
Melihat Santi yang tampak bengong, membuat Arya pun menjadi kebingungan.
"San, kamu kenapa? Kenapa kamu seperti tidak senang seperti itu karena aku mau membawamu berobat ke kota?" Tanya Arya sehingga membuat Santi pun tersadar dari lamunannya.
"Bukannya seperti itu Ar, tapi aku tidak mau saja merepotkan kamu, aku benar-benar tidak enak. Kamu dan Nenek sudah menolongku, kalian sudah merawatku dengan sepenuh hati, sudah memberikanku makan dan tempat tinggal gratis. Sekarang kamu sampai harus meminjam uang seperti itu hanya untuk aku. Menurut aku, aku tidak perlu di dibawa ke rumah sakit kota. Aku berobat di sini saja ya, seperti biasa," pinta Santi.
"Tidak Santi, kamu tetap harus berobat. Aku hanya ingin memastikan keadaan kamu baik-baik saja, aku tidak mau jika nantinya penyakit kamu itu malah semakin menjadi-jadi. Apalagi kamu mengatakan padaku jika kepala kamu sering sakit 'kan? Aku tidak mau jika sampai terjadi sesuatu denganmu. Kamu mau ya berobat ke kota denganku," pujuk Arya.
"Arya, aku baik-baik saja. Itu wajar 'kan jika aku sakit kepala efek dari terbentur. Tapi aku sama sekali tidak apa-apa," ucap Santi yang mencoba meyakinkan Arya.
"Tidak apa-apa bagaimana? Kamu itu amnesia. Tapi sejujurnya aku juga tidak ingin kamu kembali mengingat masa lalu kamu, aku takut kamu meninggalkan aku. Tapi aku juga takut jika keadaan kamu nantinya akan semakin memburuk, aku tidak mau hal itu terjadi nanti," batin Arya.
"Arya aku mohon ya, jangan bawa aku ke rumah sakit di kota. Aku tidak mau menyusahkan kamu, nanti saja tunggu aku bisa bekerja sendiri, aku bisa menghasilkan uang sendiri, baru kita akan ke kota," pinta Santi lagi.
"Lalu bagaimana dengan kondisi kamu sekarang San?" Tanya Arya.
"Aku yakin kok dengan aku minum obat-obatan pasti aku bisa sembuh. Bagaimana kalau beli obatnya saja yang di kota, tapi aku tidak ikut ya, kamu saja yang ke kota. Aku yakin kok dengan resep obat dari Dokter di rumah sakit, pasti aku bisa sembuh," kata Santi.
"Tapi dokter 'kan harus memeriksa keadaan kamu dulu baru bisa memberikan resep obatnya," ucap Arya.
Meskipun ia lahir dan besar di kampung, tapi bukan berarti ia tidak mengerti soal prosedur rumah sakit.
Kamu tinggal katakan saja apa yang dikatakan oleh Mantri tentang penyakit aku," kata Santi, meskipun sebenarnya ia tidak yakin jika itu bisa membuat dokter memberikan resep obat.
Akhirnya Arya pun menyetujuinya saja, mudah-mudahan ini memang jalan yang terbaik daripada Santi sama sekali tidak mau diobati.
****
Beberapa hari kemudian, karena sudah menemukan waktu yang tepat, pada akhirnya keluarga Kayla dan Axel pun memutuskan untuk pergi ke Surabaya sesuai dengan permintaan Kayla untuk mencari adiknya itu lagi.
Meskipun sebenarnya kedua orang tua Axel sangat tidak setuju, tetapi demi menantu kesayangan mereka akhirnya mereka pun mengikutinya saja. Kebetulan di saat itu ayahnya Axel juga dapat mengatur pekerjaan, sehingga mereka semua bisa ikut pergi.
