
"Reynaldi? bagaimana dia bisa ada di sini? bukannya dia masih di penjara?" bisik Tessa pada dirinya sendiri. "Tenang Tessa, dia tidak punya bukti kalau kamu dalangnya. Kamu masih bisa berkelit," sambungnya kembali.
"Reynaldi, kenapa kamu bisa ada di sini? kamu kabur dari penjara ya? dan apa maksud ucapanmu tadi?" bentak Julian, dengan tatapan membunuh.
"Kamu ya ... kamu tidak bersyukur nama baikmu masih dijaga oleh Julian, sehingga tidak ada yang tahu kalau kamu di penjara, tapi kamu masih berani datang ke sini untuk menebarkan fitnah. Benar-benar tidak tahu terima kasih kamu!" Sarah ikut buka suara menimpali ucapan Julian.
Reynaldi menarik napas dalam-dalam,dan mengembuskannya kembali. "Aku datang ke sini tidak untuk menebarkan fitnah, tapi yang aku katakan memang benar kalau wanita yang Tante bela itu adalah dalangnya. Dia ingin bisa mendapatkan Julian dengan cara licik itu, tapi saat itu Julian masih bisa menahan diri dan kabur," tutur Reynaldi mulai menjelaskan.
"Jangan asal fitnah! kita sama sekali tidak pernah bertemu, dan aku mengenalimu hanya melalui media waktu kamu bersama Julian. Bagaimana kamu bisa menuduhku seperti itu? apa kamu dibayar sama pria ini ya?" Tessa buka suara sembari menunjuk ke arah Gilang.
Kemudian, Tessa mengalihkan tatapannya ke arah Sarah, mamanya Julian. "Tante, sepertinya sahabatnya Julian, benar-benar tidak menyukaiku menikah dengan Julian. Jadi, daripada aku difitnah terus, lebih baik batalkan saja perjodohanku dengan anak Tante. Aku capek, difitnah terus seperti ini! aku lebih baik pergi saja dari sini!" sambung Tessa kembali berpura-pura, membuat dirinya terkesan sudah habis kesabaran agar Sarah marah pada Gilang dan Reynaldi.
"Eh, eh, Tessa, jangan pergi dulu, Sayang! yang pantas pergi itu, ya mereka! kamu tenang saja, Tante Akan selalu mendukungmu!" cegah Sarah, sembari menahan tubuh Tessa yang hendak melangkah pergi.
"Tapi, Tante, aku __"
"Kamu tenang saja, Tante tidak akan bisa mereka provokasi. Tante lebih percaya ke kamu," lanjut Sarah lagi, membuat Gilang dan Reynaldi berdecak, saling silang pandang dan sama-sama menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Kalau begitu, aku mau mereka pergi dari sini, Tante!"
Sarah sontak menoleh ke arah Gilang dan Reynaldi dengan tatapan sengit. "Apa kalian tidak dengar apa yang dikatakan Tessa? sekarang sebaiknya kalian pergi dari sini, karena aku sama sekali tidak akan percaya dengan apa yang akan kalian katakan lagi! oh ya, yang di tangan kamu itu pasti surat hasil test DNA antara Julian dan baby Elvano kan? itu sebaiknya kamu buang saja, karena aku sudah bisa menebak kalau hasilnya itu adalah hasil rekayasa. Kalian pasti membayar dokter untuk membuat hasil test palsu. Iya kan?" tukas Sarah dengan berapi-api, membuat Tessa, diam-diam tersenyum penuh kemenangan.
"Tante, please jangan terpancing dengan drama wanita ular itu! aku berani bersumpah kalau aku dan Reynaldi sama sekali tidak pernah bekerja sama untuk memalsukan surat hasil test itu! aku saja bahkan belum lihat apa hasilnya!" Gilang kembali bersuara, melakukan pembelaan diri dan membantah tuduhan Sarah. Sementara itu Reynaldi hanya diam saja, terlihat lebih tenang bahkan terlihat lebih santai. Pria itu juga terlihat misterius di balik senyumannya. Seakan dia sedang menonton sebuah drama .
__ADS_1
"Keluar kalian semua! jangan pernah injak lagi rumah ini Gilang!" Sarah sepertinya sudah tidak mau mendengar pembelaan diri Gilang lagi.
"Tidak akan ada yang boleh pergi dari sini!" Julian akhirnya kembali bersuara, dengan suara yang sangat tegas, membuat mata Sarah dan Tessa membesar sempurna.
"Julian, mereka itu harus tetap pergi, Nak! kamu jangan percaya ucapan mereka. Mereka itu sangat iri dengan pencapaianmu, sehingga mereka tidak ingin melihat kamu bisa hidup bahagia. Kamu lihat sendirinya kan tadi, mereka sudah berani memfitnah wanita baik-baik seperti Tessa tanpa bukti apapun. Jadi, tolong usir mereka dari sini!" titah Sarah.
"Ma, sudah aku bilang tidak akan ada yang boleh keluar dari sini sebelum semuanya jelas!" tegas Julian lagi.
