Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Kemarahan Shasa


__ADS_3

"Kalian berdua, kenapa datang ke sini?" nada bicara Julian terdengar sangat dingin.


"Di mana Ayara?" tanya Gilang tanpa basa-basi, sama sekali tidak mengindahkan pertanyaan Julian.


"Buat apa kamu tanyakan dia? dia sudah memberikan kamu laporan kalau dia sudah aku usir ya? dia sudah tidak ada di sini! kalau kamu mau cari dia silakan!"


Bugh


sebuah tinju tiba-tiba mendarat keras di pipi Julian, tanpa pria itu bisa elak, karena memang posisinya dia tidak menyangka kalau Gilang akan melakukan tindakan itu.


"Bangsat! beraninya kamu memukulku!" Julian menyeka setetes darah yang keluar dari sudut bibirnya, lalu menatap Gilang dengan sengit.


"Kamu memang pantas mendapatkannya, pengecut!" maki Gilang dengan napas yang memburu .


Julian mendengus dan meludah dengan tatapan yang sekarang lebih sinis dari di awal. "Kenapa? kamu tidak terima kalau wanita yang kamu cintai itu, aku usir? asal kamu tahu, dia itu pembohong, Gilang. Dia itu__"


Bugh


Sekali lagi, tinju Gilang mendarat di pipi Julian, sehingga ia tidak jadi melanjutkan ucapannya.


"Dia itu apa? kamu mau mengatakan kalau dia itu murahan, begitu? kamu mau mengatakan kalau dia wanita yang hanya menginginkan harta, begitu maksudmu?"suara Gilang terdengar menggelegar.


"Dan memang itu kenyataannya kan? asal kamu tahu, tadi dia mengaku kalau ternyata dia adalah ibu kandung dari Elvano. Maksud dia apa coba datang berpura-pura jadi pengasuh? dia pasti berharap, dengan aku melihat dia mengurus anak dengan baik, aku akan terpesona dan menikahinya. Dia menggunakan cara licik dengan menggunakan kondisi putranya sendiri untuk menjerat pria kaya, bukannya itu licik, Gilang?" suara Julian tidak kalah tingginya dari suara Gilang.


"Dan memang kamu terpesona dengan dia kan? hanya saja kamu tidak mau mengakuinya," Gilang tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Jangan asal bicara! aku sama sekali tidak terpesona pada wanita seperti itu! wanita yang di kepalanya hanya ada harta. Sampai dia melakukan cara rendahan itu. Dia bahkan dengan tidak ada malunya, berusaha mendekati kita berdua sekaligus!"


"Sialan kamu Julian, kalau bukan mengingat kamu itu sahabatku, aku tidak akan segan menghajarmu sampai kamu masuk rumah sakit!"


"Silakan saja! tadi kamu mungkin bisa dengan mulus memberikan aku bogem mentah karena aku dalam posisi tidak siap. Tapi, sekarang bisa aku pastikan kalau kamu tidak akan bisa menyentuhku sedikitpun," napas Julian terlihat memburu dan tatapan pria itu terlihat berapi-api.


Gilang ingin kembali melayangkan tinjunya. Namun dia berusaha menahan amarahnya, karena dia tahu kalau dia melakukan hal itu lagi bisa dipastikan salah satu dari mereka akan masuk ke rumah sakit, mengingat kalau mereka sama-sama menguasai ilmu bela diri yang sama.


"Sudah, cukup! Tuan Gilang, sebaiknya kita mencari Ayara sekarang, sebelum dia benar-benar jauh. Aku rasa di belum cukup jauh!" Shasa yang dari tadi diam saja, akhirnya buka suara.


"Ayo Julian, kita cari dia sama-sama sebelum kamu menyesal nantinya!" Kali ini Gilang merendahkan suaranya.


"Menyesal? kenapa aku harus menyesal?" gumam Julian.


"Karena dia itu__"


"Dan kamu Gilang, kenapa kamu harus marah-marah di sini pada putraku. Kamu lebih baik pergi dari sini. Jangan coba-coba meracuni pikiran Julian lagi untuk mencari Ayara, paham kamu!" lanjutnya lagi sembari menatap Gilang dengan tatapan sengit.


Kemudian, wanita paruh baya itu mengalihkan tatapannya ke arah Shasa yang matanya kini sudah berembun, ingin menangis karena kepikiran dengan keberadaan Ayara sekarang.


"Dan kamu, Sasha. Tante kecewa denganmu. Karena saran kamu lah makanya kamu menerima wanita itu jadi pengasuh di sini!"


