Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Aku tidak mengenal wanita itu


__ADS_3

Juliandan Reynaldi kini sedang dibawa oleh pria bernama Slamet berkeliling, melihat lokasi akan dibangunnya rumah sakit.


Dari tadi Slamet sudah menjelaskan panjang lebar, mengenai lokasi itu, tapi tidak ada satupun yang didengar oleh Julian, karena pikirannya masih terfokus pada wanita yang dia yakini adalah Ayara.


"Bagaimana Tuan Julian, apa anda benar-benar tertarik membangun rumah sakit di sini? kalau iya, kapan bisa dimulai?"


Julian sama sekali tidak menjawab karena memang dari tadi dia sama sekali tidak fokus.


"Jul, ayo jawab!" Reynaldi menyikut pinggang Julian, hingga pria itu terjengkit kaget.


"Ya, kenapa, Pak?" tanya Julian setelah tersadar.


Reynaldi berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu mengulangi kembali apa yang ditanyakan Slamet.


"Oh, kalau menurutmu bagaimana, Rey? kalau menurutmu oke, ya kapan saja bisa langsung dimulai pembangunannya," sahut Julian, pasrah.


Reynaldi, mengembuskan napasnya dengan berat, mendengar respon yang diberikan oleh Julian. "Kenapa jadi tanya pendapatku sih? ini pasti dia dari tadi tidak fokus sama sekali," bisik Reynaldi pada dirinya sendiri.


"Ya, menurutku memang bagus sih. Prospek ke depannya sangat bagus,"


Julian mengangguk-anggukan kepalanya, "Kalau menurutmu memang bagus, ya udah ... seperti yang aku katakan tadi, kapan saja bisa dibangun," pungkas Julian akhirnya memutuskan.


"Baiklah kalau begitu, Tuan Julian. Dalam minggu ini aku akan mengerahkan timku ke sini untuk memulai pembangunannya," senyum Slamet merekah, karena bisa dipastikan kalau dia berhasil mendapatkan proyek besar dari Julian.


"Oke, Pak. Nanti semua akan diurus oleh asisten saya. Pak Slamet siapkan saja dokumen yang harus aku tanda tangani,"


"Baik, Tuan!"


"Apa semuanya sudah selesai? tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan kan? kalau tidak ada bisa kita langsung pergi dari sini?" celetuk Julian, yang dari tadi memang ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu.


"Kenapa kamu terlihat terburu-buru? Emangnya kamu mau kemana?" tanya Reynaldi yang sebenarnya sudah bisa menebak jawaban sahabatnya itu.


"Aku mau ke desa terdekat dari sini, yang berada di arah sana. Aku mau bertanya warga di situ apa benar wanita bernama Ayara atau tidak,"

__ADS_1


Benar seperti yang dipikiran Reynaldi. Sahabatnya itu pasti masih penasaran dan tidak akan berhenti sebelum rasa penasarannya terjawab.


"Emm, baiklah kalau begitu! ayo pak kita ikuti mau Tuan Julian!" pungkas Reynaldi sembari melangkah menunju mobil.


Baru saja mereka hendak masuk ke dalam mobil, sebuah mobil berwarna hitam, tiba-tiba berhenti di persis di dekat mereka, sehingga mereka mengurungkan niat untuk masuk ke dalam mobil.


Dari dalam mobil tampak seorang pria yang masih muda, keluar sembari menenteng sebuah jas putih di tangannya. Kalau dilihat dari jas putih di tangan pria itu, bisa dipastikan kalau pria itu adalah seorang dokter.


"Hallo, kenalkan aku Farell. Aku seorang dokter di sini," pria yang ternyata Farell itu memperkenalkan dirinya, sembari mengulurkan tangannya ke arah Julian, Reynaldi dan Slamet.


"Oh, jadi anda adalah seorang dokter di sini?" Farell menganggukkan kepalanya ke arah pria yang dia tahu adalah Julian.


"Ada apa dokter Farell? apa ada sesuatu yang penting?" Kali ini Reynaldi yang buka suara.


"Oh, sebenarnya tidak terlalu penting. Cuma mau tanya kebenaran, apakah benar di sini akan dibangun rumah sakit?" tanya Farell.


"Oh iya, benar. Dalam minggu ini memang akan dibangun. Kenapa ya? kenapa anda bertanya seperti itu?" lagi-lagi Reynaldi yang menjawab.


Raut wajah Farell yang tadinya ramah kini berubah sinis, begitu dirinya mendapat kepastian.


Reynaldi dan Julian saling silang pandang. Kedua pria itu kemudian tersenyum tipis, karena mereka bisa menyimpulkan arah tujuan perkatan dokter pria itu.


"Dokter Farell, munafik kalau kita membuka bisnis baru tidak mengharapkan keuntungan. Kalau tidak mendapatkan keuntungan, buat apa kita melakukan hal yang tidak menguntungkan sama sekali? Tapi, Dokter Farrell, cara mengambil keuntungan itu berbeda, kalau sudah membuat orang lain menderita, itu adalah cara yang salah untuk mengambil keuntungan. Tapi, kali ini aku pastikan, kalau tujuanku membuat rumah sakit di sini, di samping ingin mendapatkan keuntungan, juga ingin mempermudah akses masyarakat di sini untuk bisa berobat ke rumah sakit dengan cepat. Dan aku bisa pastikan kalau biayanya tidak akan memberatkan," jelas Julian, dengan lugas dan tegas.


