MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
TERJADI LAGI


__ADS_3

Rutinitas Amelia setiap pagi adalah berangkat ke sekolah untuk mengajar anak - anak TK.


"Pagi semua," sapa Amelia kepada dua orang guru yang lebih dulu datang.


"Pagi Lia. Bagaimana acara di hari libur kemarin?" tanya Erina kepada Amelia yang bari saja meletakkan tasnya di meja.


Seperti biasa di meja kerjanya selalu ada surat berisi pesan singkat dan setangkai mawar merah yang baru saja mekar dan masih sangat segar.


Amelia menatap ke arah luar. Sudah beberapa bulan ini selalu seperti ini setiap pagi. Siang hari selalu ada makan siang di meja kerjanya


Entah siapa yang melakukannya itu. Dan tidak pernah terlihat batang hidungnya.


"Pengagum rahasiamu sudah beraksi pagi - pagi bahkan tak pernah terlambat," ucap Erina tersenyum.


Amelia hanya datar menanggapi candaan kedua temannya itu.


"Kenapa masih betah sendiri? Gak mencoba membuka hati?" tanya Sora kepada Amelia.


Amelia menggelengkan kepalanya pelan. Kedua temannya tidak pernah tahu, kalau Amelia akan menikah dan sebentar lagi terikat dengan ikatan pernikahan walaupun Amelia dan calon suaminya belum pernah saling bertatap muka dan tidak pernah mengenal satu sama lain.


"Bahagia tidak melulu bersama seseorang atau pendamping. Melihat tawa anak - anak di kelas saja sudah membuat aku bahagia," jawab Amelia dengan suara pelan.


"Tapi ... Kita ini perempuan. Hidup di kota kecil dengan gaji yang pas - pasan untuk hidup. Kita butuh pendamping biar tidak di katakan sebagai perempua tak laku," ucap Sora menjelaskan.


"Itu hanya berlaku untuk kebanyakan perempuan dan tidak untuk aku, Sora," ucap Amelia dengan tegas.


Amelia hanya ingin menutup diri dan kehidupannya agar tidak di campuri oleh orang lain.


"Sudahlah Sora. Kamu fokus saja dengan acara pernikahanmu bulan depan," ucap Erina pelan.


Sontak ucapan itumembuat Amelia kaget.


"Kamu mau menikah?" tanya Ameia pelan.


"Ya. Aku perempuan dan aku wajib menikah," ucap Sora lantang.


"Kenali dengan baik calon suamimu itu. Agar kamu benar benar paham satu sama lain," ucap Amelia menasehati.


Amelia pergi berlalu begitu saja ke arah depan gerbang sekolahn TK. Setiap pagi, Amelia selalu tersenyum kepada murid - muridnya yang akan masuk ke sekolah. Membantu para ibu, jika anaknyamerajuk tak mau sekolh bila tidak di tunggui oleh Ibunya.


Dirinya bahkan tak peduli dengan pengagum rahasia itu dan tidak pernah berusaha mencari tahu.

__ADS_1


"Rose ...." panggil seorang laki - laki dari arah belakang.


Amelia hanya diam. Karena memang Rose bukanlah namanya.


"Rose?" panggil laki - laki yang berada tak jauh dari tempat Amelia berdiri.


Karena sudah du akli di panggil. Amelia akhirnya menoleh, akrena di sana hanya ada dia.


"Rose? Kamu panggil aku, Rose?" tanya Amelia pelan.


Lelaki itummengangguk pelan dan tersenyum manis. Tatapannya begitu lekat kepada Amelia. Amelia sangat mirip dnegan mendiang Ibunya, senymannya dan kelembutannya sama persis.


"Boleh aku memanggilmu dnegan sebutan Rose?" tanya lelaki itu pelan.


Amelia hanya mengangguk pasrah. Apalah sebuah arti nama asal dengan sebutan yang masih sopan.


"Boleh. Tapi itu bukna namaku," ucap Amelia menjelaskan.


"Aku tak peduli. Kamu memang cantik dan secantik bunga mawar," ucap lelaki itu jujur.


Amelia membalikkan tubuhnya kembali dan mulai menyapa para ibu dan para murid yang baru saja datang.


