Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Aku akan tetap membantumu


__ADS_3

Gilang melangkah menuju ruangan Julian. Tanpa mengetuk pintu, Gilang langsung membuka pintu dengan sangat hati-hati. Alangkah kagetnya pria itu ketika melihat kondisi ruangan yang berantakan, di mana banyak kertas yang berserakan di lantai, pesawat telepon yang menggantung, dan note book yang juga terkapar di lantai.


Gilang tidak terlalu memperdulikan kekacauan itu lagi. Pria itu kini hanya memikirkan kondisi Julian, makanya pria itu langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan sahabatnya itu.


"Julian, apa yang terjadi di sini?" Gilang langsung menghambur menghampiri Julian, begitu melihat sahabatnya itu sedang duduk menyender di tembok dengan Salah satu kaki yang berselonjor dan satu kaki lagi ditekuk.


"Jangan mendekat, brengsek! kamu benar-benar pembohong!" pekik Julian sebelum Gilang benar-benar mendekat, hingga membuat Gilang mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Pembohong? maksud kamu apa?" tanya Gilang dengan raut wajah memeucat. "Apa dia sudah tahu kalau aku membohonginya masalah tanda tangan itu dan apa dia sudah tahu kalau Reynaldi sudah bebas?" batin Gilang, merasa was-was.


"Jangan berpura-pura tidak bahu, bajingan! kamu sudah tahu kalau aku sulit untuk percaya pada orang lain lagi, tapi dengan teganya kamu juga membohongiku!" mendengar ucapan Julian, memperkuat dugaan Gilang, kalau sahabatnya itu sudah tahu kalau dia berbohong mengenai tanda tangan itu.


"Julian, kamu tenang dulu. Aku melakukan itu demi kebaikanmu. Itu karena__"


"Karena apa? karena kamu mengira kalau aku juga menyukai Ayara dan kaena kamu tidak ingin aku lebih dulu menyatakan perasaanku padanya makanya kamu berniat membohongiku agar kamu leluasa mendekatinya beberapa hari ini, iya?" Julian berbicara dengan sangat berapi-api, tidak memberikan kesempatan pada Gilang untuk menyelesaikan ucapannya.


Sementara itu, Gilang tampak bergeming, benar-benar bingung dengan tuduhan Julian yang dialamatkan padanya.


"Aku berbohong, karena ingin mendekati Ayara? apa maksudnya ini?" gumam Gilang sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Julian mulai bangkit berdiri dan melayangkan tatapan sinis penuh kebenaran pada Gilang, hingga membuat pria itu semakin merasa tidak nyaman. "Kamu jangan belagak tidak tahu, Lang! apa kamu kira kalau aku tidak tahu kalau tadi kamu menemui Ayara di taman? kamu bahkan hampir saja menciumnya,"

__ADS_1


Gilang terlihat semakin bingung. Namun, detik berikutnya pria itu langsung teringat dengan pertemuannya dengan Ayara tadi di taman.


"Astaga Julian, kamu sepertinya salah paham! aku dan Ayara sama sekali tidak __"


"Kamu jangan mau menyangkal lagi Gilang! aku tidak akan bisa kamu kelabui lagi, karena aku punya buktinya. Kamu mau lihat?" Julian meraih ponselnya yang ada tergeletak di lantai dan layarnya sudah pecah.Kemudian pria itu memperlihatkan sebuah photo yang tadi sempat dia pindahkan ke handphonenya.


Mata Gilang sontak membesar, terkesiap kaget melihat photo yang memang menunjukkan kalau dirinya hendak mencium Ayara. "Dari mana kamu mendapatkan photo ini? apa kamu mendapatkannya dari wanita yang katanya calon istrimu itu?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.


"Tidak perlu kamu tahu! yang jelas aku sudah tahu kemunafikanmu. Dan aku juga sudah tahu kalau Ayara ternyata wanita murahan!"


"Diam!" pekik Gilang. "Kamu akan menyesal, Jul mengatakan begitu pada Ayara, karena dia__"


"Dia apa? dia kekasihmu sekarang, makanya kamu mau membela dia, begitu? kalian berdua benar-benar orang yang munafik!" tanpa menunggu Gilang selesai bicara, Julian sudah lebih dulu menyela.


"Hentikan omong kosongmu! aku sama sekali tidak jatuh cinta padanya. Bagiku dia hanyalah seorang pengasuh. Aku marah hanya karena kamu sudah membohongiku demi wanita itu. Kamu mengatakan kalau kamu harus mengerjakan sesuatu yang sangat penting, tapi apa? kamu justru membohongiku! kamu malah menemui wanita murahan itu!"


