MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
27


__ADS_3

Sudah dua hari ini, Dyah uring-uringan sendiri di rumahnya. Beberapa kali mencoba menghubungi Rara, namun hasilnya nihil. Tidak ada jawaban dan tidak ada kabar beritanya, di susul ke rumah kontrakannya pun sidah tidak ada bahkan kontrakan itu sudah di huni oleh orang baru yang baru saja pindah. Rara menghilang bagai di telan bumi. Kalaupun pindah kenapa tidak memberitahukan kepada dirinya, kalaupun pulang ke kampungnya, kenapa tidak berpamitan kepada dirinya.


"Sayang, tidurlah. Tubuhmu juga butuh istirahat. Mungkin Rara butuh waktu untuk sendiri, makanya dia pergi," ucap Hendra pelan berusaha membuat hati dan pikiran Dyah tenang.


Dyah masih berdiri di depan kaca jendela besar yang ada d dalam kamarnya. Kedua matanya masih menatap ke arah jalanan tanpa berkedip. Dyah berharap Rara akan datang ke rumahnya dan tinggal bersamanya.


Mas Hendra bangkit berdiri menhampiri Dyah, memeluk tubuh Dyah dari arah belakang hingga dada Mas Hendra menempel pada punggung Dyah dan memberikan kenyamanan tersendiri bagi Dyah.


Dyah tetap diam, hanya terkejut saat kedua lengan kekar Mas Hendra, suaminya sudah melingkar di perutnya.


"Masih mau diam? Tidak mejawab pertanyaan suami? Tidak takut dosa?" ucap Mas Hendra sedikit menyentil dengan maksud menggoda.


"Mas, tolong jangan ganggu aku. Aku lagi tidak ingin di ganggu. Seharusnya Mas Hendra tahu gimana rasa khawatir aku terhadap Rara," ucap Dyah dengan tegas menjelaskan.


Hendra tetap diam dan makin mengeratkan pelukannya lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Dyah yang masih terus melihat ke arah jalan dari kaca jendela kamarnya. Hujan deras dan sedikit berkabut membuat jarak pandang pun agak terganggu.


Dyah berusaha mengendurkan pelukan Hendra. Hati dan pikirannya sedang kacau memikirkan Rara, sahabatnya.


"Mas Hendra. Tolong jangan buat aku kesal," tegas Dyah melepaskan pelukan Hendra.


Hendra masih berdiri di belakang Dyah.


"Sudah dua hari kamu seperti ini. Mau sampai kapan? Rara saja sudah tidak peduli lagi padamu, Dy," ketus Hendra kepada Dyah.


"Karena aku merasa punya salah kepada Rara. Kita yang mengenalkan Cantas kepadanya. temanmu itu memang tidak tahu di untung!!" tegas Dyah yang sudah merasa kesal.


"Kita hanya mengenalkan, selanjutnya itu kan urusan mereka berdua, Dy. Jangan terus menerus punya rasa bersalah," ucap Hendra tak kalah keras dan lantang.


"Tapi Cantas itu temanmu, Mas. Seharusnya kamu tahu, bagaimana buruknya sikap Cantas dan kini meninggalkan Rara begitu saja, bukan hanya luka dan kecewa, tapi juga janin di rahimnya!!" teriak Dyah semakin keras.


Dyah benar-benar kecewa, rasa penyesalannya masih terasa hingga kini. Padahal Rara sedikit demi sedikit sudah bisa menerima takdirnya.

__ADS_1


"Lalu? Kamu mau salahkan aku, suamimu?!!" teriak Hendra dengan suara keras.


"Aku tidak menyalahkan kamu, Mas!! Aku salahkan diriku sendiri yang tidak bisa menjaga Rara!!" teriak Dyah yang semakin frustasi.


"Dyah!!" teriak Mas Hendra sambil menarik lengan Dyah hingga tubuh Dyah tertarik dan berbalik menghadap ke arah Mas Hendra, suaminya.


Tubuh Dyah merapat ke dada Mas Hendra. Tatapan Dyah sudah kosong, tidak ada rasa panik atau takut sedikit pun di raut wajahnya.


"Apa sih Mas?" ucap Dyah yang mulai kesal.


"Tatap mata Mas!! Jangan seperti ini?!" teriak Mas Hendra keras tepat di wajah Dyah. Kedua Tangan Mas Hendra mencengkeram lengan Dyah dengan sangat erat. tapi tubuh Dyah, istrinya itu hanya bisa menurut.


