Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Tidak berkutik


__ADS_3

Reynaldi yang dari tadi bersikap santai dan hanya jadi penonton, tiba-tiba tertawa pecah, membuat semua yang berada di ruangan itu menatap heran ke arahnya.


"Wah, drama yang kamu mainkan benar-benar mantap, Tessa. Kamu benar-benar bisa membuat orang simpati padamu. Kamu dari tadi asik membantah kalau kamu tidak mengenalku sama sekali. Padahal, kita itu hidup satu rumah berpuluh tahun, mulai dari kamu bayi sampai kamu sebesar ini." tutur Reynaldi membuat Sarah dan Julian terkesiap kaget.


"Ini maksudnya apa? serumah dari kecil?" Sarah memicingkan matanya.


"Bohong! sejak kapan aku serumah denganmu?" pekik Tessa dengan wajah yang mulai panik..


Tawa Reynaldi kembali pecah, dan Kali ini benar-benar menakutkan di mata Tessa.


"Apa kamu tidak merasa panik melihat sikap santaiku dari tadi, Tessa? kamu kan tahu sendiri kalau aku terlihat santai, itu berarti aku sudah menyimpan sesuatu. Tapi ... okelah, kalau kamu masih mau membantah, aku akan mencoba menunjukkan ini dulu! aku yakin kamu pasti tidak melupakan benda ini," Rey merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah ponsel miliknya dulu.


Benar saja, wajah Tessa semakin pucat dan ketakutan melihat ponsel itu.


"Kamu pasti bingung kenapa ponsel lamaku ini ada di tanganku. Iya kan? emm, dari pada kamu bingung aku akan kasih tahu kamu. Tadi aku ke rumah, papa dan mama kita, eh papa mamamu ... aku lupa kalau aku hanya anak yang dipungut oleh papamu dari jalanan untuk dijadikan alat untuk memancing agar mereka punya anak yaitu kamu. Aku ke sana diam-diam, tidak ada satupun yang tahu, demi bisa mengambil ponselku yang sengaja kamu dan mamamu ambil dariku," jelas Reynaldi dengan seringaian sinis di bibirnya, membuat Tessa semakin pucat.


"Tunggu dulu! jadi orang tua angkat yang kamu maksud itu, mama papanya Tessa?" tampak raut wajah kaget pada Julian, mendengar ucapan Reynaldi.


"Iya, benar sekali,Jul. Karena itulah aku terpaksa bersedia melakukan permintaannya untuk menjebakmu. Dia dan mamanya, tahu kalau aku bersahabat denganmu dan bekerja di perusahaanmu. Tessa ingin sekali menjadi istrimu agar dia bisa hidup enak, makanya dengan selalu menyinggung masalah balas budi, dia dan mamanya memintaku untuk menjebakmu. Karena balas budi itulah akhirnya aku bersedia melakukannya dengan syarat kalau kalian berdua menikah dia akan membujukmu untuk membebaskanku. Makanya mau tidak mau, akhirnya aku pun melaki hal yang menjijikan itu, Jul. Aku minta maaf akan hal itu!"


"Bohong, itu bohong!" pekik Tessa dengan suara meninggi.


"Aku sama sekali tidak berbohong! ini buktinya kalau tidak percaya!". Reynaldi akhirnya menunjukkan rekaman pembicaraan mereka melalui telepon, bukti chat mereka dan photo keluarga di mana ada Reynaldi di dalamnya.


Julian mengepalkan tangannya, dengan kencang dan menatap Tessa dengan tatapan ingin membunuh. Tessa kali ini benar-benar tidak bisa berkutik lagi. Wanita itu terlihat beringsut ketakutan.


Sementara itu, Sarah tersungkur duduk lemas di sofa. Dada wanita paruh baya itu terlihat turun naik, karena amarahnya kini tiba-tiba memuncak.


"Julian, sekarang giliran kamu menjelaskan ke mama, hal apa yang kamu ketahui tentang wanita ular ini!" ucap Sarah yang teringat dengan ucapan anaknya tadi yang benar-benar membuat dia penasaran.


