
"Ayara coba kamu lihat di bawah kursimu, apa ada pena yang jatuh? kalau ada tolong ambilkan ya!" pinta Farell saat dia melihat mobil yang dia tahu membawa Julian, lewat.
Ayara yang tidak berpikir macam-macam mau saja melakukan apa yang diminta oleh pria itu. Wanita itu langsung menunduk dan mencari apa yang dimaksud oleh Farell
"Pena apa Dok? tidak ada pena sama sekali di bawah sini!" Renata mengangkat kepalanya, dan menantap Farell.
"Oh, tidak ada ya? ya udah lah kalau tidak ada. Padahal tadi seingatku jatuhnya di situ," Farell mengukir senyum lebar karena triknya berhasil.
Keheningan kemudian terjeda cukup lama di antara Ayara dan Farell. Ayara sampai akhirnya Farell memperlambat laju mobilnya lalu menghentikan.
Ayara sama sekali tidak mengajukan pertanyaan karena dia berpikir kalau dokter itu hendak mencari pena yang katanya jatuh di sekitar bawah kursi yang didudukinya.
Ayara baru saja hendak membuka pintu mobil agar Farell
bisa lebih leluasa untuk memeriksa. bawah kursinya. Namun, dia mengurungkan niatnya, begitu tangan Farell menyentuh pundaknya.
"Ayara, kamu tidak perlu membuka pintu mobilnya, karena aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Farell dengan raut wajah serius, hingga menimbulkan tanda tanya pada Ayara.
Alis Ayara terlihat bertaut tajam dan balik menatap Farell dengan tatapan penuh tanya. "Ada apa, Dokter Farell?" tanyanya.
Farell menarik napas dalam-dalam lebih dulu kemudian mengembuskannya dengan cukup keras. Lalu, pria itu mengukir seulas senyuman di bibirnya dan menatap Ayara dengan penuh arti.
__ADS_1
"Ayara, aku yakin kalau kamu bukan orang bodoh yang tidak tahu bagaimana perasaanku padamu. Aku yakin kalau sebenarnya kamu sudah sangat peka dan tahu kenapa aku selalu mendatangimu. Dan seperti sekarang kamu pasti sudah paham kan kemana arah pembicaraanku?"
Ayara bergeming, tenggorokannya seperti tercekat sulit untuk menjawab karena seperti yang dikatakan pria itu, dia memang sangat paham kalau pria di depannya itu menaruh perasaan padanya.
"Dok, kamu bicara apaan sih? aku benar-benar tidak mengerti. Sekarang sebaiknya dokter jalankan mobilnya lagi, karena aku benar-benar ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Karena aku sudah merindukan anakku," suara Ayara terdengar gugup, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tolong jangan alihkan pembicaraan dan tolong berhenti berpura-pura tidak mengerti, Ayara. Kamu pasti tahu kalau aku jatuh cinta padamu. Iya kan? kamu pasti tahu kan?" desak Farell.
"Jadi kalau aku tahu, kenapa, Dok? apa aku harus melompat-lompat kegirangan karena dokter yang dipuja-puja hampir semua gadis- gadis di kampung, justru menyukai seorang single mother sepertiku,iya? aku justru merasa sangat risih, Dok. Oh ya, mumpung Dokter sedang membicarakan hal ini, ini adalah kesempatanku untuk mengatakan dengan jujur kalau aku sama sekali tidak memiliki perasaan pada dokter. Jadi, please berhenti mendekatiku, karena aku tidak mau mendatangkan kebencian dari para wanita-wanita yang menyukaimu," tegas Ayara.
Wajah Farell sontak memerah, dan ranjang pria itu mengeras mendengar penolakan Ayara.
