
Tidak terasa sudah seminggu semenjak Ayara pergi membawa baby Elvano keluar dari kediaman Julian. Kepergian Ayara benar-benar berdampak buruk pada Julian. Sudah seminggu Julian sama sekali tidak ke kantor karena selama seminggu ini juga Julian tidak pernah berhenti mencari keberadaan Ayara. Beruntungnya ada Reynaldi yang tetap cekatan menangani semua pekerjaan-pekerjaan di kantor. Namun, sehebat-hebatnya Reynaldi, tetap saja dia merasa keteteran mengerjakan semua pekerjaan.
"Jul, di bawah ada Reynaldi dan Gilang. Mereka berdua mencarimu, Nak," ucap Sarah, memanggil putranya yang sedang melamun di balkon kamarnya.
"Suruh saja mereka masuk, Ma. Kenapa harus memintaku turun ke bawah? biasanya mereka juga langsung masuk ke kamarku," sahut Julian, yang masih terlihat tidak semangat sama sekali. Pria itu memang benar-benar kehilangan semangat hidup dan bahkan tubuhnya juga terlihat kurusan, dikarenakan selera makannya juga ikut hilang.
Sarah mengembuskan napasnya, merasa kasihan melihat keadaan putranya yang benar-benar kehilangan Ayara dan baby Elvano, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Seandainya waktu bisa diulang ingin rasanya dia tidak mengenal Tessa.
"Baiklah, Nak ... mama akan meminta mereka naik," pungkas Sarah, yang akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Julian.
Tidak perlu menunggu lama, Reynaldi dan Gilang kini sudah berada di balkon kamar milik Julian.
"Hai, Jul, apa kabar?" Gilang menepuk pundak Julian dengan lembut sembari mendaratkan Tubuhnya duduk di samping sahabatnya itu.
"Seperti yang kalian lihat, aku benar-benar tidak baik-baik saja. Aku benar-benar sudah tidak tahu kemana lagi mau mencari mereka berdua. Aku sudah ke bandara untuk mencari tahu kali aja, Ayara naik pesawat, tapi hasilnya nihil. Aku juga sudah ke stasiun kereta api, pelabuhan, tapi sama juga hasilnya. Kalau naik bus, tidak pakai daftar nama kan? tapi aku sudah menunjukkan photonya tapi, tetap saja mereka mengatakan tidak kenal. Kemana lagi aku harus mencari mereka berdua, Lang, Rey?" Julian mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu benar-benar terlihat frustasi.
"Jul, mungkin sekarang sulit untuk menemukan mereka, tapi kamu jangan putus asa. Kamu harus punya keyakinan kuat kalau kamu pasti akan berhasil menemukan mereka berdua," Reynaldi yang dari tadi diam saja, akhirnya buka suara.
"Reynaldi benar. Kalau pemikiran kamu positif, hasilnya pasti juga positif," Gilang kembali buka suara menimpali ucapan Reynaldi.
"Tapi , kalau boleh meminta, jangan gara-gara terlalu fokus mencari keberadaan Ayara dan anakmu, kamu sampai melupakan tanggung jawabmu yang lain. Ingat Jul, banyak karyawanmu yang bergantung hidup dengan bekerja di perusahaanmu. Kalau kamu sampai mengabaikan perusahaanmu dengan jangka waktu yang lama, perusahaan kamu bisa bangkrut, dan pasti akan banyak jiwa yang kehilangan pekerjaannya,"sambung Gilang lagi.
"Bukannya aku sudah bilang kalau untuk sementara aku menyerahkan semua pada Reynaldi? karena percuma juga aku di kantor, tapi hatiku sama sekali tidak ada di sana. Yang ada semuanya akan menjadi semakin kacau,"
"Jul, aku berterima kasih karena kamu mempercayaiku lagi untuk membantumu mengurus perusahaan, tapi jujur saja, aku juga merasa mulai keteteran, Jul." Reynaldi kembali buka suara.
__ADS_1
"Aku tahu kalau kamu sedang merasa kehilangan sekarang, tapi aku dan Gilang benar-benar berharap agar kamu tetap bisa produktif seperti biasanya. Kamu harus tetap memiliki motivasi dan semangat memajukan perusahaanmu, demi kelak bisa membahagiakan Ayara dan anakmu. Kamu tidak mau kan, ketika kamu berhasil menemukan mereka, tapi perusahaanmu sudah tinggal nama?" imbuh Reynaldi lagi, panjang lebar dan tanpa jeda.
Julian bergeming, diam seribu bahasa, tidak membantah ucapan Reynaldi, karena jauh dari lubuk hatinya membenarkan ucapan sahabatnya itu.
"Jul, kamu jangan seperti orang yang putus asa dong. Bagaimanapun hidup ini harus terus tetap berjalan. Kalau kamu memang benar-benar berniat untuk tetap bisa menemukan keduanya, kamu juga tetap harus menjaga kesehatanmu. Jangan sampai nanti kamu belum bertemu dengan mereka tapi kamu sudah tinggal nama. Kamu tidak mau itu terjadi kan?" kali ini Gilang kembali buka suara.
"Kamu mau mendoakanku mati?" cetus Julian, merasa geram mendengar ucapan Gilang
"Bukan mendoakanmu cepat mati, aku hanya ingin memberikan gambaran saja, agar kamu bisa berpikir jauh ke depan," ujar Gilang, bijak.
