
Empat bulan kini sudah berlalu. Itu berarti Ayara sudah empat bulan tinggal di kampung halaman Mbok Sumi.
Mbok Sumi dan Shasa memang mengirimkan uang selama dua bulan untuk membantu kebutuhan Ayara, tapi dua bulan belakangan ini, ibu dan anak itu tidak mengirimkan lagi, karena permintaan Ayara. Ayara tidak mau lagi menyusahkan sahabat dan Mbok Sumi yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.
Bagaimana, Ayara bisa memenuhi kebutuhannya? dia bekerja sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar. Walaupun gajinya sangat sedikit, tapi Ayara tetap mensyukurinya. Selain jadi guru honorer, Ayara juga menerima anak murid Les, dan dia juga kadang ikut bantu-bantu di sawah orang serta berjualan kue-kue basah, buatannya sendiri. Halaman belakang rumah Mbok Sumi yang lumayan luas, kini juga sudah disulap oleh Ayara dengan tanaman sayuran yang sangat subur.
Hari ini adalah hari ulang tahun baby Elvano yang pertama. Ayara memang tidak membuat perayaaan dengan mengundang banyak anak-anak. Akan tetapi wanita itu tetap membuat kue sendiri dan memasak makanan lebih untuk dibagikan pada para tetangga dan meminta doa agar anaknya sehat selalu.
Ayara baru saja kembali dari rumah tetangga, tapi belum juga dia membuka pintu rumahnya, sebuah mobil yang sangat dia kenali berhenti tepat di depan rumahnya.
"Aduh, kenapa Dokter Farell datang ya?" batin Ayara sembari menoleh ke samping kira dan kanan, takut gadis-gadis yang menyukai dokter itu melihat kedatangan sang Dokter tampan.
"Hai, Ayara, kamu kenapa pucat seperti itu?" tanya pria yang merupakan seorang dokter di kampung itu.
"Dok, kenapa datang ke rumah sih? aku benar-benar tidak enak sama tetangga-tetangga Dok," ucap Ayara.
"Kenapa kamu harus memikirkan kata-kata tentangga? kita kan tidak berbuat macam-macam. Lagian berapa kali aku bilang jangan panggil aku dok, saat di luar San hanya kita berdua saja. Panggil namaku saja!" protes pria bernama Farell itu.
"Dok, maaf sekali! aku tidak bisa hanya memanggil namamu saja tanpa embel-embel sebutan dokter. Kita tidak sedekat itu. Tadi Dokter mengatakan kenapa aku harus peduli dengan kata-kata tetangga, padahal kita tidak berbuat apa-apa, bagaimana aku tidak peduli, Dok? aku ini seorang single mother, kalau mereka melihat kita berduaan, pasti mereka akan berpikir yang tidak-tidak tentang aku. Aku hanya menumpang di rumah ini, jadi aku tidak mau hanya gara-gara masalah ini aku diusir dari kampung ini. Jadi aku mohon, agar dokter sebaiknya jangan sering-sering datang kemari," Ayara akhirnya memberikan alasan sebenarnya.
Farell terdiam beberapa saat. Dari raut wajah pria itu terlihat jelas kalau pria itu kecewa mendengar ucapan Ayara. Namun, dia cukup maklum dengan kekhawatiran wanita yang berhasil menarik perhatiannya itu.
"Ayara, aku datang ke sini karena aku tahu kalau hari ini Elvano berulang tahun. Jadi aku hanya mau memberikan hadiah kecil ini padanya, " Farell memberikan sebuah paper bag ke tangan Ayara.
"Aduh, seharusnya tidak perlu repot-repot, Dok. Lagian Elvano masih kecil, dia tidak akan paham masalah kado. Yang terpentinng adalah doa," Ayara berusaha menolak secara halus.
"Aku sudah membelinya, apa kamu tega menolaknya?" lagi-lagi Farell memasang wajah kecewa.
