Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Mati kalian berdua!


__ADS_3

"Sekarang, apa kamu bisa menjelaskan maksud perkataanmu tadi sewaktu di dalam sana?" Reynaldi tidak bisa lagi untuk menahan diri untuk bertanya begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil.


Gilang tidak langsung menjawab, pria itu menyalahkan mesin mobil lebih dulu dan menjalankannya.


"Wanita yang bernama Ayara itu ada di rumah Julian sekarang. Ia jadi pengasuh anak yang ditemukan oleh Julian," Gilang akhirnya buka suara, memberikan jawaban.


Mata Reynaldi membesar terkesiap kaget mendengar jawaban Gilang barusan. "Apa kamu bercanda?" tanyanya dan Gilang menggelengkan kepalanya.


"Dia memang jadi pengasuh di rumah Julian sekarang," tegas Gilang dengan raut wajah datar.


"Kenapa bisa ya? apa maksud dia melamar jadi pengasuh di rumah pria yang sudah menggagahinya?" kening Reynaldi berkerut, bingung.


"Justru itu aku juga bingung. Tidak mungkin kan dia tidak mengenali wajah pria yang sudah mengambil kesuciannya? dan yang membuat aku jadi curiga padanya ... dia itu tahu kalau Julian mencari wanita yang sudah dia rengut kesuciannya, tapi,kenapa dia diam saja dan masih berusaha menutupi. Aku jadi curiga kalau dia punya motif terselubung aku penasaran apa motif dia melamar jadi pengasuh anak angkat Julian? apa dia punya rencana licik ya?" tukas Gilang, yang mulai berasumsi negative.


"Asal kamu tahu, ketika Julian pertama kali menemukan anak angkatya, Anak itu menderita sakit jantung bawaan dan harus dioperasi. Bukannya kata Manager tadi kalau Ayara sempat hamil dan melahirkan dan anak yang dia lahirkan itu juga sakit-sakitan? entah kenapa aku jadi curiga kalau Elvano itu adalah anak Ayara dan Julian," sambung Gilang kembali dengan tatapan tetap ke depan, fokus pada Jalanan.


"Tapi bukannya manager tadi juga bilang kalau Ayara itu sudah menikah? kemungkinan dia hamil dengan suaminya kan?"


"Iya, manager tadi memang mengatakan seperti itu. Tapi apa kamu tidak merasakan ada sesuatu yang janggal? kalau dia memang menikah, kenapa tidak ada yang tahu, dan mereka tahunya setelah Ayara hamil? lagian tadi aku sempat bertanya kan, apa dia pernah melihat suaminya Ayara. Kamu dengar apa jawaban si manager itu tadi?"


"Iya, aku dengar. Ia mengatakan kalau dia sama sekali tidak pernah melihat suami Ayara," sahut Reynaldi dengan alis yang masih bertaut, bingung kemana arah pembicaraan Gilang.


"Nah, karena itu aku semakin curiga kalau sebenarnya Ayara itu sama sekali tidak pernah menikah. Tapi, memang aku tidak boleh langsung menyimpulkan begitu saja. Aku memang harus menyelidikinya lebih dulu. Aku harus tahu apa motif dia sebenarnya. Kenapa dia tidak berterus terang kalau dia adalah gadis yang dicari Julian. Aku takut kalau Ayara sebenarnya tidak sepolos yang aku kira. Aku takut kalau dia juga sama seperti Tessa yang menyembunyikan kelicikannya di balik sikap sok baiknya selama ini. Ini benar-benar membuat kepalaku pusing, Rey!" tutur Gilang sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jadi, apa rencanamu sekarang?"


"Aku akan mengantarkanmu ke apartemen dulu. Setelah itu aku akan menemui Ayara," sahut Gilang dan Reynaldi mengangguk-anggukan kepalanya.


Keheningan terjeda cukup lama di antara dua pria itu. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.

__ADS_1


"Lang, aku berhenti di sini saja!" celetuk Reynaldi tiba-tiba.


Gilang menepikan Mobilnya ke arah bahu jalan dan menatap Reynaldi dengan tatapan curiga.


"Kenapa berhenti di sini?" Mata Gilang memicing, membuat alis pria itu bertaut.


"Hmm, tidak apa-apa. Aku hanya merindukan sebuah tempat yang sering aku kunjungi dulu,"


Gilang mengangguk-anggukan kepalanya, membuang kecurigaannya jauh-jauh. "Emm, ini aku kasih kamu kartu. Aku tahu kalau kamu sama sekali tidak punya uang. Nanti kamu bisa ambil uang dari kartu itu untuk membeli yang kamu mau!"


Reynaldi menerima kartu dari tangan Gilang dengan mata yang berembun dan tangan bergetar. "Sekali lagi Terima kasih, Lang!" ucapnya tulus.


"Tidak usah sungkan! kamu boleh turun dan hati-hati!" ucap Gilang dengan bibir tersenyum tipis.


