
Acara resepsi pernikahan Julian dan Ayara akhirnya selesai dan berjalan dengan lancar sesuai dengan keinginan dua mempelai itu. Kini keduanya sudah berada di kamar Julian, yang mulai malam ini juga akan menjadi kamar Ayara.
Ya, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah, tidak menginap di hotel, seperti rencana Julian. Kenapa? karena Ayara tidak mau tidur di hotel tanpa putra mereka. Ia tidak akan merasa tenang karena selama ini tidak pernah jauh dari putranya itu. Walaupun sebenarnya, Sarah mamanya Julian yang kini sudah sah menjadi mertuanya, menjamin kalau Elvano akan baik-baik saja dengannya, tapi tetap saja Ayara tidak merasa tenang.
Awalnya Julian sangat kecewa dengan keputusan Ayara. Namun, dia sama sekali tidak bisa juga menyalahkan wanita yang dicintainya itu, mengingat alasan yang diberikan wanita itu cukup masuk akal.
"Sayang, aku sudah selesai mandi, sekarang giliranmu!" ucap Ayara sembari berusaha mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
"Tidak mau! aku sudah tidak mood mandi sekarang!" tolak Julian dengan wajah ditekuk.
Untuk sepersekian detik, Ayara menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Julian suaminya dengan tatapan bingung.
"Kenapa kamu tidak mau mandi? mandi dong, Sayang! badan kamu sudah sangat lengket," bujuk Ayara dengan suara yang lembut.
"Aku sudah tidak mood, Sayang! Dan ini gara-gara kamu yang menolak untuk mandi bersama. Pokoknya aku mogok mandi malam ini!" Julian kekeuh menolak. Bahkan tatapan pria itu sama sekali tidak berpindah dari ponsel di tangannya.
Ayara sontak menyunggingkan seulas senyuman, paham kalau suaminya itu sekarang sedang kesal padanya.
Ya, tadi ketika mereka berdua sudah masuk kamar, Julian sudah meminta untuk mandi bersama dengan alasan agar cepat selesai. Tapi, Ayara yang sudah paham ke mana arah tujuan suaminya itu, menolak, bukan karena dia belum siap untuk melakukan hubungan layaknya sebagai suami istri, tapi entah kenapa Ayara masih sangat malu, jika harus menunjukkan bagian tubuh sensitive yang selalu dia sembunyikan di balik pakaian yang dia kenakan.
Ayar, kemudian melangkah menghampiri Julian dan mendaratkan Tubuhnya duduk di samping suaminya itu.
"Sayang, mandi ya!" bujuk Ayara dengan lembut sembari mengelus dada Julian. Maksud hati ingin menenangkan amarah suaminya itu, Amarah berhasil diredakan,tapi yang lain justru bereaksi.
"Mandinya entar aja ya, Sayang! sekarang aku lapar "
"Oh, kamu mau makan apa? biar aku masakan sekarang!" suara Ayara masih terdengar lembut.
"Aku tidak mau makan makanan apapun, sekarang aku cuma mau memakanmu!" tanpa bisa dihindari, Julian langsung menerkam Ayara yang belum siap sepenuhnya. Dia melu* mat bibir tipis milik istrinya itu
Wajah Ayara sontak berubah pucat dan ketakutan,Karena tiba-tiba saja, bayangan kejadian dulu saat pria itu merengut kegadisannya langsung berkelebat melintas di kepalanya. Sejujurnya, Ayara masih sedikit merasakan trauma,apalagi Julian melakukannya dengan sangat tiba-tiba.
__ADS_1
Karena Ayara tidak ada reaksi sama sekali, Julian menghentikan aksinya,dan terkesiap kaget melihat wajah pucat istrinya itu.
"Ka-kamu kenapa sayang?" tanya Julian panik.
Ayara tidak menjawab sama sekali, napas wanita itu terdengar memburu dan dadanya juga terlihat turun naik,sehingga membuat Julian semakin panik.
Julian langsung menarik tubuh istrinya itu ke dalam dekapanny, dan kali ini lebih lembut sehingga Ayara merasa lebih tenang.
"Ma -maaf sayang, aku tidak bermaksud membuat mu takut. Apa kamu masih trauma dengan kejadian dulu? " tanya Julian dengan lembut dan hati-hati.
"Sebenarnya, aku tidak terlalu trauma, karena saat itu aku juga memang memutuskan untuk menolongmu dengan mau melakukannya denganmu. Tapi, tadi kamu main tiba-tiba saja, tentu saja aku kaget," tutur Ayara menjelaskan.
"Maafkan aku, maafkan aku!" Julian kembali memeluk erat Ayara.
"Tidak perlu minta maaf, Sayang. Reaksiku aja yang berlebihan. Sekarang, kamu mandi dulu ya!" Ayara melemparkan senyum manisnya,. seakan menunjukkan. kalau dirinya baik-baik saja.
Julian kemudian berdiri sembari menghela napasnya. Jujur dalam hatinya dia sedikit kecewa karena dia merasa kalau malam ini, malam pertama mereka akan tertunda sampai waktu yang tidak dia tahu kapan.
