
"Tuan Julian, boleh minta waktunya sebentar?" Sumi kini sudah berdiri di dekat Julian setelah pria itu baru saja meniup lilin angka satu yang ada di atas kue. Sementara Sarah, begitu selesai meniup lilin, langsung beranjak pergi karena merasa tidak kuat untuk tidak menangis.
"Apa ada yang sangat penting, Mbok? apa Mbok lagi butuh uang?" Julian mengrenyitkan keningnya.
"Iya Tuan, ada sesuatu yang ingin aku kasih tahu ke Tuan dan ini mengenai__" belum selesai Sumi berbicara, handponenya Julian tiba-tiba berbunyi, hingga membuat Sumi mengurungkan bicaranya untuk sementara.
"Maaf ya, Mbok, aku angkat telepon dulu!" Mbok Sumi menghela napas dan mengangukkan kepalanya.
"Iya, Rey ada apa?" ternyata yang menghubunginya adalah Reynaldi.
"Kamu di mana? apa kamu sudah siap untuk berangkat ke Bandung sekarang?" terdengar suara Reynaldi dari ujung sana.
"Aku sekarang ada di rumah. Hari ini baby Elvano ulang tahun yang pertama. Walaupun dia tidak ada, aku tetap ingin merayakannya untuknya. Sekarang apa semua hal yang kita butuhkan sudah siap?" tanya Julian balik.
"Tentu saja semuanya sudah siap. Kalau tidak siap, buat apa aku menanyakan kesiapanmu? malam ini kita harus berangkat, Jul biar besok pagi kita bisa langsung meluncur ke lokasi,"
"Baiklah kalau begitu. Aku tutup panggilannya ya!"Julian memutuskan panggilan setelah mendengar jawaban iya dari Reynaldi.
"Mbok, maaf sepertinya aku tidak punya waktu untuk mendengarkan apa yang mau Mbok Katakan. Karena aku harus melakukan persiapan dulu untuk berangkat ke luar kota. Bisa nanti-nanti saja, Mbok? atau kalau tidak, Mbok bicarakan ke mama dulu ya! kalau Mbok butuh uang kasih tahu saja ke mama. Aku pergi dulu!" Tanpa mendengar ucapan Sumi, Tristan langsung berlari ke atas menuju kamarnya.
"Tapi Tuan ini mengenai keberadaan Ayara dan baby Elvano," ucap Mbok Sumi yang sayangnya sudah tidak bisa didengar oleh Julian lagi.
"Ahh, lebih baik nanti aku kasih tahu setelah Tuan Julian tidak sibuk dan kembali dari luar kota. Nanti kalau aku kasih tahu sekarang, bisa-bisa dia jadi menunda urusan ke luar kota, yang pastinya akan membuat perusahaan Tuan Julian mengalami kerugian yang banyak," batin Sumi sembari beranjak pergi ke dapur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari sudah berganti. Julian dan Reynaldi kini sudah berada di Bandung. Dua pria itu baru saja menyelesaikan sarapan mereka dan langsung berjalan keluar dari Hotel.
__ADS_1
Mereka berdua masuk ke dalam mobil untuk menuju sebuah lokasi. yang berada dekat dengan sebuah pedesaan karena dia bertujuan untuk membangun rumah sakit di sana, karena dia tahu kalau butuh waktu hampir satu jam dari kampung itu untuk menuju rumah sakit.
Dari informasi yang Julian dapat lokasi itu prospeknya sangat besar karena dekat dengan beberapa pedesaan yang fasilitas kesehatan masih kurang dan jauh. Jadi, Julian dan Reynaldi hari ini ingin melihat apa benar lokasi itu bagus atau tidak. Kalau iya, Julian akan langsung membangun rumah sakit di tempat itu.
"Rey, apa lokasinya masih jauh?" tanya Julian, sembari melihat ke jalanan melalui kaca jendela mobilnya.
"Aku juga kurang tahu, Jul," sahut Reynaldi. "Pak Slamet, apa lokasinya masih jauh?" Reynaldi memutuskan untuk bertanya pada pria yang duduk di kursi depan. Pria yang merupakan pemilik perusahaan kontraktor untuk pembangunan rumah sakit itu.
"Sebentar lagi, Pak Reynaldi. Mungkin sekitar 15-20 menit lagi," sahut pria yang bernama Slamet itu.
