
Setelah Ayara yakin kalau Farell sudah pergi, wanita itu kemudian berbalik kembali dan ingin membuka pintu.
"Ay,tadi aku lihat mobil Farell, dia baru dari sini ya?" Ayara terjengkit kaget begitu mendengar suara seorang wanita yang menyapanya dari belakang.
Ayara sontak berbalik dan wajahnya berubah pucat begitu tahu siapa yang baru saja datang. Wanita itu tidak lain adalah Aura, yang merupakan sahabatnya di kampung itu. Gadis yang juga berprofesi sebagai guru, dan dari dialah Ayara bisa bekerja sebagai guru di sekolah yang sama dengan gadis itu.
Kenapa wajah Ayara bisa berubah pucat? itu karena dia tahu kalau sahabat barunya itu, pernah curhat kalau dia menaruh hati pada Farell.
"Kamu tidak usah pucat seperti itu, Ay! aku tidak marah kok. Karena aku tahu kalau kita tidak boleh memaksakan seorang untuk membalas perasaan kita. Kalau dia suka kamu, ya apa boleh buat," tutur Aura panjang lebar dan tetap dengan dibarengi senyuman.
"Apaan sih, Ra. Walaupun aku tahu dia suka padaku, tapi aku sama sekali tidak menaruh perasaan sedikitpun padanya."
"Kenapa? bukannya Aa Farell tampan? udah tampan dokter lagi. Kalau kamu suka, aku sama sekali tidak apa-apa, Ay. Jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak hati," Aura berbicara sembari tersenyum, ingin menunjukkan kalau gadis itu memang benar-benar tidak akan marah seandainya Ayara bisa bersama dengan Farell, pria yang dia sukai.
"Tapi, sumpah demi apapun, Ra, sedikitpun aku tidak menaruh hati padanya," Aura berbicara penuh penekanan berusaha untuk meyakinkan sahabatnya itu.
"Kamu memang aneh. Banyak gadis-gadis yang jatuh cinta pada Aa Farell, tapi kamu malah tidak sama sekali. Apa karena kamu masih mencintai suamimu yang tukang selingkuh itu?" tukas Aura.
Ya, walaupun Ayara sudah sangat dekat dengan Aura, tapi wanita itu sama sekali belum bisa sepenuh terbuka untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, Aura sahabat barunya itu, hanya tahu cerita tentang Ayara yang diselingkuhi suaminya.
"Udahlah, Ra. Jangan dibahas lagi. Ayo masuk, Ra! aku masak lumayan banyak hari ini!" Ayara meraih tangan Aura, mengajak gadis itu masuk. Dia sengaja melakukannya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Serius? kamu masak apa?" wajah Aura terlihat berbinar.
" Kamu bisa lihat sendiri di dapur," Aura menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju dapur.
"Kamu masak banyak dalam rangka apa, Ay?" tanya Aura sembari mencicipi daging rendang buatan Ayara.
"Emm, hanya syukuran kecil-kecilan satu tahun anakku, Ra,"
Aura sontak meletakkan sendoknya dengan mata yang membesar.
"Astaga, baby Vano ulang tahun ya? aduh aku tidak bawa kado apapun buat Baby Vano," Aura meringis merasa tidak enak.
"Ya, ampun kamu tidak perlu merasa tidak enak, Ra. Aku tidak masalah sama sekali. Ayo kamu lanjut makan lagi!" Ayara melemparkan senyum ke arah Aura, untuk memperlihatkan kalau dia memang benar-benar tidak masalah dengan Aura yang tidak membawa hadiah.
"Paket!" tiba-tiba terdengar suara seorang kurir dari luar.
Ayarapun mengayunkan kakinya melangkah untuk menemui sang kurir.
__ADS_1
"Dengan Ibu Ayara?" tanya kurir itu dengan sopan.
"Iya, benar, Pak. Ada apa ya?"
"Oh, ini ada paket dari orang bernama Shasa, Bu!" Kurir itu berjalan ke arah mobil dan menurunkan sebuah kotak besar.
"Ini, Bu paketnya. Tolong tanda tangani di sini!" Ayara kemudian membubuhkan tanda tangannya. Setelah Sang kurir pergi, Ayara membawa kotak besar itu ke dalam rumah.
"Apa itu, Nak?" tiba-tiba Sopiah datang dengan membawa Baby Vano di gendongannya.
"Aku juga nggak tahu, Bude. Katanya ini kiriman dari Shasa. Ayo sama-sama kita buka, Bude!" Ayara masuk ke dalam bersama dengan Sopiah.
"Apa itu, Ay?" Aura yang sepertinya sudah selesai makan, ikut bergabung dengan Ayara dan Sopiah.
"Aku juga tidak tahu, Ra. Ayo kita buka!" Ayarapun mulai membuka kotak besar itu dengan perlahan. Setelah dibuka ternyata isinya adalah mobilan besar yang bisa dinaiki oleh Elvano. Di dalam kotak paket itu, Ayara menemukan sebuah pesan yang berisi selamat ulang tahun dari Shasa.
"Wah, Shasa baik sekali, Ay. Aku jadi merindukannya. Tapi aku ragu, apa dia masih mengenalku atau tidak. Kamu kan tahu sendiri dia sudah tidak di sini semenjak usia kamu 8 tahun. Dia pasti sudah lupa teman kecilnya," ucap aura dengan raut wajah sendu.
