Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Ancaman Tessa


__ADS_3

"Shasa,aku minta tolong agar sekarang juga kamu pergi ke rumah Julian! jarak dari kantor ke rumah Julian lebih dekat dibandingkan jarak rumah sakit ke rumah Julian. Aku harap kamu bisa sampai ke sana lebih dulu, sebelum Ayara benar-benar pergi. Setidaknya untuk sementara waktu kamu bisa menunda waktu sampai aku datang," ucap Gilang, dengan napas yang memburu.


"Tapi, bagaimana aku ke sana, Tuan? Tuan tahu sendiri kalau ini masih jam kerja dan kebetulan meja resepsionis lagi kosong karena Nabila sedang ke toilet. Tidak mungkin kan aku meninggalkan meja resepsionis kosong begitu saja,"


Gilang mengembuskan napas dengan kasar, dan menggusak rambutnya, mendengar ucapan Shasa.


"Tuan Gilang, Nabila sudah kembali!" suara Shasa terdengar kembali.


"Kasih handphonenya ke dia! aku akan bicara!" titah Gilang.


"Nabila, ini, Tuan Gilang mau bicara!" terdengar suara Shasa dari ujung sana.


"Halo, Tuan Gilang!" terdengar suara seorang wanita yang tidak lain adalah Nabila rekan kerja Shasa yang merupakan resepsionis sama seperti Shasa.


"Nabila, kamu tolong jaga meja resepsionis sendiri dulu ya! Aku sedang butuh Shasa untuk melakukan sesuatu yang sangat penting, kamu bisa kan?" ucap Gilang to the point.


"I-iya, Tuan!" sahut Nabila menyanggupi.


"Baiklah, terima kasih! teleponnya aku tutup dulu!" tanpa menunggu jawaban dari Nabila, Gilang langsung memutuskan panggilan begitu saja.


Setelah itu, Gilang langsung menghubungi Reynaldi yang memang kebetulan sudah dia kasih handphone agar dia bisa berkomunikasi dengan sahabatnya itu.


"Halo, Lang!" terdengar suara Reynaldi dari ujung sana, yang terdengar dengan sangat l


pelan.


" Halo, Rey! kamu di mana? kamu bisa datang ke rumah sakit permata sekarang juga?" belum juga Reynaldi menjawab dia berada di mana, Gilang sudah bertanya hal yang lain lagi.


"Ke rumah sakit? emangnya ada apa? kamu baik-baik saja kan?" terdengar kalau Reynaldi khawatir, namun anehnya, suara pria di ujung sana itu sama sekali tidak terdengar tinggi melainkan sangat pelan, hampir mirip seperti berbisik.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Aku hanya melakukan test DNA antara Julian dan baby Elvano, dan sekarang aku sedang menunggu hasilnya. Tapi, ada kejadian di rumah Julian. Sepertinya Tessa berhasil memprovokasi Julian dan Tante Sarah, jadi Ayara katanya diusir. Aku mau ke sana cepat-cepat untuk mencegahnya. Jadi, aku minta kamu datang ke sini untuk mengambil hasil test DNAnya dan nanti kamu langsung ke rumah Julian, kamu bisa kan?" Gilang berbicara dengan sangat cepat, panjang lebar dan tanpa jeda.


"Baiklah, aku akan segera ke sana!"


Gilang mengrenyitkan keningnya, karena suara Reynaldi terdengar semakin pelan.


"Kamu di mana sih? kenapa suara kamu sangat pelan seperti berbisik?" tanyanya, yang akhirnya tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya yang sebenarnya ingin dia tanyakan dari awal.


"Aku ada di apartmen, dan sepertinya sinyal lagi tidak bagus, Lang. Oh ya, sekarang aku ke sana ya!" belum sempat Gilang melontarkan pertanyaan lagi, Reynaldi sudah memutuskan panggilan secara sepihak.


"Ahh bodo amatlah! mungkin memang sinyal sedang tidak bagus. Aku tidak boleh berpikir negatif. Sebaiknya aku harus segera pergi dari sini!" batin Gilang sembari beranjak pergi. Namun, sebelum pergi pria itu lebih dulu membayar biaya test DNA dan mengabari kalau yang akan mengambil hasilnya nanti adalah pria bernama Reynaldi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kediaman Julian, tampak Ayara yang memasukkan pakaiannya ke dalam tasnya dengan air mata yang masih berderai.


Suara tangis baby Elvano sudah tidak terdengar lagi. Mungkin karena bayi itu sudah kelelahan menangis, makanya bayi itu sudah tertidur.


Ayara menyeka air matanya dan memutar tubuhnya untuk menoleh ke arah Tessa.


"Mungkin sekarang kamu merasa kamu menang, Tessa, tapi aku mau mengingatkanmu, kalau Tuhan tidak pernah tidur. Suatu saat, cepat atau lambat semua kebusukanmu akan terbongkar,"


Tessa tertawa kecil mendengar ucapan Ayara. Wanita itu juga menatap Ayara dengan tatapan meremehkan.


