MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
93


__ADS_3

Bunda Ayu hanya melengos dan berjalan ke arah dapur bersihnya untuk membuat kopi capuccino kesukaan Ayah Basith, suaminya.


Bu Ijah juga berjalan ke arah yang sama berada tepat dibelakang Bunda Ayu dengan kepala menunduk. Tiba-tiba Bunda Ayu berhenti mendadak dan membalikkan tubuhnya dan menubruk tubuh Bu Ijah yang ada dibelakangnya.


Bugh ...


Kening Bu Ijah menubruk kening Bunda Ayu hingga terasa sakit.


"Maafkan saya, Nyonya besar, saya tidak melihat Nyonya Besar membalikkan badan," ucap Bu Ijah dengan suara pelan.


Bunda Ayu hanya mengusap pelan keningnya dan menatap tajam ke arah Bu Ijah tanpa menjawab sepatah kata pun.


"Lalu, Kirana dimana sekarang?" tanya Bunda Ayu dengan sedikit menggertak.


"Emm, anu Nyonya, itu, anu, Non Kirana kabur dari rumah sakit," ucap Bu Ijah pelan sambil menundukkan kepalanya pelan.


Bu Ijah takut disalahkan dan takut akan kemurkaan Bunda Ayu tentang menghilangnya Kirana.


Bunda Ayu menatap tajam ke arah Bu Ijah lalu tersenyum lebar.


"Kamu tidak bohong? Kirana benar-benar menghilang karena kabur?" tanya Bunda Ayu pelan memastikan.


Bu Ijah mengangguk pelan, masih menundukkan kepalanya ke bawah menatap ubin keramik yang diinjaknya.


"Betul Nyonya Besar, makanya saya dan tuan muda Syakir baru saja pulang mencari keberadaan Non Kirana," jawab Bu Ijah pelan.


"Biarkan saja, nanti juga terbiasa. Syakir harus ke Amerika bersama Fatima dan bukan dengan Kirana karena semua biaya dan tempat tinggal sudah disiapkan oleh Aby Fatih sebagai hadiah pernikahan mereka berdua. Tanpa Aby Fatih dan Umi Amira, entah apa yang akan terjadi dengan kehidupan kita saat ini," ucap Bunda Ayu pelan menjelaskan.


Bu Ijah langsung mengangkat wajahnya dan menatap Bunda Ayu dengan heran. Tidak pernah Bunda Ayu memperlakukan seseorang seperti ini, biasanya Bunda Ayu sangat baik. ramah dan lemah lembut. Tapi, kali ini sungguh sangat berbeda tidak seperti Bunda Ayu yang dikenal oleh Bu Ijah selama ini.


"Nyonya Besar tampak bahagia, apa tidak khawatir dengan Non Kirana? Apalagi Nkn Kirana itu sedang mengandung anak tuan muda Syakir, calon cucu Nyonya Besar," ucap Bu Ijah pelan.

__ADS_1


"Jangan menggurui saya, kerjakan saja, apa yang menjadi pekerjaanmu," ucap Bunda Ayu pelan lku berjalan menuju rak piring untuk mengambil cangkir kopi.


Bu Ijah menurut dan terdiam membereskan nampan yang tadi dibawanya.


Bunda Ayu melirik ke arah Bu Ijah yang nampak terlihat ragu dan salah tingkah.


"Kamu kenapa? Kok kalau diperhatikan kayak kurang jenak?" tanya Bunda Ayu pelan kepada Bu Ijah.


"Tidak apa-apa Nyonya," ucap Bu Ijah pelan lalu pergi meninggalkan dapur bersih itu untuk kembali ke belakang mengerjakan tugasnya yang belum selesai.


Bunda Ayu juga kembali ke kamarnya dengan dua cangkir cappucino dan beberapa lembar roti tawar dengan selai cokelat untuk sarapan bersama suaminya di balkon kamar tidur utamanya.


Tubuh Bunda Ayu dan Ayah Basith masih terasa lemas setelah perjalanan yang jauh dan cukup melelahkan langsung menghadiri acara penting anak semata wayangnya.


"Ini kopinya Mas," ucap Bunda Ayu meletakkan satu nampan besar di meja yang ada di balkon rumahnya.


"Terima kasih, Sayang," jawab Ayah Basith pelan sambil mencium pipi istrinya.


"Wajahmu kenapa murung, Ayu," tanya Ayah Basith pelan kepada Bunda Ayu.


