Menjadi Mempelai Pengganti

Menjadi Mempelai Pengganti
Firasat


__ADS_3

Semakin lama supir pun semakin menelusuri jalanan yang tampak sepi, hingga ia pun memberhentikan mobil saat menemui jalan setapak di persimpangan.


"Tuan, apakah kita mau jalan terus atau kita masuk ke jalan ini?" Tanya supir kepada Axel.


"Kita masuk saja ke jalan ini. Aku punya firasat jika istriku dibawa ke sini," ujar Axel.


"Baik Tuan," jawab supir dan kembali menjalankan mobilnya.


Semakin lama, jalanan terlihat semakin sepi. Hanya ada pepohonan yang mengelilingi jalanan tersebut. Jalanannya juga tampak rusak dan becek karena sehabis diguyur hujan.


"Tuan, sepertinya di dalam sana ada bangunan tua," kata supir hingga Axel pun melihat ke arah yang dimaksud oleh supir tersebut.


Benar saja Axel melihat bangunan tua yang cukup megah di dalam sana.


"Siapa yang telah membangun villa di tengah hutan seperti ini," gumam Axel. "Ya sudah kita ke sana sekarang. Tapi lebih baik jangan membawa mobil, siapa tahu di sana memang tempat istriku disekap dan nanti kita malah ketahuan. Kita harus berhati-hati," kata Axel.


Supir yang mengerti itu pun segera saja memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Tentu saja Axel juga tidak mau mengambil resiko dengan membawa supirnya untuk masuk ke dalam sana, ia takut jika memang benar ada penjahat yang telah menculik istrinya dan nantinya akan mencelakai sang supir. Bukannya tidak percaya dengan kemampuan dirinya sendiri, tetapi sekarang yang ia pentingkan adalah menyelamatkan istrinya. Karena mereka juga tidak tahu bagaimana keadaan di dalam sana dan berapa banyak para penjaga. Bahkan dari kejauhan saja sudah terlihat 2 orang berbadan besar yang menunggu di luar rumah.


Sehingga sebelum ia masuk ke dalam sana, Axel menghubungi beberapa anak buahnya untuk menyusulnya ke tempat ini dan memerintahkan sang supir untuk menunggu mereka.


"Tuan, apa Tuan yakin ingin masuk ke sana sendiri? Walaupun aku hanya supir, tetapi aku juga dulunya juara taekwondo. Jadi aku yakin bisa berkelahi dan membantu Tuan," kata supir yang sangat ingin membantu Axel, karena ia juga sudah mengetahui apa masalah Axel saat ini.


"Tidak perlu. Aku tidak ingin melibatkanmu karena tugasmu hanyalah mengantarku, bukan menjadi anak buahku yang membantuku melawan para penjahat itu," sergah Axel.


"Tapi Tuan sudah begitu baik padaku. Terlebih lagi aku tahu masalah Tuan yang hendak menyelamatkan orang yang Anda cintai, aku tahu bagaimana rasanya Tuan," kata supir yang mendadak sedih.


Meskipun Axel dapat melihat perubahan pada wajah sang supir, tetapi saat ini bukan saatnya untuk ia bertanya. Karena ia sudah tidak mau lagi menunda untuk menemukan keberadaan istri tercintanya itu.


"Lebih baik kau di sini saja dulu menunggu anak buahku datang, nanti setelah mereka datang itu urusanmu apa yang mau kau lakukan," titah Axel.


"Baik Tuan," jawab supir yang mengerti.

__ADS_1


****


Di saat itu tiba-tiba saja Justin memandang ke arah Kayla, lalu ia menatap ke arah Keisha dan memberi gestur untuk melihat ke arah kakaknya itu. Tetapi Justin juga meminta Keisha untuk diam lalu berbisik di telinga sang istri.


"Kenapa mereka diam? Apa jangan-jangan mereka sudah tahu jika aku hanya berpura-pura tidur," batin Kayla.


Meskipun masih tak percaya dan kebingungan, tetapi Keisha pun menatap ke arah Kayla. Sama halnya dengan Justin, ia juga yakin jika saat ini Kayla memang telah sadar dan hanya berpura-pura tidur saja.


"Tidak usah berpura-pura lagi Kak, lebih baik sekarang kau bangun saja. Pasti kau sudah mendengar percakapan kami tadi 'kan dan pastinya kau sangat terkejut. Tapi ya sudahlah ya, semua juga sudah terlanjur basah. Lagipula kau juga tidak akan bisa mengatakan hal ini kepada siapapun, karena aku pastikan kau tidak akan pernah keluar dari sini," kata Keisha.


