Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Sarah berlari keluar menyambut kedatangan orang yang sangat dia tunggu-tunggu. Siapa lagi orang itu kalau bukan Ayara.


Iya, Julian tadi menghubunginya dan mengabari kalau dia sudah menemukan Ayara dan putra mereka Elvano. Putranya itu juga mengatakan kalau mereka sedang dalam perjalanan menuju Jakarta.


Baru saja, Ayara keluar dari dalam mobil, Sarah sudah menghambur memeluk wanita itu, hingga membuat Ayara terjengkit kaget.


"Ta-tante ...." Renata terlihat bingung saking kagetnya.


"Akhirnya kamu kembali, Nak! Tante selama ini selalu dihantui oleh rasa bersalah," Sarah sama sekali tidak melepaskan pelukannya dari tubuh Ayara.


"Mama lepasin dulu Ayaranya! dia sesak mama peluk seperti itu!" tegur Julian, yang bisa mengerti makna tatapan Ayara yang seakan memintanya untuk bicara pada mamanya.


"Aduh, maaf, maaf! Tante terlalu bahagia sampai tidak menyadari kalau pelukan Tante sangat kencang," akhirnya Sarah melerai pelukannya dan Ayara menghela napas lega.


"Ayo masuk, Nak!" tanpa basa-basi lagi, Sarah langsung menggandeng tangan Ayara, dan mengajak wanita itu untuk masuk, hingga membuat hati Ayara menghangat merasa sudah diterima oleh wanita paruh baya itu.


Sementara itu, Julian hanya bisa menghela napasnya dan mendorong stroller yang berisi baby Elvano.


"Meraka tidak peduli dengan kita , Nak. Nenekmu sepertinya sudah melupakanmu, sampai-sampai kamu diabaikannya. Yang sabar ya!". Julian mencubit gemas pipi Elvano yang hanya bisa tertawa saja menanggapi ucapan papanya.


"Eh, cucuku mana!" Baru saja Julian hendak mendorong lagi, tiba-tiba Sarah kembali keluar.


"Sepertinya dia sudah mengingatmu, Nak!" sindir Julian yang membuat Sarah terkekeh, lalu langsung menggendong baby Elvano keluar dari dalam stroller.


Untuk pertama kalinya, Elvano langsung menangis. Sepertinya bayi itu sedikit melupakan Sarah.


"Cup, cup, ini nenek, Sayang! kamu lupa ya sama Nenek?" Sarah berusaha membujuk baby, dengan menggoyang-goyangkan cucunya itu.


Baby Elvano tetap saja menangis dan malah merentangkan tangannya, seakan meminta untuk digendong oleh Julian.

__ADS_1


"Aduh, anak Papa kenapa menangis? lupa ya sama Nenek? sini Ma, biar aku yang gendong saja!" Julian mengambil alih tubuh kecil Elvano dari gendongan mamanya.


"Yah, kenapa kamu nggak mau nenek gendong? kamu dendam ya sama Nenek, karena dulu nenek jahatin mama kamu?" raut wajah Sarah seketika berubah sendu.


"Sudahlah, Ma. Jangan berpikir yang macam-macam! mungkin karena Masih baru saja. Nanti juga lama-lama dia akan nempel ke mama," Julian tersenyum, mencoba menenangkan mamanya.


"Ya udah, ayo masuk!" akhirnya Julian memutuskan untuk menggendong Elvano sampai ke dalam rumah, sementara Sarah mendorong stroller Elvano yang kosong.


Di dalam sana, tampak Ayara mengendalikan tatapannya ke segala penjuru, melihat tempat yang sudah dia tinggalkan selama 4 bulan ini.


"Ternyata tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama seperti dulu!" batin Ayara.


Bayangan, kejadian di mana dia didakwa seperti orang bersalah seketika berkelebat di kepalanya ketika wanita itu melihat anak tangga. Tiba-tiba dari sudut matanya mengalir setetes cairan bening yang langsung dia seka.


"Kamu menangis ya?" Ayara tersentak kaget ketika dia merasa pundaknya disentuh oleh seseorang.


"Tante ... a-aku ...." Ayara terlihat sangat gugup.


