Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Petunjuk dari Video


__ADS_3

Setelah wanita genit itu benar-benar pergi, Gilang kembali mendaratkan Tubuhnya duduk di kursinya. Apa yang dilakukan oleh Gilang itu sontak membuat Shasa mengrenyitkan kening.


"Kenapa kamu duduk lagi? bukannya kita harus kembali ke kantor sekarang juga? kalau kamu masih mau di sini, tolong izinkan aku untuk kembali ke kantor, sendiri!


Gilang berdecak kesal dan langsung meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Kemudian, pria itu menatap wajah Shasa dengan tatapan yang sukar untuk dibaca.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Shasa tiba-tiba merasa sangat risih.


Gilang kemudian tersenyum tipis, menyenderkan tubuhnya dan menyilangkan kakinya. "Kamu kenapa begitu cerewet? kenapa kamu terlihat seperti ketakutan telat kembali ke kantor? Siapa yang berani memarahimu kalau kamu pergi denganku?" tanya Gilang dengan beruntun, dan tatapan meledek.


Shasa sontak berdecih, lalu mengembuskan napasnya dengan kencang.


"Tuan Gilang yang terhormat, aku tidak takut kalau ada yang akan memarahiku jika aku telat kembali ke kantor, tapi yang aku takutkan, aku masih punya pekerjaan yang cukup banyak. Aku tidak mau gara-gara lama di sini, aku jadinya tidak bisa menyelesaikannya sampai jam pulang, dan ujung-ujungnya mengharuskan saya lembur." tutur Shasa sembari meletakkan kedua tangannya di atas meja,balas menatap tatapan Gilang.


"Aku ini, manusia Tuan Gilang yang terhormat. Kemarin aku sudah lembur dan tadi pagi aku juga berangkat sangat cepat. Aku benar-benar capek dan ingin istirahat," lanjutnya kembali.


"Ya udah kalau kamu mau istirahat, kamu duduk saja. Apa kamu masih kurang jelas, kalau aku sengaja berlama-lama di sini agar kamu bisa rileks sejenak? Kalau urusan pekerjaanmu, kamu tenang saja, nanti aku akan membantumu, jadi kamu sebaiknya duduk saja dengan tenang, just enjoy your time!"


"Yang benar?" wajah Shasa sontak berbinar. Wanita itu pun duduk kembali dengan senyuman yang terulas di bibirnya. Sementara itu pria yang biasanya pelit senyum itu, menganggukkan kepalanya tersenyum geli melihat tingkah wanita di depannya itu.


Keheningan kembali tercipta di antara mereka berdua. Gilang kembali fokus menatap ke layar ponselnya. Sementara Shasa mulai bosan karena menurutnya tidak ada hal yang menarik sama sekali di ponselnya, perkatan wanita tadi yang menyinggung masalah gadis ada sesuatu yang mengganjal di hati


"Tuan Gilang, aku mau menanyakan sesuatu. Bolehkan?" Shasa bertanya dengan sangat hati-hati.


"Emm," sahut Gilang singkat sembari meletakkan ponselnya ke atas meja, dan menatap Shasa dengan serius.


"Emm, nggak jadi deh. Tuan lanjut aja lihat handponenya!" tiba-tiba Shasa merasa ragu untuk mengutarakan apa yang hendak dia tanyakan.


"Katakan sekarang! kamu sudah membuatku menghentikan kegiatanku, jadi kamu harus tetap melanjutkan. Sekarang katakan!" titah Gilang dengan tatapan yang sangat tajam.


"Ba-baiklah!" Suara Shasa terdengar bergetar. "Emm, wanita tadi menyinggung masalah perempuan di masa kecilmu, apa itu benar?" akhirnya Shasa memberanikan diri menanyakan apa yang mengganjal di pikirannya.


Gilang tidak langsung menjawab. Pria itu justru menatap Shasa dengan tatapan menyelidik. "Untuk apa kamu menanyakan hal itu?" tanyanya, dengan mata yang memicing.


"Hmm, tidak ada apa-apa! kalau kamu tidak mau jawab juga tidak apa-apa kok," Shasa benar-benar risih melihat tatapan pria di depannya itu.

__ADS_1


"Kamu cemburu?" tukas Gilang sembari mengerlingkan matanya.


"Enak saja kalau ngomong! siapa yang cemburu?" bantah Shasa dengan bibir yang mengerucut.


"Kalau tidak cemburu, jadi untuk apa kamu menanyakan hal itu? kalau aku jawab, iya, kenapa?" sudut bibir Gilang melengkung membentuk senyuman meledek.


"Kalau kamu jawab iya, ya tidak pa-pa. Aku menanyakan itu karena aku juga ingin memberitahukan kamu, kalau kita sama,"


Air muka Gilang seketika berubah, terkesan tidak suka dengan ucapan Shasa.


"Sama bagaimana maksudmu?" nada suara Gilang sekarang terdengar sangat dingin.


"Ya, sama. Kamu ada perempuan masa kecil yang sedang kamu cari, Dan aku juga sedang menunggu pria di masa kecilku," Shasa tersenyum, manis.