"Sayangnya aku tidak menerima penolakan, Ayara. Aku sudah terbiasa untuk berjuang mendapatkan apa yang aku mau, bagaimanapun caranya tidak terkecuali untuk mendapatkanmu. Aku sekarang mau kita menikah secepatnya kalau penting besok, dan aku tidak butuh persetujuanmu, karena hasilnya tetap akan sama. Aku akan tetap menjadikanmu istriku,"
"Dok, mungkin dalam mengejar cita-cita dan kesuksesan, pantang menyerah dan tetap berusaha berjuang untuk bisa mencapai cita-cita sesuai dengan yang kita inginkan, sangatlah dibutuhkan. Tapi, memaksakan perasaan seseorang demi bisa bersama dengan orang yang kamu cintai, itu sangat tidak baik, karena hidupmu tidak akan pernah bahagia. Kamu memiliki raganya tapi tidak dengan hatinya, itu benar-benar lebih menyiksa, Dok," tutur Ayara dengan lembut, berharap Farell bisa memikirkan kembali keinginannya.
"Dan aku tidak peduli dengan hal itu. Yang sekarang aku inginkan adalah kamu menjadi milikku. Aku punya keyakinan, seiring berjalannya waktu dan kalau kita terus bersama, lambat laun kamu pasti akan memiliki perasaan yang sama sepertiku. Jadi, persiapkan dirimu untuk menikah denganku! Nanti kamu kasih semua data-datamu untuk keperluan surat nikah. Kita sah dulu, baru resepsinya menyusul. Kamu tenang saja, semua urusan kamu serahkan padaku, semuanya pasti akan cepat selesai," tegas Farell, penuh penekanan dan tak terbantahkan.
"Aku tidak mau! mungkin orang lain bisa kamu paksa, tapi tidak denganku." pungkas Ayara sembari membuka pintu mobil dan keluar.
"Ayara, sekarang kamu mungkin tidak akan mau, tapi lihat saja aku akan membuatmu setuju dengan caraku. Kamu tahu kan bagaimana pentingnya aku di desa itu? Kalau kamu tetap tidak mau, jangan salahkan aku, menaikkan biaya pengobataan tiga kali lipat dan akan aku pastikan kalau semua warga akan menyalahkanmu. Mereka semua lebih membutuhkanku di kampung itu dari pada kamu. Aku pastikan kalau kamu akan bersedia, dari pada kamu diusir dari kampung itu," sudut bibir Farell melengkung membentuk senyuman licik.
__ADS_1
"Kamu benar-benar licik, Dokter Farell!"
Ayara menggeleng-gelengkan kepalanya, benar-benar tidak menyangka kalau dokter pria itu benar-benar licik.
"Dan kamu yang memaksaku untuk berbuat seperti itu. Ingat, kamu pikirkan baik-baik! nasib warga kampung itu ada di tanganmu," dokter itu, kembali tersenyum licik dan berlalu meninggalkan Ayara di tengah jalan.
"Ayara, kenapa kamu berdiri di sini? di mana dokter Farell?" Aura yang baru saja tiba di tempat itu, mengrenyitkan keningnya melihat sahabatnya yang berdiri di tengah jalan.
"Dia sudah pergi," sahut Ayara sembari menyeka air matanya.
"Kenapa kamu menangis? apa dia sengaja menurunkanmu di sini?" Tampak kemarahan terlukis jelas di wajah Aura.
"Dia tidak menurunkanku, tapi aku yang turun sendiri," lagi-lagi Aura mengrenyitkan keningnya, merasa bingung.
"Heh? kenapa kamu turun? apa yang terjadi?"
Ayara akhirnya menceritakan semuanya tentang pemaksaan Farell dan ancamannya.
"Apa? Brengsek! bagaimana dia bisa berbuat seperti itu? aku benar-benar salah mengagumi orang selama ini. Ayo naik, Ay! aku akan menemui pria brengsek itu!" Aura tampak sangan marah sekarang.
"Tidak perlu, Ra. Nanti akan semakin kacau! mungkin, aku memang harus bersedia menikah dengannya demi warga kampung. Kamu tahu sendiri, hanya dia dokter di kampung kita dan dia banyak dikagumi oleh warga kampung," wajah Ayara benar-benar terlihat pasrah dan memelas.
__ADS_1
"Tidak boleh seperti ini. Kamu jangan pasrah, Ay! Kali ini cobalah jangan terlalu memikirkan orang lain. Kamu harus memikirkan kebahagiaan dirimu sendiri. Sekarang kamu naik! aku akan menemui pria licik itu!
tbc