
"Wah, kamu belanjanya banyak sekali, Tessa! kamu pasti bersenang-senang ya tadi?" seru Sarah dengan wajah berbinar melihat tangan Pak Sandi yang penuh dengan kantongan hingga pria itu sedikit kesusahan untuk membawanya.
"Emm, itu bukan milikku,Tante. Itu milik dia," Tessa menunjuk Ayara dengan malas.
Sarah terdiam dan sontak menoleh ke arah Ayara yang refleks menundukkan kepalanya.
"Oh, iya. Pasti punyamu kamu tinggal di mobil kan?" lanjut Sarah lagi dengan sangat yakin.
Tessa menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sedih, menandakan kalau dugaan wanita paruh baya di depannya itu salah.
"Apa? jadi kamu tidak membeli apa-apa? kamu yang gak mau atau bagaimana?" mata Sarah, memicing curiga.
"Emm, aku ...."
Melihat kegugupan Tessa, Sarah sudah langsung bisa menarik kesimpulan kalau calon menantu pilihannya itu, tidak mendapatkan apa-apa, bukan karena tidak ingin.
Wanita paruh baya itu sontak menoleh ke arah Julian, dan menatap putranya itu dengan tatapan tajam.
"Julian, kenapa kamu tidak membelikan apa-apa untuk Tessa? kenapa semuanya hanya untuk Ayara dan Elvano?"
"Aku tidak tahu kalau dia mau. Harusnya dia ngomong kalau dia mau. Aku tidak bisa baca pikiran seseorang," jawab Julian, santai.
"Jadi, mama mau tanya, kalau yang ini semua, apa Ayara yang minta?" Sarah menunjuk ke semua kantongan yang tergeletak di lantai dan ekor matanya melirik sinis ke arah Ayara.
"Ya Tuhan, sepertinya Ibu Sarah mulai membenciku," batin Ayara sembari menundukkan kepalanya.
"Julian, kenapa kamu tidak jawab? apa ini semua Ayara yang minta?" ulang Sarah, karena melihat Julian yang diam saja.
Julian menggelengkan kepalanya, "Tidak. Tapi aku sendiri yang memintanya untuk belanja untuk dirinya, karena memang tujuanku membawa dia ikut serta tadi ya untuk membelikan pakaian dan perlengkapan lainnya, mengingat dia belum pernah membeli apapun semenjak bekerja di rumah ini,"
Sarah terdiam untuk beberapa saat, tidak memungkiri kalau yang dikatakan putranya itu benar.
__ADS_1
"Ok, kalau masalah itu mama tidak keberatan. Tapi, masalahnya kenapa kamu juga tidak membelikan apapun untuk Tessa?"
"Tante, sudahlah! aku sama sekali tidak ada masalah kok!" Tessa buka suara, dan seperti biasa dengan nada lembut dan berpura-pura seakan tidak ingin Julian kena marah.
"Tidak boleh begitu, Tessa. Tante tetap harus tahu alasannya tidak membelikan apapun untukmu," tegas Sarah.
"Bukannya tadi aku sudah bilang, Ma kalau aku sama sekali tidak tahu isi hati orang? harusnya dia bicara kalau dia juga mau. Tapi tadi dia diam saja, jadi aku pikir kalau dia memang tidak mau apa-apa," Julian masih saja tetap bersikap santai.
Sarah menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara. Wanita paruh baya itu benar-benar tidak habis pikir, akan sikap putranya itu.
"Julian bukan Tessa yang seharusnya meminta karena dia pasti malu untuk memninta, harusnya kamu yang peka. Kamu juga tidak perlu bertanya, kamu harusnya langsung minta dia pilih yang dia suka," suara Sarah terdengar melembut.
"Maaf, kalau begitu. Aku tidak terbiasa dengan hal seperti itu soalnya,"
" Ya udah, kalau begitu mama minta besok kamu bawa lagi Tessa jalan-jalan untuk berbelanja apa yang dia mau,"
Tessa seketika tersenyum tipis dan bersorak dalam hati mendengar ucapan Sarah
Rasa bahagia yang tadinya Tessa rasakan, seketika menguap entah kemana, berganti dengan rasa kesal.
"Kenapa tidak bisa?" Sarah memicingkan matanya.
"Karena besok, banyak yang harus aku kerjakan. Gilang besok dan beberapa hari ke depan tidak datang ke kantor karena dia ada pekerjaan yang harus dia kerjakan. Jadi, aku tidak punya waktu sama sekali," sahut Julian, lugas.