"Terserah kamu mau mengatakan apa. Yang pasti apa yang kamu katakan tadi tidak akan pernah terjadi. Kalau aku punya seribu cara untuk menyingkirkanmu, aku juga bisa pastikan kalau aku punya seribu cara untuk membuat agar rencanaku tidak pernah terbongkar. Sekarang kamu jangan banyak bicara lagi! sebaiknya kamu cepat keluar dari sini! karena tidak ada gunanya kamu berlama-lama di sini," Tessa meraih tas Ayara dan melemparkan tas itu ke pintu.


"Oh ya, aku mau mengingatkanmu agar kamu pergi sejauh mungkin dan jangan pernah muncul lagi di depan Julian atau siapapun yang dekat dengannya. Ingat, aku akan secepatnya menikah dengan Julian dan bisa dipastikan aku akan tinggal di sini. Itu berarti aku akan menjadi ibu tiri anak kamu. Kalau kamu mau anak kamu aman, kamu harus pergi jauh, kalau tidak, jangan salahkan aku, kalau baby Elvano yang akan mendapatkan akibatnya. Dan aku akan melakukan sesuatu pada bayi itu, sesuatu yang tidak pernah bisa kamu bayangkan!" ancam Tessa dengan sudut bibir yang lagi-lagi tersenyum sinis.


"Kamu ... hati kamu terbuat dari apa sih? apa kamu masih pantas disebut manusia. Bagaimana mungkin kamu bisa selicik ini, menjadikan nyawa seorang bayi jadi sebuah alat untuk mengintimidasi orang? kamu benar-benar tidak punya hati!"

__ADS_1


"Berhenti mendikteku! aku tidak butuh ocehanmu. Selama aku belum mendapatkan sesuatu yang aku Inginkan, aku akan tetap melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Kamu paham kan?" bentak Tessa.


"Jadi, kamu patuhi saja apa yang aku katakan, kalau kamu mau anak kamu tetap aman. Nanti, setelah keluar dari sini, anak buahku sudah menunggu di dalam mobil, dan mereka akan membawamu jauh keluar dari kota ini! Ingat, kamu harus mematuhi mereka kalau kamu mau anakmu selamat, paham kamu!" sambung Tessa lagi dengan seringaian licik di sudut bibirnya.


"Baiklah, aku akan pergi jauh, Tessa! tapi, aku mohon agar kamu jangan melakukan sesuatu yang jahat pada anakku!" Kali ini Ayara tidak mau mengajak Tessa untuk berdebat lagi, karena menurutnya sudah tidak ada gunanya melawan wanita licik itu, karena dia sekarang ada di posisi lemah.


"Asalkan kamu tidak muncul lagi, kamu tenang saja, anak kamu akan tetap aman! tapi, sekali saja kamu muncul, lihat saja apa yang akan terjadi pada anakmu,"


"Iya, aku tidak akan muncul lagi!" pungkas Ayara akhirnya mengalah.


"Ya udah, apalagi yang kamu tunggu? sekarang kamu pergi dari sini!"


Ayara menghela napasnya dengan berat, lalu meraih tasnya yang ada di lantai. Kemudian dia berjalan meninggalkan Tessa yang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan.


Sebelum turun, Ayara mencoba melirik ke arah pintu kamar Julian yang tertutup rapat, berharap pria itu keluar dari sana dan berubah pikiran, tidak jadi mengusirnya dari rumah ini. Namun, apa yang dia harapkan sepertinya tidak terjadi. Pintu itu masih saja tetap tertutup.


Dengan langkah berat dan perlahan akhirnya Ayara menuruni anak tangga. Di saat wanita itu sudah berada di luar rumah, untuk sesaat, wanita itu menatap kembali rumah Julian untuk yang terakhir kalinya. Sementara di lantai dua,dari balik tirai Julian menatap ke arah Ayara dengan tatapan sendu.


Tidak ingin dirinya semakin berat untuk melihat kepergian Ayara, pria itupun menjauh dari jendela dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Apa keputusanku ini sudah benar? apa yang sudah aku lakukan? apa aku masih bisa disebut manusia, kalau aku tega memisahkan ibu dari anaknya? bagaimanapun dia nekad memberikan bayinya, itu karena demi Vano bisa sembuh. Tapi, bagaimana kalau dia nanti diam-diam membawa baby Vano pergi? bagaimanapun aku sudah sangat menyayangi anak itu!" pikirannya Julian sekarang sedang berkecamuk dan merasa dilema.


"Tapi, bagaimanapun aku tidak bisa memisahkan seorang ibu dari anaknya, aku harus menghalanginya pergi!" Julian langsung berdiri dan dengan sedikit berlari keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga, bermaksud mengejar Ayara ke luar.


Alangkah kagetnya pria itu, karena ternyata dia sama sekali tidak menemukan Ayara lagi di tempatnya berdiri tadi. Pria itu mencoba berlari ke luar pagar, namun hasilnya juga nihil. "Di mana dia? kenapa bisa secepat itu hilangnya?" Wajah Julian benar-benar panik sekarang.


Di saat bersamaan, sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Tampak seorang wanita yang tidak lain adalah Shasa, keluar dari mobil itu. Dari belakang taksi, sebuah mobil yang sangat dikenali oleh Julian yang tidak lain adalah mobil Gilang juga ikut berhenti.


Dimanakah Ayara? apa wanita itu benar-benar sudah pergi?

__ADS_1


tbc


__ADS_2