Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Kepanikan Tessa


__ADS_3

"Kamu mau tahukan siapa sebenarnya dalang yang menjebakmu? yang melakukannya memang Reynaldi, tapi dalangnya adalah dia!" Gilang mengangkat tangannya, menunjuk tepat ke wajah Tessa.


Wajah Tessa sontak berubah pucat mendengar ucapan Gilang. Namun, itu hanya bertahan beberapa saat, setelah itu, wanita itu langsung mulai bersikap biasa.


"Kamu jangan asal tuduh! Tanpa bukti, kamu bisa aku laporkan atas pencemaran nama baik. Jadi, sebelum kesabaranku habis, sebaiknya mau tarik kembali kata-kata kamu itu!" ancam Tessa.


Bukannya gentar, Gilang justru tertawa sinis. "Aku tidak asal bicara dan asal menuduh, Nona Tessa. Karena aku tahu langsung dari orang yang kamu minta untuk melakukan hal menjijikan itu! aku yakin kalau kamu sudah bisa menebak siapa orang itu," Gilang tersenyum penuh teka-teki, tapi sanggup membuat Tessa semakin pucat.


"Tenang, Tessa kamu jangan terpancing dan jangan terlihat panik. Reynaldi kan ada di penjara, jadi tidak mungkin kan, Reynaldi yang memberitahukan pada manusia rese ini," batin Tessa, menenangkan dirinya sendiri.


Tiba-tiba terdengar isak tangis dari Tessa, sendiri karena seperti biasa, Wanita itu akan memulai dramanya lagi. "Kamu benar-benar tega memfitnahku, Gilang. Entah kesalahan apa yang aku lakukan padamu. Padahal aku sama sekali tidak melakukan apapun padamu, tapi kamu sudah seenaknya mengataiku yang macam-macam. Dari kemarin-kemarin, aku sudah berusaha untuk bersabar mendengar kamu mengataiku, tapi Kali ini kamu benar-benar sudah keterlaluan. Kamu tega menuduh sesuatu hal yang sama sekali tidak pernah aku lakukan," tutur Tessa panjang lebar.


Sementara itu, dari arah pintu belakang yang langsung tembus ke jalanan, dengan dibantu oleh Mbok Sumi, Ayara berhasil keluar tanpa diketahui oleh siapapun.


"Nak, nanti kalau kamu sudah sampai di sana, kamu kabari mbok ya! ingat, nanti setelah kamu sampai di sana, kamu temui saja, kakaknya Mbok. Namanya Sopiah. Kamu panggil dia bude!"


" Iya, Mbok! tapi, bude Sopiah kan tidak kenal denganku, bagaimana kalau nanti dia malah mengusirku, Mbok?" tampak kekhawatiran di raut wajah Ayara.


"Kamu tenang saja, Mbok nanti akan menghubungi dia, agar kamu nanti diizinkan tinggal di rumah Mbok di kampung. Kakak Mbok itu baik kok, jadi kamu tidak perlu khawatir." ucap Mbok Sumi berusaha menenangkan Ayara.


"Baiklah, Mbok! sekali lagi terima kasih banyak ya, Mbok!" ucap Ayara dengan tulus.


"Nah, itu ada taksi. Kamu naik itu ke terminal kampung rambutan dan dari sana nanti kamu naik bus. Kamu simpan Baik-baik alamat yang Mbok tulis tadi!" Sumi kemudian melambaikan tangannya, untuk mencegat taksi. Beruntungnya taksi itu kosong dan langsung berhenti persis di depan Ayara dan Mbok Sumi.


"Nih, Mbok kasih uang sedikit. Kamu Baik-baik di sana ya! nanti kalau ada rejeki lebih, mbok akan kirim sedikit untuk bantu biaya baby Elvano. Nanti Mbok juga akan kasih tahu Shasa, kalau kamu baik-baik saja, agar dia tidak khawatir," Mbok Sumi masih menyempatkan waktu untuk memberikan pesan, yang langsung diiyakan oleh Ayara.

__ADS_1


Setelah Mbok Sumi menyelesaikan pesannya, taksi itu kemudian mulai bergerak, meninggalkan Mbok Sumi.


