MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
LELAH


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Sultan dengan wanita yang telah di jodohkan oleh Sang Ayah.


"Terima kasih sudah mau menerima perjodohan ini Amelia? Wajahmu sangat mirip dengan mendiang istriku, tentu Sultan akan bisa menerimamu dengan baik," ucap Sang Ayah mertua kepada Amelia.


Amelia hanya mengangguk pelan lalu tersenyum manis. Beberapa waktu yang lalu, saat Tuan Raymond mendatangi TK. Bina Balita, tempat di mana Amelia bekerja. Ia di panggil oleh Kepala Sekolah, dengan alasan Pengasuh Yayasan ingin sekali menemuinya.


Saat itu juga, Tuan Raymond mengungkapkan keinginannya untuk menjodohkan Amelia dengan putra kesayangannya yang dingin dan arogan dengan Amelia.


"Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu, Tuan. Aku hanya gadis biasa yang bekerja sebagai guru TK dan harus mendampingi putramu yang tersohor itu," ucap Amelia pelan.


"Panggil aku, Ayah. Jangan panggil aku, Tuan. Aku, Ayah mertuamu sekarang. Kalau ada apa - apa tinggal telepon aku, dan Joe akan membantumu, Amelia," ucap Raymond pelan.


"Iya Ayah," ucap Amelia lembut.


"Apa kamu sudah pernah melihat putra semata wayangku, Amelia?" tanya Raymond pelan.


Amelia menggelengkan kepalanya pelan. Amelia tak pernah sedikit pun merasa takut dan cemas akan jodohnya. Jika hari ini ia di nikahkan dengan Sultan, maka itu adalah anugerah teridah yang di berikan oleh Tuhan kepadanya. Apapun dan bagaimana pun kelebihan dan kekurangan Sultan, tentu akan di terima baik oleh Amelia.


"Belum pernah Ayah. aku terlalu sibuk dengan anak - anak di sekolah TK," ucap Amelia dengan santun.


Raymond mengeluarkan dompet panjangnya dan mengeluarkan tiga lembar foto. Foto pertama, foto bersama keluarga kecilnya. Foto saat mendiang istrinya Sarah masih hidup. Lalu foto kedua adalah foto mendiang istrinya, Sarah saat masih muda yang sangat mirip sekali dengan Amelia saat ini. Lalu, foto ketiga adalah foto Sultan, saat dewasa sekarang.


"Ini Sultan." Raymond memberikan keiga foto itu kepada Amelia.


Amelia yang terlihat sangat cantik hari ini dengan balutan baju pengantin berwarna putih dan tudung pengantin yang menutupi wajahnya.


Saat melihat satu per satu foto itu. Amelia begitu tertegun saat melihat foto Sultan. Lelaki itu? Sama persis dengan lelaki yang selama ini memperhatikannya. Lelaki yang selalu bilang melihat wajahnya selalu tenang dan damai.


"Ini Mas Sultan?" tanya Amelia pelan.


"Iya benar. Apa kamu pernah bertemu sebelumnya?" tanya Raymond pelan.

__ADS_1


Amelia menggelengkan kepalanya pelan. Amelia berbohong dan berusaha menutupi kejadian yang selama ini di alaminya.


"Belum pernah Ayah. Makanya aku bertanya? Ini calon suamiku? Dia begitu tampan dan sepertinya ia lelaki yang lembut," ucap Amelia pelan.


Raymongd mengangguk pelan dan bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju kaca jendela yang besar. Terlihat sekali guratan dan kerutan di wajahnya yang semakin menua. Nampak sekali Raymond menarik napasnya dengan dalam dan di hembuskan secara perlahan.


"Dia memang anak yang baik sekali. Lembut, ramah, perhatian. Itu saat masih ada Sarah, ibunya. Ada kesalah pahaman di antara kita berdua yang samapi hari ini pun belum selesai. Sultan marah besar kepada Ayah dan membenci Ayah hingga hari ini. Semoga dengan hadirnya kamu, bisa meredam kembali sikap Sultan yang arogan itu," pinta Raymond dengan suara pelan.


Amelia mengangguk paham dengan tugasnya saat ini. Bukan saja sebagai istri, namun harus bisa mengembalikan karakter Sultan ke asalnya. Lalu memperbaiki hubungan Sultan dengan Ayahnya.


