
Julian menepikan mobilnya di depan sebuah toko bunga yang dia tahu tempat Ayara dulu pernah bekerja.
Kedatangan pria itu tentu saja disambut dengan baik oleh karyawan toko yang memang tahu siapa Julian.
Manager dan pemilik toko bunga itu, bahkan menganggap kedatangan Julian adalah sebuah tanda-tanda kemajuan pada toko bunga mereka itu.
"Emm, Tuan Julian ke sini mau cari bunga ya? mau bunga yang seperti apa, Tuan?" tanya manager yang memutuskan untuk terjun langsung melayani Julian.
"Maaf, kedatanganku ke sini bukan untuk membeli atau memesan bunga. Tapi, aku datang ke sini untuk bertanya, apa benar, dulu ada wanita yang bernama Ayara bekerja di sini?" tanya Julian dengan hati-hati.
Manger yang bernama Sinta itu, mengrenyitkan keningnya, merasa bingung, mengingat kalau kemarin ada dua pria juga yang mencari keberadaan Ayara. "Ada apa dengan Ayara? apa hubungannya Ayara dengan pria ini?" batin Sinta.
"Nona, kenapa anda tidak menjawab? apa benar Ayara pernah bekerja di sini?" ulang Julian lagi, tidak sabar.
"Iya, Tuan! dia memang pernah bekerja di sini. Ada apa ya Tuan dengan Ayara? soalnya Tuan Gilang dan Tuan Reynaldi kemarin juga datang ke sini untuk mencarinya. Apa dia pernah melakukan kesalahan, saat mengantarkan bunga?" tanya Sinta dengan sangat hati-hati.
"Tidak pernah. Aku hanya memasatikan saja. Apa hari ini dia
datang ke sini?" tanya Julian dengan sangat hati-hati dan berharap akan mendapatkan jawaban seperti yang dia inginkan.
"Maaf sekali, Tuan. Ayara sudah cukup lama tidak lagi bekerja di sini dan kami tidak tahu dia sekarang bekerja di mana,"
Julian sontak menghela napasnya dengan sekali hentakan begitu mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
__ADS_1
"Nona, aku mau tahu, bisakah kamu menceritakan apa saja yang dia lakukan saat bekerja di sini? terlebih saat dia hamil?"
Pertanyaan Julian semakin membuat wanita bernama Sinta itu semakin penasaran dengan hubungan Ayara dengan pria tampan di depannya itu. Namun, dia tidak terlalu memperlihatkannya dan dia tetap menceritakan apa yang dia tahu tentang Ayara.
Mata Julian berembun berusaha menahan tangis, saat mendengar semua cerita Sinta yang benar-benar tidak bisa bayangkan, kalau dia berada di posisi Ayara saat itu. Namun, Julian berusaha tetap bersikap biasa saja, karena dia tidak mau terlihat lemah di depan orang lain saat ini
"Nona, Terima kasih sudah memperlakukan Ayara dengan baik selama ini. Tolong katakan pada Pemilik toko bunga ini, kalau aku akan memberikan tambahan modal untuk memperbesar toko ini. Aku permisi dulu!" Julian, memutar tubuhnya hendak pergi.
" Tuan Julian, maaf tunggu sebentar. Dari kemarin asisten anda datang ke sini mencari keberadaan Ayara, dan sekarang Tuan juga. Bukannya bermaksud lancang,kalau boleh tahu, sebenarnya apa hubungan anda dengan Ayara?" tanya Sinta dengan sangat hati-hati, takut kalau pria di depannya itu marah. Tapi, sumpah demi apapun, dia benar-benar sangat penasaran.
"Ayara pernah mengatakan kalau dia pernah menikah kan?" Sinta menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Nah, aku adalah suaminya, dan bayi yang dia lahirkan itu anakku. Pernikahan kami pernikahan yang tertutup dan tidak melakukan resepsi. Ayara tiba-tiba pergi Entah kemana Dan aku sama sekali tidak tahu dia hamil. Sekarang aku sedang mencarinya, Nona," terang Julian terpaksa berbohong walaupun memang tidak sepenuhnya, karena di bagian yang dia tidak tahu, kehamilan Ayara adalah benar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Julian tampak menepikan mobilnya, masuk ke pekarangan rumahnya. Setelah turun dari mobil, pria itu berjalan dengan gontai, untuk masuk ke dalam rumahnya. Tampak jelas wajah kelelahan dan kusut di raut wajah pria itu.
