
"Dy ... Rara ada di Bogor!! Dyah!!" panggil Mas Hendra saat masuk ke dalam rumahnya dengan berteriak.
Hendra tidak mendapati Dyah, Istrinya. Ruang makan sudah bersih. Cantika sendiri bermain di taman belakang bersama pengasuhnya. Lalu, dimana Dyah?
Sudah tiga hari ini, Dyah mengambil ijin denagn alasan sakit.
Hendra menaiki tangga menuju kamar utamanya. Pintu kamar tidurnya di buka, tapi kamar itu kosong tidak ada orang disana. Hendra masuk ke dalam dan membuka pintu kamar mandi, berharap Dyah ada di dalam kamar mandi, tapi nyatanya Dyah juga tidak ada disana.
"Dyah!! Kamu dimana!!" teriak Hendra dengan keras dan suara menggelegar.
Pengasuh Cantika menghampiri Hendra, suamimajikannya itu.
"Maaf Tuan. Tadi Nyonya Dyah naik taksi, dan tidak berpamitan mau kemana. Waktu saya bertanya mau kemana pun, Nyonya Dyah hanya diam saja dan pergi berllau," ucap Pengsuh Cantika dengan pelan. Ada keraguan saat akan menyampaikan informasi ini kepada tuannya.
"Arghh ... Kenapa tidak bilang dari tadi. Aku tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk berteriak-teriak seperti ini. Buang waktu saja," tegas Hendra dengan suara keras.
Hendra menuruni anak tangga dan mengambil ponsel pintarnya dari saku celana panjangnya. Hendr masih saja terus berusaha untuk menghubungi Dyah.
Sambungan telepon itu tersambung, namun beum juga di angkat oleh Dyah.
"Arghh ... Kamu kemana saja!! Mas khawatir!! Kalau pergi itu pamit!!' tegas Hendra dengan suara menasehati.
"Maaf," lirih Dyah dari sambungan telepon di seberang sana.
"Sudahlah. Kamu sekarang dimana?" tanya Mas Hendra dengan pelan. Mas Hendra berusaha meredam emosinya. Dyah itu tidak bisa di kerasi, yang ada malah tambah keras nnatinya. Bukan keras untuk berteriak tapi keras untuk egois dan diam memilih jalan pikirannya sendiri.
"Aku sedang di Taxi online, Mas. Aku ke Bogor," ucap Dyah pelan tanpa ada perasaan bersalah.
"Ke Bogor!! Ngapain kamu ke Bogor!! Mau ke tempat siapa?" tanya Hendra penasaran. Tapi Hendra sudah menebak, tentu Dyah akan ke Bogor menyusul Rara ke tempat baihaqi.
"Mau ketemu Rara. Rara mau pulang ke kampung. Sekarang ada di Bogor, di tempat Mas Baihaqi," ucap Dyah pelan kepada Hendra.
"Mas akan susul kamu. Kamu tahu alamatnya Dy?" ucap Mas Hendra dengan cepat.
"Rara sudah shareloc Mas. Kamu ke Bigir juga ya? Aku sudah mau sampai," ucap Dyah pelan.
"Tunggu Mas disana," ucap Mas Hendra lantang.
__ADS_1
"Iya, Mas," jawab Dyah pelan.
Mas Hendra menutup sambungan teleponnya dan kemudian menyusul Dyah, istrinya ke Bogor.
Dyah sudah smpai di Bogor tepat di depan Pndok pesantren milik Baihaqi sesuai dengan lokasi dan alamat yang diberikan oleh Rara.
"Dyah!!" panggil Rara dengan suara yang sangat keras di seberang jalan.
Dyah baru saja turun dari Taksi onlinenya, setelah membayar ongkos perjalanannya dari Jakarta sampai Bogor.
"Hai, Ra!!" jawab Dyah dengan suara kerasa sambil melambaikan tangan kanannya kepada Rara.
Dyah menyeberang jalan dan langsung memeluk tubuh Rara dengan erat.
"Kamu apa kabar, Ra?" tanya Dyah yang masih memeluk Rara. Air matanya luruh begitu saja dari kedua mata Dyah. Rasanya pebuh haru, ada kesel, bercampur bahagia yang tidak bisa terungkapkan dengan kata-kata.
"Hei ... Kenapa menangis?" tanya Rara pelan sambil mengendurkan pelukannya dengan Dyah.
Dyah masih menundukkan kepala dan menahan sisa air matanya yang masih ingin turunluruh begitu saja.
Tangan Rara berusaha menyetuh wajah Dyah.