"Kamu jangan panggil aku Tante lagi, panggil aku mama! karena kamu itu calon menantuku!" ucap Sarah sembari mengelus-elus lembut punggung tangan Ayara.


"Emm, ta-tapi, aku dan Julian kan belum resmi menikah, Tan!"


"Tidak masalah. Yang penting kamu itu tetap calon menantuku. Kalau kalian mau menikah besok, mama juga tidak keberatan. Kamu panggil aku mama ya!"


Ayara tersenyum dan mengangukkan kepalanya. "I-iya, Tan eh Ma!"


Sarah sontak mengukir senyuman di bibirnya, bahagia mendengar panggilan yang baru saja keluar dari mulut Ayara. Namun, senyum itu hanya bertahan untuk sepersekian detik. Detik berikutnya, raut wajah Sarah berubah sendu dan menatap lurus ke arah Ayara dengan manik mata yang sudah penuh dengan cairan bening yang siap ditumpahkan dari wadahnya.


"Ayara, kamu tidak membenci mama kan? mama tahu kalau ucapan mama dulu pasti sangat menyakitkan buatmu. Mama sangan minta maaf, kamu mau kan memaafkan mama?" akhirnya terucap sudah permintaan maaf dari mulut Sarah mamanya Julian. Ucapan maaf wanita paruh baya itu juga tampak sangat tulus dalam dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

__ADS_1


Ayara tidak langsung menjawab. Wanita itu justru tersenyum dan meraih tangan wanita yang sudah melahirkan pria yang dicintainya itu.


"Ma, sumpah demi apapun, aku tidak pernah benci pada mama. Karena aku tahu, kalau apa yang mama lakukan dulu, itu di luar dari kehendak mama. Mama hanya ada di bawah pengaruh Tessa," tutur Ayara tanpa menanggalkan senyum dari bibirnya.


"Jadi, kamu mau memaafkan, Mama?" binar mata di manik mata Sarah semakin berbinar, seiring dengan ucapan Ayara. Senyum wanita paruh baya itu, semakin merekah ketika melihat Ayara menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah! Mama tenang sekarang. Selama ini, mama selalu dihantui oleh rasa bersalah dan mama tidak pernah tenang karena itu," ucap Sarah sembari meraih tubuh Ayara ke dalam pelukannya.


"Ayara, kamu sudah kembali, Nak?" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang tidak lain adalah Mbok Sumi.


Ayara sontak melerai pelukannya dari Sarah dan langsung menghambur ke arah wanita yang selama ini selalu mendukungnya. Wanita itu, tanpa basa-basi pun langsung memeluk wanita paruh baya yang merupakan mama Shasa sahabatnya.


"Mbok, kenapa Mbok merahasiakan di mana keberadaan Ayara selama ini?" Julian yang dari tadi diam saja, akhirnya buka suara.


Mbok Sumi, melerai pelukannya dari Ayara dan menatap sendu ke arah Julian.


"Maaf, Tuan. Aku melakukannya karena aku merasa kesal mendengar ucapan-ucapan kasar dari Tuan dan Ibu. Jadi, walaupun aku sudah tahu yang sebenarnya terjadi, aku memutuskan untuk tetap merahasiakan keberadaan Ayara, untuk memberikan sedikit pelajaran pada Tuan dan Ibu. Aku melakukannya agar Tuan mengalami bagaimana rasanya kehilangan orang yang Tuan cintai," tutur Sumi panjang lebar dan tanpa jeda.


"Kalau Tuan mau mendepakku dari rumah ini karena masalah itu, aku sudah siap, Tuan!" imbuh wanita itu lagi.


Julian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara lalu menghampiri Sumi.


"Aku tidak akan melakukannya, Mbok. Justru aku sangat berterima kasih pada Mbok, karena secara tidak langsung Mbok sudah melindungi Ayara dan putraku. Terima kasih banyak, Mbok!" Julian menepuk-nepuk lembut pundak Mbok Sumi.


Di saat bersamaan tampak dari arah pintu masuk, Gilang, Shasa dan Reynaldi masuk ke dalam rumah. Tangan Gilang tampak menggandeng mesra tangan Shasa.


"Kalian berdua?" Mbok Sumi menunjuk ke arah jari Gilang dan Shasa yang saling bertaut.


tbc

__ADS_1


__ADS_2