
"Entah kenapa aku merasa kalau dokter Farell itu berbohong. Aku bisa melihat dari matanya," ujar Reynaldi ketika mereka sudah berada di dalam mobil, di jalan mau kembali ke hotel.
"Tidak mungkin dia berbohong, Jul. Apa yang dia katakan masuk akal, kan? Ayara punya bayi yang masih harus menerima imunisasi atau juga minimal harus mengukir pertambahan berat badannya setiap bulan. Di sini yang dokter hanya dia saja, jadi tidak mungkin dia tidak kenal," tutur Reynaldi.
"Entahlah, Rey. Tapi, entah kenapa hatiku berkata kalau dia itu berbohong. Aku juga masih merasa sangat yakin kalau yang aku lihat tadi pagi itu adalah Ayara. Hatusi kita jangan bertanya hanya pada satu orang saja, kita harus bertanya pada beberapa penduduk di sana,"
Reynaldi terdiam, merasa kalau ucapan Julian itu benar. "Pak, bisa putar balik? kita kembali ke tempat tadi lagi!" titah Reynaldi akhirnya.
Supir itu kemudian menganggukkan kepalanya dan memutar balik setelah dia menemukan belokan.
Sekitar 20 menit mereka kini sudah tiba di tempat mereka berbicara dengan Farell.
"Agak ke depan lagi, Pak. Desa yang di sana!" lagi-lagi supir itu menganguk dan melajukan kembali mobilnya.
Setelah tiba di perkampungan itu, Julian dan Reynaldi pun turun dari mobil dan menyapa beberapa wanita yang sedang bercengkrama di teras rumah.
Para wanita- wanita itu sontak saja merasa kagum dan heboh serasa mereka sedang melihat artis ibu kota ketika melihat Julian dan Reynaldi.
"Bu, mau numpang tanya, apa ada wanita cantik bernama Ayara di kampung ini? dia punya anak laki-laki, yang dikasih nama Elvano," Reynaldi buka suara dengan sangat ramah sembari menundukkan foto Ayara dan baby Elvano.
Wanita-wanita itu tidak langsung menjawab. Mereka semua saling silang pandang lebih dulu sampai akhirnya sama-sama menggelengkan kepala.
"Oh, tidak ada ya? apa ibu-ibu yakin tidak ada?" tanya Reynaldi lagi memastikan.
"Beneran, Kang kasep, tidak ada yang namanya Ayara di sini," sahut salah satu wanita itu dan dibenarkan oleh yang lain.
"Kalau begitu, terima kasih, Ibu-ibu! permisi!" Reynaldi kemudian berjalan menghampiri Julian yang dengan tidak sabar menunggu di samping mobil.
"Bagaimana? ada kan?" cecar Julian dan Reynaldi menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu.
"Tidak mungkin! kenapa bisa tidak ada ya?" Julian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apanya yang tidak mungkin? nih buktinya kata mereka tidak ada. Apa perlu seluruh kampung ini kita tanya? apa mereka saja tidak cukup? kalau melihat mereka yang siang-siang begini sudah bergosip, tidak mungkin mereka tidak mengenal Ayara kan? apalagi kalau wanita pendatang baru dengan status janda anak satu, pasti akan selalu menarik perhatian para ibu-ibu yang merasa khawatir suami mereka kepincut dengan wanita muda yang cantik," tutur Reynaldi, memberikan alasan yang masuk akal.
"Kamu bisa tidak berhenti memuji-muji Ayara cantik! Sekali lagi kamu memujinya, aku sumpal mulutmu!" umpat Julian, geram.
"Jadi aku harus mengatakan apa? apa aku harus mengatakan kalau dia jelek?"
__ADS_1
"Jaga mulutmu! jangan kamu juga mengatakan dia jelek. Itu sama saja kamu mengejeknya!" Julian tetap tidak terima. Entah apa maunya pria itu, hanya dialah yang tahu.
"Serba salah ... bilang cantik salah, bilang jelek juga salah," gumam Reynaldi sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Jadi sekarang bagaimana? apa kita tanya lagi yang lain atau kita balik?" Reynaldi sama sekali tidak mau mendebat Julian lagi, karena dia tahu kalau dia pasti akan kalah.
"Seperti yang kamu katakan tadi, kalau ibu-ibu seperti mereka tidak mungkin tidak kenal dengan wanita cantik, single mom. Ayo kita balik saja!" pungkas Julian akhirnya.
Reynaldi mengembuskan napas lega, karena jujur saja dia sudah letih ditambah sudah sangat lapar.
"Atau, apa di arah sana ada desa lagi, Pak?" tanya Julian, membuat embusan napas lega Reynaldi kembali lagi ke mulutnya.
"Jul, apa kita akan mencari Ayara lagi ke arah sana kalau memang ada desa lagi? karena tanpa kamu tanya juga pasti ada desa di sana," Julian mulai protes.
"Iya, Tuan Julian, masih ada dua atau tiga desa lagi ke arah sana. Apa kita akan ke sana juga, Tuan?" tanya supir dengan lemah, karena sebenarnya dia juga sudah lapar.
"Sepertinya kapan-kapan saja! ayo kita balik saja!" Julian masuk ke dalam mobil disusul oleh Reynaldi.