"Apakah pantas aku mendampinginya, Ayah?" tanya Amelia kembali tampak ragu.


"Kamu pantas. Pantas sekali. Ayah pastikan, dia akan bahagia bersama kamu, Amel," ucap Raymond pelan.


"Aku akan coba Ayah." singkat Amelia menjawab.


"Ayah percaya kepadamu, Amel. Sepertinya , waktunya sudah tiba. Kita ke aula sekarang?" pinta Raymond pelan.


Raymond nampak sedikit cemas dan mengangguk paham. Bingung juga, bagaimana harus menyampaikan hal ini semua kepada Amelia.


"Ada apa, Ayah?" tanya Amelia pelan.


"Sultan. Sultan ingin mengucap ijab kabul tanpa ada pengantin perempuan di sebelahnya. Sultan tidak ingin melihat pengantin perempuannya. Bagaimana Amelia?" tanya Raymond sedikit bingung.


Di satu pihak tentu tidak enak dengan Amelia. Tapi di satu pihak, pernikahan ini harus terjadi. Jadi, mau tidak mau Raymond harus menuruti keinginan Sultan.


Amelia hanya bisa mengangguk paham.


"Tidak apa - apa, Ayah. Aku mengerti, aku menunggu di belakang aula, hanya untuk mendengarkan bahwa namaku memang di sebut oleh Mas Sultan," pinta Ameli dengan suara lembutnya.


"Kamu yakin tidak apa - apa? Ini permintaan yang tak semestinya," ucap Tuan Raymond yang semakin merasa bersalah kepada Amelia.

__ADS_1


"Tidak jadi masalah besar, Ayah. Amelia mengerti," ucap Amelia pelan menahan isak tangisnya.


Raymond sudah duduk di dekat Sultan. Melihat Sang Ayah duduk di sebelahnya, wajah Sultan pun berubah sinis dan sengit. Ia tidak menginginkan pernikahan ini. Pernikahan karena perjodohan, yang belum tentu Sang Wanita adalah wanita yang sesuai dengan hati dan keinginannya.


"Sudah siap? Sudah bisa kita mulai acaranya sekarang?" tanya Sang Penghulu kepada Raymond dan Sultan secara bergantian.


Raymond mengangguk pelan.


"Pengantin wanitanya?" tanya sang penghulu pelan.


"Ia akan masuk setelah SAH," ucap Sultan dengan suara tegasnya. taapannya semakin tajam dan terlihat keji ke arah Raymond, Ayahnya.


"Oh ... Baiklah. Kita mulai ya," ucap penghulu itu.


Acara pagi itu begitu sangat khidmat sekali. Semua berjalan dengan lancar dan sukses.


Tidak sampai setengah jam. Ijab kabul itu akhirnya selesai. Amelia pun telah SAH menjadi istri dari lelaki tersohor bernama Sultan, putra semata wayang, Tuan Raymond.


"Syukurlah semuanya berjalan dengan lancar," ucap Amelia dengan suara lirih.


Joe mengajak Amelia ke depan aula dan duduk di samping Sultan.


Tanpa membuka tudung kepala Amelia. Sultan memberikan cincin kepada Amelia lalu memakaikan cincin itu di jari manisnya.


Setelah selesai. Sultan pun bangkit berdiri dan langsung pergi begitu saja meninggalkan acara pernikahannya yang elum selesai benar.


Amelia pun kaget, begitu juga dengan Raymond, Ayah Sultan yang langsung ikut berdiri seolah ingin meneriaki anak semata wayangnya namun tak mampu di lakukannya. Kesalah pahaman di masa lalu, membuat komunikasinya dengan Sultan pun berakhir sejak kematian sarah.


Raymond menatap Amelia yang tertunduk sejak tadi. Ia tak sanggup menatap Amelia yang jelas terlihat sedang menangis. Bahunya bergetar hebat menahan isak tangisnya.


Siapa yang tidak sedih. Menikah tanpa di lihat sama sekali hanya sekedar mengucap janji dan memberikan cincin sebagai simbol ikatan perkawinan. Namun, setelah itu di tinggalkan begitu saja, seperti tak membutuhkan.

__ADS_1


"Amelia ... Kamu tidak apa - apa?" tanya Tuan Raymond pelan. sambil memegang Amelia yang terlihat terhuyung akan jatuh.


__ADS_2