
Hany juga tidak peduli. Dirinya memang sudah SAH menjadi istri seorang ustad. Bukan berarti Hany harus berubah menjadi alim dan sok sholehah demi sebuah pencitraan.
Kedua mata Hany menatap ke arah langit malam yang indah karena taburan bintang. Hany tak pernah menyangka dirinya yang masih belia ini sudah di nikahkan dengan lelaki yang jauh usianya. Jelas, tak pernah sekali pun Hany membayangkan hal ini. Menukah muda, menjadi ibu rumah tangga, hanya lulusan SMA tanpa ada karir yang jelas di masa depan.
"Kau menyesal telah menikah?" tanya Hanafi yang sudah berdiri di belakang Hany seolah tahu dengan apa yang ada di pikiran Hany saat ini.
Hany menoleh ke arah belakang menatap Hanafi yang berjalan menghampirinya dan berdiri tepat di samping Hany.
Hanafi memegang pagar pembatas dari lantai dua dan menatap Hany yang juga menatapnya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Ada yang salah dengan pertanyaanku?" tanya Hanafi pelan.
Hany menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak ada," jawab Hany singkat.
"Bagus. Kadang perjalanan hidup tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Tapi ... Semua keputusan tetap ada di tangan kita. Jadi pilihan tetap kita yang memilih," ucap Hanafi menasehati.
__ADS_1
Hany hanya terdiam dan tidak bicara sepatah kata pun. Tapi ia menyimak dengan baik semua ucapan Hanafi, suaminya.
"Aku akan tetap menunggu sampai kamu bisa menerima aku dan mencintai aku sebagai suami SAH kamu, Na," ucap Hanafi pelan.
Hany hanya melirik sekilas. Ia memang tidak paham soal ini. Hati dan pikirannya masih keras belum bisa menerima pernikahan atas perjodohan ini.
"Ya. Tunggu saja sampai Na sukses," jawab Hany santai.
"Tolak ukur suksesnya apa? Kamu sukses sebagai joki. Kamu juga sukses sebagai murid SMA, kamu juga sukses sebagai perempuan, lalu sukses yang mana yang kamu maksud?" tanya Hanafi pelan.
Hanafi terkekeh dan mencubit pipi Hany dengan gemas. Cara bicaranya yang ceplas ceplos dengan mimik wajah polos tanpa di buat - buat membuat Hanafi makin ingin menguyel -uyel Hany.
"Mau seperti Mama Amalia? Jadi model, banyak uang juga, terkenal, atau seperti Papa Broto yang sukses dengan banyak perusahaan di bawah pimpinannya? Aku cuma seorang lelaki biasa yang hanya ingin membina keluarga jadi sakinah, mawadah dan warohmah. Kalau tuntutan kamu begitu ya, tidak apa -apa. Hidup itu kan pilihan hanya saja butuh proses dan penyesuaian," ucap Hanafi bijak.
Kata -kata Hanafi lembut tapi cukup menusuk dan membuat Hany berpikir bahwa semua impian itu tidak akan terwujud semua sesuai harapannya. Tapi, setidaknya keinginan menjadi sukses itu pasti akan terwujud dengan cara yang lain.
"Bantu Na belajar," ucap Hany pelan. Tatapannya sendu ke depan dan menatap langit yang indah.
__ADS_1
"Belajar untuk apa?" tanya Hanafi memastikan.
"Belajar untuk menerima ikhlas proses yang terjadi untuk kehidupan kita," ucap Hany pelan.
Hanafi tersenyum sambil menoleh ke arah Hany.
"Sudah bisa menerima dan berdamai dengan diri sendiri?" tanya Hanafi pelan.
Hany mengangguk pasrah.
"Na coba," jawab Hany singkat. Ia sendiri tak yakin dengan jawabannya. Masih banyak keinginan yang ingin di lakukan. Termasuk event balapan lusa.
"Tidur yuk, sudah malam. Besok kamu harus sekolah pagi, kan?" ucap Hanafi pelan.
"Iya," jawab Hany pelan.
Hanafi dan Hany pun masuk ke dalam kamar. Menutup rapat pintu kaca yang besar dan menggeret hordeng hingga menutup seluruh kaca itu.
__ADS_1