Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Si pemaksa


__ADS_3

"Bagaimana? apa kamu masih ingat cerita itu?" Gilang kini sudah menatap Shasa dengan senyum mereka di bibirnya.


Sementara itu Shasa bergeming, berdiri terpaku dengan mata yang membulat dan mulut yang sedikit terbuka.


"Ja-jadi, kamu itu ...." Shasa menggantung ucapannya, karena dia tahu kalau Gilang akan mengerti dengan apa yang ingin dia tanyakan.


Senyum Gilang sama sesekali tidak tanggal dari bibirnya. Justru senyum pria itu semakin lebar dan ia pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Kamu benar. Aku lah Elang yang kamu maksud dan kamu adalah Chaca yang kucari," ujar Gilang dengan manik mata yang berkilat-kilat, bahagia.


Shasa semakin tergugu, tidak tahu mau mengatakan apapun pada Gilang. Kenyataan yang baru saja dia tahu, benar-benar terlalu tiba-tiba baginya.


"Kamu tahu, dua setelah hari itu, aku kembali datang ke desa ini tapi aku sama sekali tidak bertem, denganmu lagi. Yang aku dengar kamu sudah dibawa pergi mama kamu ke Jakarta," lanjut Gilang lagi.


"Iya. Sebulan setelah kamu pergi, papa aku meninggal karena terjatuh di kamar mandi. Karena itu, mamaku membawaku ke Jakarta, karena Bude Sopiah saat itu juga masih punya anak kecil yang harus dia besarkan," tutur Shasa, menjelaskan.


Gilang menganggukan kepalanya, akhirnya mengerti apa yang terjadi. Kemudian, pria itu kembali menatap ke arah Shasa, dan ia mengrenyitkan keningnya, ketika melihat wajah gadis itu yang tiba-tiba muram.


"Kenapa dengan wajahmu? kenapa kamu tiba-tiba muram?" tanya Gilang dengan perasaan was-was. Ia khawatir, kalau gadis yang dicarinya selama ini merasa kecewa begitu mengetahui kalau pria yang ditunggunya adalah dirinya. Karena dia tahu kalau selama ini, gadis itu sepertinya tidak menyukainya sama sekali.


"Kamu pasti kecewa kan, begitu tahu kalau aku adalah gadis yang kamu cari selama ini? kamu pasti tidak menyangka kalau gadis itu tidak sesuai dengan yang kamu bayangkan,"


Gilang tersentak kaget. Ketakutan yang dia rasakan justru dirasakan oleh Shasa juga.


"Siapa yang kecewa? justru aku kira kamu yang kecewa. Karena selama ini, kamu selalu menatap kesal padaku. Kamu selalu merasa kalau aku selalu mengintimidasimu..Kamu pasti membenciku kan?"


Shasa tidak menjawab sama sekali, tapi ia tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah membencimu, hanya saja aku merasa kesal denganmu yang selalu suka memaksakan kehendakmu. Kamu memerintahkanku sesuka hatimu, padahal itu di luar job desk ku. Kamu benar-benar bertingkah menyebalkan, sampai-sampai aku ingin sekali mencekikmu," tutur Shasa dengan panjang lebar dan bibir yang mengerucut.


Tawa Gilang seketika pecah melihat ekpresi wajah Shasa yang menurutnya semakin menggemaskan.


"Kamu mau tahu apa alasannya kenapa aku bertingkah seperti itu?" tanya Gilang dengan senyum misterius, dan Shasa menggelengkan kepalanya.


"Itu karena aku suka melihat wajah kesalmu. Entah kenapa wajahmu yang merengut seakan menjadi hiburan tersendiri bagiku. Aku memintamu untuk melakukan hal yang bukan pekerjaanmu, itu karena aku hanya ingin melihatmu lebih lama di kantor yang ujung-ujungnya akan berakhir, aku mengantarkan kamu pulang," tutur Gilang panjang lebar, tanpa jeda.


Shasa mengrenyitkan keningnya, berusaha mencerna ucapan Gilang. Namun, dia tetap saja gagal paham.


"Kenapa kamu ingin melihatku lebih lama? bukannya hal seperti itu biasanya terjadi kalau seseorang mencintai lawan jenisnya? tapi di sini kan, posisinya kamu belum tahu kalau aku gadis yang kamu cari?"


Gilang kembali tersenyum. Dia sudah bisa menebak kalau akan timbul pertanyaan seperti itu dari Shasa. "Itu mungkin karena hatiku dari kecil sudah terpaut denganmu. Makanya, walaupun aku belum tahu kalau gadis yang kucari adalah kamu, entah kenapa aku merasa sangat ingin selalu bisa dekat denganmu,"


Shasa berdecih, pura-pura tidak tersanjung. Padanya semburat merah di pipi wanita itu sudah terlihat jelas kalau hati wanita itu kini sedang dipenuhi dengan bunga yang bermekaran, yang mengundang banyak kupu-kupu yang mengitarinya.