"Semenjak mama menjodohkanku dengan dia, aku langsung menyelidikinya. Dia mengatakan kalau dia berpendidikan dan bekerja sebagai manager keuangan di sebuah perusahaan, itu bohong, Ma! dan sikap yang dia tunjukkan seolah-olah dia menyayangi Elvano, itu juga hanya pura-pura. Aku kemarin memutar ulang CCTV, dan aku melihat dengan jelas setelah mama pergi dia menyerahkan baby Vano dengan kasar ke Ayara. Dari situ aku tahu kalau dia itu bukan wanita baik. Sebenarnya, aku berencana membongkarnya di saat mama nanti masih memaksaku untuk menikahinya, ketika jangka waktu yang mama kasih habis, tapi aku masih belum menemukan wanita yang aku cari. Ternyata, sekarang semuanya sudah terbongkar lebih dulu," jelas Julian panjang lebar.

__ADS_1


"Brengsek kamu Tessa! aku menyesal sudah mempercayaimu!" pekik Sarah, sembari berdiri dari sofa dan menghambur menarik rambut wanita yang tadi mati-matian sempat dia bela.


"Aaa, sakit, Tante!" pekik Tessa, kesakitan.


Julian yang juga sudah emosi, berjalan menghampiri Tessa hendak memberikan pelajaran, tapi Gilang dengan sigap menahan tubuhnya.


"Jul jangan memukulnya, karena bagaimanapun dia itu seorang wanita. Kamu serahkan saja pada polisi," cegahnya.


"Iya, dia itu seorang wanita, jadi biarlah wanita juga yang memberikan pelajaran padanya!" Shasa yang dari tadi diam saja dan berusaha untuk menahan kegeramannya, kini buka suara dan sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak memberikan pelajaran pada wanita yang sudah memfitnah Ayara, sahabatnya.


Gilang mengangkat bahunya dan tidak menghalangi Shasa untuk menyerang Tessa. Kemudian, dia menoleh ke arah Julian dan meletakkan amplop putih yang masih tertutup rapat di telapak tangan sahabatnya itu.


"Jul, sumpah demi apapun, Semua yang aku lakukan demi kebaikanmu! dan aku juga berani bersumpah kalau aku tidak memanipulasi hasil test DNA ini. Aku bahkan belum juga melihatnya. Ini aku kasih ke kamu , untuk melihatnya sendiri,"


Dengan tangan gemetar, Julian mulai membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas. Dengan tangan gemetar juga, Julian membuka lipatan kertas itu. Air matanya tiba-tiba tidak terbendung lagi, begitu melihat hasil yang memang 99, 99persen, positif.


"Vano benar-benar putraku!" tangis Julian sesunggukan. Kemudian, pria itu memutar tubuhnya hendak berlari ke atas untuk melihat Elvano menggendong serta mencium anaknya itu.


"Hei, lepaskan aku, brengsek! kalau tidak aku tidak akan memberitahukan di mana keberadaan Ayara sekarang!" pekikan Tessa membuat Julian mengurungkan niatnya untuk naik Ke atas.


"Tentu saja aku tahu! aku sudah meminta orang suruhanku untuk membawa dia sejauh mungkin," ucap Ayara tersenyum sinis, membuat yang berada di ruangan itu terkesiap kaget, kecuali Shasa yang tampak tenang saja.


"Brengsek! sekarang kasih tahu aku, kemana mereka membawa Ayara!" kali ini Julian sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Pria itu kini mencekik leher Tessa dengan sangat kencang, hingga membuat wanita itu sulit untuk bernapas.


"Cekik saja aku sampai mati, dan aku pastikan kamu tidak akan bisa menemukan Ayara!" ancam Tessa dengan suara tersendat-sendat.


Mendengar itu, Julian mau tidak mau akhirnya melepaskan cekikannya.


"Sekarang, kasih tahu di mana Ayara?" bentak Julian tidak sabar.