Begitu mobil Julian dan Reynaldi berlalu. Tiba-tiba, Sopiah muncul dari sebuah gang sembari mendorong mobilan yang berisi baby Elvano.
"Eh, Ibu-ibu lagi liatin apa?" tanya Sopiah sembari melihat ke arah mana mata ibu-ibu itu memandang.
"Baru saja, Bu Endang. Emangnya kenapa?"
"Ng-nggak kenapa-napa, Bu. Tadi soalnya gak ada di sini, tiba-tiba ada, kan jadi kaget," ucap wanita bernama Endang itu gugup. " Ibu Sopiah mau kemana bawa si ganteng ini?" Endang kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Mau ke warung sebentar, Bu. Ya udah, aku izin ke warung dulu ya, Ibu-ibu!" Sopiah berlalu pergi setelah mendapat sahutan dari para ibu-ibu itu.
"Aduh, hampir saja! untung Ibu Sopiah datang pas dua orang itu pergi. Kalau tidak, kita pasti ketahuan bohong." para ibu-ibu yang ada di tempat itu, terlihat mengembuskan napas lega.
"Kan kasihan Nak Ayara kalau pria tadi langsung membawa anaknya itu pergi. Dasar mantan suami tidak guna. Ganteng sih, tapi aku amit-amit punya suami tukang selingkuh," ucap Endang yang diiyakan oleh para ibu-ibu yang lain.
"Untung tadi, Dokter Farell mengingatkan kita ya, agar kita menyangkal mengenal Ayara. Kalau tidak, tidak bisa aku bayangkan kalau laki-laki tadi mengambil paksa, baby Vano. Kasihan Nak Ayara jadinya," sambung salah satu ibu yang lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di sebuah sekolah SD tampak Farell, sudah berdiri di samping mobilnya tepat di depan sekolah tempat Ayara mengajar. Karena memang sudah saatnya wanita itu pulang.
__ADS_1
Sementara di dalam sana, Ayara dan Aura sedang berjalan bersama untuk menuju pintu gerbang. Aura terlihat sibuk mengabadikan momen anak-anak yang masih bermain di halaman sekolah, menggunakan handponenya. Sesekali Aura juga memperlihatkan wajah Ayara dan meminta wanita itu untuk tersenyum.
"Ra, udah ah! ayo kita jalan cepat!"
"Iya, iya. Kamu tunggu di pintu gerbang ya, aku mau ambil motor dulu!" Ayara menganggukkan kepalanya dan melangkah menuju pintu gerbang.
Betapa kagetnya Ayara begitu melihat sosok Farell yang kini menyender di mobilnya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Dokter Farell? kenapa Dokter bisa ada di sini? apa dokter ada keperluan penting?" sapa Ayara, dengan ramah.
Farell mengukir senyuman di bibirnya dan melangkah mendekati Ayara.
"Ya tentu saja aku ke sini karena ada urusan penting. Urusanku untuk menjemput kamu!" sahut Farell, membuat Ayara mengrenyitkan keningnya.
Di saat bersamaan, Aura pun keluar dengan sepeda motornya. Reaksinya sama seperti reaksi Ayara. Gadis itu juga kaget melihat keberadaan Farell di tempat itu
"Dokter Farell, kamu tidak perlu susah-susah untuk menjemputku. Aku akan pulang bersama dengan Aura. Lagian, bukannya seharusnya Dokter itu ada di klinik? kenapa bisa ada di sini?" kerutan di kening Ayara sama sekali terlihat tidak berkurang.
"Ya, aku memang seharusnya berada di klinik, tapi tiba-tiba aku sangat ingin menjemputmu. Apa kamu tega menolak, padahal aku sudah berusaha menyempatkan waktu menjemputmu? please ayolah naik ke mobilku!" bujuk Farell sembari memasang wajah sedih.
"Tapi, aku .... " Ayara melihat ke arah Aura.
"Tidak apa-apa, Ay. Kamu ikut mobil dokter Farell saja! aku akan pulang sendiri!" Aura buka suara, mengerti maksud tatapan Ayara. Dia tahu kalau sahabatnya itu pasti merasa tidak enak hati padanya.
"Tidak, Ra, aku pulang denganmu saja! maaf dokter Farell!" tegas Ayara sempat berjalan menghampiri motor Aura.
"Ya, kamu ternyata tega ya, Ayara. Kamu tahu sendiri kalau aku ini sibuk, tapi aku tetap mengusahakan untuk menjemputmu, tapi kamu sama sekali tidak mau. Aku benar-benar sedih, sumpah!" Farell sengaja memasang raut wajah sedih, berharap kalau Ayara berubah pikiran.
"Sudahlah, Ay. Aku benaran tidak apa-apa. Kasihan dokter Farell. Kamu ikut mobilnya saja ya!"
Ayara mengembuskan napasnya perlahan dan kemudian melangkah mendekati Farell.
" Baiklah dokter Farell. ayo kita pulang!" pungkas Ayara akhirnya.
"Yes, setidaknya nanti kalau berpapasan dengan mobil Julian di tengah jalan, Julian tidak akan melihat Ayara ada di dalam mobil," Sorak Farell dalam hati.
"Beruntung juga aku sudah berhasil menghasut ibu-ibu di desa tadi dan memfitnah Julian," lagi-lagi Farell bersorak dalam hati.
__ADS_1
Tbc.