Akan tetapi Kayla masih tetap dengan pendiriannya dengan memejamkan matanya. Hingga Keisha pun langsung saja mendekati Kayla dan menarik tangannya, yang membuat Kayla pun langsung saja membuka matanya dan menatap tajam ke arah Keisha.


"Aku benar-benar tidak menyangka. Jadi ini semua ulah kamu dan pria ini! Pria ini adalah suami kamu?" Kata Kayla menunjuk Justin.


"Hai Kakak ipar, kau benar aku adalah suami Keisha. Dan apa kau tahu bahwa waktu itu Keisha pergi meninggalkan pernikahannya dengan Axel dan memfitnahmu itu karena dia ingin menikah denganku, hanya saja kita belum meresmikan pernikahan kita di mata negara, tapi sangat sah di mata agama," jelas Justin yang membuat Kayla begitu terkejut dan dan tak mempercayainya.


"Apa? Jadi kalian berdua sudah menikah dan kalian menikah siri, begitu?" Tanya Kayla yang menatap keduanya secara bergantian.


"Justin, kau tidak perlu menjelaskan kepada Kayla. Itu sama sekali tidak penting untuknya mengetahui soal ini," kata Keisha yang mencelah ucapan Justin begitu saja, sehingga membuat Justin pun bungkam.


Lalu Kesya pun menarik tangan Kayla, hingga ia terjatuh dari tempat tidur dan merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya.


"Akh … !" Teriak Kayla yang merintih kesakitan.


****


Sementara itu Karina yang sedang memasak di dapur, tidak sengaja tangannya itu menyentuh wajan yang sangat panas dan pikirannya langsung melayang kepada sosok anak sulungnya, yaitu Kayla. Ia merasa jika saat ini sedang terjadi sesuatu dengan anaknya itu.


Di saat itu pun sang bibi yang biasanya memasak datang menghampiri Karina, karena melihat sang nyonya yang merintih kesakitan.


"Nyonya, apa Nyonya baik-baik saja?" Tanya bibi.

__ADS_1


"Iya Bi, saya baik-baik saja. Saya tidak sengaja menyentuh wajan Bi," jawab Karina sembari menunjukkan jarinya yang sudah tampak memerah dan melepuh.


"Ya ampun Nyonya, itu pasti pedih sekali." Bibi yang merasa sangat khawatir itu pun langsung saja mengambilkan obat oles dan langsung mengoleskannya pada jari Karina.


"Nyonya, Nyonya kenapa? Sepertinya Nyonya sedang tidak fokus. Sudah saya katakan biar saya saja yang memasak Nyonya, tapi Nyonya ingin sekali memasak," kata bibi.


"Iya Bi, saya ingin memasak makanan kesukaan suami saya saja. Lagipula tadi saya juga sudah hati-hati Bi, tapi tidak tahu kenapa tiba-tiba perasaan saya tidak enak dan saya langsung memikirkan Kayla. Tadi saya reflek Bi memegang wajan panas itu," terang Karina yang terlihat begitu cemas.


"Nyonya, saya yakin Nyonya Kayla baik-baik saja. Mudah-mudahan hanya perasaan Nyonya saja," ucap bibi.


"Aamiin, iya Bi saya berharap juga seperti itu.


Raymond yang baru saja pulang dan melihat Karina bersama bibi di dapur, langsung saja menghampiri mereka. Ia sangat khawatir saat mengetahui bibi sedang mengoleskan obat untuk istrinya di ruang makan.


"Mama, kamu kenapa Sayang?" Tanya Raymond yang terlihat cemas.


Karena melihat tuan rumahnya itu sudah pulang, bibi pun langsung saja permisi setelah mengobati Karina.


"Terimakasih ya Bi," ucap Karina.


"Sama-sama Nyonya, saya permisi untuk melanjutkan masakan Nyonya," ucap bibi dan segera berlalu.


"Mama kenapa?" Raymond mengulangi pertanyaannya tadi.


"Mama baik-baik saja Pa," jawab Karina.


"Jika baik-baik saja kenapa jari Mama terluka seperti itu?" Tanya Raymond.


"Mama hanya tidak sengaja menyentuh wajan panas saat sedang memasak tadi, tapi Mama refleks Pa dan tiba-tiba saja Mama memikirkan Kayla. Perasaan Mama tidak enak, apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Kayla?" kata Karina. Ia yakin jika firasat ibu tidak pernah salah.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2