Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Mencoba memprovokasi


__ADS_3

"Siang, Tante!" sapa Tessa dengan raut wajah bahagia pada Sarah yang kebetulan sedang duduk sembari memainkan sesuatu di ponselnya.


"Lho Tessa? kenapa kamu siang-siang begini sudah datang? kamu tidak bekerja ya?" Sarah memicingkan matanya. Karena menurut pengakuan wanita itu, dia itu bekerja di sebuah perusahaan sebagai staff keuangan.


Wajah Tessa seketika berubah pucat untuk sepersekian detik. Namun, detik berikutnya wanita itu sudah kembali ke raut wajah biasa.


"Bekerja kok Tante. Tapi, sebentar lagi kan jamnya makan siang, jadi aku sengaja datang ke sini untuk mengajak Tante untuk makan siang bersama," sahut Tessa yang akhirnya memilih untuk berbohong, dari pada dia ketahuan kalau selama ini dia sama sekali tidak bekerja di manapun.


"Aduh, baik sekali kamu, Sayang! tapi yang seharusnya kamu ajak makan siang itu, Julian bukan Tante. Kalau kamu ngajak Julian kan, kalian berdua kan bisa jadi lebih dekat," nada suara Sarah benar-benar terdengar lembut. Wanita tampak sangat bersyukur, merasa kalau dia sama sekali tidak salah memilih calon istri untuk putranya.


"Hmm, aku merasa canggung, Tante kalau ngajak Julian makan siang. Tante sendiri kan tahu bagaimanapun sikapnya ke aku," Tessa mulai memasang wajah sendunya.


Sarah kemudian menghampiri Tessa dan mengelus-elus lembut rambut wanita yang dia yakini sangat baik itu. "Kamu yang sabar ya! Tante yakin kalau suatu saat Julian pasti akan bisa mencintaimu dengan tulus,"


Tessa tersenyum manis dan mengangukkan kepalanya. " Oh ya, Tan ... tadi, di jalan mau ke sini aku melihat Ayara dengan Gilang di taman. Coba lihat ini!" Tessa mulai melancarkan rencananya.


Sarah memicingkan matanya melihat photo yang ditunjukkan oleh Tessa padanya.


"Maaf ya, Tan bukannya aku mau menghasut Tante, tapi entah kenapa aku merasa kalau Ayara bukan wanita baik-baik. Aku merasa Kalau dia sangat berharap bisa hidup enak dengan mendekati Julian atau Gilang. Dia berpikir kalau tidak dapat Julian, Gilang Pun tidak apa-apa,"Tessa mulai memprovokasi Sarah, berharap wanita paruh baya itu murka dan cepat-cepat mengusir Ayara dari rumah itu.


"Emm, jangan berpikir yang tidak-tidak, Tessa! mungkin saja apa yang kamu pikirkan tidak benar. Berusahalah untuk tetap berpikir positif,"


Tessa terkesiap kaget mendengar tanggapan wanita paruh baya di depannya itu. Wanita itu sontak mengumpat dalam hati, karena gagal memprovokasi mamanya Julian.


"Lagian, seharusnya kamu senang kan? kalau Gilang dan Ayara bersama, setidaknya kamu tidak khawatir lagi jika Julian mendekati Ayara. Karena sepengetahuan, Tante, mereka berdua tidak akan mau ribut karena seorang wanita. Mereka akan selalu saling mendukung," sambung Sarah lagi, membuat Tessa semakin kesal dan meradang. Namun, wanita licik itu hanya bisa menahan dirinya untuk tidak memperlihatkan kalau dirinya sedang kesal.

__ADS_1


"Tante tidak merasa kalau Ayara memanfaatkan kesempatan untuk menggaet pria-pria kaya? Tante tidak takut akan hal itu? yang kasihan Gilang, Tante. Kasihan dia mendapatkan wanita yang hanya mencintai hartanya," Tessa sama sekali tidak menyerah. Wanita itu tetap saja berusaha untuk memprovokasi wanita paruh baya yang menurutnya sudah sangat percaya padanya.


Sarah kemudian kembali tersenyum dan mengelus-elus punggung tangan Tessa. "Kan sudah Tante katakan tadi, agar kamu jangan terlalu berpikir negative. Bisa saja kan kalau mereka berdua memang saling mencintai. Kalau Tante sih, cukup bersyukur dengan hal itu, setidaknya Tante merasa tenang, Ayara tidak menggoda Julian lagi,"


"Sialan! wanita tua bangka ini kenapa sulit sekali untuk diprovokasi sih!" umpat Tessa dalam hati.


"Oh, begitu ya, Tan! baiklah, Tan, aku akan berusaha untuk tetap berpikir positif seperti yang Tante katakan," pungkas Tessa, sembari memasang senyum palsunya.


