Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Kenekadan Aura


__ADS_3

Julian baru saja masuk ke dalam kamar hotel tempat dia menginap. Pria itu langsung melakukan pengisian daya Handponenya yang sudah habis dari tiga jam yang lalu. Setelah itu, dia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi, ia pun langsung membaringkan tubuhnya, karena dia sangat lelah satu harian ini, ditambah dengan pikirannya yang kalut.


"Kenapa aku merasa sangat yakin kalau aku benar-benar melihat Ayara ya? aku merasa kalau aku tidak berhalusinasi. Sepertinya aku harus menunda untuk kembali ke Jakarta. Besok pagi aku akan pergi ke sana lagi," batin Julian sembari memejamkan matanya.


Pria itu berusaha untuk tidur, namun dia sama sekali tetap tidak bisa, padahal kalau dilihat dengan kelelahannya hari ini, harusnya dia akan cepat tertidur.


"Kenapa aku sama sekali tidak bisa tidur ya? kenapa jantungku terasa tidak enak. Apa yang terjadi?" Julian memirigkan tubuhnya ke kanan dan tidak semenit, dia sudah berbalik lagi ke kiri. Dan hal itu terjadi sampai berulang kali. Pria itu benar-benar terlihat gelisah.


"Ahhh, tidak bisa seperti ini! kalau begini terus aku akan tidak bisa tidur sampai pagi," batin Julian sembari beranjak menuju kopernya dan mengeluarkan sebuah botol berisi obat tidur yang sering dia konsumsi belakangan ini semenjak kepergian Ayara.


Setelah itu, dia pun kembali beranjak ke tempat tidur lagi dan berbaring. Setelah menunggu kira-kira 10 menit akhirnya pria itupun tertidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Reynaldi tiba-tiba terbangun karena merasa haus. Pria itu pun meraih sebotol air mineral yang dia letakkan di atas nakas, dan meneguknya.


Pria itu ingin melanjutkan tidurnya, namun tiba-tiba rasa kantuknya hilang entah kemana. Pria itu pun duduk kembali dan mencabut charger yang tercolok ke handponenya. Kemudian pria itu mulai menghidupkan ponselnya itu.


Cahaya kebiruan dari ponsel pria itu langsung menerpa wajah Reynaldi.


Pria itu mengrenyitkan keningnya ketika melihat ada pemberitahuan panggilan masuk dari nomor Gilang.


"Kenapa dia meneleponku sampai berkali-kali? apa ada sesuatu yang terjadi?" batin Reynaldi yang langsung menghubungi balik nomor Gilang. Namun, yang menjawab adalah suara operator yang mengatakan kalau nomor sahabatnya itu sedang tidak aktif.


Setelah itu, dia juga melihat ada sebuah nomor yang tidak dikenal menghubunginya berkali-kali.


"Nomor siapa ini? kenapa sampai berkali-kali menghubungiku?" batin Reynaldi.


"Ahh, paling nomor orang iseng," Reynaldi hampir saja menaruh kembali ponselnya ke atas nakas. Namun dia melihat ada beberapa pesan yang masuk.

__ADS_1


"Hmm, si pengirimnya nomor yang tidak dikenal tadi," Reynaldi tanpa berpikir panjang langsung menekan, fitur berwarna hijau itu dan mulai membaca.


"Selamat malam, Tuan. Maaf mengganggumu. Nama aku Aura, Dan aku temannya Ayara. Aku berusaha menghubungi anda tapi nomor anda tidak aktif," mata Reynaldi sontak membesar membaca pesan itu. Kemudian, pria itu kembali membaca pesan lainnya.


"Tadi, aku mendengar kalau anda dan Julian mantan suami Ayara datang untuk mencarinya, tapi kalian gagal, karena sebenarnya kalian sudah dibohongi. Dan itu semua ulah Dokter yang bernama Farell. Dia menyukai Ayara dan ingin mendapatkannya," Reynaldi sontak berhenti membaca pesan berikutnya dan dia langsung memutuskan untuk menghubungi wanita yang mengaku temannya Ayara itu. Karena dia ingin mendengar penjelasan secara langsung.


Panggilannya terhubung cukup lama, tapi sama sekali tidak mendapat respon. Reynaldi sontak melihat ke arah jam di dinding yang ternyata sudah menunjukkan hampir pukul setengah 12. "Sudah hampir tengah malam. Mungkin dia sudah tidur," batin Reynaldi. Pria itu baru saja berniat hendak membaca kembali pesan berikutnya yang tadi belum dia baca. Namun, tiba-tiba perempuan itu menghubungi dia balik.


"Halo," sapa Reynaldi.