"Dan kamu percaya kalau dia akan mencarimu lagi?"


"Tentu saja. Sama seperti kamu yang percaya akan menunggu gadis kecilmu,"


Gilang tanpa sadar mengepalkan tangannya di bawah meja.


"Kenapa aku harus kesal mendengar dia sedang menunggu pria di masa kecilnya? itu kan hak dia!" bisik Gilang pada dirinya sendiri.


pria itu sama sekali tidak konsentrasi, sehingga dia hanya men-scroll video-video yang lewat di lokasi desa gadis masa kecilnya yang sedang dia cari.


Gilang hampir saja melewatkan satu video, tapi tiba-tiba dia naikkan lagi ke atas. Mata Pria itu sontak membesar begitu melihat video dua wanita berseragam guru. Yang membuat dia kaget adalah salah satu dari guru itu adalah Ayara, wanita yang saat ini masih dicari-cari oleh Julian.


"Ayara, ini Ayara!" pekik Gilang, membuat Shasa tersentak kaget.


"Ka-kamu mungkin salah lihat. Itu pasti bukan Ayara!" seru Shasa dengan raut wajah yang berubah pucat.


"Aku belum pikun untuk tidak mengenal orang, Shasa. Ini benar-benar Ayara!" Gilang menunjukkan layar ponselnya ke arah Shasa.


Shasa tidak bisa membantah lagi, karena benar salah satu wanita yang ada di video itu memang Ayara dan yang satu lagi dia yakini adalah Aura. Karena menurut yang dia dengar dari Sopiah budenya, Ayara dan Aura mengajar di tempat yang sama.


"Tunggu dulu, bukannya Julian ada di Bandung dan akan membantu rumah sakit di dekat desa ini?"

__ADS_1


"Apa? Julian ada di sana?" pekik Shasa yang membuat Gilang mengrenyitkan keningnya sembari menatap Shasa,curiga.


"Kenapa kamu bereaksi berlebihan seperti itu? emm tunggu dulu! Julian ingin membangun rumah sakit di sana karena itu sangat dekat dengan desa Mbok Sumi, dan kata Mbok Sumi, di sana rumah sakit lumayan jauh. Atau jangan-jangan, Mbok Sumi yang___" Gilang menggantung ucapannya, dan menatap Shasa dengan sudut alis yang sedikit naik ke atas, curiga.


"Ke-kenapa kamu melihatku?" tanya Shasa dengan gugup.


"Tunggu dulu! bukannya kamu anaknya Mbok Sumi? berarti kamu berasal dari desa itu juga, iya kan?"


Shasa terdiam, tidak bisa menjawab Namun, diamnya Shasa dan dengan melihat raut wajah wanita itu, membuat Gilang sudah tahu jawabannya.


"Kenapa bisa kebetulan begini? Chaca juga dari desa itu," bisik Gilang pada dirinya sendiri.


"Apa kamu kenal Chaca?"tanya Gilang, hati-hati.


"Chaca? aku tidak mengenal yang namanya Chaca. Kenapa kamu justru menanyakan Chaca?"


"Ahh, lupakan! sekarang aku mau tanya, apa kamu dan mama kamu selama ini sengaja menyembunyikan Ayara?" tukas Gilang dengan mata yang memicing.


"Kamu jangan asal menuduh. Aku dan mama tidak pernah meyembunyikan Ayara!" Shasa berusaha untuk menyangkal.


"Kamu masih berani menyangkal. Apa kamu kira aku ini bodoh? tidak mungkin Ayara bisa berada di kampung halamanmu, kalau bukan karena bantuan mamamu?


Shasa kali ini sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Karena sekeras apapun dia mencari alasan, pasti tidak bisa mengalahkan logika berpikir pria di depannya itu.


Gilang berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap Shasa dengan sengit.


"Aku tidak menyangka kalau selama ini kalian sanggup berpura-pura seakan-akan tidak tahu kemana Ayara pergi. Ternyata kalian selama ini yang menyembunyikannya. Kamu sudah lihat kondisi Julian selama ini, tapi kenapa kalian berdua masih diam saja?" kalau bukan karena posisi mereka berdua di restoran, mungkin Gilang akan mengeluarkan suara yang menggelegar.


Shasa sama sekali tidak menjawab. Wanita itu lebih memilihku untuk diam


"Kenapa kamu jadi bisu? apa kamu tidak mau mengatakan alasan kalian menyembunyikan Ayara? Apa kalian tidak menyadari kalau kamu dan mamamu sudah menjadi orang yang paling tega?";


"Jangan asal bicara kalau kamu tidak tahu yang sebenarnya. Itu kami lakukan untuk___"


"Ahh, sudahlah! kamu tidak perlu menjelaskan lagi. sekarang lebih baik aku menghubungi Julian, untuk memberitahukan kalau Ayara ada di kampung halaman Mbok Sumi. Mumpung dia masih ada di sana," Gilang meraih ponselnya dan bersiap untuk menghubungi Julian, "

__ADS_1


"Tolong, jangan lakukan itu! " cegah Shasa dengan cepat dan raut wajah panik.


tbc


__ADS_2