Dyah sudah tidak peduli. Di dalam pikirannya kini hanya ada Rara ... Rara ... dan Rara. Dyah sudah malas brdebat.


"Sudahlah Mas. Dyah itu capek dan lelah. Dyah mau tidur," ucap Dyah pelan dengan rasa malas.


"Aku sedang bicara!!" teriak Mas Hendra saat Dyah berbalik dan berjalan menuju ranjang dan duduk di tepi ranjang itu sambil menarik selimut tebalnya dan berbaring terlentang hingga selimut itu menutup tubuhnya hingga bagian dada.


Hendra mulai kesal. Sebagai laki-laki dirinya merasa tidak dipedulikan dan diabaikan oleh Dyah. Hendra menghampiri Dyah yang sudah berbaring.


"Dyah!!" teriak Hnedra sambil membuka selimut tebal itu.


Kedua mata Dyah membuka lebar. Tubuhnya hanya berpindah ke samping tanpa memeperdulikan Mas Hendra. Tidak sedikit pun Dyah berucap, mulutnya seolah terkunci dan tidak mengeluarkan kata sepatah kata pun.


"Kamu itu cuma karena Rara sampai seperti ini. Mendiamkan Mas, dan marah-marah tidak jelas. Sekarang terserah kamu!!" teriak Mas Hendra yang masih murka.


Dyah tetap diam, satu bantalnya diangkat dan di letakkan di atas wajahnya hingga menutup seluruh kepalanya.


Suami istri itu saling diam dan tidak bicara dari semalam hingga pagi menjelang. Semua kegiatan pagi dilakukan masing-masing, bahkan Cantika pun tidk tersentuh dan hanya di urus dengan pengasuhnya.


Saat sarapan, Mereka semua lengkap duduk di meja makan , namun mereka hanya sibuk dengan makanannya masing-masing.

__ADS_1


"Aku berangkat," pamit Mas Hendra setelah menyelesaikan sarapannya.


Mas Hendra bangkit berdiri dan mencium pucuk kepala cantika dan berlalu pergi begitu saja untuk bekerja.


Dyah tidak menatap mas Hendra sama sekali. Hatinya masih kesal dan kecewa karena masalah yang sedang di hadapi Rara.


Hendra sudah di dalam mobil, dan menyetir melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan. Pikirannya masih tertuju pada Dyah yang masih saja merajuk. Sebenarnya Hendra sendiri juga tidak tinggal diam. Beberapa hari ini Hendra juga mencari keberadaan Cantas bersama teman-teman kuliahnya dulu.


Tapi, usahanya belum optimal. Cantas belum diketahui keberadaannya.


"Arghh!!!" teriak Mas Hendra sambil memukul setir mobilnya dengan sangat keras.


Kaki kanannya langsung berpindah untuk menginjak rem. Mobilnya di tepikan. Kepala Hendra di letakkan di setir mobil. Pikirannya kacau, apalagi mengingat Dyah yang sudah dua hari ini juga terlihat kacau dan menyesal.


'Kamu dimana Ra!! Kamu tahu sikap Dyah jadi berubah karena masalah ini!!' batin Mas Hendra berteriak keras.


Ponsel Hendra berdering sangat nyaring, wajahnya diangkat dan menatap ke arah ponsel yang berada di jok seblah kemudinya.


Satu nama tertera di layar ponsel. Baihaqi, sahabatnya saat SMA di daerah Bogor.


Senyum Hendra terbitengangkat telepon dari Baihaqi. Baihaqi memebrikan kaar tentang keberadaan dan kondisi Rara yang baik-baik saja.


Kini dengan rasa tidak sabar, Hendra langsung menelepon Dyah, istrinya. Namun, sayang sekali ponsel Dyah sedang sibuk terus saat di hubungi.


Sejak tadi, Dyah menekan nomor Rara secara terus-menerus. Ponsel Rara aktif, di telepon pun menyambung. Tapi ponsel itu sepertinya dengan sengaja di abaikan oleh Rara.


'Angkat dong Ra!! Kamu apa kabar, aku benar-benar khawatir dengan ini semua," lirih Dyah denagn rasa kecewa.


Dyah hanya beranggapan Rara, sahabatnyaitu sedang kesal dan marah kepada dirinya.


'Angkat dong Dy!! Kenapa ponselmu sibuk terus!!' kesal Hendra.

__ADS_1


Hendra langsung memutar mobilnya dan kembali ke arah rumahnya untuk pulang dan menemui Dyah. kabar baik harus segera di ketahui oleh Dyah agar tidak ada salah paham.


__ADS_2