
Setelah beberapa bulan tidak bertemu Kayla, bahkan untuk menanyakan kabarnya lewat ponsel pun tidak bisa, karena Kayla telah mengganti nomor ponselnya dan tidak memberitahu Devano sama sekali, membuat Devano pun kini tampak termenung memikirkan wanita pujaan hatinya itu. Entah kenapa tiba-tiba saja ia memikirkan mantan kekasihnya, meskipun sudah lama ia mencoba untuk mengikhlaskannya bersama dengan pria pilihannya, pada kenyataannya sampai saat ini Devano belum bisa melupakan wanita yang masih sangat dicintainya itu.
Hingga di saat sedang rapat, Devano tampak tidak fokus karena hanya ada Kayla yang terbayang-bayang di pikirannya.
"Tuan Devano, Tuan …!" Panggil Joy, asisten Devano, hingga beberapa kali tetapi tak membuat Devano sadar.
Lalu Joy pun memberanikan diri untuk menyentuh bahu bos-nya, hingga Devano tersadar dari lamunannya.
"Eh iya Kay," ucap Devano, sehingga membuat para hadirin yang ikut rapat menatap ke arahnya dan membuat Devano pun tersadar akan ucapannya tadi. "Maaf, saya salah bicara. Sampai dimana tadi?" Tanyanya hingga membuat di antara mereka ada yang menggeleng-gelengkan kepala tak mengerti dengan perlakuan Devano.
"Tuan Devano, jika saat ini Anda sedang tidak fokus, Anda sakit atau sedang ada masalah, sebaiknya jangan mengadakan rapat terlebih dulu, karena ini adalah hal yang sangat penting mengenai kerjasama kita. Saya tidak mau jika nantinya malah jadi berantakan," kata salah satu partner Devano yang ikut rapat di sana.
"Saya minta maaf Pak. Ya sudah kalau begitu saya akan meminta asisten saya untuk mengatur ulang rapatnya lagi nanti. Saat ini saya memang sedang ada masalah, tetapi saya janji saya akan segera menyelesaikannya," ucap Devano.
"Baiklah kalau begitu," jawab partner tersebut, hingga Devano pun mengakhiri rapat.
Karena ia benar-benar merasa sangat tidak fokus untuk bekerja hari ini, Devano pun memutuskan untuk meninggalkan perusahaan dan menuju ke perusahaan sahabatnya, Azka.
****
"Tumben sekali pagi-pagi seperti ini Tuan Devano sudah main ke kantor orang lain, memangnya kau sedang tidak ada pekerjaan di kantormu sendiri?" Tanya Azka.
"Aku sedang tidak fokus, untuk itu aku datang ke sini," jawab Devano apa adanya.
"Jadi karena kau sedang tidak fokus berada di perusahaanmu, jadi kau datang ke sini untuk menggangguku dan ingin membuatku menjadi tidak fokus juga begitu berada di perusahaanku!" Tuding Azka.
"Kau ini berbicara apa? Aku ke sini karena aku butuh teman, bukan butuh ceramah darimu atau malah menuduhku yang bukan-bukan seperti itu," kata Devano yang terlihat kesal.
"Iya sorry, sorry, santai. Ada apa? Kenapa kau begitu murung, kau sedang ada masalah apa Dev?" Tanya Azka.
"Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkan Kayla. Aku merasa jika sedang terjadi sesuatu dengan Kayla, aku begitu mengkhawatirkannya," ungkap Devano.
"Ya ampun Dev, Dev, kau dan Kayla itu sudah berpisah hampir setahun lamanya. Kayla juga sudah menikah dengan orang lain, dia sudah bahagia dengan suaminya, bahkan sebentar lagi mereka akan memiliki anak. Tetapi kenapa kau masih saja terus mengharapkannya, padahal itu sama sekali tidak mungkin, itu adalah hal yang mustahil," kata Azka yang mencoba untuk mengingatkan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iya aku tahu, tapi cinta ini untuk Kayla terlalu besar. Sangat sulit untukku melupakan Kayla, meskipun aku sudah berusaha mati-matian untuk ikhlas, tetapi aku juga belum bisa melupakan Kayla," kata Devano yang berkata jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam, bahkan sahabatnya pun bisa melihat akan hal itu.
