MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
ES DALGONA


__ADS_3

Persiapan pembukaan Cafe Jira sudah dalam tahap akhir. Semua sudah siap seratus persen. Tinggal menunggu untuk menggunting pita sebagai tanda peresmian Cafe Jira telah di buka dan mulai beroperasi.


Malam ini keempat orang inti sebagai penggagas pendirian Cafe Jira sudah berada di dalam Cafe Jira untuk briefing terakhir.


"Mana yang lain? Katanya sudah ada karyawan yang mau bekerja. Waktu kita tinggal malam ini. Kita harus profesional dalam bekerja dan berbisnis," tegas Panji dengan suara yang sangat lantang.


Lia dan Rey saling berpandangan. Dengan cepat Rey pun menelepon satu per satu karyawan yang sudah di terima kemarin berdasarkan tes dan uji sesuai dengan kriteria yang di butuhkan.


"Mereka sudah berada di jalan. Kita tunggu saja sambil kita brifing," ucap Rey pelan.


"Oke." jawab Panji singkat. Panji duduk di meja sambil mengetuk -ngetukkan buku -buku jarinya di atas meja. Tatapannya menyorot ke arah Maura yang entah sedang membuat apa di dapur Cafe dengan wajah yang serius sekalian mencoba beberapa alat yang belum pernah ia coba selama ia mengenyam di Sekolah Tata Boga dulu.


"Nji ... Karyawan kita ada empat. Dua laki -laki dan dua perempuan. Dua laki -laki ini adalah chef terbaik dari sekolah tata boga di kota ini. Sedangkan dua perempuan akan membantu Lia menjadi serang pelayan. Lia merangkap kasir dan aku pengadaan barang dari gudang. Dan kau seorang owner tak perlu bekerja cukup memantau saja," ucap Rey pelan menjelaskan satu per satu pekerjaan mereka.

__ADS_1


Tatapan Panji kini beralih pada Rey. Ada hal yang tak di sukai oleh Rey.


"Apa kau terima laki -laki sebagai karyawan dan di pasangkan dengan Maura? Kau tidak lihat Maura itu cantik dan seksi? Kalau kedua mata mereka tergoda dengan kemolekan tubuh Maura dan mengganggu Maura akan ku colok satu per satu mata mereka lalu aku congkel," ancam Panji dengan suara keras dan lantang.


Maura pun berjalan mendekati Panji dan membawa satu gelas minuman es dalgona yang sempat viral itu. Dengan racikan khusus dan di tambah sedikit ramuan rahasia jadilah es dalgona special Cafe Jira.


"Sayang ... Jangan marah -marah terus. Nanti cepat tua. Maura masih muda dan kamu sudah tua?" ucap Maura polos sambil menggoda Panji yang masih terlihat marah dan emosi.


Di tangan Maura sudah ada minuman dingin. Tanpa banyak bicara dan menjawab pernyataan tak penting Panji. Sedotan yang ada di gelas itu pun langsung di tujukan ke bibir Panji.


Srepeetttt .... arghhh .... Kedua mata Panji menatap Maura yang ada di sampingnya sambil bergelayut manja.


"Enak banget?" ucap Panji dengan kedua mata berbinar. Rasanya bikin adem di hati dan rasa manis di lidahnya tidak kebas. Manisnya benar - benar gak bikin eneg.

__ADS_1


"Enak kan?" ucap Maura dengan senyum lebar. Ia juga ikut mencicipi minuman itu.


"Tetep enak kamu, Sayang," bisik Panji lirih dan mencium pipi Maura.


Panji sudah tidak malu memamerkan kemesraan dengan Maura di depan publik.


Senyum Maura hanya melebar. Entah sudah ke berapa kali, Panji bicara hal ini.


"Kau tidak membuatkan untuk Kakakmu yang tak kalah ganteng ini?" ucap Rey ketus kepada Maura.


"Eitt ... Gak ada yang bisa suruh -suruh Maura. Sini Sayang, aku peluk," ucap Panji pelan sambil menarik pinggang Maura untuk mendekat padanya.


Rey hanya menatap Lia dan memutar kedua bola matanya malas.

__ADS_1


__ADS_2