
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kantor Gilang, tampak pria itu sedang bersiap-siap untuk melakukan meeting penting dengan para dewan direksi.
"Ini dokumen yang kamu butuhkan, Tuan Gilang!" Shasa meletakkan beberapa dokumen di depan Gilang.
"Emm," gumam Gilang singkat.
" Cih, apa susahnya sih dia mengucapkan kata terima kasih?" bisik Shasa pada dirinya sendiri.
"Kalau begitu aku bisa keluar sekarang, Tuan?" Shasa berharap Gilang menganggukan kepalanya, karena sekarang dia sudah begitu lapar, mengingat dari tadi pagi perutnya belum disentuh oleh makanan. Mengingat demi menyelesaikan dokumen-dokumen itu, dia sudah ke kantor pagi sekali tanpa sarapan.
"Apa kamu katakan? kamu mau pergi? kamu tahu kan kalau kita akan rapat?" Gilang menatap Shasa dengan tajam.
"Tapi, Tuan ... anda kan punya asisten pribadi Dan aku hanya sekretaris. Apa aku harus ikut rapat juga?"
"Iya, kamu harus ikut. Kamu bisa membantu mencatat garis-garis besar keputusan hasil rapat nanti," tegas Gilang tak terbantahkan.
Shasa mengembuskan napas dengan keras, benar-benar merasa kesal. Kalau bukan di kantor yang menuntut dirinya harus profesional, ingin sekali dia mengumpat dan mencabik-cabik wajah pria di depannya itu.
"Apa lagi yang kamu tunggu? ayo ambil lagi dokumennya!" titah Gilang dengan raut wajah datar.
Shasa kembali mengembuskan napasnya dan meraih dokumen-dokumen itu dari atas meja.
"Ya Tuhan, aku sudah sangat lapar. Rapatnya pasti akan lama," keluh Shasa dalam hati.
"Ayo, kenapa kamu masih diam saja di sana!" tegur Gilang, karena Shasa masih diam saja di tempatnya berdiri.
Shasa menggeram, dan mengangkat tangannya seperti hendak mencekik pria di depannya itu. Tapi, tentu saja wanita itu melakukannya di saat pria itu membelakanginya.
Tanpa Shasa sadari, Gilang tersenyum tipis, melihat kekesalan Shasa. Karena ternyata pria itu tadi sempat melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu melalui ekor matanya.
Gilang akhirnya melangkah keluar dan Shasa mengekor di belakang sembari berusaha menahan rasa laparnya.
Setelah berjalan beberapa menit, mereka berdua akhirnya tiba di ruang rapat yang sudah dipenuhi dengan para dewan direksi. Asisten pribadi Gilang juga sudah ada di ruangan itu.
__ADS_1
Tidak menunggu beberapa lama lagi, rapatpun dimulai. Shasa benar-benar sudah merasa sangat lapar, tapi dia masih berusaha untuk tetap konsentrasi mengikuti rapat.
Krukkk ... krukkk
bunyi perut Shasa terdengar jelas di telinga Gilang.
"Tadi bunyi perutmu ya?" bisik Gilang, meledek.
"Udah tahu nanya. Aku lapar banget tahu nggak sih," Shasa balik berbisik.
"Ya udah, kamu keluar saja, dan makan. Aku tidak mau kamu pingsan di sini. Kalau kamu pingsan siapa yang akan angkat kamu? aku mah ogah," bisik Gilang lagi, membuat bibir Shasa mengerucut.
"Aku juga ogah diangkat sama kamu,"
"Sudah, sudah, kamu cepat keluar sana!" titah Gilang, yang tentu saja tetap dengan mode berbisik.
"Bagaimana, aku bisa keluar? apa alasanku?
Gilang kemudian berdeham dan mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar orang yang sedang berbicara sekarang, menghentikan ucapannya dulu untuk sementara.
Shasa sontak bergeming, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
"Apa kamu mendengar perintahku Shasa?" Gilang dengan sengaja meninggikan suaranya, karena melihat wajah Shasa yang kebingungan.
"I-iya, Tuan, aku dengar," sahut Shasa gugup.
"Kalau kamu mendengarnya, kenapa kamu masih duduk?"
