Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Kisah masa kecil Gilang dan Shasa


__ADS_3

"Kenapa? apa kamu tidak mengingat tempat ini, Shasa?"


Shasa menoleh ke arah Gilang yang kini juga tengah menatapnya dengan seulas senyuman misterius di bibirnya


"Kenapa aku tidak ingat tempat ini? tentu saja aku ingat. Aku lahir di kampung ini, dan besar di sini walaupun hanya sampai usia 8 tahun. Tempat ini adalah tempat anak-anak dulu sering bermain, menghabiskan sore. Yang aku heran, kenapa kamu bertanya seperti itu?" Shasa mengrenyitkan keningnya.


Senyum Gilang semakin terlihat misterius. Pria itu menghela napasnya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan menatap lurus ke depan.


"Kenapa aku bertanya seperti itu? itu karena aku juga punya kenangan di tempat ini. Dulu, sekitar 17 tahun yang lalu, ada seorang anak laki-laki yang sedang berkunjung ke rumah neneknya di kampung ini. Bocah laki-laki itu, bermain di tempat ini, dan ingin bergabung dengan anak-anak lainnya. Tapi, sayangnya anak laki-laki itu justru mendapat penolakan dan diteriaki anak kota, anak kota, begitu saja terus. Bahkan anak laki-laki itu dipukul pakai bambu. Tapi, ada satu anak perempuan yang melindungi anak laki-laki yang menangis itu, hingga kepalanya yang terkena pukulan, dan menyebabkan kepala gadis kecil itu terluka. Apa kamu mengingatnya?"


Shasa membesarkan matanya dan sontak menatap Gilang yang kini tengah tersenyum padanya.


Flashback On


"Kamu tidak apa-apa!" tanya Gilang kecil pada seorang anak perempuan yang meringis kesakitan. Sementara, anak-anak yang tadi membullinya sudah berhamburan kabur, begitu melihat Shasa kecil yang terluka. Mereka semua tidak mau, terkena semburan papanya Shasa yang terkenal galak.


"Aku tidak apa-apa, kok!" Shasa kecil berusaha untuk tersenyum di sela-sela rasa sakitnya.


"Kamu kenapa tidak melawan mereka tadi?" tanya Shasa sembari sesekali meringis, sakit.


"Mana bisa aku melawan mereka semua. Aku hanya sendiri, mereka banyak!" sahut Gilang kecil dengan wajah sendu.


"Lagian, kamu sih ... udah tahu mereka nakal, tapi kamu masih mau ngajak mereka bermain. Mereka tadi, anak-anak yang paling nakal di kampung ini. Mereka itu suka buat onar," terang Shasa, masih tetap dengan ekspresi wajah, kesakitan.


"Mana aku tahu, kalau mereka itu nakal. Aku tadinya hanya mau main dengan mereka saja. Aku bosan sendirian di rumah nenekku,"


"Oh!" sahut Shasa, singkat sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


Tanpa disadarinya ada darah yang mengalir dari kepala ke pelipisnya.


"Astaga, kenapa ada darah di pipimu?" teriak Gilang, panik.


"Darah? di mana?" tanya Shasa sembari menyentuh pelipisnya.


Benar saja, telapak tangan yang menyentuh pelipisnya tadi, begitu dilihat sudah berubah warna menjadi merah.


"Sepertinya kepala kamu terluka; coba aku lihat!" Gilang kecil langsung berdiri dan menyibaj rambut Shasa kecil dengan sangat hati-hati.


"Ya ampun! kepalamu benar terluka, dan itu cukup besar. Bagaimana ini?" Gilang mulai panik dan mulai juga menangis.


"Kamu jangan panik! Ini tidak apa-apa. Nanti juga akan baik sendiri!" Shasa kecil berusaha menenangkan Gilang.


"Apanya yang gak kenapa-napa! kata mamaku, luka seperti itu kalau tidak langsung diobati bisa infeksi dan semakin parah. Ayo kita ke rumah nenekku, biar nenek yang mengobatinya!" Gilang meraih tangan kecil Shasa dan Shasa hanya menurut saja diajak oleh bocak laki-laki yang belum dia tahu namanya itu.


"Ini semua gara-gara aku. Kepalamu terluka gara-gara menolongku!" oceh Gilang, sepanjang perjalanan menuju rumah neneknya.


Tidak berselang lama, mereka berdua pun tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar dan sangat asri. Baik pekarangan depan maupun belakang rumah memiliki pekarangan yang sangat luas.


"Lho, ini rumah nenekmu?" tanya Shasa dan Gilang menganggukan kepalanya.


"Jadi, nenek Sutinah itu nenek kamu?" lagi-lagi Gilang menganggukan kepalanya.