"Lihatlah kamu sekarang! kamu benar-benar jauh berbeda dari Julian yang aku kenal. Tubuhmu kurusan, wajahmu juga kusam. Kamu benar-benar seperti orang yang tidak terurus. Lagian apa kamu tidak merasa kasihan pada mamamu? beliau juga sangat sedih melihat keadaanmu, Jul. Tadi Beliau sampai menangis memohon pada kami agar bisa membuatmu kembali bersemangat. Kalaupun kamu merasa sedih karena kehilangan Ayara dan baby Elvano, jangan buat mamamu merasa sedih juga," imbuh Gilang lagi dengan lugas.
"Benar kata Gilang, Jul. Intinya Kamu harus tetap punya tujuan hidup. Bukannya kami memintamu untuk fokus bekerja, agar bisa lupa pada Ayara dan putramu, tidak sama sekali. Kita akan tetap terus melakukan pencarian pada keduanya, dan kami akan tetap membantumu," tegas Reynaldi.
Julian benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena apa yang dikatakan oleh dua sahabatnya itu benar-benar tidak ada yang salah.
"Nah gitu dong!" Gilang tersenyum, lagi-lagi menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
"Jul, apa kamu sudah memeriksa CCTV yang ada di jalan, yang tembus dari jalan keluar yang ada di belakang rumahmu? kali aja kamu menemukan petunjuk," celetuk Reynaldi tiba-tiba.
"Sudah.Tapi ternyata kamera CCTVnya juga rusak. Sekarang aku hanya berharap ada sebuah keajaiban, yang bisa mempertemukanku dengan mereka berdua," sahut Julian dengan wajah sendu dan nada suara yang lirih.
"Maaf, Tuan, aku masuk bawa minum!" tiba-tiba Sumi masuk dengan membawa nampan yang di atasnya membawa tiga gelas kopi.
"Oh iya, Mbok, terima kasih!" ucap Reynaldi sembari berdiri membantu Sumi meletakkan kopi di meja.
__ADS_1
"Sebenarnya aku kasihan padamu Tuan Julian, tapi kalau aku kasih tahu di mana Ayara sekarang, aku takut kalau yang Tuan inginkan hanyalah Baby Elvano tidak dengan Ayara," batin Sumi.
"Mbok, kenapa masih berdiri di sana? apa ada sesuatu yang ingin Mbok ingin katakan?" tegur Gilang dengan kening berkerut.
"Oh, ti-tidak ada, Tuan, aku permisi dulu!" Mbok Sumi menjawab dengan gugup dan langsung berlalu pergi.
"Kenapa Mbok Sumi terlihat gugup ya? dia terlihat seperti merahasiakan sesuatu," bisik Gilang pada dirinya sendiri sembari melihat ke arah perginya Sumi.
"Ah, sudahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja," akhirnya Gilang menepis kembali kecurigaannya.
"Oh ya,Jul sekali lagi aku mau mengatakan agar kamu tetap semanga, Dan aku juga mau menekankan, kalau kami berdua akan selalu ada mendukungmu. Aku juga sudah mengarahkan anak buahku untuk melakukan pencarian,"
"Terima kasih, Lang. Tapi Kali ini, biarlah aku yang berusaha sendiri untuk mencarinya. Kamu dan Rey sudah cukup membantuku kemarin,"ucap Julian tegas.
Gilang menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak Jul, selagi kami mampu, kami akan tetap membantumu sebisa kami. Iya kan Rey?" Gilang meminta pendapat Reynald dan pria itupun menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Sekali lagi terima kasih. Tapi Kali ini biarlah aku yang berjuang keras menemukan mereka. Karena aku tahu kalau kamu juga harus fokus mencari gadis masa kecilmu itu. Aku tidak mau, hanya gara-gara membantuku, kamu jadi lupa tujuanmu," tutur Julian, tersenyum tipis.
"Sepertinya belakangan ini dia juga sudah hampir lupa dengan tujuannya, Jul. Dia sudah sibuk mengganggu ketenangan Shasa. Kalau sudah melihat mereka berdua, aku berasa sedang menonton Tom dan Jerry di real life," celetuk Reynaldi menimpali ucapan Julian.
"Kamu menyukai Shasa, Lang?"Julian memicingkan matanya, curiga.
"Enak saja kalau bicara. Aku tidak mungkin menyukai wanita keras kepala itu. Asal kalian tahu, aku hanya kesal dan tidak terima karena dia pernah mengatakan kalau otak aku dangkal. Aku hanya ingin membuat hidupnya tidak tenang dengan memberikan banyak pekerjaan padanya, itu saja. Kalau untuk masalah perempuan di masa kecilku itu, aku tidak akan mungkin lupa," sangkal Gilang dengan lugas.
"Wah, kalau begitu ... itu berarti, tidak masalah kan kalau aku mencoba mendekatinya? sepertinya dia itu menarik dan punya pribadi yang menyenangkan," goda Reynaldi, membuat Gilang tanpa sadar mengepalkan tangannya.
__ADS_1
tbc
Maaf, tadi malam tidak up, karena aku demam dan asam lambung masih kumat. Udah berusaha buat nulis tapi di tengah jalan, aku tumbang juga. 🙏🏻