"Aku akan kasih tahu, tapi dengan syarat, kamu membuat surat perjanjian hitam di atas putih tidak akan melaporkanku ke polisi. Bagaimana?" ucap Tessa, memberikan penawaran.

__ADS_1


"Gila kamu! kamu kira aku akan __"


"Kalau kamu tidak mau, kamu tidak akan mendapatkan informasi tentang Ayara, dan aku bisa saja memerintahkan orang suruhanku untuk menghabisi wanita itu. Kamu pilih mana, tidak melaporkanku atau nyawa Ayara melayang?" ejek, Tessa dengan seringaian licik di sudut bibirnya.


"Dasar wanita ular kamu!" Julian mengangkat tangannya kembali untuk memukul wajah Tessa, tapi sayangnya tangan itu hanya bisa tergantung di udara.


"Baiklah, aku akan penuhi permintaanmu. Aku kan membuat surat perjanjiannya!" pungkas Julian akhirnya, mengalah.


Bibir Tessa akhirnya melengkung membentuk senyum kemenangan, merasa kalau dirinya tidak akan dipenjara.


"Tuan Julian, jangan terlalu gegabah, mengambil keputusan. Coba sekarang Tuan minta wanita ular itu menghubungi orang suruhannya dulu, untuk memastikan apakah Ayara memang ada bersama mereka, dan juga memastikan kalau Ayara baik-baik saja," celetuk Shasa, tersenyum misterius.


"Oh, apa kamu meragukannya? baiklah akan aku hubungi orang suruhanku itu!" Tessa dengan penuh percaya diri meraih ponselnya dan menghubungi orang suruhannya. Wanita itupun dengan sangat yakin menghidupkan speaker agar semua yang berada di ruangan itu, bisa mendengar.


Sementara itu, Shasa terlihat tersenyum smirk, karena dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Ya, wanita itu tadi sudah mendapatkan pesan dari mamanya yang mengatakan kalau Ayara baik-baik saja, dan sedang dalam perjalanan ke kampung halaman mereka. Mamanya itu juga mengingatkan dia agar untuk sementara waktu tidak memberitahukan di mana keberadaan Ayara dan baby Elvano pada Julian dan Sarah, agar kedua orang itu tersiksa dulu dalam penyesalan mendalam dan mereka tahu rasanya kehilangan.


"Halo, Nona Tessa! apa wanita yang bernama Ayara itu sudah keluar dari rumah?" belum juga Tessa buka suara, pria yang berada di ujung telepon sudah bertanya lebih dulu.


"A-apa maksudmu? apa Ayara belum bersama dengan kalian? dia sudah keluar dari tadi?"


"Tidak sama sekali, Nona! dari tadi kami tidak melihat seorang wanita yang keluar dari dalam rumah itu. Kami sudah menunggu dari tadi"


Wajah Tessa seketika berubah pucat, keringat dingin juga sudah menetes di pelipisnya. "Sial, kemana wanita itu! apa dia tidak mengindahkan ancamanku tadi yang akan mencelakakan anaknya?" batin Tessa dengan tubuh yang gemetar.


"Ti-tidak. Aku tidak boleh menyerah, aku harus melakukan sesuatu!" Tessa kemudian berbalik dan langsung berlari ke atas menuju kamar Elvano. Tujuannya cuma satu, yaitu ingin menjadikan bayi kecil itu sebagai tameng, mengancam Julian agar dia dilepaskan oleh pria itu.


"Tessa, Bangsat kamu!" Julian ikut berlari, mengejar Tessa ke atas.


Tessa yang lebih dulu masuk ke kamar Baby Elvano, langsung menuju box bayi di mana dia tahu kalau anak itu masih tertidur.


Matanya sontak membesar begitu melihat box itu sudah kosong. Di saat bersamaan, Julian juga masuk dan menghambur ke arah box. Pria itu seketika shock melihat baby Elvano tidak ada di dalam.

__ADS_1


tbc


Maaf, kemarin tidak up, karena tadi malam bantu-bantu temanku yang harus pulang kampung karena mendapat kabar papanya meninggal di kampung.


__ADS_2