"Oh, Oke. Lumayan jauh juga ternyata ya? kita saja sudah hampir satu jam di mobil ini," ujar Reynaldi, sembari kembali memainkan ponselnya.
Keheningan kembali tercipta untuk beberapa saat. Julian fokus melihat jalanan, sementara Reynaldi fokus dengan ponselnya.
"Oh ya, Jul kenapa kamu berniat membangun rumah sakit di lokasi itu?" celetuk Reynaldi, memecah keheningan yang sempat tercipta.
Reynaldi terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti.
"Kalau tidak salah, Gilang juga punya niat untuk bangun sebuah tempat wisata waterpark di Bandung ini, tapi aku tidak tahu di mana lokasinya. Katanya sih mau dibangun di dekat desa gadis masa kecilnya itu," ucap Reynaldi lagi.
"Aku juga tahu tentang itu. Itu adalah salah satu impian Gilang karena katanya gadis masa kecilnya itu pernah mengatakan kalau dia ingin sekali bisa berenang di kolam renang besar, yang ada seluncurannya, yang ada tong airnya, ada kolam arusnya, tapi sayangnya di kampungnya itu tidak ada. Kalau mau berenang ya ... harus menempuh waktu yang lama. Makanya, gadis masa kecilnya itu pernah bilang kalau dia punya uang yang banyak dia akan membangun waterpark di kampungnya," sambung Julian masih tetap melihat ke luar jendela.
"Aku benar-benar bingung, Gilang itu bodoh atau bagaimana? kenapa dia bisa seyakin itu akan bertemu dengan gadis masa kecilnya?
Sampai ingin mengabulkan impian gadis itu."
"Itu karena Gilang sendiri yang berjanji kalau setelah dewasa dia sendiri yang akan membangun waterpark itu untuk Gadis masa kecilnya itu. Jadi, dia hanya ingin menepati janjinya, dan dia berharap dengan adanya waterpark itu gadis masa kecilnya itu muncul," jelas Julian, yang memang sudah mengetahui keseluruhan cerita tentang Gilang.
__ADS_1
"Oh seperti itu? tapi tetap saja aneh menurutku. Itu kan hanya diucapkan oleh anak kecil. Belum tentu juga gadis itu ingat janji mereka seperti Gilang." Reynaldi mengembuskan napasnya, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kemudian pria itu kembali fokus menatap ke arah ponselnya dan Julian kembali menatap ke luar jendela.
Tiba-tiba mata pria itu membesar sempurna, melihat dua orang wanita muda yang berpakaian seragam guru. Dan yang paling membuat dia kaget adalah wanita yang sedang duduk diboncengan motor.
"Ayara! itu Ayara! Pak tolong berhenti!" pekik Julian membuat mobil berhenti tiba-tiba.
Julian turun dari dalam mobil demikian juga dengan Julian.
"Jul, ada apa? kenapa kamu menyebut nama Ayara?" tanya Reynaldi yang masih terlihat bingung.
"Aku tadi melihat Ayara, Rey! aku tidak mungkin salah lihat!" Julian menatap ke arah hilangnya motor yang dinaiki dua wanita itu.
"Kamu mungkin salah lihat, Jul,"
"Tidak mungkin aku salah lihat. Aku yakin kalau yang aku lihat tadi Ayara. Dia pakai seragam guru," ujar Julian dengan sangat yakin.
"Pak, putra balik! kita harus mengejar motor tadi!" titah Julian pada supir.
"Maaf Tuan, untuk memutar sangat sulit di jalan ini. Kita harus temukan belikan dulu baru bisa memutar. Kalau sudah begitu, kita tidak mungkin bisa menemukan jejak mereka," terang supir itu membuat Julian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jul, kamu tenang dulu! belum tentu itu Ayara kan? mungkin karena pikiran kamu saja yang hanya pada Ayara membuat kamu merasa melihat Ayara. Lagian kamu bilang wanita yang kamu lihat itu memakai seragam guru, Ayara kata kamu kan bukan Sarjana pendidikan, apa mungkin dia jadi seorang guru?" Reynaldi mencoba mengingatkan Julian.
Julian bergeming, merasa kalau ucapan asisten sekaligus sahabatnya itu ada benarnya.
"Apa iya, karena pemikiranku yang selalu memikirkan Ayara makanya aku berhalusinasi melihatnya? tapi kenapa dia seperti nyata ya tadi?" bisik Julian pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tbc