"Oh ya, Tan, bagaimana kalau kita sekarang berangkat makan siangnya?" Tessa akhirnya mengalihkan pembicaraan.


"Terima kasih ya, Nak Tessa! tapi, Tante sudah meminta Mbok Sumi untuk masak makan siang, dan sudah selesai. Tidak baik kalau tidak dimakan. Lain kali saja ya, Sayang," Sarah memasang wajah penuh penyesalannya.


Tessa berpura-pura memasang raut wajah kecewa, padahal sebenarnya wanita itu sangat bahagia mendengar penolakan wanita paruh baya itu. "Ya udah deh, tidak apa-apa Tante! lain kali aja mungkin," ujarnya.


"Atau, kamu makan siang saja di sini sama Tante. Masakan Mbok Sumi enak kok," saran Sarah dengan wajah berbinar.


"Kalau begitu, ayo kita makan sekarang! biar kamu nanti tidak telat kembali ke kantor kamu," Sarah terlihat begitu bahagia, karena dia punya teman untuk makan siang.


Dua wanita berbeda usia itu pun bersama-sama mengayunkan kaki melangkah menuju ruang makan.


"Ayo duduk, Sayang!" Sarah mempersilakan Tessa untuk duduk di dekatnya.


"Tante, aku sebenarnya mau tanya, tapi itupun kalau Tante tidak keberatan," Tessa kembali buka suara sembari menyendokkan nasi ke dalam piring wanita paruh baya itu, kemudian ke dalam piringnya.


"Mau tanya apa?" Sarah mengrenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Emm, begini Tan, aku sebenarnya ingin sekali tahu, kenapa Gilang bisa bekerja di kantornyaJulian, padahal dia sendiri juga punya perusahaan? emangnya di mana asisten Julian yang dulu?" Tessa berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi.


Sarah tidak langsung menjawab. wanita itu menghela napasnya lebih dulu dengan helaan yang cukup berat. "Baiklah, Tante akan jujur. Sebenarnya kenapa Gilang bisa bekerja di kantor Julian, dan begitu juga sebaiknya, itu karena Julian susah untuk percaya pada orang lain lagi,"


"Kenapa bisa begitu, Tante?"


"Itu karena Reynaldi asistennya yang juga merupakan sahabatnya sudah menghianatinya dengan cara menjebak Julian. Dia mengaku kalau dia melakukan itu karena merasa iri dengan pencapaian Julian. Karena masalah itu lah, Julian sulit untuk percaya lagi pada orang lain. Satu-satunya orang yang dia percaya hanya Gilang. Itulah makanya mereka bisa saling membantu sekarang," jelas Sarah dengan panjang lebar tanpa jeda.


"Oh, seperti itu ya?" Tessa mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti. "Kasihan sekali Julian, dikhianati asistennya sendiri," imbuhnya berpura-pura memasang wajah sedih.


"Oh, ternyata begitu ceritanya. Kalau begitu, itu berarti Julian sedang mengalami krisis kepercayaan. Hmm, sepertinya aku bisa menggunakan photo Gilang dan Ayara tadi untuk membuat Julian membenci Gilang karena merasa dibohongi. Dengan begitu, Julian akan semakin tidak percaya pada orang lain lagi karena dua kali dikhianati sahabatnya," Tessa menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman licik.


"Kalau Ayara belum berhasil aku singkirkan sekarang, setidaknya aku bisa menyingkirkan pria sialan itu! kalau tentang Ayara, aku akan memikirkan cara lain lagi nantinya," batin Tessa.


"Tante, sepertinya aku sudah selesai makan dan aku akan kembali ke kantor. Tapi aku akan cuci piringnya lebih dulu!" Tessa berpura-pura mengangkat piringnya dan ingin membawa ke westafel.


"Piringnya letakkan saja, Nak. Nanti biar Mbok Sumi yang membereskannya. Kamu lebih baik kembali ke kantor kamu lagi!" cegah Sarah.


"Emm, tapi Tan, aku merasa tidak enak. Aku merasa kalau aku sudah merepotkan ... biar aku saja yang mencuci piringnya ya?"


"Sudah, kamu tidak perlu sungkan. Kamu kembali saja ke kantor ya!"


"Aduh terima kasih ya, Tan! Kalau begitu aku pamit dulu!"Tessa beranjak pergi meninggalkan Sarah dengan senyuman licik di bibirnya. Tujuannya kini adalah menemui Julian.


Di saat hendak keluar, dia hampir saja bertabrakan dengan Ayara yang kebetulan sudah kembali dari taman.

__ADS_1


"Hei, dengar ya wanita sialan! mulai sekarang kamu harus persiapkan dirimu, untuk pergi dari rumah ini!" sebelum beranjak pergi, Tessa masih menyempatkan berbisik ditelinga Ayara.


Tbc


__ADS_2