Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Aku tidak tuli


__ADS_3

Gilang masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukannya dengan kecepatan sedang.


Gilang terlihat menempelkan sebuah earphone ke telinga kanannya dan menghubungi Julian. Walaupun tersambung tapi sama sekali tidak dijawab oleh sahabatnya itu.


Kemudian, dia berinisiatif untuk menghubungi Pak Sardi, supir pribadi Julian.


Tidak pakai menunggu lama, begitu tersambung, langsung terdengar sapaan dari ujung sana.


"Halo, Pak Gilang!"


"Halo, Pak. Mau tanya kalian ada di mana sekarang?" tanya Gilang to the point.


Sardi menyebutkan nama sebuah mall tempat dia berada sekarang.


"Apa bapak bersama dengan Julian sekarang?"


"Tidak, Pak! Aku jalan terpisah dengan mereka. Nanti kalau mau pulang, Tuan Julian bilang akan menghubungiku," sahut pak Sardi.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan ke sana sekarang. Teleponnya aku tutup ya!" setelah mendapatkan jawaban dari ujung sana, Gilang pun memutuskan panggilan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gilang kini sudah tiba di mall yang disebut oleh Pak Sardi. Setelah memarkirkan mobilnya, pria itu pun berjalan ke dalam sembari membawa sebuah map. Entah apa isi map itu, hanya dia lah yang tahu.


Gilang mencoba menghubungi Julian, dan entah memang lagi beruntung, panggilannya pun dijawab oleh pria itu.


"Jul, aku tadi ke kantor tapi kamu tidak ada. Aku tanya Pak Sardi kamu di mall. Kamu di mananya, soalnya aku sudah ada di sini,"


"Buat apa kamu menyusulku? kamu pulang saja!" terdengar nada tidak suka dari Julian. Sepertinya pria itu masih kesal pada Gilang yang sudah membohonginya.


"Haish, kenapa kamu mengusirku? aku ke sini karena ada dokumen yang memerlukan tanda tanganmu segera,"


"Dokumen apa? apa tidak bisa besok saja?" Julian sepertinya benar-benar keberatan untuk memberitahukan tempat dia berada.


Gilang tersenyum tipis, walaupun dia tahu kalau sahabatnya itu tidak mungkin bisa melihat senyumnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu terlihat keberatan aku menyusulmu? apa kamu takut aku menggoda Ayara? apa itu berarti kamu mau mengakui kalau kamu menyukainya?" pancing Gilang.


" Enak saja kalau bicara! aku hanya merasa kamu tidak harus datang ke sini lagi karena sebentar lagi kami juga akan pulang," Gilang lagi-lagi tersenyum mendengar sangkalan sahabatnya itu.


"Cih, kamu tidak usah menyangkal lagi! bilang saja kamu takut aku mendekati Ayara?"


"Kami ada di lantai 5. Kamu datang saja!" akhirnya Julian memberitahukan di mana keberadaannya dan hal itu sudah bisa diduga oleh Gilang, karena dia tahu kalau sahabatnya itu pantang pancing.


Gilang memasukkan kembali ponselnya dan naik escalator menuju lantai 5.


Setelah tiba di lantai 5, Gilang mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari keberadaan sahabatnya itu


"Itu mereka!" Gilang mengayunkan kakinya melangkah menuju tempat Julian berada.


"Hai, Sob!" Gilang menepuk pundak Julian dari belakang.


Julian sontak menoleh dan menatap Gilang dengan tatapan tajam.


"Mana dokumennya? sini biar aku tanda tangan!" tanpa basa-basi, Julian menengadahkan tangannya, meminta dokumen yang dikatakan oleh Gilang tadi.


"Wih, sabar dulu dong! aku kan baru saja sampai. Aku bahkan belum menyapa Ayara. Hai Ayara!" Gilang dengan sengaja melambaikan tangannya ke arah Ayara dan melemparkan senyum termanisnya.


"Mana dokumennya, sini!" Julian yang merasa tidak sabar merampas map yang sedang dipegang oleh Gilang. Namun, dengan sigap Gilang menghindar, hingga Julian hanya menangkap angin.


"Gilang, kamu jangan bercanda dong! aku sama sekali tidak punya waktu bercanda sekarang!" Julian terlihat sangat kesal.


"Maaf, maaf. Nih, kamu tanda tangani di sini!" Gilang memberikan pena dan menunjuk tempat yang harus ditandatangani oleh sahabatnya itu.