"Halo, Tuan. Aduhhh, syukurlah, anda menghubungi aku balik," terdengar embusan napas lega dari wanita di seberang sana.


"Maaf, ponsel aku dari tadi siang kehabisan daya, Dan aku lupa membawa power bank. Dari mana kamu tahu nomorku?"tanya Reynaldi yang masih memasang sikap waspada, takut kalau wanita di ujung sana adalah penipu yang mengaku-ngaku temannya Ayara. Dan dia hanya ingin memeras, meminta sejumlah uang seakan-akan dia tahu di mana Ayara berada.


"Dari Pak Slamet, Tuan," sahutan Aura.


"Dari pak Slamet? kamu mengenalnya?"


Reynaldi mengangguk-anggukan kepalanya, bisa menerima alasan wanita itu.


"Sekarang bisa kamu jelaskan apa maksud pesan kamu?" ucap Reynaldi, hati-hati tanpa mengurangi sikap waspadanya


Akhirnya dari seberang sana, Aura mulai menceritakan semuanya secara detail apa yang sudah terjadi tanpa mengurangi dan menambah sedikitpun.


"Brengsek! dasar dokter sialan!" umpat Reynaldi sembari mengepalkan tangannya.


"Tapi, yang kamu ceritakan tadi benar kan? kamu tidak berbohong kan?" sambung Reynaldi lagi.


"Buat apa aku berbohong, Tuan? sumpah demi apapun, aku sama sekali tidak berbohong," terdengar suara wanita bernama Aura itu tegas dan sangat meyakinkan.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih informasi kamu! aku dan Julian akan ke sana secepatnya!" pungkas Reynaldi.


Pria sama sekali tidak menutup ponselnya. Demikian juga dengan wanita di ujung sana yang langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku, merasa yakin kalau Reynaldi sudah memutuskan panggilan.


Reynaldi sengaja ingin mendengar apakah wanita itu bersama dengan orang lain, dan memang berencana ingin menipu.


"Akhirnya, aku bisa sedikit tenang sekarang. Mudah-mudahan, pernikahan Ayara dan dokter brengsek itu gagal. Sekarang sebaiknya aku kembali lagi pulang." Reynaldi tersenyum dan kini merasa yakin kalau wanita itu tidak berbohong.


Ia baru saja hendak mematikan ponselnya, tiba-tiba dia mengurungkan niatnya karena lagi-lagi mendengar celetukan wanita itu.


"Tapi bagaimana ini? bensinku habis, di mana aku bisa mendapatkan bensin. Tidak mungkin kan aku mendorong motorku ini sampai ke kampung? mana gelap banget lagi ya Tuhan," terdengar suara Aura mengeluh di ujung sana.


"Nona Aura, Nona Aura!" panggil Reynaldi, namun tidak ada jawaban karena ponsel yang sudah dimasukkan ke dalam saku.


Reynaldi kemudian mematikan ponselnya lebih dulu, dan kemudian menghubungi Aura kembali.


"Ya, Tuan?" terdengar lagi suara wanita itu dari ujung sana.


"Kamu di mana sekarang? tadi aku belum mematikan panggilan karena aku ingin kamu yang mengakhirinya sendiri dan tadi aku mendengar kalau kamu kehabisan bensin. Jangan bilang kamu ....". Reynaldi menggantung ucapannya.


"Ya, Tuan, tadi aku nekad untuk menemui anda dan Tuan Julian langsung ke hotel tempat kalian menginap, karena aku tidak bisa menghubungi nomor anda. Tapi, saking buru-burunya aku tidak melihat kalau bensinku habis," sahut Aura dari ujung sana dengan sangat hati-hati.


"Astaga, kamu nekad sekali. Kamu ini wanita! bagaimana kalau ada yang ingin berbuat jahat ke kamu di jalan? sekarang kamu di mana? aku akan ke sana!"


Aura kemudian menyebut tempat di mana dia berada sekarang.


"Oh, sudah tidak terlalu jauh dari hotel. Kamu tunggu di sana dan jangan ke mana-mana!" pungkas Reynaldi sembari berlari keluar.


Reynaldi ingin mengetuk pintu kamar Julian, tapi dia urungkan.

__ADS_1


"Lebih baik aku temui wanita itu lebih dulu. Lagian aku yakin sekeras apapun aku mengetuk pintu, dia tidak akan membukanya karena dia pasti mengkonsumsi obat tidur itu lagi," Reynaldi kembali melanjutkan langkahnya dengan sedikit berlari. Untuk sekarang, keselamatan wanita di ujung sana sepertinya lebih mendesak, karena dia tahu kalau pernikahan Ayara dan Farell itu masih besok pagi.


tbc


__ADS_2