Julian sudah tampak segar setelah dirinya membersihkan tubuhnya. Kini pria itu keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai seutas handuk yang terlilit di pinggangnya, sedangkan di bagian tubuh paling atas, dia biarkan polos tanpa sehelai benang pun sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sangat Atletis dan perut yang seperti roti sobek.
"Sayang, kamu di mana?" Julian mengedarkan tatapannya ke segala penjuru untuk mencari keberadaan Ayara yang tidak terlihat berada di kamar itu.
Tidak terdengar sama kali jawaban, hingga membuat Julian mengrenyitkan keningnya.
"Kemana, dia?" bisik Julian pada dirinya sendiri.
"Ah, mungkin dia lagi di kamar baby Elvano, untuk memastikan apa anak kamu sudah tidur atau belum. Aku sebaiknya pakai pakaianku dulu, baru nyusul ke sana!" Julian nyaris saja melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Namun, belum nyampe ke lemari dari arah walk in closet, tampak Ayara keluar dengan mengenakan sebuah lingerie berwarna merah menyala, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang benar-benar bisa membangkitkan libido bagi laki-laki yang menatapnya.
Ya, Ayara tadi bisa membaca dengan jelas raut wajah Julian. Dia tahu kalau suaminya itu kecewa. Makanya, dengan segala keberanian, dan berusaha menahan malu, Ayara akhirnya memutuskan untuk memakai lingerie pemberian Shasa dan Aura, guna menyenangkan suaminya itu.
Di depan sana tampak Julian berdiri terpaku menatap ke arah Ayara dengan mata yang tidak berkedip. Bahkan pria itu tanpa sadar menelan ludahnya berkali-kali.
__ADS_1
"Sa-sayang, jangan menatapku seperti itu! aku malu!" akhirnya Ayara memberanikan diri untuk bersuara. Wanita itu tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri saking gugupnya. Tapi yang dia lakukan justru semakin menambah kesan seksi pada wanita itu.
"Kamu seksi sekali, Sayang! apa itu, berarti kamu sudah siap untuk melakukannya malam ini denganku?" tanya Julian memastikan, seraya melangkah menghampiri Ayara.
Ayara tidak menjawab sama sekali. Wanita itu menunduk melihat ke bawah, kemudianmenganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Yes!" sorak Julian, dengan swajah yang berbinar
"Tapi aku masih sedikit takut, Sayang," desis Ayara di sela-sela hasratnya yang sudah mulai terpancing,. karena sekarang tangan Julian sudah merambah kemana-man
"Jangan takut! aku akan bermain dengan pelan." Julian memutar tubuh istrinya agar menghadap padanya. Kemudian dia mulai mengikis jarak dan mendaratkan bibirnya dengan sempurna ke atas bibir, wanitanya itu. Julian pun mulai melu*mat bibir Ayara dengan penuh perasaan. Akan tetapi, ciuman yang penuh perasaan itu, hanya bertahan untuk sepersekian detik. Detik berikutnya, ciuman pria itu sudah berubah menjadi ganas dan Ayara yang tadinya hanya diam saja, kini sudah mulai melakukan balasan.
Julian yang sudah dipenuhi oleh kabut ga*irah, membimbing Ayara ke arah tempat tidur dan langsung membaringkan tubuh wanita itu, di atas ranjang.
Suara de*s4han yang keluar dari mulut istrinya itu menjadi pemantik semangat buat Julian untuk segera menuntaskan hasratnya yang sudah dia tahan selama ini. Hanya satu harapannya, semoga Elvano putranya tidak akan bangun di tengah permainan.
Tidak lama kemudian, kedua sejoli itu, sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh mereka. Dan tidak perlu menunggu lama, kini kamar itu, sudah dipenuhi dengan suara-suara aneh yang keluar dari mulut ke duanya
Setelah cukup mereka berdua bertarung, keduanya akhirnya sama-sama menyerah dan memekik, seiring meletusnya gunung dan mengeluarkan lava dan lahar panas mengalir, memasuki gua sampai kedalaman yang tak terhingga.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Julian sembari mengecup puncak kepala Ayara, setelah permulaan mereka berdua selesai.
Ayara tidak menjawab, tapi wanita itu hanya tersenyum dan mengangukkan kepalanya.
"Sekarang kamu akan selalu jadi pengasuh dan yang kamu asuh bertambah. Ada aku dan anak-anak kita nanti. Tapi mulai dari sekarang yang jadi bayaran kamu bukan hanya materi, tapi juga cinta yang tulus dariku," ucap Julian lagi, sembari membenamkan kepala wanita yang sudah menjadi istirahat itu ke dadanya.
"Tidurlah!" desis pria itu dengan tidak lupa meninggalkan kecupan di puncak kepala Ayara.
Tamat
Sudah tamat ya, Guys. Terima kasih sudah mengikutinya dari awal. Untuk pernikahan Gilang dan Shasa, Aura dan Reynaldi akan aku tulis di ekstra part. Terima kasih sekali lagi ! 🥰🥰🥰🥰🙏🏻
__ADS_1