Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Diusir


__ADS_3

"Hei, berani-beraninya kamu ngaku-ngaku! kamu berharap kalau kamu sudah berkata seperti itu, Tante Sarah dan Julian akan iba padamu? bagaimanapun baby Elvano sama sekali tidak mirip denganmu.Jadi, jangan asal main mengaku saja!" Tessa yang melihat Sarah yang terdiam, seketika merasa khawatir kalau wanita paruh baya itu terpengaruh dan percaya dengan pengakuan Ayara tadi. Makanya, dia kembali bersuara untuk membuyarkan perasaan iba Sarah.


"Iya, benar kata Tessa. Kamu hanya mengaku-ngaku saja kan? kamu kira aku akan percaya begitu saja?" kedua sudut bibir Tessa sontak melengkung, membentuk senyuman licik, karena kembali berhasil memprovokasi mamanya Julian itu.


"Ada apa ini?" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang sangat familiar di telinga tiga wanita itu. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Julian. Julian memutuskan untuk pulang dengan tujuan untuk menanyakan apa hubungan Ayara dengan Gilang sebenarnya. Namun belum juga bertanya pria itu melihat ada ketegangan yang terjadi antara mamanya dengan Ayara.


"Akhirnya kamu pulang juga, Nak! ini ... si pengasuh sialan ini benar-benar sudah tidak tahu diri. Tadi dia saat berbicara dengan anakmu, dia memanggil dirinya sendiri dengan sebutan mama. Bukannya itu tindakan yang sangat kurang ajar?" tanpa basa-basi, Sarah langsung mengadu dengan nada bicara yang berapi-api.


"Iya, Julian. Sepertinya selain dia mendekati Gilang, dia juga berniat mendekatimu. Sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. sekali dia menebarkan pesona wajah sok polos dan sikap sok lembutnya dia berharap bisa mendapatkan dua pria, atau minimal salah satu dari kalian berdua. Sepertinya dia juga ingin mengadu domba kamu dengan Gilang," Tessa tidak mau kalah. Wanita itu juga buka suara tidak kalah berapi-apinya dari Sarah tadi.


"Ti-tidak, Tuan! itu tidak benar sama sekali. Aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah berniat untuk melakukan seperti yang dituduhkan Tessa!" seru Ayara, mencoba untuk membela diri.


" Cih, kamu masih berani menyangkal?" Tessa berdecih dan menatap sinis ke arah Ayara. Kemudian Tessa mengayunkan kakinya melangkah mendekati Julian, yang napasnya sudah terlihat memburu, pertanda kalau sebenarnya amarah pria itu sudah mulai meledak, tapi dia masih berusaha untuk menahannya.


"Nih, kamu lihat dan dengar sendiri, Jul. Aku sama sekali tidak memfitnah dia," Tessa memutar kembali rekaman video yang tadi sudah dia tunjukkan pada Sarah.


Setelah melihat dan mendengar secara langsung isi video itu, Julian menatap Ayara dengan manik mata yang sudah memerah bak nyala api dan seperti pisau belati yang siap menghujam jantungnya. Sementara itu, wajah Ayara benar-benar sudah memucat seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali.


"Apa maksud kamu sebenarnya? aku tidak menyangka kalau di balik wajah cantik dan sikap lembutmu kamu itu ternyata wanita yang penuh muslihat. Kamu berniat menebar jaringmu untuk menjeratku dan Gilang. Tidak bisa mendapatkanku, setidaknya kamu berharap bisa mendapatkan Gilang, begitukan niatmu?" nada bicara Julian terdengar sangat dingin hingga aura di kamar itu menjadi memegangkan.


"Mau berapa kali lagi aku harus mengatakan Tuan? sumpah demi apapun, aku tidak seperti yang Tuan tuduhkan. Aku ini cukup sadar diri dan tahu untuk menyempatkan di mana posisiku, yang hanya seorang pengasuh. Aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah punya niatan untuk menggoda Tuan Julian maupun Tuan Gilang. Tolong percaya padaku!" mohon Ayara sembari memeluk erat baby Elvano yang ada di gendongannya sekarang.


Julian mendengus dan semakin menatap Ayara dengan tatapan sinis.


"Kamu Masih berani untuk menyangkal Ayara. Video tadi sudah cukup menjelaskan, jadi kamu tidak pantas untuk membela dirimu lagi. Oh ya, Apa hak kamu memanggil dirimu mama pada anakku, hah? dengar, kamu tidak punya hak sama sekali!" suara Julian yang tadinya datar kini sudah mulai meninggi.

__ADS_1


"Nak, asal kamu tahu, dia juga tadi mengakui kalau dia itu sebenarnya ibu kandung dari bayi yang kamu temukan itu!" Sarah yang tadinya hanya diam saja, kembali buka suara.


Mendengar ucapan mamanya, mata Julian sontak membesar terkesiap kaget. Tanpa basa-basi lagi, pria itu langsung menghampiri Ayara dan merampas baby Elvano dari gendongan wanita itu, hingga membuat tangis baby Elvano kembali pecah memenuhi ruangan.


Julian kemudian memberikan putranya itu pada Sarah mamanya. Sarah dengan sigap menerima dan membawa baby Vano sedikit menjauh agar dia bisa mendiamkan bayi itu


Setelah merasa mamanya sudah sedikit jauh dan merasa tangis anaknya sudah mulai tenggelam, Julian kembali menatap ke arah Ayara dengan tatapan sangat tajam.


"Berani-beraninya kamu mengaku-ngaku kalau baby Elvano anak kamu! sepertinya benar-benar tidak waras!" bentak Julian, dengan napas memburu.