"Kamu salah Ra!! Aku malah berpikir yag tidak-tidak tentang ini semua. Aku berpikir kamu membenciku karena Cantas," ucap Dyah membela diri.
Rara menggelengkan kepalanya pelan.
"Kita berteman bahkan bersahabat sudah sangat lama. Seharusnya kamu tahu, bagaimana sikapku? Sifatku? Karakter aku?" ucap Rara menjelaskan.
"Lapar ..." ucap Dyah tiba-tiba mengalihkan pembicaraanya.
"Kamu itu kebiasaan deh, Dy. Kalau lagi serius bicara pasti minta makan karena lapar," ucap Rara kesal.
"Bodo amat. Habis kamu sih, Ra bikin aku stres aja," ketus Dyah kesal.
Rara memutar bibir Dyah dengan tangan kanannya karena gemas.
"Mau makan apa? Aku tidak tahu tempat ini. Tapi Emak Warti itu pintar masak, biar beliau saja yang masak," ucap Rara pelan.
__ADS_1
"Ide bagus. Kamu sejak kapan disini? Betah? Apa sudah akan menjadi istri seorang Ustad?" goda Dyah sambil terkekeh.
"Apaan sih. Kebiasaan, sukanya godain aku terus," kesal Rara lalu menggandeng lengan Dyah dan menuntunnya berjalan menuju rumah bambu.
"Gimana? Jadi calon istri Ustad?" tanya Dyah sambil mengulum senyum.
"Heh, Apaan sih. Kita berdua berbeda, Dy," jawab Rara singkat sambil berjalan menuju rumah bambu.
"Terus kalau kalian berdua gak berbeda berarti kamu mau kan, Ra? Jujur sama aku! Mas Baihaqi itu super baik," ucap Dyah pelan. Dyah sudah lama mengenal Mas Baihaqi, sejak mengenal Mas Hendra, Dyah pun kenal dengan semua teman dan saudara Mas Hendra.
"Ya, Memang baik bahkan sangat baik. Banyak hal yang sudah di perbuat Mas Baihaqi untukku," ucap Rara pelan.
"Terus apa masalahmu? Bukankah Mas Baihaqi juga bisa menerima keadanmu yang sedang mengandung dan mau menerim anakmu sebagai anaknya sendiri, bukan?" tanya Dyah pelan.
Rara mengangguk pelan dan jujur. Wajahnya terlihat sendu, ada yang mengganjal di hatinya sejak semalam.
"Memang benar. Tapi ...." ucapan Rara terhenti. Bibirnya mengatup seolah tertutup dan tidak mau membahas hal ini lagi.
Dyah menoleh ke arah Rara. Menatap wajah cantik sahabatnya itu dengan penasaran.
"Tapi apa?" tanya Dyah yang penasaran.
Rara menarik napas panjang dan dihembuskan dengan pelan.
"Karena kita beda, Dy," jawab Rara lirih.
"Serius!! Kamu sudah mulai suka dengan Mas Baihaqi, Ra?" tanya Dyah mulai kepo dengan jawaban singkat Rara.
"Bukan suka karena cinta atau apa. Tapi, aku kagum. Kagum dengan semua kebaikannya tanpa memandang bulu, siapapu yang di bantunya," jawab Rara menjelaskan.
"Kenapa kamu tidak pindah agama saja? Bukankah kamu yang bilang, keluarga besar Mamamu itu juga kebanyakan orang muslim?" tanya Dyah pelan sedkit ragu. Takut pertanyaannya malah menyinggung Rara.
"Dy, pindah agama itu mudah. Tapi, bila kita belum yakin mau gimana? Aku fleksibel. Kamu kan tahu sejarahku memiliki pacar seperti apa? Semua lelaki yang pernah dekat denganku adalah lelaki yang selalu berbeda prinsip," ucap Rara pelan.
Rara bukan perempuan yang fanatik. Rara lebih fleksibel menerima semuanya dengan baik, tidak memilih dn memilah dengan siapa harus berteman dan bersahabat.
"Kamu tidak mau coba, Ra? Kesempatan tidak datang dua kali. Mas Baihaqi itu sempurna," ucap Dyah pelan.
__ADS_1
"Jalani saja Dy. Aku hanya ingin menjlaani semunya seperti air, biar tidak ada paksaan hingga tidak terbebani. Kalaupun harus berpindah keyakinan, mungkin memang itu jalan takdirku," jawab Rara pelan menjelaskan.
"Jawabanmu selalu bijak. Aku sebagai sahabat hanya bisa mendukungmu, Ra," ucap Dyah pelan.