
Mendengar ucapan Karina membuat Raymond pun ikut merasakan khawatir, akan tetapi ia tidak boleh menunjukkan rasa kekhawatirannya itu di depan sang istri, ia tidak mau menambah beban istrinya itu.
"Ma, Mama jangan berpikiran seperti itu ya. Papa yakin kok jika Kayla baik-baik saja. Bagaimana kalau sekarang kita menghubungi Kayla," kata Raymond.
"Iya Pa, hubungi Kayla sekarang!" Titah Karina
Lalu segera saja Raymond merogoh ponsel di dalam saku celananya dan menghubungi anaknya tersebut. Akan tetapi saat dihubungi nomornya itu tidak aktif.
"Bagaimana Pa?" Tanya Karina.
"Tidak bisa dihubungi Ma, tidak aktif nomornya," jawab Raymond.
"Ya sudah coba hubungi Axel saja Pa!" Titah Karina lagi lalu diikuti oleh Ramond dengan menghubungi menantunya itu.
Meskipun tersambung, tetapi Axel sama sekali tak menjawabnya hingga beberapa kali.
"Tidak aktif juga Pa?" Tanya Karina yang melihat suaminya itu tampak kebingungan.
"Aktif, tapi tidak dijawab Ma," jawab Raymond.
Seketika membuat tubuh Karina lemas, "Ya ampun ada apa sih ini. Mama yakin pasti terjadi sesuatu dengan Kayla Pa."
"Tenang ya Ma, kita berdoa saja semoga anak kita tidak kenapa-napa. Kayla dan Keisha dalam keadaan baik-baik saja," ucap Raymond.
****
"Cukup! Cukup Kei, kasihan Kayla. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Kayla dan anaknya," ucap Justin karena melihat Keisha terus saja membabi buta.
Di depan Justin, Keisha terlihat sama sekali tidak mempunyai perasaan, meskipun kakaknya itu sudah merasakan kesakitan tetapi Keisha seakan meluapkan seluruh amarahnya atas kesalahan yang tidak pernah diperbuat oleh Kayla. Beberapa kali ia mendorong tubuh Kayla, menjambak rambutnya, bahkan menamparnya saat Kayla memberontak. Tak perduli di saat itu Kayla memohon padanya agar jangan menyakiti kandungannya. Kayla seakan menulikan telinganya, Ia terlihat memang sengaja ingin mencelakai Kayla dan juga kandungannya tersebut.
"Kei, aku mohon hentikan! Aku takut terjadi apa-apa dengan anakku," pinta Keisha Kayla dengan air matanya yang bercucuran.
"Kau pikir aku peduli. Justru itu yang aku inginkan, supaya kau tahu bagaimana rasanya kehilangan setelah kau mengambil Axel dariku dan kau juga mengambil perhatian Mama Papa. Mereka semua jadi tak peduli denganku, mereka hanya peduli denganmu. Kau dengar ya, aku tidak akan pernah rela jika Axel, Mama dan Papa terus berpihak padamu tanpa memikirkan perasaanku," kata Keisha yang menatap tajam sembari memegang erat dagu Kayla.
Rasanya ia begitu puas melihat Kayla yang saat ini meringis di hadapannya.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu Kei, kau masih tidak rela jika saat ini Axel sudah bersama Kayla, iya?" Tanya Justin.
"Bukan seperti itu maksudku, sudahlah lebih baik kau diam saja. Kau jaga saja di sana!" Titah Keisha.
__ADS_1
Sehingga Justin pun terdiam, tetapi ia mengepal erat kedua tangannya, merasa marah dengan ucapan yang keluar dari mulut istrinya tadi. Malah ia merasa jika saat ini Keisha hanya memanfaatkannya saja.
Saat Keisha mendorong tubuh Kayla sekali lagi, tiba-tiba saja di saat itu pun terlihat darah segar yang mengalir dari selangkangannya, yang membuat Justin membelalakkan matanya. Justin merasa sangat terkejut dan sangat takut jika memang akan terjadi sesuatu dengan Kayla. Bagaimanapun juga Justin masih memiliki hati karena dulunya ia juga orang yang baik, hanya karena obsesinya terhadap Keisha lah yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini.