"Ya aku tahu itu. Hanya ada satu cara agar kau benar-benar bisa melupakan Kayla," kata Azka.
"Apa?" Tanya Devano.
"Kau ini bodoh atau bagaimana sih. Bukankah sudah aku katakan kau harus move on, kau harus mencari wanita lain untuk menggantikan posisi Kayla di hatimu," kata Aska.
"Tapi aku tidak bisa, jangankan untuk mencari wanita lain yang akan menggantikan posisi Kayla, bahkan dengan dekat dengan wanita itu saja aku tidak bisa, aku terlalu mencintai Kayla." Devano mengulangi ucapannya itu lagi, sehingga membuat Azka pun merasa sangat muak mendengarnya.
"Stop! Kayla, Kayla dan Kayla lagi. Sudahlah begini saja, nanti malam aku akan menjemputmu, kita pergi ke suatu tempat," ucap Azka yang tiba-tiba mendapatkan ide cemerlang di dalam otaknya.
"Kita mau kemana?" Tanya Devano.
"Lebih baik kau ikut saja, tidak perlu banyak bertanya," kata Azka.
Di saat itu pun karena Azka sedang banyak pekerjaan, pada akhirnya Devano memilih pergi meninggalkan perusahaan Azka dan pulang ke rumah.
****
Karena dokter telah memberikan peringatan keras kepada Kayla dan keluarganya, pada akhirnya mereka pun mengalah. Akan tetapi mereka berjanji, secara perlahan akan membuat Keisha mengingat lagi siapa keluarganya.
Meskipun saat ini keluarga Kayla dan Axel sudah di dalam perjalanan menuju ke hotel, tetapi bukan berarti mereka sudah lepas tangan akan Santi. Tentunya mereka akan tetap mencari tahu yang sebenarnya, bahkan Arya dan Nek Aminah juga tidak bisa melarang mereka, ditambah lagi keluarga Raymond lah yang membayar semua pengobatan Santi saat ini, karena Arya sama sekali tidak memiliki uang.
"Ar, Nek, sekarang kita pulang saja ya. Aku tidak mau berada di sini, apalagi seluruh pengobatanku juga dibayar oleh mereka. Mereka itu siapa sih? Aku sama sekali tidak mengenal mereka," kata Santi.
"Santi, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Arya.
"Mau bertanya soal apa Ar?" Tanya Santi yang menatap penuh kebingungan.
"Apakah kamu benar-benar tidak kenal dengan mereka. Seperti yang kamu tahu bahwa saat ini kamu sedang hilang ingatan, jadi bisa saja 'kan jika mereka memang keluarga kamu," kata Arya.
"Ar, kenapa kamu berbicara seperti itu? Apa karena kamu sudah capek untuk merawatku atau Nenek yang sudah tidak sanggup untuk menjagaku sehingga kalian ingin menyerahkan aku kepada mereka. Aku sama sekali tidak percaya, bisa saja mereka hanya mengaku-ngaku karena sebenarnya mereka belum bisa menerima kepergian Keisha, sehingga mengatakan aku adalah Keisha, karena Kebetulan aku mirip dengannya. Tapi aku yakin itu semua bohong, bahkan mereka tidak bisa menunjukkan bukti yang meyakinkan bahwa aku ini adalah anak mereka," kata Santi.
__ADS_1
"Nak Santi, kamu salah paham. Bagaimana mungkin Nenek dan Arya capek atau tidak sanggup untuk merawat kamu lagi. Apalagi kami sudah menganggap kamu seperti keluarga kami sendiri, Nenek juga senang ada kamu di rumah, jadi kamu jangan pernah berpikiran macam-macam seperti itu ya," kata Nek Aminah.
