasa penasaran yang mula memudar setelah menjalani hubungan terlarang ini.
"Maafkan aku, jika aku telah menyakitimu dnegan semua kebohongan ini. Aku harus memutuskan dan mengambil keputusan yang cukup berat. Aku harus pergi meninggalkanmu demi keluargaku," ucap Resti lirih.
Rifo terdiam dan menunduk. Ia tak dapat mnetaap kedua mata wanita yang di cintainya. Air maanya sudah penuh sesak ingin keluar dari kelopak matanya. namun tetap ia tahan dengan menarik napas dalam.
Perut buncit Resti menjadi saksi bisu hubungan terlarang itu pernah ada dan pernah mereka rasakan ketulusannya hingga semuanya terasa pahit sepahit -pahitnya dengan sebuah kejujuran.
Mau marah sudah tak mungkin. Mau kesal juga sudah tak ada gunanya.
Ini pertemua mereka kembali setelah beberapa bulan mereka tidak komunikasi. Rifo mencoba menghubungi Resti dan menanyakan kabar dan anak yang di kandungnya.
"Aku harap kamu tidak mencariku lagi. Biarkan aku bahagia dengan keluargaku. Aku akan menjaga anak yang da dalam kandunganku dengan baik. Biar bagaimana pun juga. Kamu adalah ayah dari anak ini. Tapi maaf aku tidak bisa mempertemukan kamu dengan anakku kecuali memang takdir yang membawanya," ucap Resti pelan sambil mengusap perut besarnya yang sudah menginjak usia tujuh bulan.
"KAmu bahagia dengan suamimu setelah ia kembali dari tugasnya? Apakah suamimu bisa menerima kamu dan anakku?" tanya Rifo khawatir.
Ia masih berusaha untuk bisa bersatu dengan Resti dan ananya di kemudian hari.
"Ternyata dia pria yang baik. Kita sama -sama melakukan kesalahan dan kita sama -sama ingin memperbaiki hubungan ini dengan menerima apa yang telah terjadi satu sama lain," ucap Resti menjelaskan.
Rifo mengangkat wajahnya dan menatap perempuan yang ada di depanny. Perempuan itu tersenyum manis tanpa beban sedikit pun. Ia sudah benar -benar mengikhklaskan hubungan ini berakhir. Waktu tiga tahun bersama dnegan segala suka duka mereka menjalani hubungan. Semua itu harus beakhir dengan kesadaran Resti yang harus kembali pada suaminya.
"Aku bahagia. Sangat bahagia," ucap Resti meyakinkan Rifo.
"Boleh aku menafkahi anakku?" tanya Rifo lirih.
Resti menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak usah. Aku tidak ingin ada salah paham dnegan suamiku. Aku sudah berjanji untuk tidak berkomuniksi lagi dneganmu. Tolong mengerti kondisi aku," ucap Resti pelan.
"Aku hargai keputusanmu Res. Kalau memang ini smeua sudah kamu pikirkan dnegan matang. Kalau kamu berubah pikiran, kamu tahu kan harus mendatangi aku kemana? Pintu rumahku sellau terbuka untuk kamu, berikut dengan hatiku. Selamanya kmau tak akan pernah tergantikan Res," ucap Rifo pelan.
"Iya. Sepertinya keputusanku bulat dan tidak goyah. Satu hal lagi, Jika anak ini perempuan, aku akan mencarimu untuk menjadi walinya di pernikahannya nanti," ucap Resti menjeaskan.
__ADS_1
Rifo mengangguk pasrah. Ia samaa sekli sudah tak mempedulikan lagi masa depannya nanti akan seperti apa. Melihat anaknya tumbuh dnegan ibunya saja. Dan entahkapan bisa bertemu lagi.
"Aku pergi ya. Hapus semua nomorku, media sosialku. Kalau kamu tidak ingin menghapus, jangan pernah seklai -kali kamu menghubungiku untuk alasan apapun. Ikhlaskan anak ini, dan aku yang pernah ada di hatimu," ucap Resti pelan.
Resti pun pergi begitu saja. Ia mencoba tegar membicarakn hal penting kepada Rifo untuk terakhir kalinya. Dadanya sesak sebenarnya. Rasa sayang dan rasa cinta itu masih ada. Bohong kalau perasaannya sudah amti.
Langkah kakinya di percepat dan Resti langsung pulang ke rumah orang tuanya. Sampai di rumah ia mennagis sejadi -jadinya. Ia bukan saja melukai persaan Rifo dan suaminya karena masalah ini. Tapi justru ia melukai perasaannya sendiri.
Rifo pun kembali pulang dengan langkah gotai dan pasrah. Dia pikir pagi ini Resti menghubunginya dan ingin bertemu dengannya untuk suatu kabar yang menggembirakan dan nyatanya tidak sama sekali.