"Kalau tidak terpaksa aku juga tidak mau menawarkan Ayara untuk jadi pengasuh, Tante! dia berpendidikan dan bisa mudah untuk mendapatkan pekerjaan, tapi ini semua dia lakukan karena dia hanya ingin dekat dengan putranya sendiri. Asal Tante tahu, dia juga berat untuk memberikan baby Elvano pada putra Tante ini, pria yang sudah merengut paksa kesuciannya!" emosi Shasa sudah tidak terbendung lagi. Wanita itu kini berbicara dengan meluap-luap, tidak peduli kalau lawan bicaranya sekarang adalah majikan mamanya dan atasannya di kantor.


"A- apa maksud kamu?" mata Julian terlihat membesar, terkesiap kaget mendengar ucapan Shasa.

__ADS_1


"Apa maksudku? apa maksudku masih kurang jelas, Tuan Julian yang terhormat? kamu tidak mungkin lupa kan kejadian dua tahun yang lalu, di mana kamu dijebak seseorang dan kamu akhirnya menghancurkan masa depan seorang gadis? kamu tidak lupa kan? ya, gadis itu Ayara!" ucap Shasa dengan wajah memerah penuh amarah.


Julian sontak membeku di tempatnya, tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Aku tahu, kalau dalam pemikiranmu sekarang, kamu tidak percaya dan merasa kalau itu tidak mungkin. Tapi itulah kenyataannya. Aku berani bersumpah demi langit dan bumi kalau apa yang aku katakan tadi, itu benar!" nada bicara Shasa semakin berapi-api hingga terlihat dada wanita itu yang turun naik.


"Kamu tahu, kalau anak yang ada di rumah kamu sekarang adalah anak kamu dan Ayara,"


Julian semakin terkesiap kaget demikian juga dengan Sarah, saking kagetnya sampai Julian sulit untuk bicara.


"Ya, karena perbuatanmu, Ayara hamil. Dia merasa kalau bayi itu tidak punya salah, akhirnya dia memutuskan untuk mempertahankannya. Kamu bisa bayangkan tidak, dia harus mengandung di saat dia masih kuliah, dan dia juga harus tetap bekerja. Dia tidak punya orang tua untuk mendukungnya karena dia sudah yatim piatu, dia itu hanya punya aku, dan mamaku, Tuan Julian. Di saat dia harus memilih antara tetap mempertahankan anak itu dan masa depannya yang cerah dan sudah ada di depan mata, dia memilih untuk mempertahankan anak kalian. Apa itu yang kamu sebut wanita murahan? Kalau bukan karena baby Elvano butuh biaya besar untuk operasi, dia pasti tidak akan memberikan anak itu padamu, Tuan Julian," lanjut Shasa lagi, karena melihat Julian yang tidak memberikan respon sama sekali.


"Lihat ini!"Shasa mengeluarkan ponselnya dan menunjuk rekaman Video di mana Ayara meletakkan bayi Elvano di depan pintu pagar dengan keadaan menangis. Setelah itu, dia menunjukkan juga video ketika Ayara berlari mengejar mobil Julian, saat membawa baby Elvano yang saat itu kritis ke rumah sakit.


"Dia tersiksa, Tuan Julian. Tapi, dia tidak mampu. Tuan bisa bayangkan, bagaimana bahagianya dia ketika aku mengatakan kalau Tuan mencari pengasuh, tanpa pikir panjang, dia langsung mengabaikan tawaran kerja dan lebih memilih untuk jadi pengasuh, yang penting dia masih bisa memperhatikan tumbuh kembang anaknya. Wanita seperti itu yang anda katakan, jadi pengasuh hanya karena ingin mendekati anda? tidak sama sekali Tuan. Justru dia jadi pengasuh, berusaha untuk melawan rasa takutnya," Shasa berhenti bicara untuk sejenak, untuk mengatur napasnya karena terlalu banyak bicara tanpa jeda.


"Tuan, tahu kenapa aku bilang dia melawan rasa takut? itu karena dia takut Tuan masukkan dalam penjara," lanjut Shasa lagi setelah napasnya sudah sedikit teratur.


Kali ini Julian mengrenyitkan keningnya, merasa ucapan Shasa sangat ambigu.


"Takut aku penjarakan? tapi kenapa dia takut?"


"Sebaiknya kita masuk ke dalam dulu! aku akan menjelaskan semuanya padamu, khususnya takut yang dimaksud oleh Shasa!" Gilang yang dari tadi hanya diam saja, akhirnya buka suara kembali. Nada bicara pria itu juga sudah terlihat normal seperti biasa.


Sementara itu, di dalam rumah, tampak seorang wanita berjalan mengendap-endap sembari mambawa baby Elvano di gendongannya. Wanita itu langsung menuju pintu belakang agar dia bisa membawa pergi baby Elvano tanpa ketahuan.

__ADS_1


"Ayara, apa yang kamu lakukan?" wanita yang ternyata Ayara itu, sontak menghentikan langkahnya dan dengan tubuh gemetar menoleh ke arah Mbok Sumi yang ternyata sudah menangkap basah dia.


Tbc


__ADS_2