Mata Shasa sontak mengerjab-erjab, mendengar penuturan Gilang.


"Jadi, kamu mengatakan kalau kamu juga lapar, itu hanya alasanmu saja?" tanyanya dan Gilang mengangguk, mengiyakan.


"Sekarang, aku mau tanya, bagaimana perasaanmu sebenarnya padaku? apa kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku?" tanya Gilang dengan perasaan yang was-was.


"Kalau aku jawab, tidak, bagaimana?" bukannya memberikan jawaban yang diharapkan oleh Gilang, Shasa justru balik bertanya.


"Kalau kamu menjawab tidak, aku akan memaksamu untuk menjawab iya," sahut Gilang, tegas, lugas dan mantap.


" Jadi, buat apalagi kamu menanyakannya kalau kamu tetap tidak akan pernah melepaskanku? jadi aku rasa tidak ada gunanya aku menjawab, iya kan? jadi, tidak salah kalau aku mengatakan kalau kamu ini si pemaksa,"

__ADS_1


Gilang terkekeh dan tanpa basa-basi langsung meraih tubuh Shasa ke dalam pelukannya.


"Karena wanita itu adalah kamu, makanya aku memilih untuk jadi si pemaksa," sahut Gilang sembari mengecup puncak kepala Shasa.


"Tapi, sebenarnya aku juga sangat butuh tahu bagaimana perasaanmu," imbuh pria itu lagi, setelah melerai pelukannya demi bisa menatap wajah Shasa.


"Aku juga mau bertanya, sejak kapan kamu menyukaiku?" alis Shasa bertaut menuntut penjelasan.


Gilang lagi-lagi tersenyum dan kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


" Aku juga tidak bisa pastikan itu kapan. Tapi, yang jelas, aku merasa tertarik padamu, semenjak kamu mengatakan kalau aku memiliki otak yang sangat dangkal. Aku merasa kalau kamu itu menarik, karena baru kali itu, ada gadis yang berani mengatakan hal seperti itu padaku. Semakin hari, aku mengenalmu, aku merasa kalau perasaanku sudah semakin dalam padamu, tapi aku berusaha untuk menepisnya, karena saat itu aku masih mengingat janjiku pada gadis kecilku 17 tahu yang lalu. Tapi, sekarang aku sangat bahagia, karena aku tahu kalau ternyata kamu adalah gadis yang aku cari selama ini. Makanya, aku tidak akan mau melepaskanmu lagi!" tutur Gilang panjang lebar, tanpa jeda dan penuh penekanan pada kalimat terakhir.


Shasa kini menerbitkan senyuman manis di bibirnya. Wanita itu akhirnya tidak bisa menyembunyikan lagi kebahagiannya yang dari tadi berusaha untuk tidak terlalu dia perlihatkan.


"Sebenarnya, kalau kamu mau bertanya bagaimana perasaanku padamu ... aku rasa aku juga punya perasaan yang sama denganmu. Awal mula, perasaan suka timbul padamu, itu di saat aku melihat bagaimana setia kawannya kamu pada Julian. Aku benar-benar kagum padamu. Rasa kagum itu, akhirnya berangsur-angsur mulai berkembang menjadi rasa cinta, tapi seperti halnya kamu ... aku juga berusaha untuk menepisnya, karena ingat dengan pria masa kecilku,"


Senyum Gilang semakin lebar, dan sama seperti tadi, tanpa basa-basi,. dia kembali meraih tubuh Shasa ke dalam pelukannya. Dia mendekap tubuh wanita itu dengan erat seakan tidak mau dia lepaskan lagi.


"Sekarang, coba aku lihat, apa bekas luka di kepalamu masih ada?" tanpa permisi, Gilang menyibak rambut Shasa, dan terlihat jelas bekas luka di kepala wanita itu masih ada walaupun samar.


"Ternyata masih ada. Pantas saja, kalau aku minta menyelesaikan pekerjaan, kamu sedikit lelet. Itu pasti karena fungsi otak akibat Luka itu, sedikit berkurang," ucap Gilang sedikit meledek.


"Gilang!" seru Shasa kesal dengan bibir yang mengerucut, membuat Gilang menjadi gemas dan tidak sengaja mengecup bibir wanita itu. Hal yang selama ini sangat ingin dia lakukan.


tbc


Aku ada baca komentar, kalau bab kemarin, full tentang Gilang dan Shasa, jadi tidak sesuai dengan judul. Sebenarnya dalam setiap cerita baik di novel, film, sinetron, drama dll, akan selalu ada yang namanya pemeran pendukung sebagai selingan. Itu jugalah yang ada di novel ini. Jadi, maaf kalau kurang berkenan. 🥰🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2