"Sekarang, aku tidak bisa mentolerir kamu lagi. Aku mau, sekarang juga kamu tinggalkan rumah ini dan jangan pernah lagi aku melihat wajah sok polosmu itu muncul di depanku!" sambung Julian lagi.


Air mata Ayara semakin banyak merembes keluar. Wanita itu pun langsung tersungkur dan berlutut di depan Julian.


"Tolong jangan usir aku Tuan! aku hanya ingin bisa dekat dengan Elvano karena dia memang anak kandungku. Dia lahir dari rahim ini Tuan dan aku berani bersumpah, kalau Elvano bukan anakku aku mati hari ini juga!" mohon Ayara dengan air mata yang tidak kunjung berhenti.


Julian bergeming untuk beberapa saat karena tiba-tiba ada perasaan tidak tega dan tidak kuat melihat tangisan Ayara.


"Jangan terpengaruh dengan tangisan wanita itu Julian! tangisnya itu hanya sandiwara. Ingat, dia itu wanita yang pintar berakting," bisik Julian pada dirinya sendiri.


"Kamu jangan pura-pura menangis! aku tidak akan bisa tertipu lagi dengan air mata palsumu itu. Sekali lagi aku bilang, kamu tinggalkan rumah ini sekarang juga! dan kalaupun benar baby Elvano adalah anakmu, kamu harus ingat kalau kamu sudah tidak punya hak lagi atasnya karena kamu sudah membuangnya, terlepas apapun alasan kamu yang kamu katakan karena terpaksa membuangnya. Ingat, baby Elvano sekarang sudah resmi jadi anakku, Dan itu sudah sah di mata hukum!" ucap Julian dengan tegas.


"Asal kamu tahu, pengakuan kamu tadi justru semakin meyakinkanku untuk mengusirmu dari rumah ini. Karena aku takut, kalau suatu saat kamu bisa saja membawa kabur putraku. Sekarang, bereskan pakaianmu dan tinggalkan rumah ini!"


Mendengar ucapan Julian, Ayara langsung memegang kaki Julian.

__ADS_1


"Tidak, Tuan! aku mohon jangan usir aku dari sini! aku bisa pastikan kalau aku tidak akan pernah membawa pergi baby Elvano. Tuan bisa buat surat perjanjiannya, di atas hitam putih. Aku juga berjanji tidak akan menyebut diriku mama lagi padanya, dan tidak akan pernah mengatakan kalau aku ini mama kandungnya. Aku juga akan pergi sendiri nantinya kalau Elvano sudah cukup mandiri," air mata Ayara semakin deras keluar dari mata indah miliknya.


Julian, kembali bergeming. Dadanya tiba-tiba merasa sakit mendengar tangisan Ayara. Ingin dia meraih wanita untuk berdiri dan memeluknya. Namun, ego yang ada di dirinya lebih dominan daripada keinginannya.


Sementara itu, Tessa yang melihat Julian sudah mulai terpengaruh dengan tangisan Ayara, sontak langsung menghampiri Ayara dan menarik tubuh wanita itu untuk berdiri.


"Kamu jangan membuat air matamu sebagai senjatamu lagi! kamu tidak punya harga diri lagi ya? sudah diusir masih saja mau bertahan," ucap Tessa dengan sengit.


"Terserah kamu mau mengatakan kalau aku tidak punya harga diri lagi, karena aku tidak peduli sama sekali. Yang aku inginkan, hanya bisa bersama mengasuh Elvano sampai dia bisa mandiri!" ucap Ayara dengan tegas.


"Tapi, kamu sudah diusir, Ayara! sekeras apapun kamu memohon,Julian pasti tidak akan mengindahkan permohonanmu, karena bisa saja kamu mengingkari janji nantinya, sekalipun itu ada surat perjanjian, hitam di atas putih! Tessa sengaja mengeraskan suaranya, berharap dengan ucapannya barusan dapat membuat Julian kembali terprovokasi.


Sementara itu di lain tempat tampak wajah Shasa berubah pucat, setelah menerima telephone dari mamanya yang memberikan kabar kalau Ayara hendak diusir dari kediaman Julian.


"Sial, Tuan Gilang kemana sih? apa dia belum juga ke rumah Julian? bagaimana ini? aku masih bekerja lagi!" Shasa terlihat tidak tenang, terlebih rekan kerjanya sedang izin ke toilet, jadi dia merasa tidak mungkin meninggalkan meja resepsionis kosong begitu saja.


"Oh, sebaiknya aku menghubungi, pria gila itu sekarang. Tadi, dia sempat menghubungi nomorku kan?" ya, Shasa ingat kalau tadi setelah Gilang mengatakan kalau urusan mereka belum selesai, pria itu sempat meminta nomornya, dan dengan terpaksa Shasa memberikan nomornya pada pria itu. Lalu Gilang sempat melakukan panggilan dan meminta Shasa untuk menyimpan nomornya.


"Halo, ada apa?" terdengar suara Gilang dari ujung sana.


"Tuan Gilang ada di mana? kenapa belum ke rumah Tuan Julian? kata mamaku, Ayara diusir Tuan Julian!" Shasa berbicara dengan sangat terburu-buru dan napas yang ngos-ngosan.


"Kamu serius? sial, mana aku masih di rumah sakit lagi!"


"Tuan di rumah sakit? buat apa?"

__ADS_1


"Aku sedang melakukan test DNA antara Julian dan baby Elvano, sebagai barang bukti untuk Julian. Karena dia itu sulit percaya tanpa bukti. Sekeras apapun kita mengatakan kalau Ayara adalah wanita yang dia cari itu, dia akan sulit percaya kalau tidak ada bukti. Jadi, satu-satunya ya dengan test DNA antara Julian dan baby Vano. Haish, mana hasilnya belum keluar lagi. Aku harus bagaimana sekarang?"


tbv


__ADS_2