
Ayara baru saja selesai menidurkan baby Elvano. Setelah itu dia juga ingin berbaring karena dia benar-benar penat. Bukan hanya capek di fisik tapi juga di pikiran.
Baru saja wanita itu hendak berbaring, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang. Seiring dengan suara ketukan itu, terdengar juga suara seorang wanita, yang dari suaranya sudah bisa dipastikan kalau wanita itu adalah Sarah.
Ayara kemudian mengayunkan kakinya melangkah untuk membukakan pintu.
"Iya, Bu Sarah?" ucap Ayara dengan sopan.
"Kamu belum tidur kan?" aura Sarah tidak seperti biasanya. Wanita benar-benar terlihat dingin sekarang.
"Belum, Bu!" sahut Ayara, dengan perasaan yang tidak enak.
"Baguslah. Aku mau bicara sebentar dengan kamu, boleh kan aku masuk?"
"Tentu saja bo__"
"Oh, ngapain aku harus izin ya ke kamu? Ini kan rumahku, jadi kalau aku mau masuk ya terserah aku, tidak perlu harus minta persetujuan dari kamu," belum sempat Ayara menyelesaikan ucapannya, Sarah juga memotong lebih dulu dan ucapannya menyelipkan sebuah penekanan yang secara tidak langsung, mengatakan kalau Ayara tidaklah siapa-siapa di rumah itu.
Ayara tidak menjawab lagi. Wanita itu langsung berpindah tempat ke samping untuk memberikan jalan untuk Sarah.
"Oh ya, kamu jangan berdiri bengong di sana. Kamu duduk di sini karena aku ingin bicara sesuatu ke kamu,"
Ayara menganggukkan kepalanya dan berjalan menghampiri tempat yang ditunjukkan oleh wanita paruh baya itu. "Ini pasti ada kaitannya dengan Tessa. Sepertinya wanita itu sudah mulai memprovokasi Ibu Sarah," batin Ayara sembari mendaratkan Tubuhnya duduk di tempat yang ditunjuk oleh Sarah.
"Ada apa, Bu?" tanya Ayara dengan lembut.
"Baiklah, aku tidak mau berbasa-basi lagi! belakangan ini ibu lihat kalau kamu sudah mulai ngelunjak, mentang-mentang anakku sudah mulai baik ke kamu. Jadi aku mau kamu jangan ngelunjak di rumah ini mentang-mentang hanya kamu yang dipercaya oleh anakku untuk mengasuh baby Elvano. Aku minta kamu untuk tetap tahu batasanmu. Kamu jangan pernah berpikir untuk berharap lebih dari Julian, paham kamu!"tutur Sarah dengan tatapan sinis.
"Maaf Ibu, aku sadar kok siapa diriku dan aku juga tahu batasanku. Aku murni tidak ada niat untuk mendekati Tuan Julian. Karena aku tahu kalau itu tidak akan mungkin," ucap Ayara berusaha menahan tangis.
"Baguslah kalau kamu sadar. Yang penting perkataanmu itu,benar dari hatimu bukan hanya di mulut,"
" Iya, Bu!" sahut Ayara
__ADS_1
"Aku juga mau mengingatkan kamu, kalau Tessa itu adalah calon menantuku, jadi kamu harus tetap baik padanya. Jangan seperti kejadian di mall hari ini. Bagaimana bisa kalian tega membiarkan dia jadi pengasuh, sedangkan kalian berdua asik memilih pakaian? apa itu bukan tindakan kurang ajar?" Sarah, terdengar semakin ketus.
"Tapi, Bu sumpah demi apapun aku tidak pernah berniat seperti itu. Mbak Tessa yang meminta lebih dulu untuk__"
"Jangan panggil dia Mbak. Panggil dia Nona! walaupun dia belum jadi istrinya Julian, tapi sebentar lagi dia akan jadi nyonya Julian! dan untuk yang tadi ... walaupun dia yang meminta, harusnya kamu menolak, bukan malah kesenangan dan memanfaatkannya. Itu sama saja dengan orang tidak tahu diri! kamu itu harus sadar siapa dirimu. Jangan harap kamu itu bisa jadi seperti Cinderella yang bisa menikah dengan seorang pangeran!"
Air mata yang tadi berusaha dibendung oleh Ayara kini sudah tidak terbendung lagi. Tidak bisa dihindari lagi, akhirnya butiran cairan bening itu meleleh keluar menembus bendungan yang dia bangun.
"Sabar, Ayara! kamu harus sabar menghadapi hinaan ini, demi bisa tetap merawat putramu," bisik Ayara pada dirinya sendiri, berusaha menguatkan dirinya sendiri.
"Ma, Ada apa ini? apa masih tetap masalah yang tadi?" tiba-tiba Julian muncul dan menatap mamanya dengan dingin.
"Mama hanya ingin mengingatkan dia, untuk sadar apa statusnya di rumah ini, jangan seperti tadi yang bersikap seakan dia majikan," ujar Sarah sembari menyalahkan kakinya.
Julian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan pelan-pelan, berusaha untuk menahan emosi. Entah kenapa melihat Ayara yang terisak-isak, hatinya merasa sakit.
"Ma, bukannya aku sudah mengatakan kalau ini bukan kesalahan Ayara? kalau Mama mau menyalahkan orang, yang patut Mama salahkan itu, aku." Julian berusaha untuk berbicara dengan lembut.
"Kenapa kamu terlihat sangat membela dia? kamu tidak jatuh cinta kan pada dia?" Sarah memicingkan matanya, curiga.
"Ma, ada apa sih dengan Mama? apa ini semua karena aduan perempuan itu? apa dia sudah menghasut Mama?" tukas Julian yang mulai hilang kesabaran.