"Benar apa kata Nenek, bukan itu alasan yang sebenarnya. Tapi kamu tahu sendiri 'kan bagaimana keadaan keluarga kami. Kami tidak punya uang, sementara kamu membutuhkan perawatan khusus. Aku hanya ingin melihat kamu sembuh San. Bagaimana kalau kita membiarkan saja mereka melakukan tes DNA, bisa saja 'kan kalau kamu itu memang keluar mereka. Aku akan merasa senang jika kamu bisa bertemu dengan keluarga aslimu," kata Arya.
"Tidak Ar, aku tidak mau. Aku yakin kok kalau aku bukan anak mereka. Aku bukan keluarga mereka, hanya kalian keluargaku. Kalau masalahnya memang karena uang, ya sudah lebih baik kita pulang saja sekarang. Aku akan bekerja, aku akan membantu kalian, aku juga tidak enak terus menerus menyusahkan kalian. Tapi aku mohon, jangan usir aku dari rumah kalian ya," ucap Santi. "Akh," rintihnya karena tiba-tiba saja ia merasakan kepalanya terasa sakit.
"Santi, kamu tidak apa-apa?" Tanya Nek Aminah yang merasa sangat khawatir.
"Santi kepala kamu sakit lagi ya, aku panggil dokter dulu ya," kata Arya yang tak kalah khawatirnya dengan Nek Aminah.
"Ar, Nek, aku tidak apa-apa. Tapi aku mohon jangan bahas soal ini lagi ya," pinta Santi, sehingga pada akhirnya Arya pun memilih diam untuk saat ini.
Akan tetapi, nantinya pasti Arya akan membujuk Santi kembali. Meskipun saat ini ia sudah terlanjur menyayangi dan mencintai Santi, tetapi ia juga tidak mau egois dengan membiarkan Santi tetap berada di sisinya, tetapi sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuk kesembuhannya.
****
Malam yang dinanti pun telah tiba, saat ini Devano dan Azka sedang berada di sebuah klub malam. Devano juga tidak menyangka jika sahabatnya yang mengatakan ingin mengajaknya ke suatu tempat, ternyata mengajaknya ke klub malam, Azka ingin Devano melupakan masa lalunya itu dan memulai kehidupan yang baru.
"Apa kau sudah gila, kenapa kau malah mengajakku ke sini?" Umpat Devano.
"Ayolah Dev, lebih baik kita bersenang-senang di sini dengan meminum alkohol dan wanita-wanita yang ada di sini. Wanita yang ada di sini semuanya cantik-cantik, seksi-seksi, kau bisa memilihnya untuk bersenang-senang supaya kau bisa melupakan Kayla Dev," kata Azka yang berteriak di tengah keributan suara musik disco.
"Benar-benar tidak waras. Apa kau pikir wanita-wanita seperti ini akan bisa menggantikan posisi Kayla? Sama sekali tidak!" Tegas Devano yang terlihat sangat marah.
Devano merasa jika ide sahabat ini sudah gila, sehingga ia membalikkan tubuhnya ingin pergi dari tempat tersebut. Tetapi tiba-tiba saja ada seseorang yang membawa minuman dan tidak sengaja menabraknya, sehingga membuat Devano pun merasa sangat kesal.
"Ma-maafkan aku Tuan, aku tidak sengaja," ucap seorang wanita yang ternyata adalah pelayan di klub malam tersebut.
"Maaf, maaf, apa kau-"
Akan tetapi saat Devano hendak memarahi wanita tersebut, ucapannya itu terhenti karena ia sangat terkejut melihat wanita yang pernah dikenalinya di masa lalu saat ini telah berdiri di hadapannya.
Bersambung …
__ADS_1