"Kamu jangan berpikir macam-macam, dia pasti ingat kamu," hibur Ayara.
"Iya, dia ingat kamu kok. Karena kalau dia menghubungi Bude, dia selalu menanyakanmu. Tapi, mungkin kalau kalian ketemu, dia mungkin kurang mengenali wajahmu saja," Sopiah ikut buka suara menimpali ucapan Ayara.
"Hai, Vano! selamat ulang tahun ya, Sayang!" Aura menciumi baby Elvano berkali-kali. Bukannya menangis, putra Ayara itu justru tertawa-tawa bahagia, membuat Aura semakin gemas.
Kemudian, setelah puas menciumi baby Elvano, Aura kembali berdiri.
"Oh ya, aku sebenarnya penasaran, apa Shasa sudah bertemu dengan Elang, yang katanya akan jadi suaminya Kalau sudah dewasa?" Aura kembali membicarakan tentang Shasa.
"Belum. Aku sih sudah memintanya untuk membuka hati pada pria lain, tapi dia tetap tidak mau. Katanya dia yakin kalau suatu saat dia akan bertemu dengan Elang," jawab Ayara sembari mengangkat bahunya.
"Dulu ada laki-laki beberapa Kali datang ke kampung ini, dan dia mencari gadis bernama Chaca. Kami bilang aja tidak ada yang namanya Chaca di sini. Tapi, Bude lupa nanya namanya siapa," Sopiah kembali buka suara.
"Wah, jangan-jangan laki-laki itu si Elang, yang lagi nyari Shasa. Tapi kenapa dia malah menyebut nama Chaca? dari kecil Shasa kan memang dipanggil Shasa, tidak pernah jadi Chaca," tutur Aura, yang seketika meragukan pemikirannya sendiri.
"Ahh, udahlah. Kalau dipikirin makin pusing. Oh ya, Ayara, sebenarnya kedatanganku tadi ke sini, mau ngasih tahu kalau nenek yang punya peternakan itu, ingin membeli banyak sayuran. Jadi, aku tawarkan sayuran kamu. Katanya nanti sore mau dia ambil buat makan karyawan-karyawannya besok," lanjut Aura, mengungkapkan tujuan awalnya.
"Wah, kamu serius?" wajah Ayara berbinar bahagia.
"Ya seriuslah!"
__ADS_1
"Kalau begitu aku mau ambil sekarang saja. Takut nanti orang suruhannya datang, tapi sayurannya belum siap diambil," ujar Ayara dengan nada suara yang benar-benar bahagia.
"Kalau begitu, aku bantu kamu manen sayurnya. Kebetulan aku juga tidak ada kerjaan, Ayo!" ajak Aura dengan penuh semangat.
Ayara kemudian berjongkok di depan sang putra yang sedang sangat bahagia memainkan tombol-tombol di mobil mainannya itu.
"Sayang, Mama ke belakang manen sayur dulu ya! kamu baik-baik di sini! jangan nakal sama nenek!"
"Ya, mamma," sahut baby Vano seakan sudah mengerti dengan apa yang dipesankan oleh Ayara.
"Bude, aku titip baby Vano lagi, tidak apa-apa kan?" Sopiah menganggukkan kepalanya, mengiyakan. "Sudah, kamu ke belakang saja. Kamu tenang saja, cucu nenek ini akan anteng main di mobilan barunya,"
Setelah pamit pada Sopiah, Ayarapun melangkah menuju belakang untuk mengambil sayuran pesanan seorang nenek yang terkenal kaya di kampung itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lain tempat, tepatnya di kediaman Julian, tampak Julian turun dari dalam mobilnya sembari membawa kue di tangan kanannya, dan sebuah kotak yang dibungkus tapi dengan? kertas kado.
"Kamu bawa apa itu, Nak?" tanya Sarah melihat dua tangan Julian yang tidak kosong seperti biasanya.
"kue dan kado, Ma," sahut Julian singkat.
"Kue dan kado? emangnya siapa yang ulang tahun? seingat mama kamu ulang tahunnya masih 2 bulan lagi, mama juga tidak ulang tahun hari ini," Sarah terlihat semakin bingung.
"Yang ulang tahun anakku, Ma. Dia sekarang sudah satu tahun," nada bicara Julian terdengar sangat lirih.
Sarah sontak terdiam. Wajah wanita itu kini terlihat sendu. Merasa sedih melihat putranya yang masih belum bisa menemukan keberadaan Ayara dan putra mereka.
"Tapi, Nak, Elvano tidak ada di sini. Bagaimana kamu bisa__"
"Walaupun dia tidak di sini, aku akan tetap merayakan ulang tahun untuknya, Ma!" sambar Julian dengan cepat, memotong ucapan mamanya.
"Aku akan mewakilinya untuk meniup lilin dan mendoakan agar dia dan mamanya tetap baik-baik saja, di manapun mereka berada. Kalau kado ini, aku akan tetap simpan,dan akan aku tunjukkan di saat aku menemukan mereka nanti," sambung Julian lagi.
Dari arah yang tidak terlalu jauh, Sumi melihat dan mendengar apa yang diucapkan oleh Julian. Wanita itu kemudian kembali merasa dilema.
" Apa sudah saatnya aku memberitahukan di mana keberadaan Ayara dan baby Elvano pada Tuan Julian?" batin wanita itu.
tbc
__ADS_1