Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Penyesalan Julian dan mamanya


__ADS_3

"Tessa, di mana anakku?" teriak Julian dengan suara yang menggelegar.


Tessa seketika beringsut mundur, ketakutan. "A-aku tidak tahu, Julian. Aku saja bingung kenapa baby Vano tiba-tiba tidak ada," sahut Tessa dengan suara bergetar.


"Bohong! sekarang katakan di mana anakku?" suara Julian semakin meninggi, bahkan sekarang tangan pria itu sudah terulur mencekik leher Tessa.


"Su-sumpah demi apapun, Julian, Kali ini aku benar-benar tidak tahu," Tessa masih berusaha untuk menjawab, di sela-sela sesaknya dia bernapas.


"Bohong!" bentak Julian sekali lagi sembari mengencangkan cekikannya.


"Jul, Julian! sabar, kamu bisa membunuhnya!" Gilang berusaha menarik tubuh Julian.


"Lepaskan, aku Gilang! dia memang pantas mati!"


"Kalau dia mati di tanganmu, kamu mau apa? kamu mau kamu di penjara seumur hidup, hah! kalau kamu di penjara bagaimana kamu bisa menemukan Ayara dan anakmu lagi?" Gilang berbicara dengan berapi-api, mencoba menayadarkan Julian yang saat ini sudah dipenuhi amarah dan sulit untuk mengendalikan dirinya.


Mendengar nama Ayara dan baby Elvano, Julian seketika tersadar dan lambat laun melepaskan cengkaramannya dari leher Tessa. Sementara itu, Tessa seketika terbatuk-batuk sembari memegang lehernya.


"Sekarang, tolong kamu lapor polisi Gilang. Aku mau dia mendekam di penjara dengan waktu yang sangat lama!" titah Julian di sela-sela napasnya yang masih memburu.


"Ti-tidak! tolong jangan lapor polisi! tolong ampuni aku sekali ini! aku janji tidak akan mengganggu keluarga ini lagi!" mohon Tessa dengan raut wajah panik dan ketakutan.


"Tidak akan! kamu memang harus dilaporkan. Kamu sudah membuat aku seperti seorang wanita yang tidak punya hati pada Ayara. Kamu membuatku menjadi wanita yang sangat buruk!" Sarah ikut buka suara.

__ADS_1


"Ta-tante, maafkan aku! aku tahu kalau aku salah, tapi tolong jangan laporkan aku! aku benar-benar berjanji akan menjauh dari keluarga Tante!" mohon Tessa lagi sembari menangis sesunggukan dan menyentuh kaki wanita paruh baya itu.


Mendapat sentuhan di kakinya, Sarah sontak mundur dan menepuk-nepuk kakinya, layaknya sedang membersihkan debut yang menempel di kakinya.


"Kamu tidak pantas mendapat maaf dariku! kamu pantas mendapat hukuman penjara." ujar Sarah, tegas tak terbantahkan.


Kemudian, Sarah mengalihkan tatapannya ke arah Gilang. "Lang, tolong kamu telepon polisi sekarang!" titahnya , membuat Tessa semakin panik.


Gilang menganggukan kepalanya dan langsung mengerluarkan ponselnya. Namun, sialnya ponselanya tiba-tiba kehabisan daya.


"Biar aku saja yang menghubungi polisi, Sob! kamu bantu saja Julian untuk mencari keberadaan anaknya!" ujar Reynaldi mengeluarkan ponselnya dari dalam saku sembari menatap ke arah Julian yang terlihat pergi dari tempat itu.


Mendengar ucapan Reynaldi, Tessa tidak mau tinggal diam. Wanita itu bangun berdiri dan menghambur ke arah Reynaldi.


"Re-Rey, tolong jangan lakukan itu! kamu harusnya menolongku, bukan seperti ini! ingat, kalau kita pernah tinggal seatap dan kita besar bersama," mohon Tessa, berharap Reynaldi berubah pikiran.


"Kamu tega, Rey, sangat tega! kamu benar-benar tidak tahu balas budi! pekik Tessa.


"Untuk memberikan pelajaran padamu, sekali-sekali kita harus belajar mengenal kata tega. karena kalau tidak, kamu tidak akan pernah instropeksi diri. Lagian kalau tidak aku hubungi polisi sekalipun, Julian maupun Tante Sarah tetap akan mempolisikanmu," Reynaldi kali ini benar-benar tidak peduli lagi dan tidak mengindahkan sekeras apapun Tessa meraung-raung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Julian kini sudah berada di ruang kerjanya. Tanpa menunggu lama, pria itu langsung menghidupkan laptoonya dan memeriksa rekaman CCTV.