"Ini dokumen apa sih? aku tidak mungkin menandatanganinya sebelum aku baca dulu!"


"Ini hanya dokumen perjanjian saja! karena papaku meminta kamu menandatangani surat perjanjian kalau kita ini saling membantu perusahaan masing-masing. Kalau tidak ada perjanjian, kata Papa aku tidak diizinkan membantumu lagi!"


Julian mengembuskan napasnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ada-ada saja papamu. Sini aku tanda tangani!" Setelah membaca isi surat perjanjian dan memang benar seperti yang diterangkan oleh Gilang tadi, Julian akhirnya membubuhkan tanda tangannya di kertas itu.


"Ini ada satu lagi. Yang tadi buatmu, dan satu ini sebagai peganganku" Gilang menyingkap sedikit kertas yang sudah ditandatangani oleh Julian tadi, dan hanya memperlihatkan tempat tanda tangan yang sudah tercetak jelas namanya, dilengkapi dengan materai. Di samping namanya juga ada nama Gilang tertera.

__ADS_1


Karena berpikir kalau isinya sama saja dengan kertas pertama, Julian tanpa ragu membubuhkan tanda tangannya.


"Nah, sekarang kamu pegang ini dan ini aku pegang!" Gilang memberikan kertas yang ditandatangani oleh Julian pertama kali. Pria itu melipat kertas yang untuk dirinya dan memasukkan ke dalam saku celananya.Dan lagi-lagi Julian tidak curiga.


"Tidak perlu! kamu pegang saja dulu. Tidak mungkin aku memegang kertas itu. Sama saja aku seperti orang tidak punya kerjaan," tolak Julian, mendorong map kembali ke arah Gilang.


"Ya udah kalau kamu tidak mau, aku letakkan aja di kereta bayi Vano. Aku juga tidak mungkin memegangnya," pungkas Gilang sembari melangkah ke arah kereta bayi. Setelah meletakkan map itu, Gilang menoleh ke arah wanita bermuka masam di belakang kereta bayi Elvano.


"Oh, ini yang namanya Tessa?" Gilang menatap intens ke arah Tessa, hingga membuat wanita itu seketika merasa grogi.


"Kenapa dia melihatku sampai segitunya? apa dia merasa tertarik padaku? Emm, sudah tidak diragukan lagi, kalau dia pasti tertarik padaku. Siapa sih yang bisa menolak daya tarikku?" batin Tessa membanggakan diri. Dengan sengaja dia mengibaskan rambutnya dengan gaya sensual.


"Julian siapa wanita itu? apa dia pengasuh cadanganmu?"


Tessa yang tadinya terlalu percaya diri tiba-tiba menghentikan aksinya.


"What? dia bilang apa tadi? pengasuh cadangan? apa dia tidak bisa melihat bagaimana penampilanku sekarang? bagaimana dia bisa mengira aku ini pengasuh cadangan? benar-benar kurang ajar pria ini!" umpat Tessa dalam hati.


Sementara itu, Ayara berusaha untuk menahan tawanya, melihat wajah masam Tessa.


"Hei, lancang sekali kamu bilang aku pengasuh! aku Tessa, calon istri Julian!"


Gilang sontak memicingkan matanya, menatap Tessa dari bawah sampai ke atas.


"Kamu calon istri Julian atau hanya mengaku-ngaku saja? karena setahuku Julian tidak pernah cerita kalau dia punya calon istri,"


Wajah Tessa sontak memerah, menahan malu.


"Aku calon istri pilihan Tante Sarah. Jadi kamu jangan sembarangan bicara mengatakan kalau aku ini pengasuh. Kamu harusnya sadar diri, tidak pantas mengataiku, karena kamu hanya asisten pengganti Re_"


"Pengganti siapa? kamu tadi mau menyebut nama Re. Apa yang kamu maksud Reynaldi? apa kamu mengenalnya? dan darimana kamu tahu kalau aku menggantikan Rey?" cecar Gilang, membuat wajah Tessa semakin pucat.


"Ka-kamu salah dengar! aku tidak menyebut nama itu! " sangkal Tessa.


"Aku sama sekali tidak tuli, Nona Tessa dan aku yakin kalau Julian juga mendengar kamu menyebut Re," alis Gilang, naik ke atas menelisik ekspresi wajah Tessa dengan curiga.

__ADS_1


"Iya, aku juga mendengar kamu menyebut nama itu. Bagaimana kamu tahu kalau asistenku dulu namanya Reynaldi?" Julian ikut buka suara.


Tbc


__ADS_2