Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Ungkapan cinta Julian.


__ADS_3

Julian dan Ayara kini sudah bersama dengan Ayara. Mereka berdua diberi kesempatan untuk berbicara empat mata atas permintaan Julian.


"Ada apa lagi Tuan? hal apa lagi yang perlu dibicarakan?" Ayara buka suara setelah mereka berdua diam seribu bahasa, untuk beberapa saat.


"Kenapa kamu masih memanggilku, Tuan? bukannya aku sudah memintamu untuk mengubah panggilanmu?" ucap Julian tidak suka.


Ayara mengrenyitkan keningnya, merasa bingung mau memanggil Julian dengan sebutan apa?


"Emmm gimana ya? sulit untukku mengubah panggilanmu. Kamu mau dipanggil apa? Pak?"


Julian menggeram kesal. Namun dia berusaha meredam kekesalannya dengan mengembuskan napasnya dengan kencang.


"Kamu menganggap aku apa, sampai kamu mau panggil aku pak?" nada bicara Julian masih terdengar lembut, walaupun pada kenyataannya pria itu lagi kesal.


"Majikanku," sahut Ayara,singkat.


"Astaga, Ayara! bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? bukannya aku sudah mengatakan kalau kita akan menikah? jadi aku ini bukan majikanmu lagi, tapi aku ini calon suamimu. Jadi, kamu harus ganti panggilanmu!"


Ayara mengrenyitkan keningnya, menatap Julian dengan tatapan yang sulit untuk dibaca.


"Sejak kapan kamu jadi calon suamiku? apa kamu pernah melamarku?"


Julian, sontak bergeming dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


" Emangnya perlu harus dilamar-lamar segala?" gumamnya dengan sangat pelan, bahkan hampir mirip dengan sebuah bisikan, tapi masih bisa ditangkap jelas oleh telinga Ayara.


"Perlu! bahkan sangat perlu. Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku bersedia menikah denganmu tanpa kamu bertanya lebih dulu kesediaanku? Apa kamu terlalu percaya diri kalau aku pasti mau? itu sama saja kamu egois dan mengutamakan dirimu saja, tanpa bertanya bagaimana perasaanku padamu. Apa menurutmu, perasaanku ini tidak penting sama sekali?"


Julian semakin tergugu, tidak membantah ucapan Ayara yang memang benar adanya.


"Iya juga ya? bagaimana aku bisa seyakin itu, kalau Ayara akan bersedia menikah denganku? kan belum tentu juga dia mencintaiku." Julian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Lagian, apa alasan kamu mau menikahiku? apa karena kejadian masa lalu yang membuat kamu merasa bersalah sehingga ingin bertanggung jawab? kalau masalah itu, kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak mempermasalahkannya lagi. Atau kamu mau menikahiku, karena ada baby Elvano di antara kita? kalau masalah itu, kamu tidak perlu khawatir juga. Aku tidak akan mengambil dia darimu karena kamu itu memang papanya. Tapi, satu yang aku minta, tolong biarkan aku tetap menjadi pengasuhnya sampai dia bisa mandiri nantinya. Intinya kamu jangan menikahi seseorang bukan karena cinta. Karena itu akan menjadi beban nantinya buat sebuah pernikahan. Kebahagian yang ditunjukkan adalah kebahagian semu," tutur Ayara lagi, membuat Julian semakin terdiam.


Keheningan, tercipta kembali di antara dua sejoli itu untuk beberapa saat. Mereka berdua larut dengan pemikiran masing-masing.


"Ayo kita keluar!" Ayara kembali buka suara memecahkan keheningan. Kemudian, wanita itu berbalik lalu beranjak pergi.