Setelah Reynaldi keluar dari mobil, Gilang kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Halo Ayara,"


Ayara tersentak kaget mendengar suara seseorang yang tiba-tiba menyapanya. Wanita sontak menoleh ke arah datangnya suara dan semakin kaget melihat kedatangan Gilang.


"Tu-tuan Gilang!" gumam Ayara.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Gilang basa-basi.


"Emm, aku hanya ingin membawa baby Vano jalan-jalan pagi, Tuan!"


"Jalan-jalan pagi?" Gilang memicingkan matanya, kemudian melihat ke atas, tepat ke arah matahari yang sudah mulai meninggi.

__ADS_1


"Ini sepertinya sudah tidak pagi lagi. Ini sudah mau siang. Atau kamu memang tidak bisa membedakan yang mana pagi, yang mana siang?" nada bicara Gilang terdengar sangat ketus.


Ayara terdiam dengan kening berkerut, merasa bingung dengan sikap Gilang yang tidak biasanya. Wanita itu merasa kalau pria di depannya itu, tidak menyukainya sama sekali. "Hush, tidak boleh berpikir seperti itu, Ayara! mungkin Tuan Gilang sedang banyak pikiran dan capek juga, makanya sikapnya seperti itu," batin Ayara, menepis asumsinya.


"Tuan, aku tahu ini sudah mulai siang. Aku membawa baby Elvano, bukan baru Yuan, tapi dari tadi. Dan sekarang, aku berencana akan pulang," Ayara akhirnya menyahut dengan tetap menjaga kesopanannya. "Tuan sendiri sedang apa di sini? apa Tuan mau ke rumah Tuan Julian untuk mengambil sesuatu?" Ayara mencoba untuk berbasa-basi.


"Iya, aku memang mau ke rumah Julian, tapi bukan atas perintah Julian. Aku sengaja datang untuk mengambil sesuatu yang bisa membantuku untuk menemukan wanita yang dicari Julian selama ini,"


Deg ....


Raut wajah Ayara seketika berubah pucat mendengar penuturan pria di depannya itu. Dan tentu saja perubahan itu tidak luput dari pantauan Gilang.


"Ayara, kenapa dengan wajahmu? kenapa kamu tiba-tiba pucat?" mata Gilang memicing semakin curiga.


"Ti-tidak ada apa-apa, Tuan. Mungkin itu karena dari tadi pagi aku belum makan," suara Ayara terdengar bergetar. Sumpah demi apapun, wanita sekarang benar-benar ketakutan


"Oh ya?" Gilang mencondongkan wajahnya mendekat ke wajah Ayara, membuat gadis itu refleks memundurkan kepalanya. "Tapi anehnya yang aku lihat kalau raut wajahmu menunjukkan ekspresi ketakutan, apa ada sesuatu yang membuatmu takut?" suara Gilang terdengar sangat dingin dan sudut bibir pria itu membentuk senyuman licik.


"Te-tentu saja tidak ada, Tuan. Aku hanya kaget karena wajah Tuan terlalu dekat," sangkal Ayara. "Bisa minta tolong jauhkan kepala anda, Tuan?" imbuhnya.


Gilang kemudian menarik kembali kepalanya dan Ayara mengembuskan napas lega.


"Haish, apa Tuan Gilang sudah mulai curiga denganku? kalau iya, apa yang harus aku lakukan?" batin Ayara.


" Sepertinya aku salah mendatangi wanita ini lebih dulu. Dia pasti tidak akan jujur. Lagian aku tidak punya bukti video yang menunjukkan kalau dialah wanita itu, hanya bermodalkan kata Reynaldi saja. Kalau sudah seperti itu, wanita ini pasti akan mengelak." batin Gilang tanpa mengalihkan tatapannya ke arah Ayara yang terlihat semakin pucat .


"Hmm, Kalau tidak salah, Ayara ini sahabatnya anak mbok Sumi yang sekarang bekerja di perusahaan Julian. Aku yakin kalau anak mbok Sumi itu pasti tahu apa yang sudah menimpa sahabatnya, dia juga pasti tahu kalau Ayara diperkosa oleh Julian. Wanita itu pasti bekerja sama dengan Ayara. Aku sebaiknya menemui wanita itu untuk menanyakan apa motif mereka berdua," Gilang masih mengajak hatinya untuk berbicara.


Tanpa mereka sadari dari arah yang tidak terlalu jauh, ada Tessa yang melihat interaksi Gilang dan Ayara. Dengan tersenyum licik, wanita itu kemudian mengambil photo tepat di saat Gilang mendekatkan wajahnya ke wajah Ayara,. Photo itu memperlihatkan seakan Gilang seperti berniat hendak mencium Ayara.

__ADS_1


"Mati kalian berdua! dasar wanita murahan. Sepertinya dia ingin menggoda dua pria sekaligus. Ternyata dia lebih licik dibandingkan aku!" umpat Tessa sembari berlalu pergi, menuju tujuan awalnya yaitu kediaman Julian.


Tbc


__ADS_2