"Kamu sudah pulang, Nak?" sambut Sarah begitu Julian menapakkan kakinya di lantai rumahnya.
"Sudah, Ma!" sahut Julian singkat dan lirih.
"Bagaimana, apa kamu sudah tahu di mana keberadaan Ayara dan Baby Elvano?" Sarah melihat ke arah pintu masuk berharap Ayara dan baby Elvano muncul dari pintu itu.
__ADS_1
"Aku tidak menemukan mereka berdua, Ma. Aku sudah mencari kemana-mana. Aku pergi ke tempat dia bekerja dulu, aku juga pergi ke rumah yang dia kontrak dulu, hasilnya nihil. Ayara sama sekali tidak ada," terang Julian dengan wajah sedih dan frustasi.
Sarah mengembuskan napasnya dengan embusan yang cukup berat. Dia tahu bagaimana perasaan putranya itu sekarang. "Sabar ya, Nak. Mama yakin, kamu pasti akan bisa menemukan keduanya," ucapnya sembari menepuk-nepuk pundak putranya itu dengan lembut, gumam memberikan rasa tenang.
"Apa kamu sudah makan malam? ayo kamu makan dulu!" sambung Sarah kembali.
"Maaf, Ma. Aku mau langsung ke atas. Aku tidak lapar sama sekali!" tolak Julian. Lalu dia mulai mengayunkan kakinya untuk melangkah pergi.
"Julian, jangan seperti ini, Nak! Mama tahu kalau kamu lagi sedih, tapi kamu itu harus tetap makan. Mama tidak mau kamu jatuh sakit. Kamu itu harus tetap sehat, supaya kamu ada tenaga untuk mencari keberadaan Ayara dan cucu mama," Julian yang nyaris menapakkan kakinya di anak tangga pertama sontak mengurungkan niatnya begitu mendengar ucapan Sarah, mamanya.
Kemudian, Julian berbalik kembali, menoleh ke arah wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Ma, bagaimana aku bisa makan, sedangkan aku tidak tahu, di mana dan bagaimana kondisi Ayara dan anakku sekarang? apa mereka sudah makan? apa mereka menemukan tempat tinggal atau mereka akan tidur di jalananan,. aku sama sekali tidak tahu, Ma! Aku benar-benar khawatir dengan kondisi mereka berdua," Julian kini sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak meneteskan air mata. Pria itu kini sudah terduduk di atas anak tangga dengan tangan yang menggusak -gusak kepalanya dengan kasar.
Sarah terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. lagi. Wanita paruh baya itu sekarang benar-benar melihat bagaimana lemahnya putranya itu sekarang dan hal itu membuat dirinya semakin merasa bersalah.
"Tuan Julian ... Tuan tidak perlu khawatir, Mbok sudah lama mengenal Ayara. Ayara itu wanita yang kuat, dan pantang menyerah. Aku yakin Tuan juga pasti tidak bisa memungkirinya, iya kan? percayalah, Tuan, kalau Ayara dan anakmu sekarang pasti dalam keadaan baik-baik saja, karena Ayara pasti tidak akan pernah membiarkan anaknya sendiri terlantar. Ayara pasti memberikan yang terbaik pada baby Vano. celetuk Sumi yang tiba-tiba muncul.
Julian tidak menjawab sama sekali, pria itu hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Tuan sekarang lebih baik semakin kuat berusaha untuk menemukan mereka berdua dan untuk bisa kuat, Tuan harus tetap makan. Kalau Tuan tidak makan, itu sama saja Tuan menyiksa diri sendiri," Sumi kembali memberikan nasehat
"Iya, Mbok. Terima kasih! tapi sekarang aku memang benar-benar tidak lapar. Nanti kalau aku sudah lapar, aku akan ambilkan sendiri makanannya," ucap Julian kembali berdiri dan melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.
__ADS_1
"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak memberitahukan Tuan di mana keberadaan Ayara dan baby Elvano sekarang. Bukannya aku tidak kasihan, tapi aku hanya ingin melihat sebesar apa perjuangan Tuan untuk bisa menemukan keberadaan mereka berdua," bisik Sumi pada dirinya sendiri sembari melihat ke arah punggung Julian yang semakin menjauh.
tbc