__ADS_1


"Tapi, aku Ingin menikahimu bukan hanya karena kejadian masa lalu dan juga bukan karena adanya baby Elvano. Aku ingin menikahimu, murni karena aku sudah jatuh cinta padamu!" langkah Ayara sontak terhenti begitu mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Julian. Wanita itu kemudian berbalik menoleh ke arah pria itu dan menatap raut wajah Julian dengan intens, menelisik apakah ada kebohongan yang terlihat di raut wajah pria itu. Namun, apa yang dilihatnya? dia sama sekali bisa melihat ketulusan yang terpancar di manik mata pria itu.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? apa kamu meragukan ucapanku? terserah kamu mau meragukannya atau tidak, tapi yang jelas apa yang aku katakan tadi, itu adalah kebenarannya," lanjut Julian lagi dengan tegas.


Alis Ayara semakin bertaut mendengar pengakuan Julian yang menurutnya terlalu tiba-tiba.


"Ayara, kamu masih belum percaya juga? bagaimana bisa? apa yang selama ini aku terus mencari di mana keberadaanmu tidak cukup menjadi bukti kalau aku mencintaimu?"


Ayara berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa menurutmu itu cukup?" Ayara balik bertanya.


"Untuk kejadian dulu, kamu mencariku hanya karena merasa bersalah, bukan karena cinta. Dan untuk empat bulan belakangan ini, bisa saja kamu mencariku hanya karena baby Elvano ada padaku. Seandainya aku tidak membawa pergi putra kita, belum tentu kamu mencariku. Benar kan? jadi, itu belum bisa dijadikan bukti," lanjut Ayara lagi, dan seperti biasa, senyum tipisnya tidak pernah memudar dari bibir wanita itu.


Julian menggeram di dalam hati, geram karena Ayara yang sulit untuk percaya akan perasaannya.


"Jadi, kamu mau aku bagaimana, agar bisa membuktikan kalau aku benar-benar mencintaimu? terserah kamu mau apa, aku akan berusaha memenuhi permintaanmu," pungkas Julian sembari mengembuskan napasnya.


"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup kamu berikan perusahaanmu padaku, apa kamu bisa?" tantang Ayara.


Julian sontak terdiam dengan mata yang membesar dan mulut yang terbuka. Dia tidak menyangka kalau wanita yang berdiri di depannya itu bisa berkata seperti itu.


"Kalau begitu, lupakan saja perasaan palsumu itu! ayo keluar dari sini!" Ayara kembali berbalik dan hendak melangkah pergi lagi.


"Baiklah! kalau kamu mau aku memberikan perusahaanku padamu untuk membuktikan cintaku, aku akan berikan," pungkas Julian, yang kembali membuat langkah Ayara terhenti.


Ayara berbalik dengan mata yang membesar. Ia benar-benar terkesiap kaget, tidak menyangka kalau Julian akan menyanggupi permintaannya. Padahal, dia tidak benar-benar memintanya dari dalam hati.


"Kamu serius?" tanya Ayara, memastikan.


"Tentu saja! apa kamu tidak bisa melihat di mataku, kalau aku serius?" Julian balik bertanya


Ayara bergeming, bingung mau mengatakan apa pada Julian.


"Sejak kapan kamu mencintaiku?" tanya Ayara kemudian dengan alis bertaut, mencoba mengalihkan pembicaraan dari masalah perusahaan.


"Untuk hal itu, aku mungkin kurang tahu kapan pastinya. Tapi, aku bisa pastikan kalau aku sudah jatuh cinta padamu semenjak kamu jadi pengasuh putra kita. Saat itu, aku benar-benar marah dan tidak suka pada Gilang yang mengatakan kalau dia berniat mendekatimu dulu. Itulah makanya,aku dulu pernah buru-buru pulang, dan berpura-pura mencari Gilang ke kamu dengan alasan Aku memintanya untuk mengambill dokumen penting. Padahal saat itu, sama sekali tidak ada yang penting. Aku hanya tidak ingin Gilang mendekatimu, itu saja. Asal kamu tahu, aku juga merasa marah, melihat photomu dengan Gilang yang diambil oleh Tessa saat itu, makanya emosiku jadi tidak terkontrol ,,sehingga jadinya kamu juga terkena semburanku. Kamu masih ingat kejadian itu kan? dan asal kamu tahu, aku juga selalu suka memantau kamu dari kamera CCTV,"

__ADS_1


Kejadian lalu yang baru saja dikatakan Julian , seketika langsung berkelebat ke kepala Ayara. Dia langsung teringat kalau saat itu tingkah Julian memang aneh.


