
"Kalian berdua?" Mbok Sumi menunjuk ke arah jari Gilang dan Shasa yang saling bertaut.
Shasa sontak menarik tangannya dari tangan Gilang. Namun, Gilang dengan cepat meraih kembali tangan wanita yang baru saja sah menjadi kekasihnya itu.
"Gilang, calon menantumu, Mbok!" celetuk Julian, mendahului Gilang memberikan penjelasan.
"Apa? calon menantu? serius?" tanya Sumi, sulit untuk percaya, mengingat kalau putrinya itu selama ini sulit untuk membuka hati pada pria karena menunggu janji yang tidak jelas dari seorang pria di masa kecilnya.
"Iya, Mbok, aku tidak bohong. Kalau tidak percaya, Mbok coba tanya sendiri!" Julian melirik ke arah Gilang, dengan sudut bibir tersenyum meledek.
"Sialan kamu, Julian! kamu mendahuluiku untuk menjelaskan!" umpat Gilang yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati, karena dia tidak ingin mengumpat di depan wanita yang merupakan calon mertuanya.
"Iya, Mbok, aku dan Shasa baru saja menjalin hubungan. Aku memohon sama Mbok agar mau merestui hubungan kami!" tutur Gilang dengan sopan, menjelaskan.
Sumi tersenyum semringah. Binar di wajah wanita itu, tidak bisa berbohong kalau sekarang wanita paruh baya itu sedang bahagia.
"Kalau, Mbok sih terserah keputusan anak Mbok! kalau dia bahagia dengan pilihannya, Mbok hanya bisa memberikan restu. Tapi, seperti yang kamu ketahui, kalau kami tidak seperti keluargamu yang kaya. Justru Mbok khawatir dengan orang tua Nak Gilang, sendiri. Apa mungkin orang tuamu setuju kalau kamu menjalin hubungan dengan wanita yang tidak selevel dengan keluarga kalian?" binar di wajah Sumi kini berubah muram, setelah dia mengungkapkan ucapannya.
Gilang tidak langsung menjawab. Akan tetapi, pria itu memberikan tanggapan dengan mengukir seulas senyuman di bibirnya.
"Mbok, tidak perlu khawatir akan masalah itu! mama dan papamu tidak pernah mempermasalahkan status wanita yang aku pilih untuk jadi pasanganku. Selama aku mencintai gadis itu, kedua orang tuaku akan selalu welcome. Bahkan sebelum aku menjalin hubungan dengan Shasa, mama sudah tertarik pada Shasa dan memintaku untuk mendekatinya," tutur Gilang, menyakinkan.
Sumi, kembali tersenyum dan mengembuskan napas lega.
" Syukurlah kalau begitu. Mbok jadi lega sekarang," ujar Sumi.
__ADS_1
Kemudian, wanita paruh baya itu mengalihkan tatapannya ke arah Shasa, putrinya.
"Nak, apa kamu sudah yakin menjalin hubungan dengan Nak Gilang? apa kamu sudah sadar dan pasrah kalau ... siapa itu namanya? emm ... iya, Elang. Apa kamu tidak mau menunggu janji pangeran kecilmu itu lagi?" tanya Sumi memastikan.
Shasa, menoleh ke arah Gilang dan tersenyum penuh makna. Kemudian, gadis itu kembali menoleh ke arah Sumi mamanya.
"Ma, justru Gilang ini adalah Elang, pangeran kecil yang aku maksud!"
Mata Sumi sontak membesar, terkesiap kaget mendengar ucapan yang terlontar dari mulut sang putri.
"Di-dia Nak Elang yang kamu maksud?" ulang wanita itu memastikan dan Shasa menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Bagaimana bisa?" gumam Sumi, yang tentu saja masih bisa didengar oleh telinga yang berada di tempat itu.
Shasa lebih dulu menarik napas, dan mengeluarkankan kembali dengan sekali hentakan. Kemudian, wanita itupun mulai menjelaskan bagaimana Gilang itu adalah Elang, pangeran kecil yang dia maksud.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa hari ini adalah hari di mana Ayara dan Julian akan sah dalam ikatan pernikahan yang menjadikan mereka punya status baru, yakni suami dan istri.
