MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
16


__ADS_3

Sudah dua hari Rara berada di rumah kontrakannya sambil membereskan beberapa pakaiannya ke dalam koper besar. Tubuhnya sudah mulai pulih dan sehat kembali.


Terhitung dari kemarin Rara sudah resmi keluar dari perusahaan yang selama ini membesarkan namanya. Rara sudah tidak bekerja lagi. Uang gaji terakhir dan uang pesangon sudah di terima oleh Rara sebagai bekal untuk kehidupan Rara yang baru bersama anaknya nanti.


Ponsel Rara sejak tadi berdering dengan sangat nyaring , namun Rara mengabaikan. Hari ini moodnya sedang tidak baik-baik saja. Banyak hal yang membebani piirannya kini selama di rumah, karrena Rara memiliki banyak waktu luang untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu.


Besok pagi adalah keberangkatanya menuju kampung halamannya. Niat Rara ingin tinggal disana selamanya jika memungkinkan dan membuka usaha kecil-kecilan sebagai sumber penghidupannya nanti. Tapi, semakin memikirkan kejadian-kejadian yang tidak pasti dan memperkeruh masalah.


"Assalamualaikum ...." sapa seseorang dari arah depan pintu sambil mengetuk pintu rumah kontrakan Rara dengan sedikit keras.


Rara yang sedang melamun pun lagsung mendongakkan kepalanya karena kaget. Beberapa pakaian yang masi dilipatnya langsung di letakkan di atas tempat tidur.


Tanpa menjawab sapaan itu, Rara bangkit berdiri untuk membuka pintu rumah kontrakannya itu. Pintu rumah kontrakan itu terbuka setelah Rara memutar anak kunci dari dalam.


KRIET...


"Pagi Rara? Maaf kalau kedatanganku mengejutkanmu?' ucap Baihaqi pelan saat pintu rumah kontrakan itu terbuka.


"Mas Baihaqi? Kirain siapa? Masih pagi, sudah ada disini?" tanya Rara dengan polosnya. Maksud Rara ini masih pagi, sedangkan Baihaqi kan berdomisili di Bogor, lalu berangkat jam berapa, jam segini sudah sampai di jakarta.


"Boleh masuk? Kita saapan bersama? Aku sudah beli makanan untuk sarpan, pasti kamu belum makan kan? Kasihan bayimu," ucap Baihaqi pelan menasehati. Pertanyaan Rara tadi hanya di abaikan. Seseorang kalau sudah sayang dan cinta, maka apapun akan dilakukan tanpa berpikir panjang, tanpa takut salah, kecewa, dan sakit hati. Karena dalam pikirannya hanya berjuang dan berusaha.


"Ekhm .. Iya, Mas Bai. Masuklah. Maaf rumahnya gak bagus, cuma kontrak," ucap Rara pelan lalu menutup kembali pintu rumah tersebut.


Rumah kontrakan ini sudah ditinggali Rara lebih dari lima tahun, sebelumnya Rara mengekos satu kamar yang juga jauh jaraknya dari kantornya. Akhirnya teman kakak Rara menawarkan rumah kontrakan yang jaraknya dekat dengan kantor Rara.

__ADS_1


Kontrakan yang nyama dengan tipe minimlais, ada tiga bagian ruangan. Ruangan pertama biasanya digunakn sebagai ruang tamu atau ruang tv yang terletak di paling depan, kemudan ruangan kedua hanya ada sekat yang biasa digunakan sebagai kamr tidur sekaligus tempat untuk makan dan ruangan terakhir digunakan untuk dapur dan kamar mandi.


Rara masuk ke dalam dan mengambil pirin serat alat makan lainnya. Kebetulan televisi Rara ada di ruangan kedua menyatu dengan kamar tidurnya.


"Mas di dalam saja, sekalian nonton televisi," ucap Rara pelan dan sedikit canggung.


Baihaqi mengangguk pelan dan mengikuti keiginan Rara. Rumah kontrakan itu tampak lengang, tidak banyak barang dan perabotan. Di bagian depan juga hanya ada satu karpet dan rak sepatu saja. Baru di ruangan kedua, paket komplit, ada kasur, ada lemari, ada rak, ada televisi. Di ruangan ketiga pun tidak nampak kompor atau alat masak. Baihaqi cukup pdetail melihat isi ruangan seorang gadis berbeda prinsip seperti Rara, sekaligus untuk mengetahui karakter dan sifat gadis itu.