Wanita paruh baya itu melambaikan tangannya ke arah Ayara yang juga melambaikan tangannya. Mata wanita paruh baya itu terlihat mulai basah, melihat taksi yang membawa wanita sahabat putrinya yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri itu, sampai menghilang dari pandangannya. Setelah menghilang, Mbok Sumi pun memutuskan untuk kembali masuk dari jalan masuk tempat dia keluar tadi bersama Ayara.


Ya, wanita paruh baya itu, benar-benar merasa kesal ketika mendengar Sarah Nyonya besar di rumah itu, memaki-maki Ayara. Wanita itu juga kesal ketika Julian juga ikut-ikutan. Makanya dia memutuskan untuk membantu Ayara keluar membawa baby Elvano dan menyuruh sahabat putrinya itu untuk tinggal sementara di kampung halamannya. Bukan tanpa alasan wanita itu meminta Ayara pergi ke sana, walaupun sebenarnya dia tahu kalau penyesalan sudah bisa dipastikan sebentar lagi akan dirasakan oleh Julian dan mamanya, mengingat Gilang dan Shasa putrinya ada di dalam rumah itu, untuk mengungkapkan kebenaran. Namun, entah kenapa Mbok Sumi merasa tidak terima kalau Julian dan mamanya begitu mudah untuk mendapatkan maaf dari Ayara nantinya. Wanita yang sudah bekerja lama di keluarga Julian itu, merasa kalau Julian dan mamanya perlu diberi pelajaran dulu dan harus berjuang untuk menemukan Ayara dan baby Elvano kembali.


Kembali di dalam kediaman Julian, situasi di ruang tamu itu kini benar-benar tegang, karena seperti biasa, Sarah terpengaruh dengan drama tangisan yang dilakukan oleh Tessa.


Wanita paruh baya itu sekarang sedang dalam posisi memeluk Tessa, berusaha menenangkan wanita yang dia anggap baik itu.


"Gilang, kamu benar-benar keterlaluan! kamu menuduh tanpa bukti. Kamu kira Tante dan Julian akan percaya dengan segala yang kamu tuduhkan padanya. Aku lebih mempercayainya sekarang daripada kamu!" ucap Sarah dengan nada tinggi dan raut wajah penuh kebencian pada Gilang.


"Aku sama sekali tidak keterlaluan, Tante. Aku berani bersumpah kalau apa yang aku katakan tadi benar. Please Tante jangan terpengaruh dengan drama yang dia buat. Aku bisa pastikan kalau dia itu wanita ular!"


"DIAM!" suara Sarah semakin meninggi. "Kalau kamu masih mau melanjutkan ucapanmu yang ngelantur itu, sebaiknya kamu keluar dari rumah ini dan jangan pernah kamu injak lagi! Tante tidak mau melihat orang yang super tega seperti kamu lagi!" lanjut Sarah dengan sengit dan raut wajah bengis.


"Julian, bagaimana mungkin kamu bisa percaya begitu saja, tanpa bukti hah? biasanya kamu itu selalu minta bukti, dan setelah melihat buktinya baru kamu percaya, tapi kenapa sekarang kamu bisa percaya begitu saja? apa kamu tidak belajar dari apa yang sudah terjadi, Nak? kamu dulu terlalu percaya pada Reynaldi dan lihat apa balasannya? dia menghianatimu kan?" ucap Sarah dengan sangat berapi-api, sampai napas wanita paruh baya itu terlihat memburu.


Julian, terdiam tidak menjawab sama sekali, karena yang dia alami memang seperti itu. Karena terlalu percaya pada Reynaldi sahabatnya, dia malah berhasil dijebak pria yang sudah dia anggap sahabatnya.


"Tante, aku sudah tidak kuat lagi, mendapat penghinaan dan tuduhan-tuduhan keji atas hal yang sama sekali tidak pernah aku lakukan. Sekarang, sebaiknya aku pulang saja, Tante!" Tessa bersikap seakan dirinya paling terzalimi. Sembari menyeka air matanya, wanita itu bergerak hendak melangkahkan kakinya. Namun, dia mengurungkan langkahnya, ketika tangan Sarah dengan sigap menahan tubuhnya.


"Kamu jangan pergi kemana-mana, Sayang. Yang seharusnya pergi dari rumah ini adalah dua orang pengacau itu! Berani-beraninya mereka memfitnahmu!" ucap Sarah dengan tatapan sengit saat menatap Gilang.