Setelah melangsungkan pernikahan yang sah dimata hukum dan agama pagi tadi,kini tiba saatnya sepasang suami istri baru itu, mengadakan resepsi disebuah hotel berbintang 5 milik keluarga Pradipta atau milik Julian.
Kedua netra Julian dari tadi tidak mau lepas, memandang sang istri yang tampak sangat cantik dan bersinar hari ini. Dia tidak menyangka, kalau wanita yang dulu pernah disakitinya terlalu dalam,kini sudah sah menjadi istrinya.Kalau boleh memilih,ingin rasanya dia melenyapkan,yang namanya resepsi dari muka bumi ini,biar tidak ada sekalian agar dia bisa langsung membawa sang istri ke dalam kamar pengantin.Namun, dia tidak mau egois, karena acara ini bukan hanya kebahagiaannya, tapi juga merupakan kebahagiaan buat Ayara.
sepasang suami istri baru itu, kini melenggang memasuki ballroom hotel tempat di mana mereka akan mengadakan resepsi. Tapi kali ini tidak ada media yang di izinkan untuk meliput sesuai permintaan Ayara. Kenapa bisa seperti itu? itu karena Ayara tidak ingin menjadi orang yang diistimewakan kalau dia berada di luar. Ia tahu, kalau masyarakat sampai tahu yang dia merupakan istri dari Julian, mereka pasti akan bertingkah berlebihan untuk menarik perhatiannya.
__ADS_1
Ayara hanya ingin nantinya semua orang tetap memperlakukan dia seperti biasa.
Begitu memasuki Ballroom hotel, mata Ayara berkaca-kaca,terharu melihat dekorasi yang telah dipersiapkan oleh Julian. Dekorasi yang sangat indah, sesuai dengan yang diimpikannya selama ini.
Bagaimana tidak, ball room hotel kini disulap bagaikan di negri dongeng.
"Bagaimana? apa kamu menyukainya, Sayang?" bisik Julian, sebelum mereka berdua benar-benar berjalan ke pelaminan.
"Ini sangat indah, Sayang. Bagaimana mungkin kamu masih bertanya, apa aku menyukainya atau tidak? tentu saja aku menyukainya. Bukan ... aku sangat, sangat menyukainya! terima kasih ya, Sayang!" ucap Ayara sembari menoleh ke arah pria yang sudah menjadi suaminya itu, seraya tersenyum tulus.
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Ini memang sudah seharusnya aku lakukan! aku senang karena kamu menyukainya!" Julian membalas senyuman Ayara.
"Para tamu yang terhormat, sudah saatnya kita akan memulai acara resepsi pernikahan Tuan Julian dengan istrinya tercinta Nona Ayara. Mari kita semua berdiri dan menyambut raja dan ratu kita, malam ini!" terdengar suara pria yang merupakan MC atau master of Ceremony dari atas panggung.
Julian kembali tersenyum ke arah Ayara dan mempersilahkan istrinya itu untuk menggandeng dirinya, agar mereka bersama-sama melangkah menuju pelaminan yang sangat amat indah.
Gemuruh tepuk tangan dari para tamu menggema, memenuhi ruangan itu. Sebuah lagu yang sangat romantis yang dipopulerkan oleh boyband asal Irlandia, yakni I wanna grow old with you, mengiringi langkah pasangan suami istri itu.
Di antara para tamu, tampak seorang gadis manis yang menatap ke arah Ayara dengan mata yang berkaca-kaca. Bukan hanya berkaca-kaca, bahkan sudah ada cairan bening yang dengan lancangnya, berani keluar dari sudut matanya. Namun, buru-buru dia seka.
"Kamu menangis ya?" wanita manis itu, tersentak kaget, mendengar ada yang menyapanya dan bahkan sudah duduk di sampingnya.
"Tu-tuan Reynaldi! ka-kamu sejak kapan di sini?" tanya wanita manis itu dengan gugup.
"Sejak tadi, Nona Aura. Hanya saja, kamu tidak menyadarinya," ucap Reynaldi tersenyum penuh makna.
__ADS_1
Ya, wanita manis itu adalah Aura, sahabat Ayara di tempat persembunyiannya. Wanita manis mendapat undangan dari Ayara dan tentu saja dia tidak bisa untuk tidak datang.
tbc