"Aku minta maaf ya, karena aku kalian semua harus ikut ke Surabaya. Apalagi mas Axel, Papa dan Daddy harus mengorbankan waktu kerja demi menemani aku. Padahal sebenarnya aku nggak masalah kok jika tidak ditemani oleh siapapun atau hanya Mas Axel saja itu sudah cukup," ucap Kayla yang merasa tidak enak terhadap kedua orang tuanya, apalagi kedua mertuanya itu.
"Tidak apa-apa Sayang, kamu ini seperti dengan siapa saja. Kita ini 'kan semuanya keluarga. Mommy Daddy ini 'kan orang tua kamu juga," kata Rosline.
"Iya Sayang, apalagi Mama dan Papa, masa iya kita membiarkan kamu pergi sendiri. Ya mungkin jika hanya berdua dengan Axel kita akan setuju, tapi lebih baik 'kan kita pergi bersama-sama, jadi kita bisa memastikannya benar atau tidak jika Keisha masih berada di sana. Lagipula jika mencarinya beramai-ramai akan semakin mudah menemukannya," kata Karina pula.
"Benar apa yang diucapkan Mama kamu Kayla," sahut Roseline.
"Iya Ma, Mom, pokoknya aku benar-benar berterimakasih ya dengan kalian," ucap Kayla.
__ADS_1
Saat ini mereka berenam telah berada di bandara, hingga pada saat itu pesawat akan segera take off dan mereka semua melakukan penerbangan menuju ke Juanda Surabaya.
****
Tidak Berapa lama kemudian, 2 keluarga itu pun telah tiba di Surabaya. Mereka Langsung saja menuju ke penginapan untuk menaruh barang-barang mereka sebelum melanjutkan untuk mencari Keisha. Mereka telah memesan tiga kamar karena saling berpasangan.
Setelah menaruh barang-barang, kini mereka pun bertemu di depan kamar karena memang kebetulan kamarnya yang saling berdekatan.
"Bagaimana kalau sekarang kita makan dulu. Ini 'kan sudah siang, jadi kita cari restoran di dekat sini saja," ajak Axel.
"Oh ya kamu benar, lebih baik memang sekarang kita makan dulu. Karena tadi pagi kita juga belum ada yang sempat sarapan," jawab Raymond yang menyetujui ide menantunya itu.
"Ya sudah Mami juga setuju, yuk sekarang kita pergi," ajak Roseline.
Akan tetapi di saat itu terlihat Kayla yang tampak lesu seperti tidak bersemangat saat diajak untuk makan siang bersama.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Axel.
"Aku nggak selera untuk makan Mas," jawab Kayla.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu Sayang? Kamu nggak kasihan sama anak kita, kamu nggak capek? Kamu harus memaksakan untuk makan, bukan hanya kamu yang butuh makan tapi juga anak kita. Sedangkan kamu butuh tenaga juga, apa kamu mau anak kita lapar dan nggak bertenaga juga karena ibunya nggak makan?" Tanya Axel.
"Justru karena aku capek Mas, jadi aku malas mau pergi makan di luar. Aku mau di penginapan aja ya, kita delivery makanan aja gimana," ucap Kayla.
"Iya Axel, lebih baik memang seperti itu. Kasihan Kayla jika harus dipaksakan. Mungkin dia terlalu capek karena membawa perutnya yang sudah membesar," sambung Roseline.
Sebagai wanita tentunya mereka berdua juga mengerti bagaimana keadaan Kayla saat ini.
"Ya sudah, kalau begitu aku dan Kayla di hotel saja ya, nanti sore baru kita pergi mencari Keisha. Sekarang lebih baik kalian pergi saja makan di luar. Di dekat sini ada restoran enak kok," kata Axel.
"Iya Xel, kamu ini memangnya kamu pikir Daddy tidak tahu daerah Surabaya," ucap Alex.
"Ya siapa tahu tahu Daddy lupa," hardik Axel.
"Sudah, sudah, yuk sekarang kita pergi. Kayla kamu istirahat ya Sayang di rumah," ucap Roseline.
"Iya Mom, kalian semua hati-hati ya," ucap Kayla.