Sementara itu, Gilang mengepalkan tangannya dengan kencang, berusaha menahan amarahnya, karena dia masih menghormati wanita yang merupakan Ibu kandung Julian itu. Lagian, dia juga benar-benar tidak bisa membuktikan kalau Tessa tidaklah sebaik yang dikira oleh Sarah, karena dia tidak punya buktinya. Satu-satunya cara ya, dia berharap kalau Reynaldi datang secepatnya karena dia adalah kuncinya.

__ADS_1


"Sekarang kamu sebaiknya tinggalkan rumah ini, Gilang! dan kamu Shasa, Tante kecewa pada kamu ... kamu juga lebih baik pergi dari sini!"


Tanpa Sarah sadari, sudut bibir Tessa sedikit melengkung tersenyum meledek dan penuh kemenangan ke arah Gilang. "Rasakan kalian! apa kalian kira akan mudah menyingkirkanku? tidak akan, kita lihat siapa yang akan jadi lebih dipercaya, aku atau kalian berdua," batin Tessa, dengan penuh percaya diri.


"Kalian mau tunggu apa lagi, Gilang, Shasa? sekarang tinggalkan tempat ini. Oh ya, kalian harus ingat, kalau aku tidak akan percaya dengan apa yang kalian katakan tadi mengenai Ayara dan baby Elvano. Pandanganku pada wanita itu tetap sama seperti di awal! kamu paham kan?" ucap Sarah dengan ketus.


"Mama! kenapa mama berbicara seperti itu? aku percaya kalau Ayara adalah wanita yang aku cari dan baby Elvano adalah anak kami. Mama tahu kenapa? karena sejak pertama melihat Elvano, aku sudah bisa merasakannya. Dan aku juga yakin kalau Ayara ada wanita itu karena aku melihat sendiri topi yang dia pakai kemarin adalah topi yang sama dengan yang dipakai wanita itu. Jadi, tidak ada alasan lagi, untuk aku tidak percaya!" tegas Julian, yang membuat Sarah terdiam Demikian juga dengan Tessa.


"Julian, kamu jangan langsung percaya, Nak! kamu harus punya bukti dulu. Tolong kali ini kamu percaya pada, Mama!"


"Bagaimana mungkin kamu lebih percaya pada sahabatmu, daripada mamamu sendiri, Julian. Asal kamu tahu, perasaan seorang Ibu itu sangat peka, dia tahu mana yang benar untuk anaknya dan mana yang salah!" Tessa kembali buka suara menimpali ucapan Sarah.


"Tapi, seorang ibu juga manusia biasa, Nona Tessa. Yang artinya bisa salah."Kali ini Shasa memberanikan diri untuk buka mulut.


"Kamu bisa diam tidak? kamu tidak punya hak untuk bicara, karena kamu__"


"Karena aku putri seorang pembantu, begitu kan maksudmu?" sambar Shasa dengan cepat, karena dia sudah bisa membaca kalau Tessa akan menghina mamanya.


"Kamu lupa ya, Tessa, kalau Ayara itu sahabatku? jadi bagaimanapun aku punya hak untuk membela sahabatku sendiri. Aku memang baru mengenalmu hari ini, tapi aku tidak memerlukan waktu yang lama untuk bisa menyimpulkan bagaimana karakter kamu yang sebenarnya. Bisa aku simpulkan kalau sikapmu selama ini penuh kepalsuan. Seperti yang dikatakan oleh Tuan Gilang tadi ... kamu itu memang wanita ular!" Ujar Shasa lagi dengan lugas, tegas dan berapi-api.


"Shasa, diam! jangan sampai Tante marah ke kamu ya. Tadi Tante masih memandang mamamu yang sudah kamu anggap seperti keluar sendiri makanya Tante masih berusaha untuk menahan diri untuk tidak melontarkan kata-kata kasar padamu, tapi kamu sudah berani menghina dan menuduh calon menantuku yang tidak-tidak!"


"Tapi, yang dikatakan oleh wanita itu benar, Tante! wanita yang Tante bela itu memang wanita ular yang hidupnya penuh dengan kelicikan dan kebohongan!" tiba-tiba sosok Reynaldi sudah berdiri di ambang pintu, menatap ke arah Tessa dengan tatapan mengejek.


Wajah Tessa sontak saja berubah pucat pasi seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali melihat kehadiran Reynaldi yang tiba-tiba. Sementara itu, Sarah dan Julian, terkesiap kaget melihat kehadiran Reynaldi.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2