Shasa sontak berdiri dari kursinya. "Baik, Tuan aku keluar dulu!" Shasa keluar dari kursinya dan melangkahkan kakinya keluar.
"Apa tadi dia sengaja melakukan hal itu agar aku bisa keluar untuk makan? kalau iya, ternyata dia masih punya hati juga. Tapi, apa nanti aku benar-benar harus beli makanan untuknya juga atau bagaimana?" kalau iya, dia mau aku belikan makanan apa?" Shasa masih tetap berdiri di depan pintu.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, pertanda ada pesan yang masuk.
__ADS_1
"Kamu kenapa masih berdiri di depan pintu? kamu mau aku suruh masuk lagi?"
Shasa tersentak kaget membaca pesan yang ternyata berasal dari Gilang. "Kenapa dia bisa tahu aku masih ada di depan pintu?" Shasa mengedarkan pandangannya untuk mencari kamera CCTV.
"Astaga, niat sekali dia sampai melihat rekaman CCTV? apa dia mau memantau aku sampai aku benar-benar keluar dari gedung ini? apa dia tidak percaya kalau aku memang lapar? dasar pria aneh!" Shasa dengan sengaja menjulurkan lidahnya ke arah kamera.
Di dalam sana, Gilang tiba-tiba tergelak sembari menatap ke arah ponselnya, membuat para peserta rapat saling silang pandang, bingung. Namun tidak ada yang berani memprotes apa yang dilakukan oleh pemilik perusahaan itu, walaupun sikap yang baru saja dilakukan pria itu tidak memperlihatkan sikap profesional.
Mata Gilang tiba-tiba membesar dengan sempurna, begitu melihat di layar ponselnya, tampak seorang pemuda yang dia ketahui selalu berusaha mendekati Shasa, menghampiri wanita itu yang sedang menunggu pintu lift terbuka. Gilang sontak mengalihkan rekaman CCTV ke dalam ruangan lift yang ternyata kosong.
"Berarti nanti hanya mereka berdua yang ada di dalam lift. Tidak boleh jadi ini," raut wajah Gilang sontak berubah merah.
Tanpa berpikir panjang, Gilang langsung berdiri dari kursinya membuat semua yang berada di ruangan itu terjengkit kaget.
"Tony, kamu pimpin rapatnya. Aku serahkan semuanya ke kamu! aku ada urusan penting! maaf semuanya, rapatnya aku tinggal dulu!" tanpa menunggu jawaban dari Tony asisten pribadinya, Gilang langsung beranjak pergi sembari berlari kecil.
Setelah di luar Gilang melihat pintu lift terbuka. Shasa dan pria itu sama-sama masuk ke dalam. Gilang yang tidak mau kehilangan jejak langsung berlari dan langsung menekan tombol open, sebelum pintu lift itu benar-benar tertutup.
Shasa dan pria tadi tentu saja terjengkit kaget melihat kemunculan Gilang yang tiba-tiba.
"Sial!" kenapa Tuan Gilang tiba-tiba muncul sih? aku jadi kehilangan kesempatan kan untuk mengajak Shasa makan siang bersama," batin pria yang berdiri di samping Shasa, kesal.
"Tuan Gilang, kenapa anda bisa ada di sini? apa rapatnya sudah selesai? kenapa cepat sekali?" cecar Shasa dengan kening berkerut.
"Aku juga lapar," sahut Gilang, singkat, dengan ekor mata yang melirik tajam ke arah pria yang berdiri di samping Shasa.
Melihat lirikan tajam dari Gilang, pria itu, seakan mengerti kalau pemilik perusahaan tempat dia bekerja itu, tidak suka kalau dirinya berdiri terlalu dekat dengan Shasa. Tanpa dikomando, pria itu pun mundur beberapa langkah ke belakang.
"Eh, kenapa kamu mundur?"tanya Shasa sembari menoleh ke belakang.
"Kalau dia mau mundur berarti dia memang mau mundur. Kenapa hal seperti itu pun harus kamu tanyakan?" cetus Gilang dengan ketus dan raut wajah datar.
Sementara itu, Shasa hanya bisa mendengkus dan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
tbc