
"Sekarang kalian jelaskan, apa yang kalian maksud tadi? Ayara takut akan apa?" tanpa basa-basi lagi Julian langsung bertanya, setelah mereka semua sudah duduk di atas sofa.
"Tunggu dulu, Julian! sebelum aku menjawab pertanyaanmu tadi, lebih dulu aku ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi di taman dengan Ayara. Aku berani bersumpah kalau sebenarnya aku dan Ayara sama sekali tidak ada hubungan dan dia sama sekali tidak pernah menggodaku. Aku sengaja menemui dia karena sama seperti kamu yang sempat mencurigai dia, kalau dia punya motif buruk makanya dia menjadi pengasuh di rumahmu. Yang kamu lihat tadi, aku sedang mengintimidasi dia bukan mau menciumnya seperti yang kamu pikirkan. Dan untuk masalah Kamu yang menuduhku berbohong mengatakan ada sesuatu yang penting yang harus aku kerjakan, ya inilah sesuatu yang penting itu. Mencari tahu siapa wanita yang kamu cari selama ini. Kamu benar-benar sudah salah paham, dan berhasil diprovokasi oleh Tessa, Jul," tutur Gilang dengan panjang lebar tanpa jeda, berusaha meluruskan kesalahpahaman.
"Kenapa kamu selalu membawa-bawa nama Tessa sih? dia tidak pernah memprovokasi siapapun!" celetuk Sarah, tidak terima kalau wanita yang dia anggap baik itu, dicap buruk oleh Gilang.
"Justru kamu yang sekarang memprovokasi Julian untuk membenci Tessa. Kalaupun, tadi yang kamu katakan benar kalau Ayara tidak pernah menggodamu, mungkin Tessa juga tidak tahu akan hal itu karena memang sebagai manusia, bisa saja salah duga dan aku yakin kalau itulah yang terjadi pada Tessa. Dia justru berniat baik memberitahukan ke pada kami agar kami bisa lebih waspada saja, Dan itu dia lakukan karena dia sudah menganggap dirinya bagian dari dirinya!" lanjut Sarah lagi, masih tetap melakukan pembelaan pada wanita pilihannya itu.
"Ma, Mama bisa tidak untuk tidak buka suara dulu! tolong dengarkan Gilang selesai bicara dulu!" tegur Julian, yang mulai kesal dengan sikap Sarah yang menurutnya terlalu memuja Tessa, yang memang menurut kaca matanya melihat sikap Tessa hanya pura-pura saja.
Sarah sontak terdiam, tidak berani bersuara lagi, karena dia tahu bagaimana karakter putranya itu. Julian jarang membantah ucapannya dan kebanyakan mengalah, tapi begitu pria itu sudah berani bersuara, itu berarti anaknya itu benar-benar tidak mau dibantah
"Tante, bukannya aku sudah pernah mengatakan agar Tante lebih berhati-hati pada Tessa? dia itu ular yang bersembunyi di balik tubuh manusia, Tante. Sebentar lagi, bisa aku pastikan kalau Tante akan menyesal sudah pernah percaya padanya, karena sebenarnya dia tidak sebaik yang Tante kira. Justru dialah yang menjadi penyebab masalah Julian," ucap Gilang, ambigu.
"Maksud kamu apa?" Sarah menunjukkan tatapan yang tidak senang.
__ADS_1
"Lang, bisa tidak kamu jangan bertele-tele lagi? tolong jelaskan, kenapa Ayara tidak mengungkapkan jati dirinya, padahal dia tahu kalau aku mencarinya? dan tadi Shasa mengatakan kalau dia di sini berusaha menahan rasa takutnya, apa yang membuat dia takut? kalau untuk masalah yang kamu kamu katakan aku salah paham, baiklah, aku terima penjelasanmu Dan aku minta maaf sudah salah paham. Tapi, please ... sekarang tolong jelaskan apa alasan Ayara yang sebenarnya? dan kenapa kamu mengatakan kalau baby Elvano sebenarnya adalah anakku? apa itu bisa dibuktikan? karena Ayara bilang kalau dia sudah pernah menikah, dan sekarang janda." desak Julian yang memang sudah tidak sabar lagi
Gilang menganggukan kepalanya,. kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara. Lalu dia menatap ke arah Shasa seakan memberikan isyarat agar gadis itu saja yang menjelaskan.
Melihat tatapan Gilang yang mengarah padanya, Shasa bisa mengerti makna tatapan pria itu. Akhirnya, gadis itu juga mengembuskan napasnya dengan berat dan membenarkan posisi duduknya. Kemudian, Shasa menceritakan yang sebenarnya, apa alasan Ayara tidak mengungkapkan jati dirinya dan apa yang ditakutkan oleh sahabatnya itu.