Meskipun di saat itu Keisha juga sangat terkejut dan panik, tetapi ia berusaha untuk bersikap biasa saja. Karena menurutnya mungkin inilah saatnya ia menghancurkan kakaknya itu tanpa hati sedikitpun.
"Akh … sakit!" Kayla kembali berteriak sembari memegangi perutnya, ia juga terlihat berbaring di atas lantai karena sudah tidak sanggup lagi untuk menyeimbangkan tubuhnya.
****
Sementara itu, Axel yang di saat ini masih mengendap-ngendap di luar bangunan tersebut mendengar jelas teriakan seorang wanita, ia sangat yakin jika itu adalah suara Kayla.
"Kayla? Aku yakin itu suara istriku, apa yang mereka lakukan terhadap istriku," gumam Axel yang terlihat begitu murka.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia pun langsung saja keluar dari persembunyian dan menghadapi anak buah Justin yang sehat itu sedang berjaga.
"Heh siapa kau, berani sekali kau datang ke sini. Kau sengaja mau mengantar nyawa ya," ucap anak buah 1.
"B*jing*n kalian semua. Apa yang kalian lakukan terhadap istriku, kalian dengar 'kan istriku tadi berteriak kesakitan. Jika terjadi sesuatu dengan istriku, akan aku habisi kalian semua," ucap Axel menatap tajam, seperti harimau lapar yang ingin menerkam mangsanya.
"Banyak bacot!" Kata anak buah 2, lalu mereka pun langsung saja menyerang Axel.
Axel berusaha sekuat mungkin untuk melawan. Hanya 2 anak buah saja itu tak mengapa bagi Axel, hanya dengan sekejap mata telah membuat mereka tumbang meskipun terdapat luka di wajah Axel.
Justin yang mendengar keributan di luar pun langsung saja melihat kondisi di sana. Sedangkan Keisha merasa terkejut karena tidak menyangka akan ada orang yang datang ke sini dan ia yakin pasti orang tersebut akan menyelamatkan Kayla.
Kini Justin pun menyadari jika yang datang adalah Axel dan anak buahnya, sehingga Justin juga ikut turun tangan menghadapi suami kakak iparnya itu.
"Brengsek, siapa kau! Dimana istriku? Kenapa kau menculik istriku, apa yang terjadi dengannya di dalam sana," kata Axel yang melihat Justin keluar dari sebuah ruangan.
"Kau tidak perlu tahu, lebih baik sekarang kau pergi dari sini!" Usir Justin.
"Enak sekali kau berkata seperti itu, brengsek!" Ucap Axel yang langsung memukul Justin.
Perkelahian pun tak terelakkan, semuanya sama terdapat luka pada tubuh dan wajah masing-masing. Akan tetapi pada akhirnya seluruh anak buah Justin dapat dikalahkan berikut juga dengan Justin.
Hingga di saat itu pun Axel langsung saja berlari menuju ke kamar dimana ia mendengar suara teriakan istrinya tadi dan tempat Justin keluar dari sana.
****
__ADS_1
Axel sangat terkejut, karena setibanya di ruangan ia melihat seseorang yang tak asing baginya sedang menyodorkan pisau di leher Kayla.
"Keisha! Apa yang kau lakukan terhadap istriku, lepaskan dia!" Bentak Axel yang tidak menyangka jika dalang dibalik penculikan istrinya adalah mantan kekasihnya sendiri.
"Hai Sayangku, aku tidak akan pernah melepaskan dia. Dia harus mati karena dia telah merebut semua yang aku miliki," ucap Keisha menatap serius.
"Mas, tolong aku Mas. Perut aku sakit," rintih Kayla diiringi air matanya yang bercucuran. Tubuhnya juga di saat itu seakan lemah tak berdaya dengan darah yang terus saja mengalir di bawah sana, sehingga membuat Axel merasa khawatir dengan kondisi istrinya saat ini.
"Kei, aku mohon lepaskan Kayla. Apa kau lupa jika Kayla itu kakak kandungmu sendiri Kei. Katakan padaku apa maumu, kenapa kau melakukan ini?" Pinta Axel dengan lemah lembut, berharap jika Keisha tidak menyakiti istrinya.