"Apalagi yang perlu dijelaskan? semuanya sudah jelas!"
"Jelas buat mama, tapi bukan bagiku!"Tegas Julian tidak kalah tegas, membuat Sarah terdiam, San wajah Tessa kembali memucat.
Julian, kini mengalihkan tatapannya ke arah Reynaldi dengan tatapan tajam penuh selidik.
"Aku yang membebaskannya," bukanya Reynaldi yang menjawab melainkan Gilang. "Yang kamu tanda tangani saat di mall itu bukan surat perjanjian, melainkan surat kuasa," lanjutnya lagi.
"Brengsek kamu Gilang! berarti kamu sudah membohongiku!" umpat Julian, mulai murka.
"See, apa yang aku katakan? mereka memang sudah kerja sama, Jul. Gilang sudah membohongimu, dan tidak tertutup kemungkinan kalau yang mereka katakan dari tadi, yang bilang Ayara perempuan yang kamu cari lah, yang bilang kalau baby Elvano anakmu lah, tidak tertutup kemungkinan kalau itu juga kebohongan, jadi kamu usir saja mereka dari sini! " Tessa kembali buka suara, mencoba memprovokasi Julian kembali.
"Diam!" bentak Julian. " Tidak ada yang memintamu untuk bicara! kamu kira aku juga percaya padamu? asal kamu tahu, aku juga tidak semudah itu percaya padamu! Kamu dari tadi sangat menginginkan mereka berdua pergi, kenapa? apa kamu takut kalau mereka benar-benar membongkar kebusukanmu? jangan kamu kira kalau aku tidak bisa membaca gelagatmu!"" lanjut Julian lagi, membuat Tessa terdiam dan beringsut mundur, ketakutan.
"Julian! kamu jangan __"
__ADS_1
"Mama, stop! jangan bela dia terus. Dia sebenarnya juga tidak sebaik yang kamu kira!" potong Julian dengan cepat.
"sikap dia itu penuh kepura-puraan, Ma. Tapi, tunggu dulu aku selesai dengan Gilang dan Reynaldi, baru aku tunjukkan bagaimana sikap dia yang sebenarnya ke mama. Jadi, Kali ini tolong jangan potong pembicaraanku dulu dengan Gilang dan Reynaldi!" imbuh Julian lagi.
"Sial! apa maksud. perkatan Julian tadi? apa dia sudah tahu sikapku di belakang mereka selama ini? kalau iya, itu berarti aku dalam bahaya," batin Tessa, semakin pucat.
Sementara itu, setelah menyelesaikan ucapannya dan memastikan kalau mamanya tidak akan mengintervensi lagi, Julian kembali menatap ke arah Gilang.
"kenapa kamu lakukan itu, Lang?". Julian kembali berusaha meredam amarahnya. Pria itu Kali ini benar-benar tidak mau gegabah untuk menarik sebuah kesimpulan dan mengusir sahabatnya itu. Entah kenapa melihat sikap santai Gilang dan Reynaldi membuat dirinya merasa kalau dua sahabatnya itu menyimpan sebuah rahasia.
"Yang pasti itu aku lakukan demi kebaikanmu. Aku meminta kamu untuk menemui Reynaldi lagi dan mencoba bertanya sekali lagi yang sebenarnya terjadi karena aku kurang percaya kalau Rey bisa berbuat licik seperti itu, karena Rey yang aku kenal itu, adalah orang yang setia kawan, tapi saat itu kamu menolak. Jadinya aku sendiri yang berinisiatif untuk menemuinya sendiri. Dan benar saja, kalau ternyata ada dalang yang membuat Reynaldi bisa tega berbuat seperti itu. Saat itu aku belum mengenal Tessa tapi aku sudah mendengar ceritamu kalau kamu dijodohkan dengan wanita ini. Hari itu juga aku sudah mencoba mengingatkan Tante Sarah, tapi sepertinya Tante sama sekali tidak percaya!" tutur Gilang panjang lebar tanpa jeda.
"Dan apa kamu percaya begitu saja ucapan Rey? kamu tahu sendiri kalau dia sudah mengakui kalau dia melakukannya karena iri. Bisa saja, apa yang dia katakan itu, bohong kan?"
"Iya, kamu benar, Jul. Dia itu bohong! aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya secara langsung. Seperti yang aku katakan, kalau aku tahu dia hanya dari TV dan media sosial saja, " Tessa kembali buka suara.
"Diam! bukannya aku memintamu untuk diam? hah!" bentak Julian, membuat Tessa terjengkit kaget dan bersembunyi di balik punggung Sarah.
"Tante, aku sebaiknya pergi saja dari sini ya? aku tidak mau lagi menikah dengan anak Tante," Tessa kini kembali memasang jurus terakhirnya, yaitu menangis seakan dia yang paling tertindas.
Reynaldi yang dari tadi bersikap santai dan hanya jadi penonton, tiba-tiba tertawa pecah, membuat semua yang berada di ruangan itu menatap heran ke arahnya.
tbc
__ADS_1