"Astaga, kenapa dia bisa berpikir seperti itu?" Julian menggusak rambutnya dengan kasar.
"Itu karena dia bukan orang besar yang punya kuasa. Dia berpikir kalau kamu Dan siapapun tidak akan percaya kalau dia melakukan pembelaan diri, makanya dia memutuskan untuk pergi walaupun sebenarnya dia yang dirugikan. Seperti yang aku katakan tadi, kenapa ketika dia tahu kalau kamu mencarinya, dia mengira kamu mencarinya karena masih belum puas sebelum wanita yang kamu cari itu masuk penjara. Dan untuk masalah tentang baby Elvano, aku berani bersumpah kalau dia memang benar-benar anakmu, karena Ayara tidak pernah menikah. Dia mengatakan hal itu, agar kalian tidak curiga, melihat dia memiliki ASI," jelas Shasa lagi.
"Dan kalau kamu masih ragu, sebentar lagi kita bisa melihat hasil test DNA antara kamu dan baby Vano.Tadi aku sudah melakukan test itu, tapi karena aku mendengar kalau kamu mengusir Ayara, aku buru-buru datang ke sini, dan meminta seseorang untuk menunggu hasilnya keluar. Kamu pasti bingung darimana aku dapat sample untuk melakukan test DNA, Tadi di taman aku sempat mengambil sedikit darah Vano, dan juga darah dari luka di tanganmu, yang tercecer di lantai ruanganmu. Mudah-mudahan hasilnya sudah keluar," Gilang kembali buka suara, menimpali ucapan Shasa.
"Memang terdengar naif, Tuan Julian. Tapi, itu menurut kamu yang memang punya kekayaan. Tapi bagi orang kecil pemikiran seperti itu bukan bodoh, tapi realistis. itulah yang terjadi pada orang-orang kecil yang tidak punya kuasa. Karena pada umumnya, keadilan sangat jarang berpihak pada orang kecil, yang sejujur apapun pasti dianggap bohong. Apalagi posisi Ayara yang yatim piatu. seandainya dia mengakui kalau dia adalah wanita yang kamu cari dan kamu memilih menjebloskan dia ke penjara,pastilah banyak orang yang lebih percaya ke kamu sekeras apapun dia melakukan pembelaan. Pasti orang-orang akan mengira kalau dia sengaja melakukan hal menjijikan itu agar bisa hidup mewah," tutur Shasa panjang lebar.
Julian kembali menggusak rambutnya dengan kasar dan mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Jul, sebenarnya aku sudah menemukan siapa dalang yang dengan sengaja menjebakmu, Dan itu bukan Reynaldi, tapi__"
"Hei, Gilang kenapa kamu datang ke sini? mau mencari perempuan murahan itu ya? dia sudah diusir pergi!" belum sempat Gilang menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Tessa muncul. Wanita itu sepertinya baru saja turun dari atas.
"Tessa kenapa kamu turun? di mana baby Elvano? kamu bukannya Tante minta untuk menjaga Elvano sebelum kami menemukan pengasuh baru?" tegur Sarah.
"Baby Vano masih tidur Tante, baru saja aku lihat. Aku turun hanya untuk mengambil minum, karena aku sangat haus," ujar Tessa berbohong. Padahal dari tadi dia bersantai sembari memainkan ponselnya di balkon kamar baby Vano. "Enak saja, aku yang harus menjaga anak sialan itu! bodo amat sama dia!" bisik Tessa pada dirinya sendiri.
"Tante, kenapa sahabat Julian yang munafik ini datang ke sini? Dan Julian, kenapa kamu tidak mengusirnya? apa kamu tidak takut dibohongi lagi sama dia?" Tessa menatap sinis ke arah Gilang yang justru balik menatapnya dengan tatapan yang misterius dan senyuman sinis.
"Bisa tidak kamu diam, Tessa!" bentak Julian, dengan tatapan sengit. "Sekarang sebaiknya kamu kembali ke atas dan tolong kamu lihat baby Vano dulu, takutnya dia sudah bangun!" titahnya, membuat Tessa mencebik, kesal.
"Tidak perlu memintanya untuk naik lagi, Jul. Justru dia turun di saat yang tepat," timpal Gilang, ambigu.
"Maksudnya?" Julian mengrenyitkan keningnya.
__ADS_1
"Kamu mau tahukan siapa sebenarnya dalang yang menjebakmu? yang melakukannya memang Reynaldi, tapi dalangnya adalah dia!" Gilang mengangkat tangannya, menunjuk tepat ke wajah Tessa.
tbc