"Julian, Diam! stop bilang dia wanita murahan! kalau tidak kamu akan menyesal!" Gilang sudah mulai meninggikan suaranya. Bahkan kedua tangan pria itu sudah terkepal dan dia juga sudah menggertakkan giginya, berusaha menahan diri untuk tidak memberikan pukulan ke wajah sahabatnya yang dia yakin sedang cemburu buta itu.


"Dari kemarahanmu ini, aku semakin percaya kalau kamu itu sebenarnya cemburu. Aku tahu kalau kamu itu orang yang selalu berpikir secara rasional dan tidak mudah untuk percaya sebelum menyelidiki kebenarannya. Tapi, karena hatimu dikuasai oleh kecemburuan, kamu jadi tidak bisa berpikir rasional lagi, sampai kamu tidak percaya pada sahabat kamu sendiri!"


Julian bergeming, terdiam seribu bahasa. Karena sejujurnya dia juga masih bingung kenapa dia bisa sampai semarah ini.

__ADS_1


"Sekarang, kamu akui saja kalau sebenarnya kamu itu cemburu! kamu jatuh cinta pada Ayara kan?" sambung Gilang lagi, melihat Julian yang terdiam.


"Kamu jangan asal bicara! aku sama sekali tidak menyukai wanita itu! jangan paksa aku mengakui hal yang tidak benar sama sekali!" Julian masih berusaha untuk menyangkal.


"Sekarang sebaiknya kamu pergi dari sini! aku muak melihat pembohong sepertimu!" lanjutnya lagi dengan manik mata yang masih memerah bak nyala api.


"Julian, kamu mengatakan aku munafik. Tapi aku mau tekankan kalau kamu lah yang munafik. Kamu tidak berani jujur pada perasaanmu!"


"Sudah berapa kali aku katakan, aku sama sekali tidak munafik. Aku tidak pernah jatuh cinta dengan wanita murahan itu! Sekarang kalau kamu tidak mau pergi, biar aku yang pergi!" Julian memutar tubuhnya dan bersiap melangkahkan kakinya.


"Tunggu Julian!" cegah Gilang lagi dengan suara yang sangat dingin, membuat Julian mengurungkan niatnya untuk melangkahkan kakinya.


"Awalnya kedatanganku ke sini, ingin mengungkapkan sebuah rahasia, tapi begitu mendengar ucapan penghinaanmu pada Ayara, entah kenapa aku merasa kamu tidak layak untuk mengetahuinya dan aku juga merasa kalau wanita sebaik Ayara tidak pantas dengan pria seperti kamu! Kamu lebih percaya dengan photo itu dari pada sahabatmu sendiri. Kamu tidak menyadari kalau Tessa berniat untuk mengadu domba kita. Aku berani bersumpah demi apapun kalau aku tidak membohongimu demi bisa mendekati Ayara. Sekali lagi aku tekankan, kalau aku dan Ayara sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dan aku juga tidak pernah berniat untuk mendekatinya. Asal kamu tahu, justru kenapa aku menemuinya tadi pagi, karena itu ada hubungannya dengan pekerjaan penting yang aku katakan kemarin." tutur Gilang, ambigu.


"Tapi, kalau kamu menarik kembali kata-kata wanita murahanmu itu dan mengakui kalau kamu sudah jatuh cinta padanya, aku dengan senang hati akan memberitahukan rahasia itu," Imbuh Gilang lagi.


Julian kembali bergeming tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dengan raut wajah kesal, sedih dan bingung yang bercampur menjadi satu, Julian justru kembali berbalik dan melangkah keluar meninggalkan Gilang.


"Julian, kamu mau kemana?" pekik Gilang, yang sama sekali tidak dipindahkan oleh sahabatnya itu. Mata Gilang tanpa sengaja melihat punggung tangan Julian yang sepertinya terluka. Mungkin sebelum kedatangannya, sahabatnya itu tadi sempat meninju tembok hingga punggung tangan sahabatnya itu terluka.


Amarah yang tadinya sempat membara di hati Gilang sontak menguap entah kemana, begitu melihat tetesan darah yang masih tampak segar, yang tercecer di lantai. "Aku tahu kalau sebenarnya kamu sudah jatuh cinta pada Ayara Julian. Aku juga tahu kalau kamu marah bukan karena aku membohongimu tapi karena kamu cemburu. Jadi, walaupun kata-katamu tadi sudah keterlaluan aku akan tetap membantumu, Karena aku tahu kalau kamu mengucapkannya karena tidak bisa berpikir rasional lagi. Kamu sabar saja, sebentar lagi kamu akan mengetahui semuanya!" batin Gilang sembari melangkah ke arah darah Julian dan mengambil darah itu, lalu memasukkannya ke dalam sakunya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2