Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Jangan mengaku-ngaku!


__ADS_3

Gilang berjalan masuk ke dalam lobby dan langsung menuju meja resepsionis yang dia tahu satu di antaranya ada Shasa sahabatnya Ayara.


"Selamat siang, Gilang!" sapa dua orang wanita dengan sangat sopan sembari membungkukkan sedikit tubuh mereka.


"Siang!" sahut Gilang santai dan menatap ke arah name tag yang menempel di dada dua wanita itu. Mata pria itu akhirnya berhenti tepat di depan seorang wanita manis yang dari name tagnya terlihat jelas kalau wanita itu adalah Shasa, wanita yang ingin ditemuinya.


"Emm, kamu yang namanya, Shasa kan?" tanya Gilang basa-basi. Pertanyaan yang menurutnya cukup konyol karena sudah tahu tapi masih tanya.


"Iya, Tuan, itu aku." sahut Shasa dengan perasaan yang campur aduk. Antara bingung kenapa pria yang dia tahu asisten Julian itu tiba-tiba mencarinya dan takut, karena dia tidak tahu apakah dia telah membuat suatu kesalahan atau tidak.


"Ok, kalau begitu kamu ikut saya sekarang!" titah Gilang tegas.


"Ta-tapi, Tuan ... ada masalah apa y?" Shasa mencoba memberanikan diri untuk bertanya.


"Nanti kamu akan tahu sendiri. Sekarang kamu ikut aku dulu!" tidak mau mendengar pertanyaan lagi, Gilang langsung berlalu begitu saja ..


"Kamu ada melakukan kesalahan ya, Sha?" bisik rekannya sebelum Shasa beranjak menyusul Gilang.


Shasa sontak mengangkat bahunya.


"Aku sama sekali tidak tahu, Jes. Aku merasa aku tidak melakukan kesalahan apapun," ujarnya dengan alis bertaut.


"Kenapa kamu masih diam di sana? bukannya aku memintamu untuk mengikutiku?" tegur Gilang yang ternyata sudah menatapnya dari arah yang tidak terlalu jauh dengan tangan yang bersedekap di dada.


"I-iya, baik, Tuang!"dengan tergesa-gesa wanita itu pun berjalan mengekor dari belajar Gilang.


"Tu-tuan, kenapa jadi keluar kantor?"Shasa tiba-tiba berhenti melangkah dengan wajah bingung, ketika dia sudah berada di luar gedung.


"Kamu jangan banyak tanya! kamu ikut saja dulu!"

__ADS_1


"Maaf, Tuan, kalau tidak jelas tujuannya, aku tidak bisa mengikuti Tuan karena ini jam kerja. Lagian kalau masalah kesalahan pekerjaan, aku rasa tidak masuk akal kalau yang hanya resepsionis ini dibawa keluar," Shasa, yang memang dikenal cukup detail dan transparan, benar-benar tidak bersikukuh untuk tetap berdiri di tempatnya sebelum dia mendapat kejelasan tujuan pria itu meminta mengikutinya.


"Sial, wanita ini ternyata cukup berani!"


Gilang berdecak. Raut wajah pria itu sudah terlihat kesal. Namun, pria itu berusaha untuk menahan rasa kesalnya dan melangkah mendekat ke arah Shasa.


"Yang ingin aku bicarakan bukan masalah pekerjaan tapi masalah Ayara sahabatmu yang bekerja jadi pengasuh di rumah Julian," ucap Gilang dengan suara yang sangat pelan, tapi sanggup membuat Shasa cukup kaget.


"Ada apa dengan dia? dia baik-baik saja kan? tidak terjadi apa-apa kan padanya?" Shasa tanpa sadar jadi panik.


"Kalau kamu mau tahu, kamu ikut aku!" Gilang melangkah menuju sebuah taman yang lumayan sepi, lalu disusul oleh Shasa dari belakang. Tanpa mereka sadari setelah mereka meninggalkan tempat itu, Tessa juga tiba dan langsung masuk ke dalam gedung.


Dengan langkah yang angkuh, wanita itu menghampiri meja resepsionis yang menyisakan satu orang.


"siang, Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya rekan kerja Shasa itu dengan ramah dan sopan.


"Maaf, Bu eh Nona! ada yang bisa saya bantu?" ulang resepsionis itu lagi, tidak mau memperpanjang masalah hanya karena panggilan saja.


"Aku mau bertemu sama Julian, dia ada kan?" nada bicara Tessa masih terlihat angkuh.


"Apa Nona sudah ada janji dengan beliau?"


"Aku rasa, aku tidak perlu buat janji, karena aku ini calon istrinya. Jadi, kamu kasih tahu saja, di mana ruangannya?" raut wajah Tessa terlihat seperti sedang mengintimidasi.