"Tapi, apa anda tahu, kalau anda mendirik rumah sakit di sini, anda secara tidak langsung sudah mematikan rejeki orang? seperti saya misalnya. Aku sudah jauh-jauh datang dari kota sana, mau hidup di pedesaan, hanya untuk membuat Klinik pengobataan, karena aku tahu kalau prospek di sini sangat bagus. Tapi, dengan adanya rumah sakit nanti, aku bisa dipastikan akan kehilangan banyak pasien. Seharusnya anda bisa mempertimbangkan dari sudut pandang itu," Farell terlihat sangat dingin.


Julian kemudian tersenyum tipis karena dari awal dia sebenarnya sudah tahu maksud dan tujuan dari pria di depannya itu.


"Dokter Farell, kenapa anda bisa berpikir seperti itu? bukannya rejeki seseorang itu sudah ada yang atur? Aku juga yakin kalau hanya demam, batuk dan pilek biasa,pasti warga di sini akan tetap berobat ke dokter. Tapi bagaimana kalau penyakit seseorang itu sudah parah? apa dokter bisa menangani sendiri? pastilah harus tetap ke rumah sakit yang memiliki peralatan lengkap dan punya dokter ahli di bidangnya. Benar bukan? kalaupun anda merasa rejeki anda akan mati, anda bisa kok jadi dokter di rumah sakit yang akan dibangun ini nantinya," tutur Julian dengan panjang lebar dan lugas.


Farell sontak terdiam. Pria itu tidak bisa berkata-kata lagi.


"Sial, sepertinya aku sudah mati kutu. Rencanaku benar-benar gagal untuk membangun rumah sakit sendiri di sini. Ternyata sudah keduluan Julian. Aku menyesal tidak membeli tanah ini lebih dulu," Farell menggerutu di dalam hati.

__ADS_1


Ya, sebenarnya Farell memang dari awal berniat untuk membangun rumah sakit di tanah yang akan digunakan Julian untuk membangun rumah sakit, tapi dia tidak mau menggunakan uang orang tuanya untuk tujuannya itu, tapi dia ingin berusaha mencari uang sendiri lebih dulu untuk bisa merealisasikan tujuannya itu. Makanya dia mendirikan klinik lebih dulu di desa itu.


Farell sebenarnya sudah lama mengincar tanah kosong tempat mereka berdiri sekarang, tapi ternyata sudah keduluan oleh Julian. Itulah yang membuat Farell benar-benar kesal pada dirinya sendiri.


"Oh iya dokter Farell, aku mau tanya, apa Dokter mengenal semua orang di desa itu!" Reynaldi menunjuk ke arah desa yang hendak didatangi oleh dia dan Julian.


"Iya, sepertinya hampir semua penduduk di sana aku kenal, karena mereka memang kalau sakit selalu berobat ke klinikku, emangnya ada apa?" sudut alis Farell sedikit naik ke atas, curiga.


"Oh, apa di sana ada wanita bernama Ayara? dia punya anak namanya Elvano,"


Tenggorokan Farell seketika tercekat, begitu mendengar kalau pria di depannya itu mencari wanita yang sangat ingin dia dekati saat ini.


"Emm, wanita bernama Ayara banyak, anak yang bernama Elvano juga banyak. Mungkin aku bisa mengenal wajah -wajah penduduk di sana, tapi masalah nama, aku tidak terlalu hapal, boleh aku melihat photonya?" tanya Farell memastikan. Dia berharap kalau yang dicari pria di depannya itu bukanlah wanita yang sama dengan yang ada di pikirannya.


Julian kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan photo Ayara dan baby Elvano ketika di mall, dan yang sengaja dia buat jadi wallpaper handponenya.


Wajah Farell seketika berubah pias, begitu harapannya meleset. photo yang dia lihat benar-benar orang yang ada di pikirannya.


"Sepertinya wanita ini tidak ada di kampung itu. Aku yakin sekali! emangnya siapa wanita ini? apa dia keluarga anda, Tuan?" tanya Farell dengan jantung yang berdebar.


"Dia istri Julian dan anak itu anak mereka?" celetuk Reynaldi.


"I-istri? bukannya Ayara mengatakan kalau dia sudah bercerai karena suaminya selingkuh. Jadi yang dia maksud suaminya adalah Julian? tapi sejak kapan Julian menikah? aku belum pernah mendengar kabar kalau Julian sudah menikah. Lagian kata Ayara dia sudah bercerai, tapi kenapa dia masih menyebut Ayara istri bukan mantan istri?" Farell membatin dengan kerutan tajam di keningnya.


"Dokter Farell kenapa anda melamun?" Reynaldi mengibaskan-ngibaskan tangannya di wajah dokter itu.


"I-iya, Tuan! apa tadi?" Farell tersadar dari alam bawah sadarnya.


"Apa anda yakin kalau wanita di photo itu, tidak ada di desa itu atau di desa lain yang dekat-dekat di sini?" tanya Reynaldi memastikan.


"Apa anda tidak percaya, padaku,Tuan? wanita itu sama sekali tidak ada di kampung ini maupun di kampung-kampung lain yang dekat dari kampung ini. Apalagi kalau punya anak Balita, pasti lah datang ke klinikku untuk imunisasi, jadi aku pasti mengenal pasienku. Aku sama sekali tidak pernah melihat wanita dan anak yang ada di photo itu!" Farell akhirnya memutuskan untuk berbohong.


"Kalau dia memang mantan suaminya Ayara, dan sekarang dia mencari wanita itu, pasti dia mau ngajak rujuk. Aku tidak boleh kalah start lagi. Aku harus benar-benar memikirkan cara, untuk menjadikan Ayara istriku secepatnya,"

__ADS_1


tbc


__ADS_2