__ADS_1


Alangkah kagetnya pria itu begitu melihat sosok Ayara yang mengendap-endap masuk ke kamar Elvano dan dengan sangat hati-hati menggendong putra mereka itu. Sementara itu, tidak tampak Tessa sama sekali di ruangan itu.


"Si-sial! apa maksudnya ini? ke-kenapa Ayara yang membawa pergi baby Elvano? bukannya dia sudah mengatakan kalau dia tidak akan membawa pergi putraku?"


"Kamu tidak boleh menyalahkan Ayara juga, Jul. Mungkin dia nekad membawa pergi Elvano, karena dia tidak mau baby Elvano sampai kenapa-napa dibawah asuhan Tessa. Karena yang dia tahu, kalau kamu akan menikahi wanita itu. Kamu tahu sendiri kan kalau Tessa sempat mengancam Ayara tadi? aku yakin kalau Ayara tidak percaya kalau Tessa akan memperlakukan baby Elvano baik, sekalipun dia mematuhi perintah wanita ular itu," tutur Gilang panjang lebar tanpa jeda.


"Apa? jadi Ayara yang membawa putra kalian pergi. Bagaimana bisa dia setega itu?" Sarah kini sudah berdiri di ambang pintu, datang menyusul anaknya itu.


Julian tidak menjawab sama sekali. Pria itu kini mengalihkan rekaman CCTV di luar kamar, mulai dari anak tangga sampai Ayara berjalan ke arah dapur.


Julian mencoba mengalihkan CCTV di ruang dapur, tapi sama sekali tidak bisa. "Oh, sial! kenapa aku bisa lupa kalau CCTV dapur dan taman belakang sedang rusak?" umpat Julian dengan sangat kesal. khususnya pada dirinya sendiri yang mulai dari rusaknya CCTV itu dari satu minggu lalu masih tetap menunda-nunda untuk memanggil orang memperbaikinya.


"Kemana Ayara membawa baby Elvano?" Julian menggusak rambutnya dengan kasar, demikian juga dengan wajahnya dia usap dengan kasar. Pria itu bahkan tanpa sadar, menghamburkan semua benda yang ada di atas mejanya.


"Julian, kamu tenang dulu! setidaknya kamu tahu kalau baby Elvano sekarang bersama dengan mama kandungnya, bukan dengan orang jahat. Jadi, putramu akan baik-baik saja di tangan mamanya," Gilang kembali buka suara, menenangkan Julian yang kini terlihat sangat frustasi.


"Ta-tapi, kemana mereka berdua pergi, Lang? kamu tahu sendiri kalau Ayara tidak punya rumah. Selama ini dia menyewa rumah dan rumah yang dia sewa dulu, sudah ditempati orang lain. Apa menurutmu mereka akan bisa menemukan tempat tinggal dengan cepat? kamu juga tahu kalau Ayara tidak punya banyak uang. Gaji dia bulan ini saja belum dia ambil. Bagaimana nasib mereka berdua, Lang. Apa mereka akan terlunta-lunta di jalanan?" kali ini, Julian sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menangis.


"Kamu jangan berpikir macam-macam, karena aku yakin Ayara tidak mungkin akan tega membawa Elvano hidup di jalanan,". Gilang kembali buka suara.


"Benar, Nak! Mama juga yakin kalau Tuhan akan tetap melindungi mereka berdua. Sekarang yang harus kita lakukan, mencari keberadaan mereka berdua. Mama benar-benar menyesal dan mama ingin meminta maaf pada Ayara,". Sarah kini juga sudah ikut menangis sama seperti Julian putranya.


Sementara itu Shasa yang mendengar pembicaraan mereka, bersikap biasa saja, terkesan dia tidak tahu juga di mana keberadaan Ayara. "Maaf, Tuan Julian, maaf Tante! untuk kali ini aku tidak akan jujur pada kalian berdua. Karena kalian berdua memang harus dikasih pelajaran. Dan aku juga ingin kalian berjuang sendiri untuk menemukan keberadaan Ayara dan baby Elvano," batin Shasa.

__ADS_1


Tidak berselang lama, dari arah kamar baby Elvano, terdengar teriakan Shasa meraung-raung meminta untuk dilepaskan dan berkali-kali meneriaki nama Julian dan Sarah. Sepertinya polisi sudah datang dan membawa wanita itu pergi.


tbc


__ADS_2