"Kamu kenal, nenekku?" tanya Gilang balik dan kini gantian Shasa yang menganggukkan kepalanya.


"Siapa yang tidak mengenal nenekmu. Dia kan punya peternakan yang sangat besar dan dia juga sangat kaya di kampung ini. Tapi, mungkin nenekmu yang tidak kenal aku. Karena tidak mungkin neneka kamu kenal semua anak-anak di kampung ini. Paling nenek kamu kenal yang dekat-dekat rumah saja," terang Shasa yang masih saja sesekali meringis kesakitan.


"Aduh, Aa kamu kemana saja? dari tadi nenek cari kamu!" tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik datang menghampiri Gilang.


"Tadi aku main, Nek," sahut Gilang.

__ADS_1


"Lah, si cantik ini siapa? kamu teman barunya cucu saya ya?" tanya wanita cantik bernama Sutinah itu sembari tersenyum ramah.


"Iya, Nek!" bukannya Shasa yang menjawab, melainkan Gilang. "Tadi kepalanya terluka, Nek, karena nolongin aku. Nenek boleh tidak bantu obatin?" wajah Gilang kecil terlihat memelas, sehingga terlihat menggemaskan di mata Sutinah neneknya.


"Astaga, mana lukanya?" tanya Sutinah.


Dengan cepat Gilang, menyibak kembali rambut Shasa, untuk menunjukkan di mana lukanya Shasa.


"Ya ampun, ini lukanya cukup lebar. Sini biar nenek obatin!" Sutinah meraih tangan kecil Shasa, dengan lembut dan mengajak gadis kecil itu untuk duduk. Setelah itu, dia memerintahkan salah satu asisten rumah tangganya untuk mengambilkan kotak obat yang memang selalu tersedia di rumah itu.


"Kamu tahan sedikit ya, Cantik. Mungkin sedikit perih kalau lukanya dikasih alkohol. Tapi, luka kamu ini harus dibersihkan dulu pakai alkohol, supaya tidak infeksi," ucap Sutinah dengan lembut sembari menempelkan kapas yang sebelumnya sudah dibubuhi alkohol, ke bagian kepala Shasa yang terluka.


"Awww, sakit, Nek!" pekik Shasa, menangis tiba-tiba.


"Sabar, itu hanya sebentar saja!" Sutinah mencoba menenangkan Shasa.


"Kenapa dia menangis, Nek? pelan-pelan ngobatinnya, Nek!" Gilang yang dari tadi diam saja, buka suara dengan raut wajah yang seperti ingin menangis juga.


"Tenang, A! perihnya hanya sebentar. Ditahan dikit saja!" Sutinah, tersenyum manis menenangkan cucunya.


Sutinah kini sudah selesai mengobati luka Shasa. Kini kedua anak kecil itu sudah asik bermain di belakang rumahnya. Mereka berdua tampak main kejar-kejaran dan tertawa-tawa, seakan-akan Shasa tidak merasakan sakit lagi di kepalanya. Sesekali mereka juga bersepeda dengan Gilang yang mengayuh sepeda dan Shasa duduk di boncengan.


Tanpa disadari, hari sudah mulai beranjak sore. Langit sudah berganti warna menjadi jingga, pertanda malam akan segera datang.


"Sudah mau sore, aku pulang dulu ya, soalnya nanti papaku khawatir nyariin aku. Besok kita main lagi!" ucap Shasa.


"Yaa, cepat sekali kamu pulang? nanti saja, aku antar. Kamu makan malam di rumah nenekku saja, bagaimana?" tanya Gilang dengan raut wajah sedih, tidak rela Shasa pergi.


"Aa, tidak boleh seperti itu! temannya nanti dicariin sama orang tuanya. Besok kan masih ada waktu," Sutinah muncul kembali, membujuk cucunya yang manyun itu.


"Janji ya, besok main lagi!"


Shasa menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Setelah saling berjanji akan main lagi besok, Shasa akhirnya beranjak pergi untuk pulang ke rumahnya dan Gilang serta neneknya ikut mengantarkan sampai di depan rumah gadis kecil itu.


"Aa, kamu suka bermain dengannya?" tanya Sutinah dengan lembut setelah mereka sudan tiba di rumah lagi.Gilang tersenyum manis dan menganggukan kepalanya.


"Kamu sudah tahu namanya siapa?" tanya Sutinah lagi.


"Ya ampun, Nenek! aku lupa nanya!" Gilang kecil memukul jidatnya.


"Tidak apa-apa! besok saja kamu tanya namanya siapa," ucap Sutinah menghibur cucunya itu.


Di saat bersamaan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang datang memasuki pekarangan rumah Sutinah.


"Lho, itu mama dan papamu datang!" Sutinah melangkah ke arah pintu untuk menyambut anak dan menantunya itu.