Ayara, menggigit bibirnya, merasa serba salah sekarang. Kalau dia menerima dia takut kalau dokter itu mengira kalau dia memberikan harapan, tapi kalau ditolak, dia yakin pria itu akan sakit hati.
"Baiklah, Dok, aku terima kadonya. Terima kasih banyak ya!" akhirnya Ayara meraih paper bag itu dari tangan Farell, membuat pria itu mengukir senyuman manis di bibirnya.
"Emm, sepertinya aku memang tidak bisa masuk ke rumahmu. Padahal aku ingin menggendong Elvano dan mengucapkan sendiri ucapan selamatku," ucap Farell dengan memasang wajah sendu, berharap Ayara berubah pikiran dan mengizinkannya untuk masuk.
"Maaf, sekali lagi, Dok!" ucap Ayara yang sudah bisa menyimpulkan kalau wanita itu memang tidak mempersilakan pria itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Baiklah. Kalau begitu, aku balik dulu!" Ayara menganggukkan kepalanya dan dengan kecewa Farell kembali masuk ke dalam mobilnya dan langsung berlalu pergi.
__ADS_1
"Cih, dasar janda kegatelan! tidak tahu malu!" umpat beberapa gadis sembari menatap sinis ke arah Ayara.
Ya, pria tadi adalah seorang dokter yang mengabdikkan dirinya dengan membukaka klinik pengobataan dengan biaya murah di kampung ini. Pria itu memiliki Paras yang Tampan, postur tubuh tinggi, berkulit putih, sehingga tidak salah dia diidolakan oleh banyak gadis. Namun, Farell belakangan ini selalu berusaha mendekati Ayara, sehingga membuat para gadis-gadis itu tidak menyukai Ayara dan sering menghina Ayara sebagai janda yang gatal.
Flashback on
Awal pertemuannya dengan sang Dokter, berawal ketika dua bulan yang lalu, Elvano mengalami demam tinggi. Hal itu membuat Ayara benar-benar panik dan memanggil Sopiah.
"Bude, badan Elvano sangat panas, apa di dekat sini ada rumah sakit?" tanya Ayara dengan wajah panik sembari menggendong baby Elvano yang dari tadi menangis.
"Aduh Nak Ayara rumah sakit jauh dari sini. Kalau kamu mau di sini ada satu klinik. Kita bawa Elvano ke sana saja,"
"Ya udah, Bude klinik pun tidak masalah. Yang penting anakku bisa sehat kembali," Sopiah kemudian mengunci rumahnya dan langsung memanggil tetangga mereka yang kebetulan tukang becak.
"Mungkin anakmu demam karena kangen sama Papanya, Nak?" celetuk Sopiah, membuat Ayara terdiam.
"Bukan hanya anakku yang merindukannya, aku juga merindukannya," ucap Ayara yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Mu-mungkin saja, Bude, tapi mau bagaimana lagi?" ucap Ayara dengan raut wajah sendu dan nada suara yang lirih.
"Kalau rindu sebaiknya mantan suaminya ditelepon saja, Nak Ayara. Walaupun mantan suamimu sudah menikah lagi, dia kan tetap papanya anakmu," pria yang mengayuh beca dari belakang buka suara menimpali pembicaraan Ayara dan Sopiah. Karena memang dia tahunya dari cerita Sopiah, kalau Ayara menemukan suaminya selingkuh sehingga mau tidak mau Ayara terpaksa menuntut cerai dengan suaminya.
Becak yang membawa Ayara, Elvano dan Sopiah kini berhenti di depan sebuah klinik dan Ayara serta Sopiah pun langsung turun.
Setelah itu Ayara pun membayar ongkos becaknya.
"Nak Ayara, apa aku perlu menunggu?" tanya bapak tukang becak itu.
"Emm, sebenarnya boleh sih, Pak. Tapi aku tidak tahu berapa lama nanti di dalam, Pak. Takutnya nanti bapak bosan," ucap Ayara.