"Saat itu, aku tidak tahu kenapa aku bisa bersikap seperti itu, sampai-sampai meninggalkan pekerjaan. Tapi, sekarang aku sudah tahu jawabannya, itu kenapa? itu karena aku sudah jatuh cinta padamu. Sekarang terserah kamu saja, mau percaya atau tidak. Seperti yang kamu katakan tadi, kalau untuk membuktikan kebenaran rasa cintaku aku harus memberikan perusahaanku padamu, aku juga bersedia!" ujar Julian dengan sangat yakin dan mantap.


Ayara kemudian mengayunkan kakinya, menghampiri Julian dan berdiri tepat di depan pria itu.


"Bodoh! kamu adalah laki-laki terbodoh yang pernah aku kenal. Bagaimana bisa kamu memberikan perusahaan yang kamu bangun mati-matian demi seorang wanita? apa kamu sudah gila?" Ayara menekan-nekan dada Julian menggunakan jari telunjuknya.


"Kalau itu untukmu, biar saja aku dianggap bodoh. Yang jelas, aku tidak mau kehilangan kamu lagi, da anak kita!" tegas Julian, mantap.


Dua tetes cairan bening, tiba-tiba menetes keluar dari mata indah milik Ayara. Wanita itu, benar-benar terharu sekaligus bahagia mendengar semua ucapan Julian.


"Kamu memang bodoh, Julian! bagaimana mungkin aku benar-benar memintanya darimu?" Ayara tiba-tiba memeluk Julian dan menyenderkan kepalanya di dada pria itu.


Mendapat pelukan Ayara yang tiba-tiba, tentu saja membuat Julian mematung. Jantung pria itu semakin berdetak kencang dan bisa terdengar jelas di telinga Ayara. Pria itu sekarang merasa seperti sedang bermimpi.


Setelah mematung untuk beberapa saat, akhirnya Julian tersadar dan langsung mendekap tubuh Ayara dengan erat dan mengecup puncak kepala wanita itu.


Setelah memeluk cukup lama, Julian kemudian melerai pelukannya, mencengkram lembut bahu Ayara dan menatap wajah Wanita yang sudah lama dicarinya itu dengan tatapan penuh cinta.


"Aku mencintaimu, Ayara! apa kamu mau menikah denganku?" tanya Julian dengan sangat lembut.


Ayara menyunggingkan seulas senyuman manis dan mengangukkan kepalanya, mengiyakan.


"Yes! Terima kasih, Sayang!" Julian bersorak, dan kembali menarik tubuh Ayara ke dalam pelukannya.


Sementara itu, hati Ayara sekarang sudah dipenuhi dengan bunga yang bermekaran dan dikelilingi oleh kupu-kupu terlebih ketika mendengar Julian memanggilnya 'Sayang'.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di lain tempat tampak dua insan berbeda jenis sedang berdiri di sebuah tempat yang penuh kenangan.


"Kenapa kamu membawaku ke sini? ada apa?" tanya sang wanita dengan kening berkerut, menatap penuh tanya pada sang pria.


"Kenapa? apa kamu tidak mengingat tempat ini, Shasa?"


tbc

__ADS_1


Maaf, baru up. Baru pulang dari rumah mertua dan baru nyampe rumah malam tadi. Kemarin sudah aku tulis dan siap untuk di Up. Tapi, tiba-tiba terhapus, hilang tanpa jejak. Benar-benar nyesek, hingga aku jadinya ngeblank, gak semangat buat nulis lagi. 😭


Oh ya, selamat menunaikan Ibadah puasa Ramadan bagi yang merayakannya. Semoga puasanya lancar sampai hari yang Fitri. Amin


__ADS_2