"Bolehkah aku menjemputmu nanti siang dan mengajak kamu makan bersama?" tanya lelaki itu pelan.


Cukup lama lelaki itu menunggu jawaban Amelia yang tak kunjung menjawab.


"Bagaimana? Aku ingin mengajakmu makan siang. Hanya makan siang saja, tidak lebih," ucap lelaki itu pelan.


"Kamu mengajakku pergi?" tanya Amleia pelan.


Lelaki itu hanya mengangguk pelan.


"Hanya untuk makan siang?" tanya Amelia kembali memastikan tidak ada permintaan lainnya lagi.


"Hanya makan siang dan aku akan mengantarkanmu pulang," ucap lelaki itu pelan.


"Baiklah. Datang tepat jam dua belas siang. Jika kamu tidak datang, aku anggap batal," ucap Amelia dengan tegas.


Lelaki itu menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.


Hari ini hari yang membahagiakan bagi Sultan. Usahanya selama beberapa waktu ini untuk mendekati Amelia akhirnya sukses besar dengan acara makan siang nanti.

__ADS_1


Tepat pukul dua belas siang. Lelaki yang yang mengajak Amelia makan siang sudah datang dan menunggu di depan gerbang.


"Sudah lama nunggu?" tanya Amelia pelan sambil merapikan baju seragamnya.


"Untukmu, waktu gak pernah terasa," ucap lelaki itu dengan senyum manisnya.


"Mau pergi kemana?" tanya Amelia pelan.


"Kamu mau kemana?" tanya lelaki itu pelan.


"Aku tidak punya pilihan," ucap Amelia pelan.


Lelaki itu berjalan lebih dulu dan Amelia berjalan di blakangnya.


Perasaan keduanya semakin tak karuan. Entah perasaan apa yang sedang merajai hati keduanya.


"Naiklah," titah lelaki itu pelan sambil membukakan pintu mobil di bagian depan.


"Kita naik angkot saja. Aku gadis biasa, dan ...." ucapan Amelia terhenti. Kepergiannya dengan lelaki ini tidak mau menimbulkan masalah baru dan tidak mau menimbulkan fitnah yang keji bagi yang mengetahui status Ameia sebenarnya.


"Dan apa? Lagi pula aku tidak berpikir jauh tentang itu. Siapa pun kamu, aku tetap kagum padamu. Menyukaimu. Dan aku, sudah jatuh hati kepadamu," ucap lelaki itu lantang.


Tatapannya begitu lekat kepada Amelia gadis beruntung yang bisa meluluhkan hatinya.


"Sebentar lai aku akan menikah," ucap Amelia pelan dan menunduk merasa bersalah.


Tatapan lelaki itu langsung menjadi tajam. Selama ini, ia mengekori dan mencari tahu tentang Amelia dan tidak sedikit pun informasi tentang calon suaminya. Amelia selalu sendiri dan tak memiliki pendamping atau kekasih.


"Calon Suami? Aku tidak salah dengar kan, Rose? tanya lelaki itu lebih memastikan lagi.


Amelia menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak sama sekali. Aku sudah memiliki calon suami. Jadi, mungkin makan siang kali ini tidak bisa kita lanjutkan," ucap Amelia pelan dengan senyum keramahan.


"Tidak bisa. Aku tetap akan mengajakmu makan siang sesuai janjiku. Karena aku ingin mengenalkan kamu pada Ayahku, agar aku bisa membatalkan perjodohan ini. Calon Istri yang tak pernah aku lihat selama ini," ucap lelaki itu dengan garang.


Wajahnya terlihat sinis dan sangat menakutkan.


"Kamu juga sudah punya calon istri? Dan kamu malah ingin mengenalku? Gimana perasaan calon istri kamu nanti?" ucap Ameia menasehati.


Amelia tidak mau kehadirannya malah menjadi perusak hubungan lelaki yang tak di kenalnya itu.

__ADS_1


"Aku tak pernah melihatnya dan aku tak mengenalnya sama sekali. Jauh sebelum aku akan menikah dengannya, aku telah mencintaimu terlebih dahulu, Rose," ucap lelaki itu dengan suara lantang.


Hatinya tak gentar tetap ingin memiliki Amelia. Hanya dengan melihat Amelia, hatinya selalu merasakan kedamaian.


__ADS_2