"Lho, kenapa kalian sudah datang? apa ada hal penting?" tanya Sutinah di tengah punggung tangannya yang dicium oleh anak dan menantunya itu.


"Iya, Ma. Kami mau menjemput Gilang pulang!"


"Aku tidak mau pulang, Pa!" pekik Gilang kecil dengan wajah yang mau menangis.


"Gilang, apa-apa-an ini? tadi malam kamu yang telepon minta dijemput sampai meraung-raung, karena kamu bilang kamu bosan di sini. Papa banyak kerjaan, tapi papa sempatkan untuk menjemputmu. Jangan buat Papa kesal!" ucap Papanya Gilang, tegas.


"Tapi, Pa, aku ...."


"Tidak ada tapi-tapi! Papa dan mama sudah terlanjur ke sini. Jadi, besok pagi kita akan langsung pulang ke Jakarta!" pungkas papanya Gilang, tegas tak terbantahkan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya, semua pakaian Gilanh sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Mereka sudah bersiap-siap untuk pulang. Setelah berpamitan pada Sutinah, papanya Gilang pun mulai menjalankan mobilnya.


"Pa, Ma, bisa tidak sebelum pulang kita ke rumah temanku dulu? aku mau pamit padanya," ucap Gilang dengan sangat hati-hati, takut papanya marah.


"Emm, boleh dong, Nak! ayo tunjukkan di mana rumah teman kamu itu!" sahut mamanya Gilang sembari mengelus-elus lembut kepala putranya itu.


Raut wajah Gilang sontak berbinar dan langsung menunjukkan letak rumah Shasa.


Sementara itu, Shasa yang baru saja selesai mandi dan bersiap-siap mau ke rumah nenek Gilang, kaget melihat ada mobil yang berhenti di depan rumahnya.


Gadis kecil itu sontak menyipitkan matanya, melihat Gilang keluar dari dalam mobil itu.


"Lho, kamu mau kemana?" tanya Shasa, penasaran.


"Aku sudah dijemput sama papa dan mamaku. Jadi, aku mau pulang ke Jakarta!" sahut Gilang dengan raut wajah sedih.


"Kenapa cepat sekali? kenapa kamu tidak bilang tadi malam, kalau kamu mau pulang hari ini?" wajah Shasa tidak kalah sedihnya dari Gilang.


"Aku juga tidak tahu kalau mama dan papa akan secepat ini menjemputku. Maaf ya! tapi aku janji, kalau libur sekolah,aku akan sering-sering main ke kampung ini. Karena aku sudah punya teman yaitu kamu. Oh ya, kepala kamu masih sakit?" tanya Gilang,tanpa permisi menyibak rambut Shasa.


"Kadang-kadang masih suka berdenyut sih. Tapi, sudah tidak terlalu sakit kok," sahut Shasa, tersenyum, menenangkan.


"Syukurlah! oh ya, karena aku sudah membuat kepalamu cacat, aku berjanji nanti kalau sudah besar, aku akan menikahimu sama seperti papaku yang menikahi mama. Kamu mau kan?" ucap Gilang, seakan-akan sudah mengerti arti pernikahan.


"Serius?" tanya Shasa, memastikan.


" Iya, aku serius!" tegas Gilang.


"Janji?" Shasa mengangkat jari kelingkingnya.


"Janji!" Gilang menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Shasa.


Tin tin


Klakson mobil, tiba-tiba terdengar.


"Sayang, masih lama lagi? ayo, cepat, Nak!" panggil mamanya Gilang dengan lembut.


"Iya, Ma!" sahut Gilang.


"Aku pulang dulu ya!" ucap Gilang dan Shasa menganggukkan kepala mengiyakan.


Gilang pun berlari menuju mobil Dan masuk. Setelah Gilang sudah duduk di dalam mobil, papanya mulai menjalankan kembali mobilnya dan Gilangpun melambaikan tangannya.


"Hei, janji ya kamu akan datang lagi!" teriak Shasa sebelum mobil itu benar-benar menjauh.


"Iya, aku akan datang lagi!" balas Gilang sembari mengeluarkan kepalanya.


"Nama kamu siapa?" teriak Shasa lagi.


"Gilang!" sahut Gilang.


"Oh, Elang," gumam Shasa yang menurut pendengarannya anak laki-laki itu menyebut nama Elang.


"Kalau kamu siapa namanya?" masih terdengar teriakan Gilang dari dalam mobil yang kebetulan lajunya tidak terlalu cepat.


"Shasa!" teriak Shasa.

__ADS_1


"Oh, Chaca!" gumam Gilang kecil sembari kembali melambaikan tangannya.


tbc


__ADS_2