"Ck, kakak macam apa yang tega merebut semua kebahagiaan adiknya," cibir Keisha yang tak tahu diri dan selalu saja iri dengan Kayla. "Aku hanya mau 1 hal Axel, kembali padaku, tinggalkan wanita ini karena kau hanya boleh menjadi milikku."
"Jangan pernah bermimpi, aku tidak akan pernah melakukan hal itu. Apa kau pikir aku tidak tahu jika kau meninggalkanku karena kau menikah dengan pria lain, tapi kau malah memfitnah Kayla, sehingga aku telah membalas dendam dengan orang yang salah. Aku menyesal karena telah menyakiti istri yang begitu tulus mencintaiku, padahal dia tidak membuat kesalahan apapun. Tapi aku masih membiarkanmu untuk tetap tenang waktu itu, hanya saja aku tidak terima jika sampai kau menyakiti istriku," ungkap Axel yang membuat Kayla dan Keisha terkejut mendengarnya.
Keisha tak menyangka jika perubahan sikap Axel padanya, ternyata karena dia sudah mengetahui hal tersebut. Akan tetapi tak mengapa bagi Keisha, karena itu hanyalah masa lalu.
"Ya kau benar. Tapi bukankah kau juga sudah menikah dengan Kayla? Seandainya kau bersedia kembali padaku, aku bisa meninggalkan suamiku dan kau meninggalkan Kayla, itu adil 'kan dan kita bisa bersama lagi," kata Keisha dengan entengnya.
"Setelah apa yang kau lakukan kau pikir aku akan mau untuk bersama denganmu lagi, aku tidak sudi! Cuih," ucap Axel yang meludah di depan Keisha.
"Kurang ajar, aku tidak terima!" Bentak Keisha lalu ia pun sedikit menorehkan pisau itu ke kulit leher Kayla sebagai peringatan, hingga mengelurkan darah di sana.
Membuat Kayla pun merintih dan ketakutan. Begitu juga dengan Axel, ia tidak mau dan sangat tidak rela jika Keisha semakin nekat menyakiti wanita dicintainya itu. Axel masih tak habis pikir jika Keisha akan benar-benar melakukan hal segila itu terhadap kakak kandungnya sendiri. Bahkan binatang saja masih memiliki hati.
Axel maju selangkah, ia ingin menghadapi Keisha dan menyelamatkan istrinya itu.
"Mundur! Jika kau berani mendekat, Aku pastikan leher istrimu akan aku sayat sampai dia tak bernyawa!" Ancam Keisha sehingga langkah kaki Axel pun berhenti.
"Tolong Kei, tolong jangan sakiti istriku." Axel terus memohon.
"Tidak ada pilihan lain, jika kau bersedia untuk meninggalkan Kayla dan kembali padaku maka aku akan melepaskannya. Kau tidak usah berlama-lama untuk berpikir Axel, karena anak yang ada di dalam perut Kayla ini akan segera mati jika kalian lama-lama menundanya," kata Keisha dan Axel pun membenarkan akan hal itu.
"Oke! Oke aku akan menuruti semua keinginanmu, tapi aku mohon lepaskan Kayla," kata Axel dengan sangat terpaksa, sambil memikirkan cara untuk lepas dari perempuan gila itu. Yang terpenting istrinya dan kandungannya harus selamat terlebih dulu.
"Aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja, kau harus menandatangani surat perjanjian ini," titah Keisha yang mengambil sebuah map di atas nakas lalu memberikannya kepada Axel.
Axel pun menerimanya, lalu ia membuka map tersebut dan melihat di sana tertulis perjanjian jika Axel akan meninggalkan Kayla. Bahkan terdapat juga surat perceraian antara Axel dan Kayla yang memang sudah dipersiapkan secara matang oleh Keisha.
"Cepat tandatangani kedua surat itu atau aku akan menancapkan pisau ini sekarang juga!" Ancam Keisha.
__ADS_1
Di saat Axel hendak menandatangi surat tersebut, tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk secara perlahan lewat jendela dan langsung menepis tangan Keisha, sehingga pisau yang dipegangnya itu pun terjatuh. Lalu orang tersebut juga menarik kedua tangan Keisha ke belakang, sehingga Kayla pun terlepas dari genggamannya dan langsung saja disambut cepat oleh Axel.
Bersambung …