Rara sudah duduk di lantai sambil menyiapkan gelas dan air putih di teko.


"Sudah tidak perlu repot-repot, nanti aku ambil sendiri. Kamu tidak boleh lelah, Ra," ucap Baihaqi pelan.


Baihaqi meletakkan satu kantong plastiknya dan mengeluarkan dua kotak makanan berisi nasi uduk lengkap degan telur balado. Wangi nasi uduk itu sudah tercium sangat lezat. Rasa gurih dari santan dan taburan bawang goreng di atas nasi panas menambah nikmta tersendiri.


Rara hanya diam dan menelan air liurnya ke dalam kerongkongannya. Wangi makanan itu luar biasa membuat Rara sangat lapar dan segera ingin menikmatinya tanpa menyimak apa yang sedang dibicarakan Baihaqi. Rara hanya fokus pada maknan yang ada di depannya.


"Makanlah," ucap Bihaqi memberikan satu piring berisi nasi uduk.


"Boleh aku makan?" tanay Rara dengan polos, malah nampak seperti orang bodoh yang terlihat kelaparan.


"Makanlah. Apa perlu aku suapi seperti waktu itu di rumah sakit?" tanya Baihaqi menggoda.


Rara langsung mengambil piring itu dari tangan Baihaqi dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Tanpa rasa canggung dan malu, Rara langsung melahap nasi uduk itu dengan sangt nikmat. Perutnya yang sejak tadi memang sudah meronta-ronta untuk diisi hanya didiamkan oleh Rara. Pasalnya Rara malas keluar hanya untuk membeli makanan.apalagi kondisi Rara yang tenagh berbadan dua dengan perut yang membuncit malah membuat banyak orang dan tetangga sekitar menghina dirinya.

__ADS_1


Sadar ditatap dengan senyuman oleh Baihaqi. Rara pun meletakkan piringnya dan menghabiskan makanan yang masih ada di dalam mulutnya. Lalu meminum satu gelas air putih hingga habis tak bersisa.


"Kamu tidak makan, Mas?" tanya Rara pelan kepada Baihaqi yang sejak tadi malah menatap Rara. Kotk makanannya malh dibiarkan masih tertutup dan tidak terbuka. Sejujurnya Baihaqi pun lapar, makanya mengajak srapan bersama. Tapi melihat cara makan Rara yang begitu menikmati, seolah selera makan Baihaqi pun ikut hilang.


"Habiskan saja. Aku tahu kamu masih sangat lapar. Kalau kurang silahkan bagianku kamu makan." ucap Baihaqi dengan bijak.


Baihaqi menahan laparnya demi kebahagiaan Rara. Rara menggelengkan kepalanya dan berehnti menikmati nasi uduk itu.


"Sudah saja makannya, kalau Mas juga tidak ikut makan," ucap Rara pelan mengakhiri makannya. Padahal perutnya masih sangat lapar.


KRIUKK ...


Bunyi perut Rara terdengar sngat nyaring dalam susana hening membuat Baihaqi yang mendengarnya pun tersenyum lebar.


"Kalau masih lapar jangan menyudahi, lanjutkan saja," ucap Baihqi menatap lekat Rara.Baihaqi mengambil piring Rara dan menyuapi gadisitu.


"Sudahlah, aku bukan orang yang sedang sakit. Aku bisa makan sendiri," ucap Rara ketus mengambil alih piring yang sedang dipegang oleh BAihaqi.


"Ya, sudah aku juga makan. TApi kalau masih lapar bilang ya? Nanti aku belikan makanan lagi, jangan menyiksa perut dan bayimu," tegas Baihaqi pelan.


Baihaqi membuka kotak makanannya dan mulai menikmati makanan itu.


"Ada apa kesini Mas? Ada kerjaan sama Mas Hendra?" tanya Rara pelan.


Baihaqi menyuap makanan itu ke dalm mulutnya dan menggeleng pelan menjawab pertanyaan Rara.

__ADS_1


"Lalu? Bogor ke Jakarta itu lumayan jauh lho? Pasti ada sesuatu kan?" tanya Rara dengan penasaran.


__ADS_2