Dua bulan kemudian ...
Resti sudah melahirkan putrinya yang sangat cantik Suaminya pun bisa menerima baik kelhairan putri dari benih lelaki lain.
"Mas yakin bisa menerima putri? Dia bukan darah daging kamu?" tanya Resti memastikan. Sebelum semuanya terlanjur, jika memang suaminya ingin menalaknya ia siap lahir batin.
Suami Resti pun mencoba menggendong Putri dan menciumnya berkali -kali.
"Putri sangat cantik Ia tidak berdosa. Yang salah itu peralanan hidup kita. Aku hanya ingin kamu melupakan smeuanya dan kita mulai semuanya dari enol," jawab suami Resti dnegan bijak.
Sepuluh Tahun kemudian ...
Putri sudah beranjak besar. Usianya sudah sepuluh tahun dan besok akan berulang tahun.
Resti sengaja ingin mempersiapkan acara ulang tahun yang mewah untuk putrinya. Undangan pun sudah di sebar baik di real dan secara visual memlai media ssosialnya. Resti memang sengja masih mengupload beberapa foto tntang Putri dan perkembangannya agar Rifo bisa memantau bila rindu.
Hari ini adalah hari ulang tahun Putri. Rifo pun berkeinginan untuk datang ke tempat acara ulang tahun Putri yang di laksanakan di sebuah restauran ternma. Ia sudah mempersiapkan kadi ulang tahun terbaik untuk anaknya. Setidaknya ia bisa memberikan secara langsung untuk putri semata wayangnya.
Bungkusan berwarna pink dengan kotak yang sangat besar. Kado special yang sudah di siapkan Rifo sejak lama. Mungkin memang ini waktu yang tepat untuk memberikannya. Ia begitu rindu dan ingin sekali memeluk Putri untuk pertama kalinya.
Tepat di hari ini, Rifo datang dnegan kotak besar di tengah acara.
Resti menatap Rifo lekat. Ia tak percaya Rifo akan datang jauh -jauh hanya untuk menemui putrinya.
__ADS_1
"Hai Putri. Ini untuk kamu," ucap Rifo tanpa ekspresi.
Putri hanya mengangguk dan tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.
Kado itu di terima baik oleh Putri karena itu adalah kado terbesar yang ia dapatkan sampai ia pun penasaran apa isinya.
Dua puluh lima tahun kemudian ...
Putri sudah umbuh menjadi gadis yang dewasa. Sebnetar lagi ia akan menikah. Sesuai kesepakatan antara Resti dan suaminya. ia akan memberi tahu Putri perihal ayah kandungnya.
Resti dan suaminya mencari waktu yang tepat sebelum acara pernikahan itu terjadi satu minggu lagi.
"Apa? Putri bukan anak Papa?Putri anak orang?" tanya Putri hitreis. Ia saamaseklai tak bisa menerima ini semua dengan baik.
"Putri. Putri tetap anak Papa. Hnaya saja Putri punya Ayah juga. DIa Ayah kandung Putri. Papa hanya ingin Putri ke rumah Ayah untuk meminta restu. Hanya itu saja," pinta Papa dan Resti menasehati.
Akhisrnya Putri bisa menerima itu semua. Ia dan Resti serata Papanya pergi menuju rumah Rifo. Rumah yang sudah lama seklai tidak di kunjungi oleh Resti. Ruamh tua itu nampak sedikit kumuh dan berantakan.
"Cari siapa?" tanya perempuan yang sedang menjemur pakaian.
"Rifo? Ada?" tanya Resti santai dan sopan.
"Rifo? kamu siapa?" tanya perempuan itu meltakkan jemurannya dan menghampiri Resti.
"Saya teman lamanya. Rifo kemana? Lalu Ibu dan Bapak kemana?" tanay Resti ramah.
"Ibu dan Bapak Rifo ada di panti jompo." jawabnya singkat.
"Kalau Rifo sudah meninggal lima belas tahun yang lalu karena kecelakaan motor. Ia ingin menemui gadis kecil yang ingin berualng tahun di Surabaya. Pas berangkat ia menaglami kecelakaan," ucap perempuan itu pelan.
"Apa? Kecelakaan? Meninggal?" tanay Resti kaget. Lima belas tahunyang allau adalah hari diamna Putri berulang tahun. Bukankah saat itu Rifo datang. Bahkan kadinya pun masih ada di kamar Putri. Boneka beruang besar yang sellau menemani Putri.
Resti dan Putri saling berpelukan. Resti menangis histers. Ia tak menyangka semua ini begitu terlewati dnegan cepat. Sampai ajal Rifo pun ia tidak tahu.
__ADS_1
Selamat jalan Rifo. Putrimu akan sellau aku jaga dengan baik.