"Sebaiknya kamu pulang saja, To. Kamu cari pelanggan saja. Itu mungkin butuh becak," Sopiah buka suara sembari menunjuk ke arah wanita yang baru saja keluar dari klinik.
"Kamu jangan khawatir, nanti kami bisa pulang dengan becak lain. Kasihan kamu kalau menunggu lama. Yang ada nanti pendapatanmu berkurang dan istrimu ngomel-ngomel," lanjut Sopiah lagi membuat pria bernama Anto itu tertawa kecil, karena memang istrinya terkenal suka marah-marah kalau setorannya hanya sedikit.
Setelah Anto berlalu pergi sembari membawa penumpang, Ayara dan Sopiah pun langsung masuk. Setelah menunggu beberapa pasien, akhirnya Ayara pun masuk ditemani oleh Sopiah.
Sementara itu di dalam sana dokter yang ternyata seorang pria muda itu, tiba-tiba mematung begitu melihat wajah Ayara untuk pertama kali. Entah kenapa, walaupun wajah Ayara polos tanpa riasan apapun, tetap tidak bisa menutupi aura kecantikan wanita itu.
__ADS_1
"Cantik, tapi sepertinya dia sudah menikah!" batin dokter pria itu sembari melihat ke arah bayi yang ada di gendongan Ayara.
"Ada yang bisa aku bantu, Teh?" sapa dokter itu dengan ramah. Entah kenapa mulutnya merasa enggan untuk memanggil Ayara dengan sebutan ibu seperti pada pasien wanita menikah lainnya.
"Iya, Dok. Badan anak saya panas tinggi. Aku sangat khawatir karena 6 bulan yang lalu dia pernah operasi jantung bocor," terang Ayara dengan raut wajah yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"Oh, kalau begitu, aku periksa dulu ya! mari baringkan dia dulu!" Ayarapun membaringkan putranya dan dokter pun mulai melakukan pemeriksaan.
"Tidak ada masalah serius, kok. Dia hanya demam saja. Jadi Teteh tenang saja ya!nanti aku akan kasih obat penurun demam, vitamin dan antibiotik," Dokter tampan itu mengukir senyumnya.
Ayara mengembuskan napas lega. Bibir yang tadinya enggan untuk tersenyum, kini sudah mulai tersenyum.
"Huff, syukurlah! terima kasih, Dok!"
"Sama-sama! oh ya, kalau boleh tahu, di mana suami anda? kenapa bukan dia yang menemani anda ke sini?" tanya dokter itu tiba-tiba.
Ayara sama sekali tidak menjawab karena dia tidak tahu mau menjawab apa.
"Dia sudah janda, Dok!" akhirnya Sopiah buka suara.
"Janda? jadi dia seorang janda?" batin dokter itu, yang diam-diam tersenyum tipis.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya obat yang hendak diberikan pada Elvano pun datang. Dokter yang akhirnya Ayara tahu bernama Farell itu menerangkan cara penggunaanya dengan sangat jelas.
"Kalian sudah mau pulang?" tanya dokter Farell tiba-tiba.
"Iya, Dok," sahut Ayara singkat.
"Kebetulan aku mau istirahat, jadi biar aku mengantarkan kalian pulang," Ayara bergeming dengan alis bertaut, bingung kenapa Dokter itu tiba-tiba berkeinginan untuk mengantarkan mereka pulang.
"Tidak perlu, Dok. Kami bisa pulang naik becak," tolak Ayara dengan halus.
"Anak kamu sedang demam. Kalau naik becak nanti dia akan semakin masuk angin, jadi sebaiknya kalian ikut mobilku saja. Ayo!" dokter bernama Farell itu langsung melangkah keluar, tidak mau mendengar penolakan lagi. Mau tidak mau akhirnya Ayara mengekor dari belakang bersama dengan Sopiah.
Ayara tidak menyadari kalau itu adalah awal dia tidak disukai banyak gadis-gadis karena dianggap sudah menggoda dokter muda da tampan itu.
Flashback End
__ADS_1
tbc