"Sayang, kalau memang perut kamu terasa sakit atau keram, kamu jangan diam saja ya, kamu harus langsung memberitahu tahu Axel," pesan Karina.
"Iya Mama sayang, nggak usah khawatir gitu dong," jawab Kayla.
__ADS_1
Kini mereka berempat pun segera saja pergi untuk mencari makan siang, sedangkan Axel dan Kayla kembali masuk ke dalam kamar, tentunya Axel juga langsung memesan makanan untuk mereka.
"Anak Papa, anak Papa capek ya. Kita istirahat aja ya di sini, kasihan Mama kamu. Anak Papa baik-baik saja ya di dalam sini," ucap Axel yang saat ini pun sedang mengelus-elus serta mencium perut Kayla yang sedang berbaring dan seolah berbicara kepada anaknya yang ada di dalam perut sang istri.
Sedangkan Kayla di saat itu pun tampak tersenyum karena sikap suaminya itu, ia juga mengelus rambut Axel dengan lembu.
"Mas, nanti jangan mencari Keisha terlalu sore ya. Setelah orang tua kita pulang dari makan siang, boleh 'kan kita langsung pergi mencari Keisha," ucap Kayla yang rasanya sudah tidak sabar lagi.
"Sayang, kamu itu pikirkan juga dong kondisi kamu sekarang ini. Jangan terburu-buru bisa 'kan? Aku nggak mau kalau kamu dan anak kita nanti kenapa-napa," ucap Axel yang terlihat begitu khawatir.
"Mas untuk itu aku sekarang memilih Istirahat di hotel, aku yakin kok setelah ini pasti semuanya akan baik-baik saja," ucap Kayla.
"Ya sudah kita lihat saja nanti bagaimana kondisi kamu," ucap Axel yang enggan untuk berdebat dengan istrinya, karena sudah pasti istrinya sangat sulit untuk dibantah jika sudah merupakan kehendaknya. Apalagi memang tujuan mereka ke Surabaya adalah untuk mencari Keisha, bukan untuk hal lain.
****
Setelah puas mencari di beberapa pemukiman warga, kini Kayla, Axel beserta keluarganya sudah berada di suatu perkampungan.
"Akh," rintih Kayla sembari memegangi perutnya, mungkin karena terlalu banyak berjalan dan kelelahan yang membuat perut Kayla tiba-tiba merasa keram.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Axel yang terlihat begitu khawatir, sama halnya dengan kedua orang tua mereka.
"Axel, kita cari tempat istirahat dulu ya," kata Karina.
Di saat itu mereka melihat sebuah rumah yang tidak jauh dari tempat dimana mereka berada. Kebetulan terlihat juga seorang nenek tua yang berada di luar rumah, sudah pasti nenek tersebut adalah pemilik rumah.
"Axel, lebih baik kita bawa saja Kayla ke rumah Nenek itu," kata Rosline sembari menunjuk.
Lalu Axel pun segera menuntun istrinya itu secara perlahan dan membawanya ke sana.
"Permisi Nek, apa boleh kami menumpang istirahat sebentar di sini?" Tanya Rosline, hingga nenek tersebut pun menoleh ke arah mereka.
"Oh iya, iya, silahkan! Silahkan duduk di dalam," ucap nenek.
"Tidak apa-apa Nek, kita duduk di luar saja," kata Axel dan segera saja mendudukkan istrinya itu di kursi depan rumah nenek tersebut.
Saat mereka mereka semua sedang fokus dengan Kayla. Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang baru saja datang dengan seorang pria. Raymond yang pertama kali melihatnya merasa sangat terkejut karena merasa mengenalinya.
"Keisha," ucap Raymond, hingga yang lainnya pun menoleh ke arah yang dimaksud oleh Raymond.
Saat ini bukan hanya Raymond saja, tetapi semuanya pun saling bertatapan dan sama-sama terkejut.
__ADS_1
Bersambung …