Sarah tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena dia tidak mungkin memaksa anaknya itu. Dia tahu benar kalau putranya itu tidak suka dipaksa.
"Oh, kalau begitu lain kali kamu harus mengajak Tessa!" pungkas Sarah akhirnya.
"Kalau aku punya waktu. Tapi mungkin tidak waktu dekat ini!" sahut Julian, dingin.
Kemudian, pria itu menoleh ke arah Pak Sandi yang memang tidak berani pergi kemana-mana sebelum diperintahkan untuk pergi.
__ADS_1
"Pak Sandi, tolong kamu bawakan semua ini ke kamar Ayara dan Baby Vano!" titahnya.
"Baik,Tuan!"Pak Sandi kembali mengangkut Kantongan yang sempat dia letakkan di lantai dan membawanya naik ke atas.
"Ayara, kamu dan baby juga sudah bisa naik ke atas!" Ayara menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Sebelum naik ke atas, Ayara lebih dulu menoleh ke arah Sarah, berniat untuk berpamitan.
"Bu, aku pamit naik ke atas," suara Ayara terdengar sangat lirih.
"Hmm," sahut Sarah singkat dan dingin.
Ayara menghela napasnya dengan berat, tahu benar kalau wanita paruh baya itu, sudah tidak menyukainya lagi. Dia kemudian berbalik dan memutuskan untuk naik ke atas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi, kamu ngapain aja tadi, Tessa kalau tidak berbelanja?" tanya Sarah penuh selidik setelah hanya mereka berdua saja di ruangan itu.
Mendengar pertama Sarah, Tessa seketika memasang raut wajah sedih. "Aku tadi hanya menjaga baby Vano saja Tante. Aku berjalan di belakang mereka berdua, seakan aku yang jadi pengasuh. Tadi, banyak orang yang benar-benar mengira aku seorang pengasuh. Bahkan ada yang mencibirku, mengataiku pengasuh yang tidak tahu diri, 'hanya seorang pengasuh saja, tapi berdadan kaya majikan', begitu kata-kata yang aku dengar, Tante," tutur Tessa panjang lebar dan tanpa jeda serta sengaja melebih-lebihkan.
"Kurang ajar! sepertinya Ayara harus aku kasih peringatan, agar tidak melunjak. Kalau dia memang menyadari siapa dirinya, harusnya dia merasa tidak enak ke kamu. Eh ini malah dia semakin menikmati," raut wajah Sarah benar-benar kesal dan Tessa benar-benar menikmati ekspresi wajah wanita paruh baya itu. Dia merasa kalau mamanya Julian itu, sudah masuk dalam perangkapnya.
"Sudahlah, Tante. Tidak masalah sama sekali. Tante tidak perlu sekeras itu pada Ayara. Kasihan dia!" ucap Tessa, menunjukkan seakan dia adalah gadis yang penuh empati.
"Kamu jangan terlalu lembek, Tessa! Ayara itu memang harus dikasih peringatan biar dia sadar siapa dia sebenarnya. Kalau didiamkan lama-lama dia bisa berniat untuk merebut perhatian Julian. Kamu mau itu terjadi?"
Tessa dengan gerak cepat menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau, Tante! Tapi memang Sepertinya Ayara memang berniat menggoda Julian. Tadi dia yang selalu menempel Julian dan selalu berusaha membuat Julian untuk tidak dekatku sama sekali. Tapi, aku tidak apa-apa kok. Aku akan selalu sabar, karena aku yakin kalau kesabaranku suatu saat akan berbuah manis," di balik ucapannya Tessa berusaha menjatuhkan Ayara tapi tetap dibumbui dengan kamuflase yang membuat dirinya seakan wanita paling sabar.
"Pengasuh itu benar-benar sudah semakin tidak sadar diri rupanya. Baiklah, kamu tenang saja Tessa, Tante akan kasih dia peringatan. Kamu jangan cegah, Tante lagi!" pungkas Sarah, dengan mata yang berapi-api.
"Rasain kamu, Ayara! Kamu pasti akan dibenci oleh Tante Sarah. Sudah aku bilang jangan main-main denganku. Aku bukan tandinganmu. Ini belum seberapa, siap-siap saja, aku akan membuat kamu didepak dari rumah ini, secepatnya!" batin Tessa, dengan sudut bibir yang tersenyum licik.
__ADS_1
Tbc