"Kirana kabur dari rumah sakit, dan Kirana sedang mengandung," ucap Bunda Ayu pelan kepada Ayah Basith.


Ayah Basith terkejut dan langsung meletakkan cangkir kopi itu ke atas piring kecil yang ada di meja balkon itu.


"Kamu serius? Kirana pergi?" tanya Ayah Basith pelan memastikan kebenaran itu.


Bunda Ayu menundukkan kepalanya.


"Bu Ijah yang beritahu Bunda, semalam Kirana tidak sadarkan diri, dan dibawa ke rumah sakit dan setelah diperiksa hasilnya positif hamil," ucap Bunda Ayu pelan.


"Alhamdulillah, kalau benar Kirana sudah mengandung, tapi kita harus mencari kemana?" tanya Ayah Basith pelan.

__ADS_1


"Itu yang buat Bunda bingung, mungkin ucapan Bunda terlalu menyakiti Kirana, tapi ini semua demi berjalan lancarnya acara tadi malam. Bunda d sebenarnya tidak tega berbicara seperti itu," ucap Bunda Ayu pelan.


"Sudahlah, posisi kita ini sulit, antara keinginan anak dan keinginan sahabat kita. Tidak ada keputusan yang salah, yang ada hanya bagaimana kita menjalani konsekuensinya dari keputusan yang kita ambil," ucal Ayah Basith pelan menjelaskan.


"Bagaimana jika Kirana tidak ditemukan?" tanya Bunda Ayu mulai gusar dan khawatir.


"Nanti biar anak buah Ayah ikut mencari Kirana, paling tidak mereka memastikan Kirana dalam keadaan baik-baik saja. Kita beri uang saja dan kita tanggung biaya hidup Kirana dan anaknya, biar bagaimanapun juga anak itu adalah cucu kita Ayu," ucap Ayah Basith memberikan jawaban.


Bunda Ayu menganggukkan kepalanya pelan.


Bunda Ayu sangat setuju dengan saran Ayah Basith untuk tetap mencari Kirana, walaupun tidak membawanya pulang kembali ke rumah ini.


"Bagaimana bila Syakir tahu, kita menemukan Kirana dan tidak membawanya pulang kembali, tentu Syakir akan sangat marah dan murka," ucap Bunda Ayu pelan sambil bergidik ngeri membayangkan bila Syakir yang pendiam murka karena kesalahan orang tuanya, walaupun sampai saat ini belum pernah dilakukan oleh Syakir.


"Itu akan menjadi urusan Ayah, sebenarnya tidak tega melakukan hal ini kepada Kirana yang begitu baik, tapi ini semua demi menjaga nama baik keluarga kita. Fatima tahu tentang ini semua?" tanya Ayah Basith dengan suara pelan.


"Maafkan Bunda, Kirana," ucap Bunda Ayu dengan suara lirih.


Ayah Basith cukup tahu seperti apa hati lembut Bunda Ayu, istrinya itu. Tapi memang drama ini harus dijalankan dengan topeng karakter yang berbeda dengan wujud aslinya.


Satu tangan Ayah Basith memeluk Bunda Ayu dengan lembut dari arah samping, memberikan kenyamanan yang tulus dan penuh kasih sayang kepada istrinya itu.


"Allah SWT, akan beri jalan terbaik, kita harus minta maaf kepada Kirana tapi menurut Ayah, jangan sampai menyuruhnya untuk meminta cerai kepada Syakir, biarkanlah berjalan apa adanya. Fatima juga sudah tahu bagaimana kondisi yang sebenarnya, dan Fatima sudah berjanji untuk tidak.mengumbar aib ini kepada orang tuanya," ucap Ayah Basith pelan.


Bunda Ayu menarik napas panjang dan menghembuskan napas itu dengan kasar hingga suara keras itu terdengar sangat sesak.


"Andaikan Mas tahu, bagaimana kejadian malam tadi, Bunda tidak bisa berbuat apa-apa, ingin rasanya memeluk kedua mennati Bunda drngam sayang. Andaikan mereka berdua bisa saling memahami dan saling menerima satu sama lain, mungkin akan lebih mudah menjalaninya," uxal Bunda Ayu pelan.


"Tapi, masalahnya Syakir itu tidak mencintai Fatima, hanya Kirana yang ada di dalam pikirannya," jawab Ayah Basith pelan.


"Bukan tidak mencintai tapi belum mencintai," sela Bunda Ayu dengan suara lantang.

__ADS_1


__ADS_2