"Maaf, Nona, bukan masalah anda ini calon istri atau sudah jadi istri, tapi saya hanya menjalankan peraturan, kalau aku harus bertanya lebih dulu, ada kepentingan apa untuk bertemu dengan Tuan Julian, karena ini juga atas perintah beliau. Lagian, saya juga tidak tahu kalau anda ini adalah calon istri CEO kami, karena selama ini kami tahunya beliau tidak memiliki kekasih maupun calon istri. Dan tentang benar tidaknya Nona ini calon istri Tuan Julian, hanya Nona yang tahu. Yang jelas aku hanya menjalankan tugasku. Karena ibu Sarah sendiri selaku mama dari Tuan Julian selalu meminta kami untuk bertanya lebih dulu apakah putranya sedang sibuk atau tidak sebelum beliau memutuskan untuk naik menemui putranya,"tutur rekan kerja Shasa itu dengan suara yang dibuat sesopan mungkin. Padahal wanita itu Sudan sangat kesal melihat keangkuhan Tessa.


"Kamu berani ya berbicara seperti itu padaku. Kamu tidak takut kalau setelah aku menikah dengan Julian, aku meminta Julian memecatmu?" Tessa benar-benar kesal sekarang. Dia merasa kesal karena dengan membawa-bawa status calon istri Julian, tidak serta merta membuat resepsionis itu segan padanya.


"Maaf, Nona. Sekali lagi aku. menekankan kalau aku hanya melaksanakan tugasku. Aku tidak mau, kalau aku nantinya membiarkan anda begitu saja naik ke atas, dan masuk begitu saja ke ruangan Tuan Julian, malam memberikan aku kesulitan,"

__ADS_1


"Kamu ya? awas kamu! sekarang kamu hubungi Julian dan kasih tahu ke dia kalau Tessa calon istrinya ada di lobby dan ingin menemuinya!" pungkas Tessa akhirnya, merasa tidak ada gunanya berdebat dengan si resepsionis itu. Namun, dia benar-benar bertekad dalam hati kalau dia akan memecat resepsionis itu begitu dia sudah menikah dengan Julian.


"Baiklah, Nona! silahkan tunggu dulu, aku akan menghubungi sekretaris Tuan Julian," resepsionis itu meraih gang telephone yang ada di depannya dan seperti yang dikatakannya tadi, dia pun menghubungi sekretaris Julian.


Setelah tersambung terdengar resepsionis itu berbicara dengan sekretaris Julian. Resepsionis itu pun menyampaikan maksudnya menghubungi sang sekretaris.


"Tuan Julian tidak punya calon istri? resepsionis itu dengan saja mengeraskan suaranya.


"Tapi, dia mengatakan kalau dia ini calon istri Tuan Julian, Bu! namanya Tessa,"


Raut wajah Tessa seketika berubah merah menahan malu, karena mengetahui kalau Julian menyangkal kalau dirinya sudah punya calon istri.


"Oh, Ok, Bu! kalau begitu aku akan sampaikan pada Nona itu!" resepsionis itu meletakkan kembali gagang telephonenya ke tempat semula dan menatap Tessa dengan tatapan sinis.


"Nona Tessa, katanya anda bukan calon istri Tuan Julian, tapi beliau memang mengenal anda. Jadi, walaupun anda mengaku-ngaku calon istri beliau, beliau tetap mengizinkan anda ke atas untuk menemuinya. Nona naik saja ke ataa, ruangan Tuan Julian ada di lantai 20!" ucap resepsionis itu masih tetap dengan sikap profesional, sebagaimana layaknya seorang resepsionis, yaitu dengan tetap mengedepankan keramahan dan kesopan santunan.


"Bisa-bisanya dia mengaku calon istri Tuan Julian. Bagaimana mungkin selera Tuan Julian wanita sombong seperti itu? kan tidak mungkin. Shasa aja yang sudah cantik, sopan, baik dan sudah saling mengenal sejak kecil, tidak bisa membuat Tuan Julian tertarik, apalagi modelan ulat bulu kaya dia," resepsionis itu menatap dengan sinis ke arah punggung Tessa yang menghilang di balik lift.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hai, Julian, kamu sibuk ya?" sapa Tessa, dengan suara yang dibuat selembut mungkin.


"Seperti yang kamu lihat. Sekarang kamu katakan ada hal apa kamu datang ke sini?" Julian menjawab tanpa melihat ke arah Tessa dan nada suaranya terdengar sangat dingin.


"Jul, bisa tidak kamu bersikap ramah, sedikit saja tidak apa-apa," Tessa memasang wajah sedihnya.


"Tolong katakan langsung tujuanmu datang ke sini, aku tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi. Oh ya, sekali lagi jangan mengaku pada orang-orang kalau kamu itu calon istriku. Aku sama sekali belum pernah setuju!" tegas Julian sembari menatap tajam dan dingin ke arah Tessa.


tbc

__ADS_1


__ADS_2