"Perempuan itu ada nama dan namanya Tessa. Mama memang mendengar dari dia, tapi dia tidak mengadu dia hanya bercerita. Mama saja yang merasa jengkel mendengar itu semua karena mama tidak bisa membayangkan bagaimana dia berubah jadi pengasuh sementara pengasuh yang sebenarnya dengan tidak tahu dirinya memanfaatkan kesempatan yang mungkin tidak pernah dia dapatkan seumur hidupnya," tutur Sarah dengan sarkastik.
Julian menggusak rambutnya dan kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Kalau yang baru saja berbicara bukan mamanya, ingin dia memakinya. Namun, karena mamanya pria itu berusaha untuk menahan diri agar tidak sampai mengeluarkan kata-kata kasar yang menyakitkan.
"Dia tidak mengadu tapi bercerita. Apa bedanya dengan itu? Mama kenapa gencar sekali membelanya? Mama harusnya sadar dengan dia bercerita, secara tidak langsung sebenarnya dia ingin menghasut Mama untuk membenci Ayara, apa mama tidak bisa paham akan tujuan tersembunyinya?"Julian masih berbicara dengan lembut.
"Tessa tidak pernah berniat untuk menghasutku membenci Ayara. Justru tadi dia meminta mama untuk tidak memarahi Ayara dan meminta Mama untuk maklum. Tessa itu baik, Julian. Dia masih kasihan pada Ayara dan meminta mama untuk tidak marah pada Ayara, tapi mama saja yang sudah tidak bisa menahan diri lagi, karena mama tidak bisa membayangkan kalau mama ada di posisi Tessa tadi,"
"Ibu, Tuan tolong jangan berdebat lagi! aku mengakui aku yang salah. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi dan akan lebih bisa memposisikan diriku," Ayara buka suara di sela-sela isak tangisnya.
"Ayara, kenapa kamu mengakui kesalahan yang bukan salahmu? Kamu itu tidak salah sama sekali!" ucap Julian. Kemudian pria itu menoleh ke arah mamanya. "Ma, bukannya aku sudah bilang kalau mama mau menyalahkan orang, aku lah orang yang patut disalahkan, bukan Ayara! " tegas Julian dengan suara yang mulai sedikit meninggi.
__ADS_1
"Sudahlah,Julian, kamu jangan membela pengasuh ini lagi, mama tidak suka!"Sarah bangun berdiri dari kursinya dan hendak berlalu pergi.
"Mama benar-benar berubah! kenapa Mama bisa jadi seperti ini. Apa Mama tidak sadar kalau mama terkesan sudah merendahkan seseorang?" Sarah yang belum mencapai pintu tiba-tiba berhenti melangkah, mendengar ucapan anaknya.
Wanita paruh baya itu kemudian berbalik menoleh kembali ke arah Julian.
"Jul, Mama tidak bermaksud merendahkan seseorang, mama hanya ingin dia tidak terlalu berharap padamu. Mama tidak mau dia menyalahartikan kebaikanmu dan malah mengira kamu itu menyukainya. Mama tidak mau dia menggunakan kasih sayangnya pada Elvano hanya untuk membuatmu tertarik padanya. Mama benar-benar tidak suka pada wanita licik seperti itu!"
Julian seketika mendengus mendengar penuturan mamanya. "Mama terlalu berpikir kejauhan. Justru sekarang aku merasa kalau yang licik itu adalah perempuan pilihan mama itu, tapi dia bermain aman. Ma,sekarang aku mau jujur, aku sama sekali tidak ingin menikah dengan wanita pilihan mama itu, karena aku sama sekali tidak menyukainya!" tutur Julian lugas dan tegas.
Mata Sarah sontak membesar terkesiap kaget mendengar ucapan Julian.
"Julian, mungkin kamu tidak mencintainya sekarang. Tapi seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa mencintainya. Kamu coba dulu mengenalnya dengan baik. Mama hanya ingin yang terbaik buatmu, Nak,"
Julian lagi-lagi mengembuskan napasnya kembali. "Ahh, terserah Mama deh," pungkas Julian sembari beranjak pergi.
Sarah menghela napasnya dan sebelum pergi dia kembali menatap ke arah Ayara.
"Ayara, ingat semua perkataanku tadi! jangan sampai terulang lagi!"
"Iya, Bu!" Ayara membungkukkan tubuhnya sedikit.
Sarah kemudian berbalik dan tanpa permisi lagi wanita paruh baya itu langsung berlalu pergi meninggalkan kamar Ayara.
Ayara kemudian melangkah untuk menutup pintu. Kemudian wanita kembali melangkah menuju box baby Elvano. "Sayang, mama harus kuat. Mama akan siap menerima hinaan ini demi mama bisa terus di sini untuk merawatmu sampai kamu bisa mama melihat kamu bisa mandiri," ucap Ayara sembari membelai lembut pipi Baby Elvano.
Di saat wanita itu hendak naik ke kasurnya, ponselnya tiba-tiba berbunyi pertanda ada yang mengirimkan pesan untuknya..
Ayara mengrenyitkan keningnya karena pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal.
"Hei pengasuh sialan, kamu pasti kena marah Tante Sarah kan sekarang. Hahaha rasain kamu! itu belum seberapa, dan itu hanya permulaan. Aku akan terus- menerus memprovokasi Tante Sarah sampai kamu hengkang dari rumah itu. Makanya jangan pernah coba-coba melawanku, kamu rasakan akibatnya! " bisa ditebak dari isi pesannya, kalau itu berasal dari Tessa.
"Dari mana dia tahu nomorku? apa dia mendapat dari Pam Sandi?" gumam Ayara sembari meletakkan kembali ponselnya.
__ADS_1
Tbc